Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Kecemasan


__ADS_3

Keluar dari toilet, Kinanti segera pergi ke ruang UKS. Ia mengistirahatkan tubuhnya di sana. Mengobati luka-lukanya juga mencuci mukanya di wastafle. Ia memandangi beberapa saat wajahnya yang memiliki bekas luka cakaran dan sedikit lebam. Apa yang akan ia katakan pada Lukman saat ia pulang nanti?


Akh, kakinya masih terasa ngilu karena tendangan kaki teman Frea. Kulit kepalanya masih nyut-nyutan karena tarikan pada rambutnya yang cukup keras. Rasanya Kinanti ingin menangis tapi air matanya sudah terlanjur kering. Lengannya bahkan lebam terkena jepitan pintu.


Kinanti mencoba memejamkan matanya, berusaha menenangkan perasaannya yang bergejolak. Ia masih tidak habis pikir dengan apa yang dialaminya. Padahal ia tidak pernah berniat mencari masalah dengan siapapun termasuk Frea. Tapi sepertinya, masalah bisa datang begitu saja hanya karena ia masih bernafas.


Setelah merasa lebih segara, Kinanti membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia bisa mendengar suara pintu yang berderit saat terbuka.


"Miss, ada murid namanya Kinanti gak?" suara milik Riko menyadarkan Kinanti. Rupanya Riko bertanya pada dokter klinik yang tadi mengobati lukanya dan memeriksa kakinya yang kena tendangan.


Terjatuh, alasan yang digunakan Kinanti saat dokter itu bertanya alasan Kinanti terluka.


"Ada di sebelah sana. Kamu bisa memeriksanya." Ucap dokter muda yang menunjuk bed Kinanti.


Kinanti berusaha menenangkan dirinya menunggu Riko datang.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Riko saat melihat Kinanti terbaring di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Gak apa-apa. Miss Alda udah ngobatin aku." Aku Kinanti dengan sesungguhnya.


Riko melihat luka di beberapa bagian tubuh Kinanti sudah tertutup plester. Hanya bekas cakaran saja yang terlihat di wajahnya.


"Kamu gak lapor sama orang tuamu? Ini sih udah pembuly-an. Kamu gak bisa tinggal diam dan membiarkan mereka bertingkah sesuka hati terhadapmu." Sepertinya Riko mencemaskan teman batunya.


Kinanti tersenyum haru. Ternyata di sekolah ini masih ada seseorang yang sebaik Riko. Andai Kinanti tahu kalau Rikopun nyaris menjadi korban Bully-ing dan rasanya sangat menakutkan.


"Jangan, aku gak bisa lapor orang tuaku." Kinanti dengan wajahnya yang sedih, Ia berusaha bangkit dan duduk bersandar pada dinding yang terjalang satu bantal saja.


"Iya, aku paham Riko, terima kasih udah cemas sama aku. Tapi," Kinanti terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa?" Riko penasaran.


"Aku minta, tolong jangan bilang siapapun apalagi ayahku. Aku gak mau dia sedih." Kinanti memohon pada temannya. Ia merasa sangat menakutkan kalau sampai Lukman tahu apa yang terjadi pada Kinanti. Ia pasti tidak tenang dan Kinanti merasa bersalah.


"Dia pasti sedih karena anak semata wayangnya di bully, tapi Kinanti, orang tua kamu akan lebih sedih kalau tahu kamu diperlakukan seperti ini dan tidak melapor." Riko bersikukuh dengan sarannya.

__ADS_1


"Lalu apa yang kemudian akan aku dapatkan kalau ayahku tau?" Kinanti balik bertanya pada Riko.


"Nggak ada kan?" Kinanti tersenyum miris pada sahabatnya yang kemudian menunduk.


"Seperti yang kamu bilang, kalau orang-orang di sini bukanlah orang biasa. Itu berarti, pembelaan apapun yang aku laporkan, pengaruh merekalah yang akan lebih dulu dipertimbangkan di banding kondisiku. Selain itu, kalau aku bilang sama ayahku, aku hanya akan di pindahkan dari sekolah ini dan pindah ke sekolah lain yang belum tentu mau menerimaku."


"Aku suka sekolah di sini, Ko. Tolong jangan buat ayahku memindahkanku dari sini. Aku selalu kesulitan beradaptasi dengan tempat baruku dan aku sudah sangat capek. Jadi, aku mohon, mengertilah." Tegas Kinanti dengan sungguh.


Dua orang baru yang saling bersahabat itu kemudian saling terdiam. Riko menatap Kinanti dengan iba dan Kinanti menatap Riko dengan penuh harap.


"Okey, aku gak akan lapor sama siapapun. Tapi, kalau perlu apa-apa, kamu kasih tau aku. Dan yang terpenting, jangan terlibat urusan apapun dengan Kala. Karena sampai kapanpun, Frea gak akan membiarkan ada orang lain yang deket sama Kala. Jadi, jaga dirimu dengan cara itu." Ucap Riko dengan penuh kecemasan.


Kinanti hanya terdiam, ia mengakui kebenaran ucapan Riko. Mungkin karena ia berhubungan dengan Kala sehingga Frea meradang. Kalau sudah seperti ini, tidak ada cara lain, selain berusaha sebisa mungkin untuk menghindari Kala.


Tanpa Kinanti ketahui, seseorang mendengar perbincangan Kinanti dengan Riko. Rasanya ia tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.


*****

__ADS_1


__ADS_2