
Selama perjalanan menunju pulang, dua orang itu tidak berbicara sama sekali. Keduanya masih dengan pikiran masing-masing. Kinanti memeluk Kala yang memboncengnya, berpegangan dengan erat melewati malam yang semakin larut, dingin dan sunyi.
Jalanan juga mulai lenggang, tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Mungkin sebagian besar mahluk penghuni bumi ini sudah beristirahat dan hanya beberapa saja yang masih melakukan aktivitasnya.
Jam sebelas sepuluh malam, Kinanti dan Kala baru sampai di rumah Kinanti. Seperti biasa, Kala membantu Kinanti turun serta membantunya melepas helm yang melindungi dikepalanya. Mereka hanya bertatapan beberapa saat.
“Ambillah ini, kamu belum makan 'kan?” laki-laki dingin ini masih ingat kalau Kinanti pasti belum makan.
“Hem, terima kasih. Masuklah, kita makan sama-sama.” Kinanti memberi ajakan berarti pada Kala lantas lebih dulu masuk ke dalam rumahnya setelah membuka kunci dan menyalakan lampu-lampu rumah.
Kala mengekori dari belakang.
“Duduklah di sini,” dengan sudut matanya, Kinanti menunjuk salah satu kursi di meja makan.
Kala berjalan perlahan sambil memperhatikan sekeliling rumah Kinanti, mungil namun hangat. Di setiap sudut rumah, ia melihat ukiran kasih sayang antar pemiliknya. Sangat jauh berbeda dengan rumahnya. Meskipun besar tapi begitu dingin dengan banyak ukiran trauma dan kenangan buruk yang menyesakkan dadanya.
Kinanti yang menyiapkan air minum hangat, diam-diam memperhatikan Kala sampai remaja itu duduk dengan tenang di kursi makannya. Ia membawa dua cangkir teh hangat dan sebuah piring beserta dua sendok.
“Kemarilah, cuci tangan dulu,” ajak Kinanti pada laki-alki yang duduk termenung.
Kala menurut untuk beranjak. Ia menghampiri Kinanti dan mencuci tangannya. Kinanti memberinya sabun satu puff dan busanya langsung banyak. Ia memperhatikan tangan Kala yang berbusa sementara Kala memilih memandangi pantulan wajah Kinanti dari kaca wastafel.
“Syal kamu penuh darah, lepas dulu.” Kala mengomentari syal pemberiannya.
“Oh ya, aku hampir lupa.” Kinanti segera melepas syal itu dan menyampirkannya di kursi. Ia mencuci lagi tangannya setelah Kala selesai.
Mereka duduk di kursi makan, berdampingan. Kinanti melihat makanan yang dibelikan Kala, nasi goreng dengan varian yang berbeda dari sebelumnya.
“Ini udah dingin, pasti udah nggak enak.” Kala sedikit kecewa.
“Kata siapa, justru karena dingin kita bisa dengan mudah memakannya. Gak perlu repot-repot niupin dan ngipasin kan?” Kinanti memberikan satu sendoknya pada Kala.
Kala tersenyum kecil, gadis ini selalu saja memiliki jawaban atas kekecewaannya.
“Makanlah, nasinya akan geer kalau terus kamu liatin,” celoteh Kinanti sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
__ADS_1
Kala tersenyum mendengar celotehan Kinanti. Ia memiringkan kepalanya dan sengaja menandukkan kepalanya dengan kepala Kinanti. Kinanti ikut tersenyum sambil menikmati nasi goreng yang dingin ini. Mereka mulai menikmati nasi goreng mereka hingga nyaris habis dan hanya tersisa beberapa butir nasi saja. Rasanya sangat mengenyangkan.
“Maaf karena udah bikin kamu melihat sesuatu yang tidak seharusnya kamu lihat,” ucap Kala tiba-tiba.
Keduanya kompak menaruh sendok mereka dan duduk bersandar pada kursi. Masing-masing perlu sandaran untuk menegakkan tubuhnya.
“Kenapa harus minta maaf untuk sebuah kesulitan yang kamu hadapi? Justru aku berterima kasih karena kamu masih begitu kuat sampai saat ini, Kal.” Kinanti menimpali.
Kala tersenyum kecil, tanggapan Kinanti selalu berbeda dengan apa yang ia bayangkan membuatnya selalu berdebar menunggu setiap timpalan kalimat Kinanti yang sering kali begitu menenangkan.
“Kamu benar, itu kesulitan terbesarku. Tapi bukan menghadapi pria itu, melainkan menghadapi diri sendiri dan melindungi diriku sendiri agar tidak semakin terluka. Aku selalu gagal melakukan dua hal itu, aku selalu terpancing oleh ucapan dan sikapnya padahal aku sudah berjanji untuk membiarkan dia bersikap semaunya dan aku tidak akan lagi peduli.”
Kala menjeda kalimatnya dengan meneguk air teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya. Kinanti melakukan hal yang sama.
“Seburuk itulah hubunganku dengan orang tuaku, sangat jauh berbeda dengan hubunganmu dan orang tuamu. Terkadang aku iri melihat kedekatanmu dengan orang tuamu.” Kala menoleh Kinanti yang ada di sampingnya dan menyimak ucapannya. Ia bersungguh-sungguh dengan kalimatnya.
Kinanti tersenyum kecil dan terangguk paham.
“Kamu hanya boleh iri pada sesuatu yang tidak kamu punya. Tapi jangan iri pada sesuatu yang tidak kamu syukuri keberadaannya.”
Kalimat Kinanti membuat Kala mengernyitkan dahinya.
Kinanti berbicara dengan lugas dan perlahan Kala mengangguk. Ia mengeratkan genggamannya pada cangkir yang hangat itu. Ia paham dengan jelas dan ucapan Kinanti seolah menyadarkannya pada apa yang ia miliki sekarang.
“Aku boleh minta sesuatu?” tanyanya tiba-tiba.
“Hm, katakan.” Kinanti menoleh Kala.
“Aku, sangat membenci diriku sendiri ketika aku merasa kalau aku sangat tidak berguna bagi seseorang terlebih dia orang yang aku sayangi. Bisakah kamu tidak melakukan itu?”
Kalimat Kala terdengar dalam dan penuh harap. Beberapa saat jantung kinanti berdebar dengan kencang dan wajahnya terasa memerah, entah karena alasan apa. Namun ia paham benar maksud kalimat Kala saat ini.
“Maaf, karena aku bikin kamu cemas. Maaf juga karena tadi aku gak mengabari kamu apa-apa. Bukan karena mau bikin kamu merasa tidak berguna tapi, entahlah, aku sangat bingung dengan fokusku. Mungki karena aku gak terbiasa berbagi kesulitanku dengan orang lain.”
Kinanti mengguyar rambutnya kasar. Kejadian tadi begitu mengagetkannya hingga melupakan banyak hal. Ia hanya berfokus pada dirinya sendiri, tidak ada orang lain dalam pikirannya termasuk Kala dan Lukman.
__ADS_1
“Hem, aku paham. Tapi lain kali, jangan lakukan itu lagi. Sekarang kamu gak sendirian Kinan, gak harus memikirkan semuanya sendirian,” tegas Kala.
Kinanti terangguk kecil, “Terima kasih.” Dua kata itu saja yang ia ucapkan namun membuat dada Kala terasa berbunga-bunga. Wajah dua remaja itu merona dengan sendirinya.
“Kalau gitu, aku pulang dulu. Ini udah terlalu malam. Kita harus beristirahat.” Karena perasaannya tidak menentu, Kala memilih beranjak.
“Ya, ini udah terlalu malam. Besok kita harus sekolah.” Kinanti menyahuti, ia pun merasakan hal yang sama.
“Tapi piringnya gak aku cuci.” Sempat-sempatnya ia mengingat piring bekas mereka makan.
“Gak usah kamu pikirin, aku akan mencucinya nanti. Pulanglah, mamahmu pasti sedang mencemaskanmu.” Kinanti mendorong Kala keluar dari rumahnya.
Kala tersenyum kecil, sengaja membatu agar Kinanti terus mendorongnya. Tubuh Kala begitu susah untuk di dorong, mungkin karena dia masih betah berada di rumah ini. Kala hanya terkekeh merasakan dorongan Kinanti hingga sampai ke mulut pintu.
“Helm kamu,” Kinanti memberikan helm Kala yang hampir tertinggal di kursi tamu.
“Oh iya,” Kala segera mengambil alih dan memakainya.
“Aku pulang ya,” pamitnya.
“Hem, hati-hati di jalan.” Kinanti bersandar pada pintu rumahnya sambil memandangi Kala.
“Okey, aku akan berhati-hati. Sampai ketemu besok.” Kala sempatkan untuk mengusap kepala Kinanti beberapa saat.
“Ya, bye!” Kinanti melambaikan tangannya pada Kala.
Kala pun melangkah pergi. Ia menunggangi kembali kuda besinya. Suara mesin sudah menyala dan ia sempatkan untuk menatap Kinanti beberapa saat sebelum ia benar-benar pergi. Ia pastikan Kinanti akan muncul di mimpi indahnya malam ini.
Sebuah klakson menjadi tanda pamitnya Kala untuk pulang. Laki-laki itupun pergi, hanya menyisakan kepulan asap tipis dari knalpotnya.
“Bye Kal,” Kinanti mengulang kalimatnya sambil tersenyum kecil. Melihat tingkah Kala, jantungnya selalu berdebar. Ia pun mengusap kepalanya sendiri yang tadi diusap Kala, rasanya gemas dan menghangatkan.
“Kelak, kamupun tidak akan merasakan iri lagi Kal sama aku dan ayah.” Kinanti membatin, saat mengingat ucapan Kala dan kejadian di rumah sakit. Ia berharap hubungan Kala dengan ayahnya membaik.
Kinanti menghembuskan nafasnya lega. Ia segera masuk ke rumah dan mengunci pintu. Baginya, hari ini terlalu campur aduk, semua perasaan ada di hati Kinanti.
__ADS_1
Akankah ia mimpi indah atau tidak bermimpi sama sekali?
****