
Bagi sebagian besar orang, suasana rumah sakit di malam hari sangatlah mencekam. Sarat dengan suasana dingin dan sepi juga tegang dengan mitos mahluk astral yang tak kasat mata dan sering mengganggu hingga orang merasa tidak tenang berada ditempat yang sebenarnya menjadi tempat terbaik untuk meminta pertolongan. Terutama bagi mereka yang dilanda kegelisahan menghadapi kondisi kesehatannya.
Rasa mencekam itu juga dirasakan oleh Kinanti. Hingga malam menjelang, ia masih berjalan mondar mandir sambil mengigiti kuku jarinya, karena gelisah. Sesekali ia mengintip ke dalam ruang observasi untuk melihat kondisi Lukman. Sudah lebih dari empat jam berlalu, waktu yang dijanjikan dokter untuk memonitor kondisi Lukman. Namun, hingga saat ini Kinanti belum mendapatkan kabar apapun.
Dalam keadaan dingin, sepi dan mencekam itu Kinanti berusaha berdiri tegak. Ia harap-harap cemas menunggu kabar dari dokter. Kapan ia bisa melihat ayahnya? Kapan ia bisa memastikan kalau Lukman baik-baik saja dan tidak ada hal fatal yang terjadi pada pria paruh baya kesayangannya. Semuanya masih tanda tanya.
Dari kejauhan, seorang remaja pria berjalan menghampiri Kinanti. Ia memperhatikan gadis manis yang tampak gelisah itu, dari kejauhan. Kinanti masih berjalan mondar-mandir sambil memeluk tubuhnya sendiri. Mengusap-usap bahunya sendiri, selain untuk menghangatkan, juga untuk menenangkan. Gadis itu masih dengan pakaian seragamnya yang sudah dipenuhi peluh dan air mata. Udara dingin pasti menyergap dari bawah, merambat naik ke kakinya yang hanya mengenakan kaos kaki setengah betis dan rok sebatas lututnya.
Gadis itu kesepian, gadis itu ketakutan dan gadis itu perlu seseorang untuk menenangkannya.
“Nan,” panggil Kala saat sudah berdiri dihadapan Kinanti. Ia baru kembali setelah membeli makanan dan minuman. Asupan makanan dan minuman terakhir kali masuk ke tubuh kurus Kinanti saat gadis itu makan siang di kantin sekolah, sudah beberapa jam lalu.
“Iya,” dengan suara pelan itu saja, Kinanti terhenyak. Wajahnya juga masih pucat dan tegang, lebih pucat dari saat harap-harap cemas menunggu amplop beasiswa dibuka. Salutnya, gadis ini tetap berusaha tenang walau pikirannya menjelajah keseluruh sudut kepalanya yang terasa semakin berat.
Kala melepas jaketnya, lalu memakaikannya pada Kinanti. Kinanti menatap wajah Kala yang ada dihadapannya dan berjarak beberapa senti saja. Entah apa jadinya jika Kala tidak menemaninya. Ia sungguh bersyukur karena Kala selalu ada disisinya dalam kondisi apapun. Tempat terbaik untuk berbagi setelah sang ayah.
__ADS_1
“Makan dulu ya, kamu belum makan apapun sejak siang,” ajak Kala seraya menangkup kedua sisi wajah Kinanti yang dingin karena udara malam.
“Aku gak selera, Kal.” Mata gadis itu berkaca-kaca. Perhatian Kala telah menyentuh relung hatinya yang paling dalam.
“Selera makan kamu mungkin hilang, tapi tidak berarti tubuh kamu tidak memerlukannya. Jangan egois, berikan hak tubuh kamu. Kita masih harus menghadapi waktu-waktu ke depan yang memerlukan banyak tenaga dan kekuatan cukup besar agar kita bisa bertahan. Jika bukan buat kamu sendiri, paling tidak buat ayah.” Kala berbicara dengan sungguh. Ia menatap lekat sepasang mata Kinanti yang berbayang karena air mata.
Gadis itu menggigit bibirnya kelu, lantas mengangguk. “Iya,” suaranya terdengar tercekat. Kala tersenyum lega, Kinanti memang mudah untuk diberi pengertian.
“Duduklah, kita makan sama-sama.” Kala mengajak Kinanti duduk dan gadis itu menurut saja.
Tangan gemetar Kinanti menyuapkan makanan itu kemulutnya, lalu tertunduk lesu sambil meneteskan bulir air mata di kedua sudut matanya. Ada rasa tercekat ditenggorokannya yang membuat ia sulit sekali menelan makananya.
“Hey, apa makanannya gak enak?” Kala mengusap punggung Kinanti yang melengkung.
Kinanti menggeleng. Ia berusaha menegakkan kembali kepalanya lantas mengusap air matanya dengan kasar. Ia menghela napasnya dalam, tetapi tangisnya tetap saja tidak tertahan membuat ia harus menengadahkan kepalanya beberapa saat untuk menghalau air matanya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk kuat. Akan tetapi nyatanya janji itu tidak mudah untuk ditepati.
__ADS_1
Kinanti menghela kembali napasnya lalu menghembuskannya perlahan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk semakin kuat saat Kala mengusap pucuk kepalanya dengan lembut. Ditusuk-tusuknya daging ayam itu dengan sendok plastik untuk menyalurkan kesedihannya.
“Ayah sangat suka semur ayam, terutama paha bawah seperti ini. Katanya kulitnya gurih. Aku bahkan sempat berebut sama ayah waktu beliau iseng mengerjaiku, pura-pura gak mau ngalah sama aku. Tapi kalau aku udah ngerengak, semua ayam pasti ayah kasih buat aku." Kinanti tersenyum kelu dan lelehan air mata kembali menetes.
"Tapi sekarang ayah bahkan belum bisa makan. Padahal aku rela kok Kal, kalau harus ngasih semua ayam ini buat ayah. Ayah udah bekerja keras demi menghidupi aku, mana mungkin aku akan berebut sama ayah.” Susah payah Kinanti menyelesaikan kalimatnya dengan dada sesak dan isakan. Lagi ia mengusap air matanya yang selalu susah untuk dihentikan.
Kala mengangguk paham, usaha Kinanti untuk bertahan hingga sejauh ini memang sangat sulit. Separuh nyawanya adalah Lukman, tentu bukan hal mudah untuk melewati semua ini.
“Nan, saat ayah sembuh nanti, kita akan masakin ayah semur ayam yang banyak. Biar ayah makannya lahap. Kamu menyuapinya supaya ayah seneng. Sama senengnya seperti saat ayah menyuapi kamu. Hem?” Kala berusaha menghibur Kinanti.
Kinanti terangguk, lantas tertunduk dan menumpukan kepalanya ditangan kanannya yang bertopang pada pahanya.
“Iya.” Suaranya terdengar serak dan besar. Kala tahu, Kinanti sedang berusaha tegar.
“Keluarga bapak Lukman?” suara panggilan terdengar dari arah pintu ruang observasi. Sebelah ruang UGD.
__ADS_1
****