Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Pengakuan


__ADS_3

Kemana-mana pergi berdua dan dimana-mana selalu tampil berdua. Itulah yang dilihat Riko dari Kala dan Kinanti. Berangkat dan pulang sekolah berdua, di kelas mereka bercanda berdua, mengerjakan tugas berdua, lalu sekarang juga ke kantin berdua, itupun sambil tertawa-tawa bahagia berdua. Tidak pernah ada orang lain ditengah-tengah keduanya.


Riko yang sedang berdiri ditempatnya, memperhatikan benar salah satu meja yang ditempati Kala dan Kinanti. Mereka makan berdua sambil berbincang hal-hal yang entah apa. Yang jelas baik Kala atapun Kinanti tidak berhenti tersenyum. Interaksi keduanya terlampau dekat dan membuat Riko penasaran.


Saat Kinanti menyuapkan nasi kemulutnya, Kala dengan setia menyediakan tissue. Lalu saat Kala bercerita, tatapan Kinanti sedalam itu pada teman lelakinya. Mereka minum saja saling bertatapan, membuat Riko menggenggam erat piring makan yang sedang ia pegangi, agar tidak jatuh apalagi pecah.


“Apa mereka memang sebahagia itu? Ada apa sih didunia mereka?” gumam Riko yang masih memperhatikan tingkah Kala dan Kinanti.


Berbekal rasa penasaran itu, Riko memilih untuk bergabung dengan dua sejoli itu. “Gue boleh gabung?” tanya Riko yang duduk dihadapan Kala.


“Boleh, kursinya kosong kok.” Kinanti menyahuti dengan ramah.


“Okey, makasih Kinan.” Riko tersenyum kecil pada Kinanti.


“Sama-sama, Ko,” timpal gadis itu lagi. Sementara Kala hanya terdiam, melanjutkan makan siangnya dengan malas. Remaja itu mulai merasa terganggu padahal biasanya ia duluan yang mengajak Riko makan atau main basket.


“Kamu gak suka tomat?” Kala bertanya pada Kinanti yang menyingkirkan tomat dari makanannya dan membariskannya ditepian piring.


“Iyaa, kalau dibikin campuran sayur kayak gini aku gak suka. Rasanya aneh, buah tapi kok di bikin sayur. Kalau dimakan langsung atau di jus, baru aku suka,” tutur Kinanti sambil tetap menyingkirkan sisa tomat yang bercampur dengan sayur yang akan ia makan.


“Memangnya, tomat itu sayur apa buah?” Kala jadi penasaran. Ia menaruh sendoknya, menopang dagunya dengan tangan kanan sambil memandangi Kinanti.


“Em, kalau secara klasifikasi botani dan ilmu pengetahuan, tomat masuk dalam kategori buah-buahan. Mengapa? Karena tomat ini memiliki biji didalamnya dan tumbuh dari bunga tanaman. Seperti buah sejati lainnya, tomat juga sebelumnya berbentuk bunga kuning kecil yang mengandung banyak biji. Makanya menurutku cocoknya disebut buah, bukan sayur,” terang Kinanti.

__ADS_1


Kala menyimak benar ucapan Kinanti sambil menatap lekat wjah manis itu. Ia begitu terbuai oleh setiap gerakan bibir, intonasi suara dan gaya bicara Kinanti yang menurutnya menarik.


Riko pun menyimak dengan baik. Bukan hanya pemaparan Kinanti, tetapi juga cara Kala menatap Kinanti yang sangat lekat.


“Tapi kan tomat juga suka dipake sebagai dressing sayuran?” Kala penasaran. Tepatnya, ia ingin mendengar lagi pemaparan Kinanti yang menurutnya asyik untuk disimak.


“Iyaa, karena fungsinya juga memenuhi untuk dijadikan dressing makanan. Jnis tomat kan beda-beda, hanya saja aku tidak suka kalau buah tomat ini disayur. Ya mungkin ini lebih ke selera. Kalau dijadikan dressing salad, dia kan cuma di potong-potong aja, gak dimasak.” Ada saja jawaban Kinanti yang membuat Kala mengangguk setuju.


“Kalian berdua ngapain sih?” Riko jadi penasaran. Ia menatap Kinanti dan Kala bergantian.


“Ya makan, sambil ngobrolin tomat. Lo gak nyimak, padahal Kinanti ngejelasin jelas banget?” Kala yang memberi respon, itupun dengan malas karena merasa terganggu dengan  kehadiran sahabatnya.


“Bukan itu. Gue paham, Kinanti ngomongin soal tomat. Tapi mata kalian berdua, bibir kalian berdua, gestur dan perhatian kalian berdua, itu ngapain? Gue gak ngerasa lo berdua lagi ngobrol, tapi lagi mengasingkan gue!” Riko mengungkapkan kekesalannya. Ia menaruh sendokya dengan kesal.


“Lo kalau mau ikut nimbrung ya nimbrung aja, gak usah resek,” imbuh remaja tampan itu dengan kesal.


“Iyaa, gue pengen nimbrung. Tapi lo berdua gak ngasih gue celah. Seolah meja ini cuma tempat lo berdua dan gue nebeng!” Riko masih dengan kekesalannya.


“Lah, bukannya emang lo nebeng? Dari tadi juga gue emang cuma berdua doang ama Kinanti. Lo yang tiba-tiba dateng terus ikut duduk. Obrolan gue sama Kinanti juga udah dari tadi, kenapa gue mesti ngasih celah gak jelas buat lo gabung? Gak usah deh lo ngerusak kesenenang gue sama Kinanti.” Kala ikut meradang.


“Dih si anj, sekarang begitu lo sama gue.” Riko mengangguk-angguk sambil memandangi dua orang dihadapannya.


“Gitu apaan?” Kala balik bertanya.

__ADS_1


“Ya gitu! Gue rasa lo udah lupa sama gue dan dunia lo Kinanti semua. Lo berdua juga gak cuma deket sebagai temen doang. Kalian berdua pacaran kan?” Riko memelankan suaranya diujung kalimat. Ia juga menatap Kinanti dan Kala bergantian dengan senyum tertahan dan meledek.


“Iya, emang gue pacaran sama Kinanti. Kenapa lo? Sirik!” Kala menjawab apa adanya.


“Kal,” Kinanti kaget sendiri dengan jawaban Kala. Mana mungkin Kala tiba-tiba mengakui status hubungan mereka tanpa kompromi dulu dengan Kinanti. Dan saat ini, yang mendengar pengakuan Kala itu bukan hanya Riko, tetapi seisi kantin termasuk dua orang pelayan Kantin yang ikut memandangi sepasang sejoli itu, lalu saling berbisik.


“Oh, mereka pacaran. Pantesan lengket banget kayak perangko.” Kalimat itu yang samar-samar didengar oleh Kinanti. Gadis itu sampai tertunduk malu dengan wajah yang memerah.


“Iya! Gue sama Kinanti emang pacaran. Kenapa lo pada? Mau protes?” Kala berbicara dengan pandangan yang menyapu seisi ruangan. Tangannya juga menggenggam tangan Kinanti dengan erat.


“Astaga Kalaaa….” Kinanti benar-benar ingin menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu.


“Cieee….” Ucap para siswa bersamaan. Akh, Kinanti benar-benar ingin menghilang dari tempat ini saking malunya.


“Makasih!" Kala malah mengangguk bangga dengan seruan teman-temannya itu.


"Kenapa, masih ada yang mau lo tanyain?” Kali ini Kala bertanya pada Riko.


“Kagak! Sekarang gue udah sadar, kalau gue dicuekin bukan karena gue bukan sahabat lo lagi. Tapi karena bagi lo didunia ini cuma ada Lo sama kinanti. Dah lah! Gue cuma bisa bilang, selamat deh bro! ikut seneng gue.” Riko dengan ekspresi terharunya, pura-pura mengusap air mata yang sebenarnya tidak ada.


“Brengsek lo!” Kala membalasnya dengan ejekan sambil menahan senyum yang terkembang di bibirnya.


Sementara Riko hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya. Sepertinya, ia sudah tidak memiliki teman malam mingguan lagi sekarang karena Kala sudah punya pasangan sendiri. Namun bagaimana pun, ia senang mendengar kabar pengakuan Kala. Hanya ia saja yang merasa nelangsa karena jomblo. Nasiibbb....

__ADS_1


****


__ADS_2