
Usaha Frea untuk menjatuhkan dan memojokkan Kinanti ternyata tidak hanya membuat Yudhistira kesal, tapi juga tidak bisa diterima oleh Demian. Berbeda dengan Kala, Demian langsung mengajak Frea berbicara karena menurutnya, apa yang Frea sampaikan pada orangtuanya bisa mengancam kedekatannya dengan Kinanti.
“Apa maksud lo ngomong gitu depan bokap gue? Lo sadar kan kalau apa yang lo omongin itu bisa mengancam usaha gue buat ngedeketin Kinanti?” Demian menatap gadis cantik itu tidak suka. Tapi Frea tampak anteng saja. ia asyik memainkan kuku-kuku cantiknya yang sudah ia beri kutek warna merah muda.
“Frea! Lo denger gue gak sih?!” Demian semakin kesal hingga menarik tangan Frea dengan kasar.
“Aduuhhh lo kok berisik banget sih? Udah lamban, berisik lagi.” Frea mengibaskan tangan Demian lalu menutup telinganya dengan kedua tangan.
“Berisik apanya? Lo udah janji untuk kerjasama sama gue. Gue deketin Kinanti dan lo deketin Kala. Itu perjanjian awal kita. Kenapa sekarang lo malah bikin gue pusing dengan aduan gak masuk akal lo itu?” Demian semakin tidak terima. Frea telah merusak komitmen mereka.
“Habis lo lamban Demian. Gue gak suka cowok lamban. Lo harusnya lebih sat set sat set. Lo ajak si Kinanti itu kemana kek. Terus lo ajak tidur, lo hamilin dia. Gue jamin, lo bakal direstuin sama bokap nyokap lo. Kala juga bakal ninggalin dia. Gitu cara kerjanya jaman sekarang, bego! Pake deh otak pinter lo dikit aja.” Frea berujar dengan ringan sambil menunjuk kepala Demian.
“Lo gila Frea. Walau pun gue suka dan cinta sama kinanti, gue gak bisa bertindak sejahat itu. Kinanti punya masa depan, cita-citanya tinggi. Mana mungkin gue ngerusak mimpi cewek yang gue cinta.” Demian kembali meradang.
__ADS_1
“Akh basi! Gak usah deh lo sok-sokan mau ngebelain Kinanti sampe sejauh itu. Dari sekarang aja lo udah bikin siasat buat dia, lo udah nipu dia dengan kerjasama sama gue. Masih aja lo mau nunjukin ke gue kalau cinta lo suci. Preett!! Najis gue dengernya.” Frea benar-benar meledek usaha Demian.
“Udah, mending sekarang lo buruan deketin si Kinanti. Lo bikin seolah kalau lo bisa merubah Kinanti. Kala sama Kinanti sama-sama jadi orang baik setelah mereka pisah. Itu semua berkat kita berdua. Hasilnya kan, kita bisa dapet orang yang kita cinta dan orang tua kita juga bakal dukung hubungan kita sama pasangan masing-masing."
"Lagi pula, nakal waktu remaja di anggap biasa kok. Lo gak perlu seheboh itu. Selagi kita sekolah, kita punya orang tua yang bisa ngehapus kesalahan kita dan memaklumi itu. Namanya juga remaja, masih dalam tahap belajar. Salah-sala dikit sih wajar. Asal jangan sampe kesalahannya dibawa sampe tua. Kayak begonya lo itu.” Imbuh Frea sambil terkekeh geli melihat ekspresi Demian yang masih murka.
Demian tidak menjawab. Ia masih memandangi Frea dengan penuh rasa heran. Bisa-bisanya ada orang selicik dan seegois Frea di dunia ini dan sayangnya ia harus terjebak di perahu yang sama dengan Frea demi menuju pulau harapan. Mau melompatpun tidak mungkin, karena kalau gagal, ia tidak hanya basah tapi juga mati. Mati di hati Kinanti.
“Gak habis pikir gue sama lo!” Decik Demian seraya berlalu pergi.
"Dih, emang gue pikirin!" Frea membalas dengan acuh. Ia pun pergi ke kamarnya.
Di tempat berbeda, Kala tengah diintrogasi oleh Yudhistira. Hasutan Frea benar-benar masuk ke hati dan pikirannya.
__ADS_1
“Mulai sekarang, kamu jauhin gadis itu. Gadis polos yang ternyata malah bikin kamu jadi tambah berandal. Jangan bodoh Kala, pilihlah teman yang baik, bukan malah memilih teman yang seperti itu.” Yudhistira menatap Kala dengan kesal, ia juga berkacak pinggang untuk menunjukkan kekuasaannya.
“Kinanti gak ngasih pengaruh buruk apa-apa sama aku. Sebelum aku bertemu Kinanti pun, aku sudah berandal seperti ini. Dan rasanya, Papah tahu kan apa penyebabnya?” Kala balas menantang. Ia menyeringai sarkas pada Yudhistira.
“Lagi pula, aku gak butuh persetujuan Papah untuk berteman sama siapapun, seperti halnya Papah yang tidak memerlukan persetujuanku untuk berselingkuh dengan wanita itu dan meninggalkan Mamah. Bukankah kita impas? Like father, like son.” Kalimat Kala terdengar sangat menyindir bagi Yudhistira dan membuat laki-laki paruh baya itu mengeram kesal. Hanya mengeram kesal karena ia mengakui kebenaran ucapan putranya.
“Jadi, mulai sekarang berhenti mengurusi dan mengusikku. Aku tidak silau dengan apa yang Papah punya. Sekalipun Papah membanggakan anak tiri Papah di depan orang lain, itu sudah tidak berarti apa-apa buat aku. Aku tidak memerlukan kebanggan Papah karena aku tidak akan pernah mengikuti arah langkah Papah."
"Aku akan dengan langkahku sendiri, menjalani hidupku sendiri dan tujuanku hanya satu, membahagiakan Mamah. Jadi berhenti menggangguku, karena aku tidak segan untuk melawan Papah dan membuat Papah semakin malu dengan kenakalanku.” Kekesalan Kala berbuah ancaman pada Yudhistira. Ia sudah tidak peduli pada semua ancaman Yudhistira karena pada akhirnya ia sadar, kalau anak yang ada di mata seorang Yudhistira, hanya Demian bukan dirinya.
Puas dengan apa yang ingin ia ungkapkan, akhirnya Kala memilih untuk pergi. Ia sudah tidak peduli lagi pada Yudhistira, pada setiap pemikiran dan keputusannya yang membuat Kala semakin merasa asing pada sosok ayah yang dulu selalu ia banggakan.
****
__ADS_1