Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Pencapaian


__ADS_3

Kala tidak pernah menyangka, kalau ia akan merasakan perasaan seperti ini. Perasaan berdebar menunggu sebuah pengumuman yang membuktikan sebuah pencapaian untuknya. Ia pikir perasaan seperti ini hanya akan dirasakan oleh orang-orang cerdas seperti kinanti, tetapi nyatanya siapapun bisa merasakan perasaan seperti ini, saat mereka mengeluarkan potensi terbaik yang ada di diri mereka.


Remaja tampan dengan wajah tegang itu, terduduk di salah satu bangku penonton bersama Riko. Mereka berada di antara ratusan orang yang menjadi peserta festival game ini. Seorang laki-laki sedang berbicara diatas panggung kehormatan. Laki-laki berkebangsaan Jepang ini terlihat menggebu-gebu berusaha menggugah semangat para peserta lomba yang sedang harap-harap cemas menunggu dibacakannya hasil penilaian dewan juri.


Dengan bahasa inggrisnya yang fasih laki-laki itu berbicara tentang beberapa manfaat positif dari game yang bagus. Mulai dari melatih fokus seseorang, menambah jaringan sosial antar pemainnya, meningkatkan kinerja otak, meningkatkan peluang karier dan tentu saja tempat berlatih menyelesaikan masalah.


Itulah mengapa mereka akan menjaring game yang layak untuk dimainkan dan memberi manfaat bagi pemainnya bukan hanya sekedar hiburan yang menghabiskan waktu hingga menyebabkan pemainnya kecanduan pada game yang tidak berdampak nilai positif apapun.


Pada point ini peserta bertepuk tangan. Benar adanya bahwa tidak boleh sembarang game yang mereka loloskan dan menjadi unggulan. Mereka harus memutuskan game mana yang layak mendapatkan perhatian dan layak dipermainkan oleh para pecinta game dunia.


Pidato berakhir dan saat ini MC sudah mulai menyinggung masalah pembacaan pemenang. Kala semakin tegang, Riko ikut gelisah. Dua remaja itu saling menguatkan satu sama lain.


“Lo yang tenang Kal, apapun hasilnya itu yang terbaik buat lo.” Bijak sekali Riko menyemangati, padahal ia sendiri yang sedang ketar-ketir menunggu hasil dibacakan.


“Iya, gue tau.” Hanya itu jawaban Kala. Ia menarik napas dan membuangnya berulang, agar menenangkan hatinya yang ketar-ketir.


Satu per satu kejuaran mulai dibacakan.


“Here we go, The Winner of international festival game, second batch, number three, Ryota from Japan!” Suara MC menggema disambut tepukan tangan yang bergemuruh di seisi ruangan. Kala dan Riko ikut bertepuk tangan melepaskan kegelisahan dan ketegangan. Rasanya semakin tegang saja saat seorang laki-laki bertubuh mungil naik ke atas panggung.


“Number two, Nimuel from Philiphines.” Orang kedua naik ke atas panggung, seorang laki-laki yang duduk tidak jauh dari Kala saat kompetisi berlangsung. Hah, jantung Kala semakin kembang kempis saja. Keringat dingin bercucuran di punggungnya hingga tangannya sangat basah.


“Number one, please welcome, Kalantara Aksa Yudhistira from Indonesia!” Lagi suara tepuk tangan bergemuruh.


“AAAKKKKKK, selamat bro! Lo menang!” Riko langsung memeluk lalu mengacak rambut sahabatnya saat nama Kala yang disebut oleh MC.

__ADS_1


Wajah Kala langsung pucat dan tubuhnya gemetaran. Ia tidak menyangka kalau ia akan menjadi pemenangnya. Ia masih mematung dalam pelukan Riko yang menepuk-nepuk punggungnya untuk menyemangati sahabatnya itu.


“Okey, please welcome Mr Kalantara.” Lagi MC memanggil nama Kala.


“Oh, ya!” Kala segera tersadar. Ia melepaskan pelukannya dari Riko, merapikan bajunya dan beranjak menuju panggung. Kala juga merapikan rambutnya dan mengusap wajahnya yang tampan. Beberapa pasang mata melirik remaja tampan itu, terutama para gadis. Sosoknya yang tampan dan berwibawa itu memang menarik perhatian siapapun.


"Sohib gue itu, sohib gue!" Riko berujar dengan jumawa.


Dengan gayanya yang dingin, Kala mengabaikan setiap pandangan yang tertuju padanya. Di bawah sana ia mengangguk memberi hormatnya pada dewan juri lantas naik ke atas panggung.


“My Friend, he is my friend.” Lagi Riko berujar dengan jumawa pada setiap orang yang menatapnya. Rasanya bangga sekali melihat Kala berdiri di atas panggung dan menerima pengharaan pertamanya. Tidak lupa ia mengeluarkan ponsel dan merekam moment sakral pertama Kala. Tangannya sampai gemetar karena rasa bahagia yang menyeruak.


Selesai mendengarkan kejuaraan, Kala di minta masuk ke sebuah ruangan untuk menandatangani sebuah kontrak exclusive dengan perusahaan besar, penyelenggara perlombaan. Games nya akan dikembangkan dan dipasarkan secara internasional. Tidak hanya itu, Kala juga mendapatkan penawaran beasiswa pendidikan di sekolah khusus gamer, mulai dari Nihon Kogakuin college di Jepang, University oh southern di California Amerika Serikat hingga Sheridan College Trafalgar Road campus di Kanada, juga beberapa sekolah lainnya didalam dan luar negeri.


Kala dibuat bingung oleh penawaran itu semua. Baru kali ini ia merasa kalau dirinya menjadi sorotan atas sebuah prestasi. Penawaran yang diberikanpun bukan main-main dan tentu saja menambah kebanggan bagi dirinya.


Menjelang malam hari, Kala memutuskan untuk pulang. Sesuai janji, ia pulang dengan menggunakan penerbangan terakhir sekitar jam setengah enam petang. Dalam perjalanan ia melakukan panggilan video dengan Kinanti dan Lukman. Dua orang itu tertawa bahagia bahkan meneteskan air mata bahagia saat mendengar pencapaian Kala.


“Kereenn!!” Susah payah suara serak Lukman berujar penuh kebanggan. Ia mengcungkan kedua ibu jarinya untuk Kala yang terlihat sangat bahagia.


“Terima kasih Ayah, ini juga berkat dukungan Ayah dan Kinan.” Ungkap remaja itu dengan penuh kebanggan. Ia merasa apalah arti seorang Kala yang dicap bad boy dan dianggap sebagai anak tidak berguna. Ia tidak akan sampai pada titik ini kalau tidak bertemu dengan orang-orang yang begitu gigih menyemangatinya dan memberinya rasa percaya diri.


Lukman tersenyum haru. Kala bisa melihat mata Lukman yang berkaca-kaca menatap wajah Kala. Sayangnya kebersamaan mereka harus terjeda oleh sebuah panggilan untuk naik ke pesawat yang terdengar menggema.


“Ayah, Kinan, kita ngobrol lagi nanti ya. Aku naik dulu, nanti udah sampe Jakarta aku kabarin,” ucap Kala.

__ADS_1


“Iya, hati-hati di jalan,” timpal Kinanti sambil melambaikan tangannya. Lihat, wajahnya sangat cerah dan penuh kebahagiaan.


Panggilan pun terputus dan Kala segera naik ke pesawat bersama Riko. Mereka mencari kursi tempat mereka dan segera duduk disana.


“Gila ya, lo lebih dulu ngabarin Kinanti sama bokapnya dibanding bokap lo sendiri. Harusnya dia duluan yang lo kabari, biar dia nyesel udah mengecilkan potensi lo.” Riko memberikan komentar yang cukup menampar jika didengar oleh Yudhistira.


Kala tersenyum kecil mendengar ucapan sahabatnya. “Gue udah gak peduli sama tanggapan dia. Yang terpenting sekarang cuma kebahagiaan orang-orang yang selalu support gue. Nyokap, bokapnya Kinanti dan tentu aja pacar gue, Kinanti.” Kala berujar dengan tegas.


“Gue gak masuk nih?” Riko menunjuk hidungnya sendiri dengan kesal.


“Gak! Lo tim hore doang!” Kala menjahili Riko sambil memalingkan wajah dari sahabatnya. Ia memilih melihat keluar jendela yang memperlihatkan sayap pesawat yang akan segera terbang.


“Dih si anj^ng! Lo gak menghargai usaha gue banget. Gue sampe rela LDR sama Emili cuma buat nemenin lo. Tapi, apa yang lo lakuin? Gak ngehargain banget anjir!” Riko berujar dengan kesal.


Kala hanya terkekeh lantas menoleh Riko yang terlihat kesal. Walaupun ia tahu Kala bercanda, tetapi tetap saja rasanya menyesakkan.


“Makasih ya, lo salah satu yang selalu dukung gue. Percaya sama gue dan support gue walau dengan cara yang agak sengklek.” Kala menimpali sambil terkekeh.


“Hahhahaha… geblek. Lo bilang cara gue sengklek? Tapi iya sih! Hahahaha….” Mereka tertawa diujung kalimat Riko.


“Rasanya gue masih pengen teriak, ketawa ngakak sepuasnya. Gila, jantung gue hampir pecah tadi,” komentar Riko dengan ekspresif.


“Ya, gue juga sama. Nantilah, kita teriak bareng-bareng, ajak cewek gue dan cewek lo juga. Mereka harus ikut menikmati kemenangan ini,” timpal Kala yang sulit menyudahi senyumnya sendiri.


“Ya, kita double date lah. Tapi ngomong-ngomong soal beasiswa, negara mana yang bakal lo pilih?” Riko penasaran untuk bertanya.

__ADS_1


Kala langsung terdiam. Senyum diwajahnya mendadak hilang. Pertanyaan Riko membuat ia harus sadar lagi dengan realita yang ada. Negara mana yang harus ia pilih sekarang?


****


__ADS_2