
Sepasang suami istri berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit yang panjang dan sepi. Adalah Yudhistira yang datang bersama ibu Demian, Imelda. Wanita itu tidak berhenti menangis setelah mendengar kabar buruk tentang putranya.
“Mas, gimana kalau terjadi sesuatu sama Demian? Dia kan gak bisa bela diri.” Imelda mengungkapkan kecemasannya. Air matanya tidak berhenti mengalir terlebih setelah dokter menunjukkan foto-foto kondisi Demian saat sedang di tangani.
Yudhistira memang sengaja memintanya karena ia ingin memastikan kondisi putranya tidak separah yang disebutkan dokter. Tidak ada luka serius di dalam tubuhnya dan dokter sudah memberikan pertolongan pertama serta pemeriksaan secara menyeluruh.
“Kamu yang tenang, bukan cuma kamu yang cemas, aku juga sama. Demian anakku juga, anak yang selalu membanggakanku. Mana mungkin aku tidak mencemaskannya.” Yudhistira mengeratkan genggaman tangannya ada Imelda untuk menguatkan satu sama lain. Ia memang begitu menyayangi Demian.
“Iya Mas, terima kasih.” Imelda mengusap air matanya dengan perlahan. Ia harus percaya kalau Demian baik-baik saja.
“Ruangan perawatan pasien atas nama Demian di sebelah mana?” Yudhistira segera bertanya pada perawat yang berjaga.
“Pasien atas nama Demian di kamar VIP nomor 206. Biar saya antar Pak,” sahut perawat dengan sigap.
Ia berjalan di depan kedua orang tua Demian dan dengan langkah panjangnya menuju kamar yang di tuju. Kedua orang tuanya mengekori di belakang.
“Pasien sedang beristirahat, kami memberinya obat penenang,” terang perawat saat membukakan pintu kamar perawatan.
Imelda masuk lebih dulu ke dalam ruang perawatan untuk memeriksa kondisi putranya. Ia menghampiri putranya yang terbaring lemah dengan banyak luka di wajah dan tubuhnya. Tangisnya langsung pecah. Hatinya ikut hancur melihat kondisi putranya yang tidak baik-baik saja. Ia menangis dengan terisak-isak sampai air matanya membasahi dahi dan wajah Demian.
“Jam berapa dia akan bangun?” tanya Yudhistira. Ia ikut kaget melihat kondisi Demian.
“Sekitar jam sepuluh malam, kemungkinan pasien akan bangun.”
Yudhistira mengangguk paham. Ia menghampiri putra sambungnya dengan perasaan yang berdesir. Di usapnya kepala Demian dengan sayang, layaknya putra kandungnnya sendiri.
__ADS_1
“Menurut gurunya Demian, Demian datang dengan teman perempuannya. Apa itu benar?” ia mengingat ucapan Jack beberapa waktu lalu.
“Oh iya Pak, putra bapak datang dengan seorang gadis.”
“Terus kemana anak itu sekarang?”
“Tadi dia berpesan kalau dia akan keluar sebentar dan akan kembali lagi ke sini. Dia juga meninggalkan nomor ponselnya, sebagai antisipasi kalau kami perlu menghubunginya.”
"Apa dia baik-baik saja?"
"Kondisinya lebih baik jika di bandingkan putra bapak. Ia memiliki luka memar di lengan dan bahunya tapi sudah kami obati."
Yudhistira menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak menyangka kalau Demian akan terlibat masalah seperti ini saat dekat dengan seorang gadis.
“Kalau begitu, saya permisi dulu Pak, Bu. Kalau bapak memerlukan kami, silakan tekan tombol panggil yang ada di dekat bed pasien.”
Perawat itupun pergi, meninggalkan keluarga kecil itu di ruang rawat.
“Apa Demian pernah cerita kalau dia dekat dengan seorang gadis?” Yudhistira duduk di sofa, menatap istrinya yang setia berada di dekat Demian.
“Nggak Mas. Dia cuma pernah bilang kalau dia punya temen baru. Dia akan ikut olimpiade bersama Demian. Tapi Demian gak pernah bilang teman barunya itu laki-laki atau perempuan,” terang Imelda.
Yudhistira termenung beberapa saat memandangi Demian. “Ya udah, nanti aku akan tanya Jack. Sudah lama dia gak ngasih info tentang anak-anak di sekolah,” ucapnya.
“Iya, Mas,” sahut Imelda yang kembali mengusap-usap kepala Demian dengan penuh sayang.
__ADS_1
*****
Di depan polisi, Kinanti baru selesai memberikan keterangan. Ia menceritakan apa saja yang terjadi pada dirinya dan Demian. Semua kronologisnya ia ceritakan dengan lengkap, ciri-ciri para pelaku hingga hasil visum yang ia dapatkan dari pihak rumah sakit ia sampaikan semuanya dengan rinci tanpa ada yang ia tutupi sedikitpun.
“Adek masih ingat plat nomor motor pelaku?” ini pertanyaan ke sekian yang diterima Kinanti.
Kinanti terdiam, ia berusaha mengingat kombinasi huruf dan angka yang pernah di lihatnya. Sambil matanya terpejam ingatannya memutar balik pada saat awal orang-orang itu datang.
“Hanya dua plat nomor yang saya ingat pak. Karena dua lainnya mendekat setelah saya ketakutan,” kenang Kinanti.
“Baik, tuliskan di sini.” Polisi itu memberikan selembar kertas dan ballpoint pada Kinanti.
Kinanti menuliskan dua plat nomor beserta jenis motor yang digunakan.
“Silakan, Pak.” Kinanti mengembalikan kertas yang sudah ia tulisi.
“Baik, terima kasih. Laporan adek kami terima. Kami juga akan mengunjungi teman adek besok. Hari ini, adek beristirahatlah. Adek akan pulang di antar oleh petugas.”
“Iya Pak, terima kasih. Pak, tolong segera tangkap orang-orang itu ya, jangan sampai mereka membuat onar dan mencelakai orang lain lagi,” pesan Kinanti.
“Pasti, kami akan segera melakukan pencarian pada para pelaku.”
“Terima kasih, Pak.” Kinanti dan Polisi itupun berjabat tangan.
Sekitar dua jam Kinanti menyampaikan keterangannya dan sekarang ia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ia merasa sedikit lega karena akhirnya ia bisa melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya dan orang lain di masa depan. Berdo’a saja semoga polisi segera menangkap pelaku kejahatan itu.
__ADS_1
****