Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Kinanti ame Kala


__ADS_3

Selesai dengan pekerjaannya, Kala mengajak Kinanti untuk berjalan-jalan menikmati waktu berdua. Sudah sangat lama mereka tidak melakukan hal semacam ini. Masing-masing membawa motornya dengan pakaian lengkap khas biker. Melepas kerinduan, mereka saling berkejaran di jalanan. Kala mengajak Kinanti ke suatu tempat, tempat yang dulu sering mereka datangi untuk belajar bersama.


Ya, café tempat kerja Kala, dulu. Sekarang café itu sudah banyak berubah. Tempatnya semakin luas hingga tiga lantai, pengunjungnya juga semakin ramai. Mereka duduk berhadapan di sudut yang biasa mereka tempati. Menikmati live music dan makanan ringan sambil mengingat kembali kenangan tujuh tahun silam. Dulu, di meja ini mereka belajar bersama. Kinanti mengajari Kala banyak materi dan mereka begitu menikmati waktu mereka saat itu.


Waktu ternyata begitu cepat berlalu. Banyak hal yang mereka lewati selama tujuh tahun bersama dan terpisah oleh jarak. Banyak hal juga yang sempat membuat mereka nyaris menyerah dengan hubungan jarak jauh yang tidak mudah, tetapi pada akhirnya mereka kembali pada komitment mereka untuk tetap bersama dan mengutamakan komunikasi dalam hubungan.


“Jadi, gimana kabar pacar aku?” Kala mengusap kepala Kinanti dengan sayang. Tidak bosan ia memandangi wajah yang tidak ia temui selama satu tahun terakhir. Lagu milik Someone like you milik Adelle seolah menjadi soundtrack kebersamaan mereka.


“Seperti yang kamu liat, aku baik-baik aja.” Kinanti menimpali lantas tersenyum. Kala mencubit pipi Kinanti dengan sayang. Pipinya tidak sechuby dulu, tetapi wajahnya malah semakin cantik. Penampilan Kinanti juga banyak berubah. Rambut panjangnya hanya tinggal sebahu dengan alasan rambut yang terlalu panjang menyulitkannya saat merawat pasien.


“Kamu pulang kok gak ngabarin? Emang kerjaan di sana udah selesai?” Kinanti bertanya dengan penasaran. Ia menopang dagunya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya digenggam erat oleh Kala.


“Udah selesai, makanya aku pulang. Lagi pula, ada hal penting yang harus aku lakukan.” Kala tidak henti memandangi wajah Kinanti. Di usapnya hidung Kinanti yang bangir.


“Mau lakuin apa? Kamu jadi bikin perusahaan game di sini?”


Kala menggeleng, membuat Kinanti bertanya-tanya hal penting apa lagi yang ingin Kala lakukan.


“Nan, nikah yuk!” ajak Kala dengan caranya yang jenaka, namun penuh kesungguhan.

__ADS_1


“Hah, nikah?” Kinanti terkejut bukan kepalang. Ajakan laki-laki ini begitu tiba-tiba seperti tanpa persiapan.


Kala tersenyum kecil dan mengangguk. “Aku merasa kalau saat ini aku udah mencapai banyak hal. Mimpi aku satu per satu terwujud dan semuanya terasa begitu ajaib. Hanya saja, masih ada yang kurang dan belum genap sempurna. Seminggu ini aku banyak berpikir kalau apa yang aku capaian ini tetap membuatku merasa kosong karena ada satu sudut yang memang belum terisi. Sudut itu milik kamu.” Kala mengusap pipi Kinanti yang merona kemarahan.


Tiba-tiba saja Kala mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Sebuah kotak berwarna navy dan berisi sebuah cincin yang ia tunjukkan pada Kinanti.


“Jadi, nikah yuk. Aku mau mewujudkan mimpi dan janji aku untuk kita saling memiliki dengan seutuhnya. Bisakah?” Kala berujar dengan sungguh. Kinanti sampai menahan napas mendengar untaian kalimat Kala yang begitu hangat mengisi relung hatinya. Laki-laki ini begitu percaya diri mengungkapkan perasaannya seolah ia sudah sangat yakin untuk meminang Kinanti.


Kinanti terdiam sejenak, memandangi Kala yang berujar penuh kesungguhan. Harus Kinanti akui kalau menikah dengan Kala adalah mimpinya sejak ia remaja. Dan saat ini laki-laki ini begitu gentle melamarnya. Tatapannya pun masih tetap sama, tatapan tujuh tahun lalu saat Kala pertama kali jatuh cinta padanya. Tatapan yang tulus dan penuh kasih seolah laki-laki ini akan memberikan apapun yang Kinanti minta.


“Yuk!” Kinanti menjawab tanpa ragu.


“Masa aku main-main? Kamu pikir kita ngapain selama tujuh tahun ini, mempertahankan hubungan jarak jauh yang kadang bikin aku pengen nyerah. Apa lagi alasannya kalau bukan untuk hidup menua dan bahagia berdua bersama kamu?” Kinanti menegaskan jawabannya dan membuat Kala menghembuskan napasnya lega.


Kala tidak mampu berkata-kata. Dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru, ia menatap Kinanti. Tangannya mengambil cincin berlian yang sudah dua tahun ini ia siapkan untuk Kinanti. Dengan penuh keyakinan Kala menyematkan cincin itu di jari manis Kinanti lantas mengecupnya dengan penuh perasaan.


“Terima kasih, Nan. Terima kasih banyak.” Kala terus mengecupi tangan Kinanti dengan penuh perasaan. Kinanti sampai gemas melihat tingkah Kala yang satu ini. Di usapnya pipi Kala dan laki-laki itu tampak menikmati usapan lembut dari tangan Kinanti.


“YES! Akhirnya aku bisa nyusul Riko, wuhu!” Kala berseru dengan riang membuat beberapa pasang mata tertuju pada dua sejoli ini.

__ADS_1


“Hahahaha… kamu ada-ada aja Kal.” Wajah Kinanti bersemu kemerahan.


“Selamat atas lamarannya. Langgeng yaa….” Ucap salah satu pengunjung café. Rupanya diam-diam mereka menyimak obrolan sepasang kekasih ini. Ia bahkan mengambil bunga yang ada di vas kecil tengah-tengah meja mereka lantas menghampiri Kala dan Kinanti. Tidak satu orang saja yang melakukan itu melainkan pengunjung café lainnya. Mereka ikut berbahagia atas diterimanya pinangan Kala pada kekasihnya.


“Terima kasih...” Hanya itu yang bisa Kinanti ungkapkan pada setiap orang yang memberinya ucapan selamat. Mereka juga bertepuk tangan membuat wajah Kinanti sangat merah karena malu.


Keputusan final sudah diambil. Kinanti dan Kala sepakat untuk mengakhiri masa pacaran mereka dengan hubungan yang lebih serius lagi.


Untuk merayakan keputusan besar ini, mereka berjalan-jalan menyusuri jalan yang sepi dengan sepeda motornya. Mereka melajukan motornya bersisian dan pelan saja seolah mereka memasnag sedang menikmati waktu berdua. Satu tangan masing-masing mengendalikan stang motor mereka sementara satu tangan lainnya saling menggenggam. Ibu jari Kala mengusap lembut punggung tangan Kinanti, mengantarkan jutaan perasaan hangat dan nyaman.


Hari ini, kisah cinta remaja mereka telah berakhir dan hari ini pula seorang bad boy telah menjelma menjadi seorang laki-laki bertanggung jawab pada gadisnya. Mimpinya telah terwujud bukan karena bergantung pada label ia anak dari seorang pengusaha sukses melainkan karena ia berusaha untuk masa depannya yang indah.


Apa lagi yang kalian cari dari sebuah kisah yang sempurna? Akhir yang indah?


Tidak, tidak ada sebuah akhir untuk rasa cinta antara dua insan yang saling mengasihi.


Thanks Bird Love, Kalantara Aksa Yudhistira dan Kinanti Amekala, eh Kinanti Amelia.


**** TAMAT ****

__ADS_1


__ADS_2