Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Salah satu penyemangat ayah


__ADS_3

Satu minggu sudah Lukman berada di rumah sakit. Semakin hari kondisinya semakin membaik. Ia dan Kinanti mulai tenang menghadapi hari-hari yang semula terasa berat. Hari ini adalah hari pertama Lukman melakukan chemotherapy dengan ditemani putrinya.


Tangan Kinanti tidak pernah lepas dari tangannya dan selalu setia menggenggamn tangan Lukman saat mengerang kesakitan. Ia juga tidak segan membantu Lukman saat laki-laki itu muntah-muntah karena reaksi obat. Membersihkan mulutnya yang kotor karena muntahan hingga mengusap keringat didahinya. Semua dijalani Kinanti dengan telaten dan tulus. Tidak sekalipun Ia mendengar Kinanti mengeluh dan Lukman menyesal karena terlambat memberitahu putrinya akan kondisi yang dialaminya selama ini.


“Tenang Ayah, biar Kinan yang bantu. Ayah istirahat aja yaa….” Selalu kalimat itu yang Lukman dengar dari bibir putrinya. Semua hal yang dikatakan dan dilakukan Kinanti terasa begitu memanjakan dan menenangkan bagi Lukman.


Beberapa jam berjuang menjalani prosedur chemotherapy, menyisakan efek yang masih terasa sampai saat ini. Tubuh Lukman masih lemas dan sesekali terasa sakit.


“Mana yang sakit Ayah, biar Kinan usap-usap,” tawar gadis muda itu.


“Kaki yang ini, Nan. Sakit banget, kayak kesemutan tapi gak berhenti-berhenti.” Suara Lukman terdengar terengah-engah.


“Ayah tunjuk aja, jangan bicara kalau napas Ayah sesak.” Lihat, gadis ini terlihat cukup khawatir.


Lukman mengangguk untuk menurut. Kinanti dengan setia mengusap-usap kakinya. Meski tidak membuat rasa sakit itu hilang dari bagian tubuhnya, nyatanya usapan sang putri bisa menenangkan Lukman.


Pria ringkih itu memandangi putrinya dengan lekat. Sudah satu minggu ini Kinanti tidak bersekolah. Ia hanya menerima tugas-tugas dan mengerjalannya disela waktu menunggui Lukman. Walau ia sudah berada di ruang perawatan yang cukup nyaman, tetapi nyatanya ia tidak tega pada Kinanti yang setiap malam tidur disofa. Meringkuk kedinginan dan hanya mengenakan selimut tipis. Kesabaran putrinya sangat mirip dengan Riesma, mendiang ibunya.


“Nan, kita pulang yuk,” ajak Lukman tiba-tiba.


“Pulang, Ayah?” Kinanti balik bertanya. Dahinya mengernyit tidak mengerti.


Lukman mengangguk. Laki-laki itu memberi isyarat agar Kinanti mmmbantunya sedikit duduk.


“Ayah mau duduk?” tanya Kinanti.


Lukman kembali mengangguk. Suaranya semakin tidak terdengar karena ia kelelahan. Kinanti segera menaikkan tinggi ranjang pasien di bagian kepala agar Lukman bisa sedikit bersandar. Ia juga membantu lukman sedikt mengangkat tubuhnya agar lebih nyaman. bobot tubuh Lukman yang menurun drastis membuat Kinanti mudah mengangkat-angkat tubuh Lukman.


Setelah Lukman suduk dengan nyaman, Kinanti kembali ke samping pria itu. Ia membawakan buku dan pensil sebagai alat komunikasi yang biasa mereka gunakan dalam waktu satu minggu ini, saat Lukman kelelahan berbicara.


Tangan gemetar Lukman mulai menuliskan beberapa kata dibuku itu. Seperti anak SD yang baru belajar menulis, tulisan Lukman pun tidak beraturan. Tetapi Kinanti masih bisa membacanya.


“Ayah mau pulang, kangen rumah.” Begitu kalimat yang ditulis Lukman sambil menatap Kinanti penuh harap. Napasnya masih terengah-engah menikmati sisa sakit yang masih mengisi seluruh sendi ditubuhnya.

__ADS_1


“Apa Ayah udah ngerasa lebih baik? Ayah kan baru selesai chemo.” Kinanti terlihat cemas mendengar keinginan pria ini.


Lukman kembali menulis. “Udah lebih baik. Tapi akan lebih baik kalau Ayah beristirahat di rumah. Ayah kangen sama suasana rumah yang tenang dengan kasur yang nyaman. Kita pulang ya, Kinan. Ayah bosan di kamar ini terus.” Tulisan Lukman sudah terkesan memohon.


Kinanti memandangi tulisan Lukman yang susah payah pria itu tulis. Tidak tega pikirnya, tetapi ia harus bersikap realistis. Bagaimana pun kesembuhan Lukman juga penting.


“Kinan nanya dokter dulu ya Ayah. Kalau menurut dokter boleh, kita akan pulang.” Kinanti berusaha menenangkan.


Cepat-cepat Lukman mengambil buku dari tangan Kinanti lalu menulis lagi. “Jangan hanya menanyakan pendapat dokter, kan Ayah yang sakit. Ayah juga yang merasakan nyaman atau tidak. Tolong pertimbangkan itu.” Kalimat Lukman mulai terbaca tegas. Raut wajahnya juga mulai berubah.


Kinanti memandangi tulisan itu dengan gamang. Ia bisa mengerti dengan benar kalau Lukman sudah sangat ingin pulang.


“Iya Ayah. Kinan temuin dokter dulu yaa. Ayah tunggu sebentar.” Kinanti mengusap bahu Lukman untuk menangkan kondisi sang ayah yang mulai emosional.


Lukman mengangguk setuju, membuat Kinanti segera beranjak dari tempatnya. Baru membuka pintu dan ternyata seseorang menjeda langkah Kinanti.


“Mau kemana, Nan?” Ada Kala yang baru pulang dari sekolah.


“Kamu udah pulang?” Kinanti melihat jam ditangannya, ternyata sudah sangat sore.


“Aku mau nemuin dokter. Ayah maksa minta pulang. Katanya bosen di rumah sakit terus. Kangen sama suasana rumah.” Kinanti mengusap wajahnya dengan gusar. Bingung harus menuruti keinginan Lukman atau patuh pada prosedur medis yang mengharuskan Lukman menjalani perawatan di rumah sakit selama beberapa hari ke depan.


“Ya udah, kamu temuin dulu dokter, mana tau ada pertimbangan dokter yang sejalan sama keinginan ayah. Mau aku temenin?” tawar Kala.


Kinanti menggeleng. “Nggak usah, aku nitip ayah dulu aja sebentar. Takut ayah perlu sesuatu.”


“Okey, kamu yang semangat yaa ngobrol sama dokter. Aku nemenin ayah di dalem.” Timpal Kala seraya mengusap kepala Kinanti lalu mengecupnya sedikit.


“Kal,” Kinanti protes, tidak enak kalau ada yang lihat.


“Hehehehe… sorry. Gak aku ulangi. Temui dokter dulu gih, cantik.” Kali ini punggung Kinanti yang diusap Kala.


“Iya.” Kinanti menurut dan segera pergi. Ini peer besar untuk menemui dokter.

__ADS_1


Sepeninggal Kinanti, Kala segera masuk ke ruang perawatan Lukman. Laki-laki itu sudah bebas dijenguk oleh siapapun asalkan sesuai jam besuk.


“Sore, Ayah.” Sapa Kala yang menunjukkan wajah cerianya.


Laki-laki itu langsung tersenyum. Kala iseng mengajak Lukman tos dan ternyata Lukman membalasnya. Kala menggenggam tangan Lukman beberapa saat lalu salim dengan penuh semangat. Lukman pun menunjukkan usahanya untuk tersenyum walau masih kaku.


“Ayah ganteng banget, habis mandi ya?” Kala memandangi Lukman yang terlihat rapi.


“Habis diseka, tadi badan Ayah kotor kena muntahan,” sahut laki-laki itu dengan suara serak.


“Selang makannya udah dilepas?” Kala melihat selang makan Lukman sudah tidak ada ditempatnya.


Lukman mengambil bukunya dan menulis. “Siang tadi, katanya sudah boleh makan makanan cair. Padahal Ayah maunya makan sate.” Rupanya Lukman sudah mulai bercanda. Mungkin karena pembawaan Kala yang santai sehingga laki-laki itu ikut terbawa santai.


“Kalau dokter udah bolehin Ayah makan sate, nanti Kala beliin. Cuma, buat sekarang makan yang disarankan dokter dulu ya Yah. Nanti kala suapin deh.” Remaja itu memberikan penawaran.


Lukman tersenyum kecil lalu menulis, “Gimana caranya disuapin pake sedotan? Hahahaha….” Lukman mulai menulis kata tawa.


“Hahhaahaa, iya juga yaaa. Cuma perlu disodorin aja udah bisa langsung ayah sruput.” Kala menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Salah bicara rupanya. Tetapi hal itu malah membuat Lukman tersenyum.


“Ketemu Kinan gak didepan? Ayah minta Kinan buat minta izin ke dokter supaya dibolehin pulang. Ayah bosen di rumah sakit terus. Ayah mau pulang ke rumah. Kasian ikan-ikan Ayah gak ada yang ngajakin ngobrol.” Lukman menulis lagi.


“Iya, tadi Kala ketemu Kinan di depan. Kala liat, Kinan juga pengen banget bawa Ayah pulang. Cuma kan dia juga perlu advice dokter biar bisa merawat Ayah dengan baik saat di rumah nanti. Ngomong-ngomong gimana chemonya hari ini? Lancar? Maaf Kala pulangnya ke sorean, ada bimbel jadi gak sempet nemenin Ayah chemo.” Kala berceloteh panjang. Apa saja ia celotehkan agar suasana hati Lukman tidak bosan.


“Lancar dong, tadi Ayah ditemenin Kinan. Dia sigap banget ngerawat Ayah. Ayah yakin, kelak Kinan akan jadi dokter yang hebat yang bisa menolong banyak orang.” Lukman menulis dengan penuh kebanggan.


“Oh ya? Wah Kinan memang membanggakan. Kala juga bangga Yah, punya Kinan.”


“Punya Kinan?” kali ini Lukman bersuara. Keceplosan kan kamu Kal.


“Eh maksud Kala, bangga punya temen kayak Kinan. Pinter, baik, rajin, telaten, pokoknya Kinan the best lah Yah.” Kala cepat-cepat mengklarifikasi ucapannya.


Lukman mengangguk setuju, memang seperti itulah putrinya. Tidak lama, pintu ruangan Lukman terbuka. Ada dua orang yang datang menemui Lukman dan Kala.

__ADS_1


*****


__ADS_2