
Euphoria kebahagiaan atas kemenangan Kinanti di olimpiade, nyatanya tidak berlangsung lama. Kabar baik itu tenggelam diantara kabar tidak menyenangkan tentang kondisi Demian setelah mendapat penyerangan. Polisi melakukan penyelidikan dengan seksama baik itu kepada pihak penyelenggara olimpiade ataupun pada Demian sebagai korban.
Di sebuah kamar perawatan rumah sakit internasional, Demian saat ini berada. Tidak ada yang diperboleh masuk untuk menemuinya selain keluarga terdekat dan orang-orang yang Demian percaya. Dua orang polisi masih berada di dalam dan sedang memintai keterangan Demian. Akan tetapi sepertinya remaja itu memilih bungkam, tidak mengatakan apapun pada polisi yang sedang penyelidiki kasus penyerangan ini.
Alasan trauma menjadi satu-satunya alasan yang disampaikan Demian dan keluarga juga dokter yang merawat Demian. Polisi tidak bisa melakukan banyak hal selain hanya melakukan penyelidikan dari beberapa barang bukti yang mereka dapatkan. Demian tidak terlalu kooperatif dan mereka paham benar dengan alasannya.
Riko, salah satu sahabat Demian, saat ini sedang terduduk termenung dikursi tunggu sebuah ruang perawatan VIP. Ia ikut khawatir melihat kondisi Demian yang sepertinya tidak baik-baik saja. Bukan hanya trauma fisik yang dialami remaja itu, melainkan juga trauma psikologis. Hal itu yang dikatakan Riko saat Kinanti bertanya kondisi teman sekelasnya.
"Apa dia udah bisa diajak berkomunikasi?" Kinanti bertanya dengan penuh kekhawatiran. Sejak menemukan Demian terbaring tidak berdaya dibangunan belakang sekolah, perasaannya tidak menentu. Khawatir, satu-satunya perasaan yang paling kuat menyelimuti hati Kinanti.
“Apa Demian gak bilang apapun?” lagi Kinanti bertanya, seraya menoleh melihat ke dalam ruang perawatan melalui celah kaca yang ada di pintu ruang perawatan.
Riko tidak lantas menjawab, ia mengusap wajahnya kasar dengan perasaan yang juga tidak menentu.
__ADS_1
“Dia cuma bilang kalau dia diserang sama beberapa orang. Kepalanya ditutupi oleh plastik sampe dia sesak terus dipukulin dan gak sadarkan diri. Tapi waktu polisi nanya seperti apa ciri-ciri orang yang menyerangnya, Demian gak jawab. Dia cuma diem aja kayak sekarang ini. Dokter bilang, dia ngalamin trauma berat dan kita gak bisa maksa dia buat jawab semua pertanyaan polisi,” terang Riko dengan rasa cemas yang semakin mejadi.
Meski ia dan Demian tidak sedekat dulu, bagi Riko, Demian tetap sahabatnya da ia cemaskan kondisinya terutama di saat seperti ini.
Kinanti tidak bergeming. Ia melihat bayangan Demian yang berada di balik tirai tipis dan sedang terduduk di atas ranjang perawatan. Ia bisa membayangkan seberapa besar rasa takut Demian mendapatkan penyerangan yang tiba-tiba itu.
“Waktu kecil, dia juga pernah dipukulin sama mantan bokapnya. Kayaknya traumanya bangkit lagi, iya kan bro?” Riko menambahkan seraya bertanya pada Kala, yang berdiri mematung dan bersandar pada dinding.
Kala tidak menimpali, sekalipun Kinanti menolehnya dan menunggu jawabannya. Namun, dalam hati ia membenarkan ucapan Riko.
Gadis itu menoleh, menyudahi perhatian lekatnya pada Demian. “Sebelum hilang, Demi pamit buat jawab telepon.” Kinanti memberikan sedikit keterangannya.
“Telepon dari siapa?” Riko tampak penasaran. Mungkin saja keterangan Kinanti dapat membantu untuk mencari pelaku kejahatan pada Demian.
__ADS_1
"Aku gak tau itu telepon dari siapa yang jelas dia tergesa-gesa banget. Dia pamitnya gak cuma sama aku doang, tapi sama Mr Jack juga.” Kinanti menoleh Jack yang sedang berbicara dengan Yudhistira di dalam kamar perawatan Demian.
“Astaga, siapa sebenarnya yang nelpon Demian, apa mungkin dia pelakunya?” Riko semakin penasaran.
“Udah periksa handphone-nya?” Kinanti ikut penasaran.
“Aku gak tau. Mungkin udah diamanin sama polisi.” Riko terlihat ragu.
Sedetik kemudian, ketiga remaja itu tidak ada yang berbicara. Mereka sama-sama terdiam di tempatnya masing-masing dengan pikiran yang sama. Menduga-duga siapa pelaku penyerangan Demian.
Hingga malam hari Demian tidak memberikan keterangan apapun. Imelda meminta Kinanti dan Kala beserta Riko, untuk pulang lebih dulu. Menurutnya saat ini Demian hanya perlu istirahat dan memulihkan kondisinya. Ia tidak ingin putranya tambah terguncang dengan banyaknya orang yang datang menemuinya.
Tiga remaja itu paham benar dengan kondisi Demian. Mereka kompak menurut untuk membiarkan Demian istirahat sementara waktu. Riko segera pulang ke rumahnya, begitupun Kala dan Kinanti. Kala mengantar Kinanti pulang ke rumah, menyusul Lukman yang pulang lebih dulu.
__ADS_1
****