Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Usulan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Kinanti sudah tiba di sekolah. Ia segera menuju ruangan Mr Jack dengan membawa beberapa lembar kertas yang ia masukkan ke dalam map plastik. Langkahnya begitu ringan dan penuh semangat. Sesekali ia berputar dan mengusap dinding lorong yang selalu bersih. Wajahnya ceria dan berseri-seri, seolah mentari memang berada di atas kepalanya.


“Selamat pagi, Pak.” Kinanti menyapa seorang petugas kebersihan yang sedang membersihkan lorong sekolah.


“Pagi, Neng.”


Laki-laki berusaha pertengahan itu mengangguk sopan pada Kinanti. Baru kali ini ia mendapat sapaan selamat pagi dengan wajah yang ceria dan senyum yang manis dari salah satu siswa yang bersekolah di Sekolah bergengsi ini. Biasanya keberadaannya diabaikan begitu saja tanpa ada yang peduli. Mendadak tubuhnya yang lelah kembali semangat setelah melihat senyum Kinanti yang ceria. Keringat lelahnya ikut teruapkan oleh hangatnya cahaya mentari. Hari ini tidak hanya indah bagi Kinanti seorang, melainkan juga untuk orang-orang disekitarnya.


Kinanti melanjutkan langkahnya menuju ruangan Jack. Laki-laki berpostur layaknya pemain basket profesional itu memang selalu datang lebih awal di banding guru lain. Itulah sebabnya Kinanti mendatangani guru favoritnya sebelum guru lain datang dan sebelum pelajaran di mulai.


“Permisi....” Kinanti bersuara di mulut pintu.


Ia sedikit mengintip ke dalam ruangan guru, mencari keberadaan Jack.


“Ya!” sahut Jack yang baru keluar dari toilet.


“Selamat pagi, Mr Jack,” sapa Kinanti dengan hormat. Ia tersenyum seraya mengangguk.


“Pagi.” Timpal Jack seraya melihat jam tangan di lengan kirinya. Baru jam tujuh pagi dan Kinanti sudah tiba di sekolah dengan wajahnya yang ceria.


“Maaf pagi-pagi saya sudah menghadap. Saya mau menyerahkan essay. Apa Mr Jack ada waktu?”


“Oh, essay yah. Ayo, masuklah!” Jack membukakan pintu lebih lebar untuk Kinanti.


“Terima kasih.” Mereka duduk berhadapan di meja kerja Jack.


“Okey, gimana essay-nya? Udah selesai?” Jack begitu penasaran. Melihat semangat Kinanti, sepertinya gadis itu sangat optimis dan percaya diri.


“Sudah. Baru selesai semalam.” Kinanti menaruh tugasnya di atas meja untuk diperiksa oleh Jack.


“Okey, saya liat sebentar yaa….”


“Silakan.”


Jack mulai memeriksa essay Kinanti. Ada sekitar delapan lembar uraian yang Kinanti buat dan ditulis rapi dengan tulisan tangan. Sesekali Jack mengangguk saat membaca beberapa point yang menurutnya menarik lalu termenung saat berusaha memahami beberapa istilah yang nyata korelasinya dengan isi essay yang dibuat.


“Hanya satu essay saja?” Jack menatap Kinanti, penasaran.

__ADS_1


“Iya. Saya memang hanya membuat satu essay saja karena saya ingin maksimal dengan apa yang saya buat.”


“Sepertinya kamu sangat yakin untuk menjadi seorang dokter. Referensi kamu juga berkualitas bahkan ada hasil wawancara dengan pasien kanker. Kamu melakukan riset?” tulisan Kinanti membuat Jack terkejut.


“Em, saya melakukan riset sederhana saja karena saya rasa itu perlu untuk menunjang validitas tulisan saya selain dari membaca-baca referensi buku yang bagus. Kebetulan juga rekan kerja ayah saya ada yang sakit kanker, saya coba wawancara sedikit lewat ayah karena kebetulan selama beliau sakit, ayah yang menemaninya jadi bisa dikatakan itu cukup mewakili.”


“Saya juga mencoba mencocokan dengan tanda dan gejala yang ada di referensi buku kedokteran dan memang banyak kesesuaian. Yang berbeda hanya pengalaman personalnya. Pasien kanker itu, pejuang yang ulung, selain berjuang dengan kondisi fisiknya tapi juga dengan kondisi mental. Tidak jarang mereka merasa putus asa karena mereka sadar seperti apa kondisi mereka pada akhirnya.”


“Dan usaha berjuang itu yang berbeda-beda antara satu pasien dengan pasien lainnya.” Kinanti menguraikan pemahamannya tentang essay yang ia buat.


“Nice! Deskripsi yang bagus. Essay ini saya terima, tapi yang menilai dan menyatakan lolos atau tidaknya essay ini adalah pihak Yayasan. Saya akan memberikan rekomendasi tapi itu tidak menjamin kamu lulus.”


“Dan Kinanti, saat ini kamu hanya menyampaikan satu essay. Artinya kamu membuang dua kesempatan lainnya. Jika kamu gagal dengan essay ini, kemungkinan kamu gak bisa mendaftar ulang. Karena pembukaan beasiswa ini hanya setahun sekali. Saya ingin kamu bersiap dengan hal terburuk tersebut.” Jack dengan tegas mewanti-wanti Kinanti. Kinanti harus bersiap jika mungkin ia akan kecewa.


“Iya Mr Jack, saya sudah memahami konsekuensi itu sepenuhnya. Walaupun ternyata gagal, paling tidak saya pernah mempelajari hal sepenting ini. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan untuk mencoba peluang ini.”


“Pemikiran yang bagus. Sambil menunggu hasil, berdo’a saja semoga hasilnya baik. Datanglah ke yayasan, minggu depan untuk memeriksa hasilnya. Selain itu, jangan lupa persiapkan juga untuk olimpiade sciene. Belajarlah bersama Demian, supaya kalian bisa saling berbagi ilmu.”


“Siap. Terima kasih.”


“Ee ee eeh….” Langkah Kinanti kembali mundur. Ia segera menoleh ke belakang dan ternyata tas ranselnya terangkat ke udara.


“Kala!” Kinanti terlonjak kaget saat ternyata yang memegangi tasnya adalah si iseng Kalantara yang tadi bersembunyi di sudut tiang.


“Berjalanlah!” titah Kala tanpa melepaskan genggamannya dari tas Kinanti yang ia angkat tinggi-tinggi.


“Jangan gini lah Kal. Susah aku jalannya. Berasa aneh,” protes Kinanti yang belum melalanjutkan langkahnya.


“Suruh siapa berangkat sendiri, padahal tadi bilangnya mau berangkat bareng ayahmu.” Remaja bertubuh tinggi itu melepaskan tas Kinanti begitu saja hingga Kinanti terhenyak dan nyaris terjengkang karena tertarik tiba-tiba oleh berat tasnya.


“Ish, Kala!” Kinanti memukul lengan Kala dengan kesal.


“Apa? Mau protes?” remaja iseng itu mencondongkan tubuhnya agar tingginya menyeimbangi tubuh Kinanti. wajah mereka berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Remaja tampan itu sampai bisa melihat tahi lalat dipipi Kinanti.


“Nyebelin!” Bibir Kinanti mengecurut kesal. Ia juga memalingkan wajahnya dari Kala.


“Makanya, jangan suka boong. Kamu ketauan soalnya kalo boong. Heh, sini liat aku pembohong!” Kala mencolek pipi Kinanti agar menatapnya.

__ADS_1


“Aku bukan pembohong Kala. Aku memang berniat berangkat kerja bareng ayah. Tapi ternyata ayah dibolehin WFH sama bos nya. Ya udah aku berangkat sendiri.” Kinanti beralasan.


“Oh ya?” Mata tajam itu menatap Kinanti dengan tidak percayanya.


“Iya lah! Mana pernah aku bohong.” Netra bening Kinanti membola kaget bercampur geram. Wajahnya juga memerah karena ditatap sedekat ini.


“Okey, kali ini aku percaya. Tapi liat aja kalau nanti kamu sok-sokan berangkat sendiri, aku akan bener-bener kecewa.” Untunglah remaja bongsor itu kembali berdiri tegak walau memberikan sebuah ancaman pada gadis berhidung bangir itu.


“Kala, jangan perlakukan aku seperti anak kecil yang gak punya kebebasan pergi ke sana kemari seorang diri. Lagian, masa selamanya aku harus ngendelin kamu? Suatu saat kita kan akan berpisah, mana bisa aku terus bergantung sama orang lain. Mungkin aja, suatu hari nanti kita gak sedekat ini lagi. Aku mau mengandalkan siapa kalau bukan mengandalkan diriku sendiri?” sebuah tatapan serius diberikan gadis manis itu pada remaja yang tiba-tiba terdiam.


Ya, Kala benar-benar terdiam tidak menimpali apapun. Ucapan Kinanti benar-benar seperti mimpi buruk yang kembali datang setiap ia memikirkan kalau suatu hari ia dan Kinanti memang harus berpisah.


Alih-alih menimpali, Kala malah kembali mengangkat tas Kinanti.


“Jalan!” titahnya.


“Turunin dulu tas aku, masa di angkat begini.” Kinanti masih enggan beranjak.


“Tas kamu terlalu berat. Ini gak kayak bawa buku tapi kayak bawa batu bata. Udah jalan aja, aku bantu angkat.” Remaja dominan ini bersihkukuh dengan keinginanya.


“Ish, emang gak bisa dilarang!” Hanya bisa mengomel dan tidak ada pilihan lain bagi Kinanti selain menuruti permintaan Kala. Ia melanjutkan langkahnya di depan Kala sementara Kala berjalan di belakangnya sambil mengangkat tas Kinanti tinggi-tinggi.


Ia sengaja melakukan hal ini, karena ia tidak mau menunjukkan wajahnya yang sedih saat membayangkan kalau suatu hari mereka memang akan berpisah.


“Nanti sore kita mau belajar apa? Ke rooftop yuk!” ajak gadis bertubuh mungil itu.


Kala tidak menjawab, karena ia masih melamun.


“Kal, karena berjalan di belakang aku pendengaran kamu jadi terganggu ya? Itu karena frekuensi kita gak sejajar,” cicit Kinanti sambil terkekeh.


“Jangan berbalik! Jalan lurus saja,” titah Kala saat Kinanti akan menoleh.


“Huft! Hari ini kamu menyebalkan. Banyak banget nyuruh aku ini dan itu.” Kinanti menggerutu sambil terus berjalan.


Remaja tampan itu tidak menimpali. Ia masih berusaha mengendalikan perasaannya yang tidak karuan.


****

__ADS_1


__ADS_2