
Seorang pasien yang sedang meringis kesakitan di salah satu bed ruang perawatan tampak terkejut saat melihat seseorang menghampirinya. Matanya yang berkunang-kunang mencoba membelakak agar bisa melihat sosok itu dengan lebih jelas.
“Kala?” suara serak itu keluar dari bibir Lukman yang kering dan pecah-pecah. Ia sudah kekelahan menahan rasa sakit efek dari tindakan chemotherapy yang dijalaninya.
“Iya Om, ini Kala.” Kala meraih tangan kanan Lukman yang tergolek lemah di sisi tubuhnya.
Laki-laki itu tersenyum kemudian terisak dan menangis tersedu-sedu. Air matanya yang sudah kering, tidak bisa lagi keluar. Hanya matanya yang celong saja yang terlihat mengungkapkan rasa sedih dan sakitnya.
“Aku datang sendiri Om, Kinanti gak ikut,” ucap Kala kemudian, berusaha menenangkan Lukman. Ia duduk di kursi samping tempat tidur Lukman dan memandangi wajah pucat pria itu. Hatinya meringis sedih melihat laki-laki baik ini menghadapi rasa sakitnya seorang diri.
Lukman mengangguk pelan tanpa bisa berkata-kata. Tubuhnya begitu lemah, hanya sesekali saja ia mengeratkan genggaman tangannya pada Kala saat ia merasakan sakit yang teramat menjalar disekujur tubuhnya.
“Kuat ya Om, Kala ada disini buat nemenin Om.” Kala berusaha menenangkan Lukman yang beberapa kali matanya mendelik lalu terpejam sangat rapat karena menahan sakitnya. Keringan bercucuran di dahinya. Rambutnya basah karena keringat yang sedari tadi terus menetes. Meskipun ada cairan infus yang masuk, Lukman tetap merasa kalau tubuhnya kering kerontang.
Untuk beberapa saat Lukman bisa tenang. Menggenggam tangan Kala nyatanya bisa membuat ia lebih kuat dan berani menghadapi rasa sakit dan takutnya. Kala benar-benar tidak tega melihat kondisi Lukman yang seperti ini. Ia paham benar, alasan Lukman tidak ingin putrinya tahu kondisinya yang seperti ini. Karena sudah pasti Kinanti akan sangat hancur. Sementara banyak mimpi yang harus diraihnya. Kala paham benar, kecemasan seorang ayah pada putri kesayangannya.
Jam enam sore, semua prosedur tindakan Lukman telah selesai dilaksanakan. Seorang dokter datang untuk memeriksa kondisinya setelah terapi.
“Apa yang bapak rasakan sekarang?" Ia meletakkan stetoscope di dada kiri dan kanan Lukman, lalu di sekitaran perutnya.
__ADS_1
"Lebih baik dok, tinggal lemesnya aja. Istirahat sebentar juga kayaknya akan segera pulih," sahut Lukman dengan penuh keyakinan.
Dokter itu tersenyum kecil mendengar jawaban Lukman. "Kondisi tanda-tanda vital bapak sudah menuju normal. Tekanan darahnya juga bagus. Apa bapak ada keluhan lain?” tanya dokter tersebut.
Bibir Lukman yang kering itu berusaha untuk berbicara walau sulit dan gemetar.
“Gimana caranya supaya detakan jantung saya juga normal dok? Kata anak saya, detakan jantung saya gak sama dengan dia.” Pertanyaan itu yang polos Lukman tanyakan. Ia tahu, hal itu menjadi kegelisahan tersendiri bagi putrinya.
“Bapak, untuk detakan jantung itu, tidak bisa kita Kontrol sepenuhnya. Secara fiisiologis dia memiliki fungsinya sendiri. Dialah yang sebenarnya mengatur semua aliran darah yang ada di tubuh kita. Detakan jantung bapak tidak normal salah satunya karena efek obat yang bapak minum sehari-hari."
"Walau kami sudah memberi obat lain untuk meminimalisir efek samping, tapi detakan jantung tidak bisa terdengar normal seperti orang-orang yang tidak menerima pengobatan seperti bapak.”
Lukman hanya bisa mengangguk, sepertinya ia memang tidak bisa terus membohongi dirinya sendiri kalau kondisinya baik-baik saja. Ia berusaha menerima kondisinya yang memang tidak lagi sehat dan bugar seperti dulu.
Menjelang malam, Lukman terus memaksa ingin pulang. Ia bersedia menandatangani surat persetujuan pulang paksa dan berjanji akan kembali lagi besok. Tidak ada pilihan lain bagi dokter selain mengizinkan Lukman untuk pulang walau dengan berat hati.
Kala yang saat ini dengan setia menemani Lukman. Laki-laki itu terbaring lemah di jok belakang dan berusaha bangkit untuk duduk.
“Kal, boleh berputar satu putaran lagi gak? Om masih lemes, belum siap ketemu Kinan,” ucap Lukman.
__ADS_1
“Iya Om.” Kala menyanggupi. Ia memperhatikan Lukman yang berusaha untuk duduk, sepertinya sedikit demi sedikit tenaganya mulai pulih walau masih memerlukan waktu.
Kala melambatkan laju mobilnya dan kembali berputar di bundaran. Ia mengambil jarak yang lumayan jauh agar Lukman memiliki waktu yang cukup untuk mengumpulkan tenaganya.
Sekali waktu, Kala melihat Lukman tersenyum lalu berubah muram. “Kinanti nanyain Om udah sampe mana? Dia pasti cemas banget.” Kalimatnya terdengar bergetar, sepertinya menahan banyak kesedihan. Helaan napasnya juga terdengar berat, karena beban kebohonan itu tidaklah ringan.
“Om bilang aja lagi di jalan sama Kala. Tadi kita pulang bareng.” Kala menimpali dengan tenang.
“Ide yang bagus. Om udah kehilangan alasan buat Kinan, tapi Om juga gak mau dia sedih dengan keadaan Om. Apa Om egois Kal?” Lukman bertanya dengan sungguh. Ia menatap Kala dari kaca spion.
“Kala gak bisa menghakimi apapun atas pilihan Om. Kala percaya sepenuhnya kalau Om lebih tahu cara menghadapi Kinan. Tapi, kalau saja Kala boleh memilih, Kala lebih ingin tau kondisi orang yang Kala sayangi dengan sebenarnya. Kala gak mau ada penyesalan dikemudian hari karena tidak melakukan hal yang terbaik disisa kesempatan yang Kala punya,” ucap Kala dengan bersungguh-sungguh.
Lukman tidak menimpali ucapan Kala, tetapi ia memikirkannya. Ia hanya tersenyum kelu dengan air mata yang kemudian menetes walau tidak banyak. Entahlah, ia mulai goyah.
"Kinanti itu, anak yang kuat tapi Om tahu persis kalau dia cengeng. Seperti waktu ibunya meninggal, dia berusaha menyemangati Om, kami berjanji akan saling menjaga satu sama lain dan banyak menghibur Om. Padahal Om tau kalau Kinan sangat hancur. Dia gak makan berhari-hari sampai tubuhnya sangat kurus. Dia terus belajar untuk mengalihkan kesedihannya, tapi kadang Om dengar dia menangis diam-diam sampai bukunya basah."
"Kalau sekarang dia tau Om sakit, gimana dengan olimpiade yang akan dia ikuti? Aapa pikirannya masih bisa fokus? Gimana juga dengan cita-citanya untuk menjadi dokter, bukankah dia akan kehilangan motivasi dan semangatnya untuk belajar lebih giat?"
Cerita-cerita kecil dan penuh kenangan tentang kinanti, terus diceritakan oleh Lukman dan Kala hanya bisa menyimaknya. Ia tahu persis kalau saat ini Lukman hanya ingin didengarkan. Mungkin dengan begitu perasaannya akan sedikit lebih lega.
__ADS_1
*****