
Perasaan gugup jelas sedang dirasakan Kala dan Kinanti saat ini. Jantung mereka sama-sama berdebar kencang saat memandangi amplop berwarna putih yang ada di tangan Kinanti. Mereka duduk disalah satu bangku yang ada ditaman Yayasan. Mereka memutuskan untuk membuka amplop ini disini karena sudah tidak sabar.
Beberapa kali Kinanti menghela dan menghembuskan napasnya, untuk meredakan rasa gugup yang ada di hatinya. Sekali lalu dua remaja itu saling menoleh dengan tatapan gelisah.
“Mau dibuka sekarang?” tanya Kala, yang ikut berdebar.
“Aku gak berani liat langsung. Aduuh aku deg-degan banget, Kal.” Kinanti memegangi dadanya yang berguncang hebat dengan detak jantung yang berloncatan.
“Tapi kan sekarang ataupun nanti kita tetep harus buka amplop ini. Bukannya lebih cepat lebih baik? Jadi tegangnya gak kelamaan. Itu menyiksa loh, Nan.” Kala mengingatkan.
“Iya sih. Tapi, kamu aja deh yang buka. Nanti kamu kasih tau aku hasilnya.” Kinanti sudah kena mental duluan, beruntung ada yang bisa ia andalkan untuk tempat berlindung.
“Tumben, biasanya kamu berani sama hal-hal penuh kejutan begini. Kenapa sekarang jadi menciut?” Kala menatap Kinanti dengan tidak mengerti.
“Emm, soalnya sejak pagi perasaan aku gak enak, Kal. Mungkin aja itu firasat karena hasil ujianku gak seperti yang aku harapkan.” Wajah Kinanti terlihat murung.
“Hey,” Kala segera mengenggam tangan Kinanti yang dingin dan basah. Sepertinya gadis ini sedang benar-benar tegang.
Kala memandangi gadis itu dengan lekat, sepasang matanya yang bening dikunci oleh tatapan Kala yang tajam dan penuh perasaan. “Kinan, percaya dulu sama diri kamu kalau kamu udah melakukan yang terbaik dengan segala usaha berat yang udah kamu lewati. Meski kemudian hasilnya gak sesuai dengan harapan kita, tapi itu bukan berarti langkah kamu berakhir disini. Masih banyak beasiswa-beasiswa lain yang bisa kamu ambil."
"Dunia gak berhenti berputar hanya karena kamu gagal disatu titik. Masih banyak loh titik lainnya yang belum kamu coba.” Kala mengusap kepala Kinanti dengan sayang. Ia bisa membayangkan kegundahan hati Kinanti karena gadis ini sangat berharap pada beasiswa ini.
“Iya, aku tau, Kal. Tapi perasaan gak nyaman ini yang bikin aku ragu. Ini aku kenapa sih?” Kinanti mengusap-usap dadanya sendiri yang terasa berat dan sesak tanpa alasan yang jelas. Padahal sudah beberapa kali ia bertemu dengan moment yang mendebarkan, tetapi yang kali ini terasa begitu menakutkan. Mungkin karena ia menggantungkan harapan terlalu tinggi pada beasiswa ini.
“Okey, gimana kalau kita buka sama-sama?” Kala memberi saran.
Kinanti menggeleng. “Kamu aja yang buka, nanti kasih tau aku hasilnya.” Kinanti lebih yakin dengan hal itu.
“Kamu serius?” Kala berusaha meyakinkan.
“Iyaa, aku serius.” Kinanti bersikukuh. Ia mengubah posisi duduknya berbalik dan bersebrangan dengan Kala. Kala menghadap ke utara dan Kinanti ke selatan. Sementara posisi mereka tetap bersisian. Kinanti menyembunyikan wajahnya di bahu kiri Kala.
__ADS_1
“Okey, kalau gitu aku buka yaa….” Kala bertanya untuk terakhir kalinya. Kinanti mengangguk, menyetujui ucapan Kala.
Suara amplop yang dibuka, terdengar begitu mengintimidasi bagi Kinanti. Rasanya lama sekali Kala membuka amplop yang terus berbunyi ‘keresek-keresek’ itu. Beberapa detik kemudian, suara itu berhenti. Yang terdengar saat ini adalah suara Kala membuka lembaran surat hasil ujian Kinanti. Kala melihat nilai akhirnya dan tulisan yang ditulis capital dan dicetak tebal di sana.
Tanpa berkata-kata, Kala malah memeluk Kinanti, mengusap kepalanya lalu mengecup kepala Kinanti dengan sayang. Seperti remaja ini sedang berusaha menguatkan Kinanti yang gelisah.
“Gagal ya, Kal?” suara Kinanti terdengar lirih. Ia menengadahkan kepalanya, demi bisa menatap Kala.
Kala tersenyum kecil seraya menatap sepasang mata yang gelisah itu. “Kamu udah melakukan usaha terbaik kamu. Selamat,” ucap Kala dengan senyum terkembang.
“Hah, maksud kamu?” Kinanti bertanya dengan tidak mengerti.
Kala mengangkat surat itu dan menunjukkannya pada Kinanti. “Kamu lolos,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
"Apa?" Kinanti mematung tanpa reaksi. Hanya ekspesi wajahnya saja yang berusah senang dan haru di waktu yang bersamaan. Ia mengambil kertas dari tangan Kala, menatapnya tidak percaya.
“Aaaakkk….” Ia berteriak dengan mulut yang dibekap oleh tangannya sendiri. Kakinya menghentak-hentak diatas permukaan tanah. Ia begitu bahagia.
"Hahahahha...." Kala ikut tertawa melihat ekspresi Kinanti yang menggemaskan.
Puas mengungkapkan rasa bahagianya, Kinanti menegandahkan kepalanya menatap wajah Kala. Mereka saling melempar senyum penuh kebahagiaan.
“Mau ngasih tau ayah sekarang?” tawar Kala.
“Nggak, aku mau ayah baca langsung suratnya. Gak mau ngasih tau lewat telepon.” Kinanti memiliki rencana sendiri.
“Kalau gitu, kita pulang sekarang,” ajak Kala.
“Okey! Tapi beli makanan dulu buat perayaan. Kita barbeque-an di teras belakang. Gimana?” semangat sekali Kinanti menyahuti.
"Ayo!" Kala ikut semangat. Ia menghentakkan kakinya dan beranjak dari tempatnya.
__ADS_1
"Aakkk, Kal. Aku masih gak percaya." Senyum Kinanti maish terkembang dan membuat wajah cantiknya merona. Dengan gemas Kala mengusap kepala Kinanti dan sedikit mengacak rambutnya.
"Let's go! Kita kasih tau ayah." Kala mengulurkan tangannya pada Kinanti dan Kinanti menyambutnya. Mereka saling berpegangan tangan menuju tempat parkir.
Masing-masing memakai helmnya lalu segera naik ke atas motor. Sebelum berangkat, Kinanti melingkarkan tangannya di pinggang Kala, berpegangan pada kekasihnya.
Dalam hitungan detik, motor Kala melaju meninggalkan Yayasan. Sesekali ia berseru kegirangan bercampur dengan suara angin yang menderu.
“WUHUUU!” seru Kala. Kinanti hanya tergelak, ikut tertawa melihat tingkah Kala. Perjalanan begitu dinikmati kedua remaja yang sedang berbahagia ini. Sesekali Kinanti merentangkan tangannya, merasakan hembusan angin yang menyebar rata dikedua tangannya yang terentang. Kala memperhatikan Kinanti dari kaca spionnya dan gadis itu terlihat sangat bahagia.
“Aku suka ngeliat kamu sebahagia ini Kinan,” ungkap Kala dalam hati.
Puas merasakan sapaan lembut angin, Kinanti kembali mengeratkan pelukannya pada Kala. Menempatkan kepalanya dengan nyaman dipunggung Kala, tempat yang disediakan oleh pria terbaik yang ia miliki setelah Lukman.
“I love you,” gumam Kinanti sambil mengecup punggung Kala. Sayangnya remaja tampan itu tidak mendengar suara Kinanti yang bias karena suara angin yang begitu menderu, melawan arah laju motor Kala yang melesat menuju rumah Kinanti.
Tiba dipintu pagar rumahnya, Kinanti berlari dengan ceria setelah turun dari motor. “Kinan, helmnya.” Kala memanggil gadis itu.
“Eh iya lupa.” Ia berusaha melepas helmnya dan kali ini berhasil tanpa bantuan Kala. Ditaruhnya helm itu diatas meja yang ada diteras rumah.
“Ayaahh, Ayaahh… Kok sepi ya?” Kinanti memutar handle pintu dan ternyata tidak dikunci.
“Ayaaahh….” Kinanti memanggil lagi Lukman dan laki-laki itu tetap tidak terlihat. Di dapur tidak ada, diteras belakang juga tidak ada. Tempat terakhir adalah kamar Lukman.
“Ayaaahhh, Kinan pulang Yah….” Kinanti mengetuk pintu kamar Lukman dengan pelan.
“Yah, apa ayah dikamar?” Kinanti menempelkan telinganya di daun pintu. “Kok gak ada suara ya Kal?” Kinanti bertanya pada Kala.
“Buka aja pintunya?” Kala memberi saran. Perasaannya mulai tidak tenang.
“Iya.” Kinanti mengangguk setuju. “Ayah, Kinan masuk ya….” Suara kinanti masih terdengar jelas. Ia juga mendorong daun pintu kamar Lukman. Seisi kamar Lukman tampak sepi, tempat tidurnya pun rapi. Kinanti melangkahkan kakinya masuk lebih dalam ke kamar Lukman, hendak menuju kamar mandi, Tapi kemudian ia terhenyak, saat melihat pecahan gelas dan butiran obat yang terserak dilantai.
__ADS_1
“AYAH!!!!” teriak Kinanti pada sesosok tubuh yang tergeletak dilantai.
*****