
Dahi seorang gadis tampak berkerut dengan sorot mata tajam pada sebuah cake yang sedang ia hias. Tangannya mengayun dengan lembut membuat lengkungan hiasan bunga berwarna gold dari butter cream. Bahan-bahan kue masih berantakan dan belum sempat dibereskan. Berkeringat dingin, itu yang selalu terjadi pada Kinanti yang sedang belajar menghias kue. Ilmu ini ia dapatkan dari Bertha yang sangat suka membuat makanan cemilan dan kue-kue cantik seperti sekarang. Ada kepuasan tersendiri ketika ia bisa membuat kuenya dengan sempurna hingga terrias cantik.
Selama tujuh tahun ini, Cake buatan Bertha sudah banyak di kenal oleh rekan-rekan bisnisnya. Sayangnya, wanita ini hanya membuat kue di hari libur, sebagai hobby yang menguntungkan. Ia dan Kinanti sepakat untuk meluangkan waktu membuat kue agar pikiran mereka yang sering kali tegang dapat teralihkan pada hal yang menyenangkan.
Sudah tujuh tahun ini hubungan Bertha dan Kinanti berjalan dengan baik. Dua wanita ini sudah seperti teman karib sekaligus ibu dan anak yang kompak. Kinanti sering menginap di rumah Bertha karena calon mertuanya ini selalu meminta ditemani. Mereka akan bercerita banyak hal yang menyenangkan mulai dari cara berhias yang tidak bisa dilakukan Kinanti hingga hal remeh temeh lainnya yang membuat mereka semakin dekat.
“Dokter Kinan, dokter Kinan! Tolong ini teleponnya di angkat dulu.” Panjang umur, suara Bertha terdengar dari ruang makan dan mendekat ke dapur. Kalau nada deringnya suara ambulan, sudah pasti itu panggilan dari rumah sakit.
“Makasih, tan.” Kinanti segera menaruh cream butternya dan mengambil alih ponselnya dari tangan Bertha.
“Ya, gimana?” jawaban Kinanti selalu cepat.
Sambil membiarkan Kinanti berbicara dengan lawan bicaranya, Bertha membantu Kinanti membersihkan wajahnya dari cream butter. Ia menyapu wajah gadis itu dengan lembut, juga membersihkan tangannya yang masih kotor. Kalau sudah menerima telepon, biasanya Kinanti langsung pergi begitu saja.
Perlu kalian tahu, Kinanti saat ini sudah bekerja di sebuah rumah sakit besar sebagai dokter residence. Setahun lagi ia akan mengambil pendidikan sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Ia dan Kala sama-sama berjuang mewujudkan cita-cita mereka.
“Iyaa, berapa orang pasien?" Kinanti menyimak laporan perawat sambil mencuci wajahnya.
"Okey, aku segera ke sana.” Singkat saja perbincangan Kinanti lewat sambungan telepon. Ia segera mengakhiri panggilannya dan melepas apron yang membungkus tubuhnya.
“Mau ke rumah sakit sekarang? Bukannya Kinan giliran jaga siang?” Bertha menatap Kinanti dengan penasaran.
“Iya, Kinan memang masuk siang, Tan. Tapi temen-temen lagi butuh bantuan Kinan. Katanya ada kecelakaan bis di ruas tol, penumpangnya anak-anak TK yang pulang liburan. Kinan ke rumah sakit dulu ya. Maaf kayaknya tante makan siang sendiri hari ini.” Kinanti berujar dengan sesal.
“Astaga! Ya udah gak apa-apa. Yang penting Kinan cepet tolong mereka.” Bertha memang selalu paham dengan kesibukan Kinanti.
“Iya, mungkin Kinan akan long shift dan pulang besok sore setelah masuk kelas seminar prof Akmal.” Sambil berbicara Kinanti mengambil jaket kulitnya dan juga mencari kunci motornya.
“Gak pake mobil aja?” Bertha dengan setia menyerahkan helm fullface milik Kinanti.
“Takut telat, Jakarta jam segini banyak macet.” Kinanti sempatkan untuk memeriksa isi tas ranselnya. Alat-alat kesehatan dasar yang biasa ia bawa, ia pastikan ada di dalam tasnya.
“Nanti tante anterin makan malam ya. Tante temenin Kinan makan di rumah sakit.”
“Nggak usah tan, sekarang Kinan jaganya di ruang UGD, gak ada tempat yang nyaman buat makan. Jadi tante makan di rumah aja.” Kinanti mengambil alih helmnya dari tangan Bertha.
“Yaahh, terpaksa makan sendiri lagi deh.” Bertha merajuk lemah.
“Kan Kinan pulang besok sore. Besok sore Kinan masakin gulai ayam kesukaan tante, okey?” Kinanti memberi penawaran untuk membujuk Bertha.
“Iya. Kamu jangan telat makan ya. Jangan lupa cuci tangan yang bersih, usahakan istirahat.” Pesan yang sama selalu Bertha ucapkan setiap kali Kinanti akan berangkat ke Rumah sakit.
“Iyaa, sampe ketemu besok sore. Bye, Tan!” Kinanti sempatkan untuk mengecup pipi Bertha dan wanita itu hanya mengangguk. Setelah itu gadis itupun pergi dengan tergesa-gesa bahkan setenga berlari.
“Anak gadis, makin dewasa malah makin tomboy. Hobbynya pergi-pergian pake motor gede kaya Kala. Kapan aku liat dia pake rok lagi ya?” Bertha termenung sendiri menatap arah berlalu Kinanti. Tidak lama suara motor Kinanti terdengar nyaring dan semakin pelan karena meninggalkan halaman rumahnya.
“Hem, anak mantu mamah Bertha memang unik,” ujar Bertha seraya tersenyum kecil.
“Ini Kala mana lagi gak ada kabar, katanya bulan ini ada libur tapi sampe sekarang gak pulang-pulang.” Anak lanang pun jadi bahan omelan sang ibu yang sering kali merasa kesepian.
****
__ADS_1
Perjalanan panjang menuju rumah sakit dilalui Kinanti dengan cepat. Gadis itu semakin lihai saja mengendalikan laju motornya. Membelah jalanan yang ramai, menyalip satu per satu kendaraan yang menghadang jalannya.
Kinanti melihat smart watchnya dan ada satu panggilan masuk dari rumah sakit. Ia menyalakan mode Bluetooth yang tersambung langsung dengan telinganya.
“Ya,” pendek saja jawaban gadis itu, sambil tetap melajukan motornya. Lajunya sedikit ia buat pelan agar dapat membagi fokus.
“Dok, pasien ada sekitar empat puluh orang. Delapan belas anak-anak dan sisanya orang dewasa. Enam anak luka parah dan memerlukan ICU. Sepertinya beberapa pasien harus di rujuk.” Laporan itu Kinanti terima dari seorang perawat.
“Iya, rujuk sebagian dan pastikan mereka mendapat ruang perawatan di rumah sakit tujuan. Saya akan segera sampai. Minta bantuan dokter Demian untuk membantu kalian.” Di saat seperti ini semua dokter pasti sibuk termasuk dokter residen seperti Kinanti.
“Dokter Demian sedang jadi assitant di OK dok.”
“Kalau begitu, minta bantuan dokter Asrul, beliau jaga di poli hari ini. Saya akan segera sampai.”
“Baik dok.”
Setelah panggilan terputus Kinanti melajukan motornya semakin kencang. Ada banyak nyawa yang menunggunya dan timnya sedang kekurangan tenaga bantuan.
Tidak sampai lima menit, Kinanti sudah tiba di Rumah sakit. Ia segera berganti pakaian, mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan pergi ke UGD. Ia memeriksa para pasien yang tergeletak di blankar. Beberapa pasien dalam kondisi berat. Ia memeriksa rekam medisnya dan berbagi tugas dengan timnya.
Beberapa pasien sudah bisa di rujuk ke rumah sakit lain dan beberapa lainnya mendapat perawatan di Rumah sakit ini. Ia melakukan konsultasi dengan dokter spesialis untuk beberapa kondisi pasien yang tidak bisa ditanganinya.
“Tolong panggil keluarga pasien ini, saya akan memberi penjelasan.” Kinanti menunjukkan buku rekam medis pada perawat yang berjaga.
“Baik dok.” Tanggap perawat itu menimpali.
Sambil menunggu Kinanti memeriksa pasien lainnya. Empat orang pasien dalam observasi ringan, jika dalam empat jam tidak ada hal yang memburuk maka mereka diperbolehkan untuk pulang dan menjalani rawat jalan.
Selama enam jam lebih Kinanti berjibaku dengan pekerjaannya hingga tidak terasa kalau hari sudah sore. “Masih sibuk?” tanya seseorang yang mengetuk meja kerja Kinanti.
“Heheheh sorry. Aku denger tadi UGD rame banget sampe kekurangan dokter. Maaf aku gak bisa bantuin tadi, ada dua pasien operasi dan dokter spesialis minta aku yang jadi asistantnya.” Demian duduk di samping Kinanti yang masih mempelajari rekam medis pasiennya.
“Gak apa-apa, beberapa pasien tadi aku rujuk karena ruangan kita full.” Ia memukul-mukul bahunya yang terasa pegal dan kakinya yang berdenyut kelelahan. Baru sekarang ia merasa kalau tubuhnya mulai lelah dan membutuhkan istirahat. Kinanti memandangi seisi ruangan UGD yang mulai tenang. Pasien-pasien hanya menunggu masuk ke ruang rawat inap yang sedang dipersiapkan. Rasa lelahnya perlahan berkurang karena rasa lega.
“Syukurlah. Kalau gitu kita makan dulu. Bu kantin bilang dia masak rolade.” Bisa-bisanya Demian dekat dengan ibu kantin.
“Okey, yuk.” Kinanti menutup buku rekam medis. “Sus, saya ke kantin bentar ya,” pamit Kinanti.
“Iya dok.”
Kinanti berjalan beriringan dengan Demian menuju kantin. Mereka makan banyak di sana sambil berbincang. “Kamu udah ada kabar dari Riko?” Demian bertanya dengan penasaran. Setelah lulus kuliah, Riko dan Emili yang menikah lebih dulu dan pindah ke luar kota untuk mengembangkan bisnis ayah Riko.
“Bulan ini HPL nya Emili, katanya dia mau lahiran di sini.” Di antara tiga sahabat pria ini, Riko memang yang lebih dulu menikah dan akan segera memiliki anak kedua.
“Waahh, kita makin tua. Kamu rencananya kapan, Nan?” Demian penasaran untuk bertanya.
“Belum tau. Kala masih sibuk mau buka perusahaan game di sini dan aku masih harus nerusin kuliah. Liat nanti ajalah.” Kinanti meneguk minumannya dengan santai. “Kamu sendiri?” ia penasaran juga pada Demian. Rekan satu profesinya ini belum pernah memperkenalkan seorang gadispun pada Kinanti.
“Belum ada calonnya, masih nyari.” Demian tersenyum kelu.
“Semoga segera dapet ya, yang baik dan cinta sama kamu.” Kinanti berujar dengan penuh kesungguhan.
__ADS_1
“Aamin, makasih.”
Mereka sama-sama terdiam sampai kemudian ponsel Kinanti berdering. “Ya, sus.” Cepat sekali Kinanti menjawab.
“Dok maaf, ada yang nyari dokter.” Perawat itu berbicara dengan cepat.
“Siapa?” Kinanti penasaran. Dengan isyarat tangannya ia pamit pada Demian dan segera menuju UGD.
“Kurang tau, katanya dia akan menunggu di loby.”
“Oh okey, saya akan ke sana.” Kinanti berbalik arah. Ia berjalan cepat menuju Loby rumah sakit. Sedikit berlari karena ia tidak terbiasa membiarkan orang lain menunggu.
Setelah tiba di loby, Kinanti mencari seseorang yang mungkin ia kenal. Tetapi di loby yang luas itu, tidak ada satupun orang yang ia kenal.
“Mba, ada yang nyari saya gak?” Kinanti bertanya pada resepsionis.
“Yang nyari dokter? Rasanya gak ada.” Resepsionis itu ikut bingung.
“Oh ya sudah.” Kinanti segera mengeluarkan ponselnya dan hendak menghubungi perawat yang tadi menelponnya. Belum sempat panggilan itu tersambung, ponsel Kinanti berdering lebih dulu.
“Ya Kal,” Kala yang menghubunginya.
“Hey, cantik.” Sapa Kala seperti biasanya.
“Kaall,” Kinanti selalu luluh setiap kali Kala memanggilnya dengan begitu manis. Padahal ia sudah kesal karena Kala tidak bisa dihubungi seminggu ini.
“Kangen gak sama aku?” tanya pria dengan suara yang besar dan dalam itu.
“Kesel sih tepatnya. Kamu kemana aja jarang jawab telepon aku? Balas pesan juga telatnya kebangetan.” Kinanti mengomel kesal.
Kala hanya terkekeh mendengar kekesalan Kinanti. “Maaf yaa cantik, kemaren ada beberapa hal yang harus aku urus. Tapi aku janji itu untuk pertama dan terakhir kalinya. Mulai sekarang kita gak perlu berkirim pesan lagi. Kamu juga gak harus nunggu telepon aku.” Kala berujar dengan tegas.
“Hah, maksud kamu apa?” Kinanti semakin kesal. Apa coba maksud Kala?
Belum terjawab kekesalan Kinanti, tiba-tiba saja ada sebuah bucket bunga yang disodorkan seseorang dari arah belakang.
“Terima kasih udah nunggu aku dengan sabar. I love you.” Suara itu begitu jelas terdengar bersamaan dengan hembusan napas yang lembut di telinga Kinanti.
Kinanti segera menoleh dan matanya langsung membulat saat ternyata yang ada dibelakangnya adalah Kalantara Aksa Yudhistira.
“Kal?” Mata Kinanti melotot tidak percaya, suaranya juga tidak terkontrol. Tetapi beberapa detik kemudian ia sadar kalau suaranya terlalu nyaring hingga membuat gadis itu menutup mulutnya.
“Yups! Kangen aku gak?” Laki-laki itu mengedipkan matanya genit pada Kinanti.
“Aaakkk… kangen bangeeettt!!!!” Kinanti segera berbalik dan memeluk Kala dengan erat. Ia sampai tidak sadar kalau banyak orang yang berlalu lalang dan memandangi mereka berdua.
“Kamu kemana aja, kirain aku kamu udah lupa sama aku.” Kinanti sampai terisak, tetapi Kala malah terkekeh sambil mengangkat tubuh Kinanti dan membawanya berputar. Kaki gadis itu sampai terangkat.
“Ini aku pulang.” Kala berujar dengan ringan dan menurunkan Kinanti kembali. Ia melepaskan pelukannya beberapa saat lantas mengecup dahi sang gadis yang ia rindukan, dengan penuh kasih. Bucket itu kembali Kala berikan pada Kinanti.
“Makasih.” Wajah gadis itu bersemu kemerahan. Kala mengacak rambut Kinanti dengan gemas dan gadis itu memeluk Kala lagi dengan erat. Sungguh pertemuan yang tidak terduga dan sangat membahagiakan untuk kinanti.
__ADS_1
"Welcome Mr Kalantara,"
****