Secret With Bad Boy

Secret With Bad Boy
Toko buku


__ADS_3

Toko buku, menjadi tempat yang saat ini didatangi oleh Kinanti dan Kala. Mereka di sambut oleh lautan buku dan Kinanti bebas memilih buku apa saja yang ingin ia baca. Buku-buku pelajaran sudah Kinanti kumpulkan dan rencananya akan ia beli.


“Sebanyak ini?” Kala menatap tidak percaya pada tumpukan buku yang akan di beli Kinanti.


“Iyaa. Aku beli dua buku yang sama, buat aku sama buat kamu. Buku persiapan ujian akhir.” Gadis manis itu menunjukkan dua buku di tangan kanan dan kirinya, pada Kala.


“Akh, menyebalkan.” Kala langsung melengos.


“Eit, apa yang menyebalkan? Maksudmu aku?” Kinanti menahan tangan Kala yang hendak pergi meninggalkannya.


“Maksudku, buku-buku itu sering membuatku tidak bisa tidur.” Kala beralasan. Ia menoleh dengan malas dan lebih memilih buku tentang game dan komik.


“Wah, itu awal yang bagus, Kal. Kamu pasti terpacu untuk menyelesaikan setiap pertanyaan di buku ini. Semangat banget kamu, Kal.”


“Tidak juga.” Kala menjawab dengan acuh.


“Serius sedikit Kal, ini untuk masa depan kita.” Kinanti menarik tangan Kala dan remaja tampan itu pura-pura tertarik karena lemah hingga nyaris menubruk tubuh Kinanti. Beruntung rem sepatu Kala cukup pakem hingga ia masih bisa ajeg di hadapan Kinanti yang terkejut karena Kala hampir menubruknya.


“Masa depan kita? Memangnya aku ada di masa depan kamu?” Kala sedikit membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Kinanti. Gadis itu sampai terkesiap kaget karena jarak wajah mereka teramat dekat.


“Tentu saja ada.” Dengan telunjuk lentiknya Kinanti mendorong dahi Kala menjauh dari wajahnya. Tatapan Kala terlalu dalam dan lekat hingga membuat wajahnya merah dan menghangat. Dengar, detak jantungnya juga tidak beraturan.


“Sebagai apa?” Kala semakin penasaran. Ia meraih tangan Kinanti lalu memeganginya.


“Ya, sebagai temanku lah!” Kinanti mengibaskan tangan Kala sambil membuang muka. Ia segera menyibukan dirinya sendiri dengan mengambil buku secara sembarang lalu membacanya.

__ADS_1


“Oh ya?” Kala menyandarkan tubuhnya ke lemari kaca, ia bisa melihat wajah tegang dan kemerahan milik Kinanti dari samping.


“Kok pertanyaan kamu begitu? Memangnya kamu gak mau jadi temen aku di masa depan?” Kinanti terlihat sangat kesal. Bibirnya mengerucut dengan menggemaskan.


“Maulah. Beruntung banget aku punya temen sehebat kamu. Baca buku aja bisa sambil kebalik.” Kala mengambil buku di tangan Kinanti, lalu membaliknya. “Hebat! Tapi membaca buku dengan cara ini, akan lebih baik. Mata kamu gak perlu jungkir balik,” ledek Kala sambil tersenyum simpul.


Astagaa, Kinanti benar-benar malu dengan tingkahnya sediri. “Kamu ajalah yang baca.” Kinanti memilih memberikan buku itu pada Kala.


“Aku gak suka novel romantis Kinan, ini menggelikan untukku. Bikin label badboyku jadi hilang.” Kala menunjukkan cover novel romantis di tangannya dan lagi Kinanti mendengkus malu. Ada apa dengan hari ini, kenapa ia sering sekali mempermalukan dirinya sendiri?


“Terserah kamu lah mau baca buku ya mana. Aku mau nyari buku sama alat tulis.” Gadis yang salah tingkah itu memilih pergi ke sudut buku tulis.


“Tolong jangan warna green sage. Itu juga mengubur identitas badboyku.” Lagi, remaja tanggung itu protes.


Sementara itu Kala hanya terkekeh. Ia pergi ke tempat komik dan memilih beberapa serial komik yang belum ia punya.


“Liat aja, aku kerjain kamu, Kal.” Misi balas dendam Kinanti pun di mulai. Ia sengaja memilik kotak pensil berwarna coklat, lalu ballpoint warna warni dan buku tulis dengan gambar teddy bear. Tidak hanya itu, Kinanti juga membeli stiker alfabeth, lalu stiker kartun favoritnya untuk ia pasangkan di tempat pensil Kala.


Benda-benda itu ia masukkan ke dalam keranjang belanjaan, sengaja ia taruh di bagian bawah dan ditutupi oleh buku-buku yang ia beli agar Kala tidak melihatnya.


“Udah selesai belum?” tanya Kinanti.


“Udah.” Kala membawa beberapa komik di tangannya. Materi bacaan yang selalu membuat Kinanti mengernyitkan dahinya.


Tiba di kasir, mereka melakukan pembayaran untuk semua belanjaan mereka. Kala yang menyodorkan kartu debitnya lebih dulu sebelum Kinanti mengeluarkan uang dari dompetnya.

__ADS_1


“Di pisah aja, Kak.” Pinta Kinanti. Ia tidak mau barang-barangnya di bayar oleh Kala.


“Satuin aja, kurangi limbah plastik.” Kala memang pintar beralasan.


“Kantongnya satu, tapi bill nya di split aja.”


“Gak usah, biar paperless.”


“Kala….”


“Ya! Ada yang bisa di bantu?” Kala berujar dengan cepat. Ia menatap Kinanti dengan lekat dan membuat mata bening itu melebar karena kaget.


“Gak jadi.” Kinanti segera memalingkan wajahnya karena kesal.


“Jadi ini gimana Dek, di pisah apa disatuin?” mereka membuat kasir bingung.


“Satuin. Kasian yang lain ngantri.” Jawaban Kala lebih cepat dari Kinanti.


Kasir itupun melanjutkan penghitungan belanjaan, sementara Kinnati masih kesal.


“Gak usah manyun, nanti kamu giliran bayar parkir sama traktir makan.” Kala mencomot bibir Kinanti yang mengerucut dengan gemas.


“Ish Kala!” Kinanti segera menepis tangan Kala yang iseng itu. Namun Kala hanya terkekeh. Kasir dihadapannya ikut tersenyum dan saat itu juga ekspresi Kala langsung berubah. Ia tidak suka tawanya di dengar oleh orang selain Kinanti.


*****

__ADS_1


__ADS_2