Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Nervous


__ADS_3

"Kakek kenapa ada di sini?" tanya Chandika saat melihat Albert berada di ruang tamu.


"Tentu saja untuk ikut acara lamaran kamu," jawab Albert dengan wajah datarnya.


"Bukannya papi dan mami sudah cukup?" kilah Chandika terheran-heran.


"Kakek hanya ingin ikut saja," ucap Albert final. Tentu saja dia tidak akan melewatkan acara sepenting ini.


"Tap—"


"Sudahlah, Chan. Biarkan kakek ikut," kata Jauzan menyela Chandika.


"Hmm," gumam Chandika.


"Apa kamu tidak gugup, sayang?" tanya Aminta pada sang putra semata wayangnya. Dia tidak menyangka jika putranya yang teramat manja itu sudah menjadi dewasa begitu cepatnya, bahkan ingin menikahi seorang gadis.


"Tidak kok," jawab Chandika santai. Padahal jantungnya tengah berdisko ria.


"Ck, ck, tidak usah berbohong," celetuk Jauzan berdecak melihat akting putranya.


"Hais, memang benar kok," kilah Chandika masih tidak mengaku.


"Yaudah kalau kamu tidak gugup," kata Aminta tersenyum lembut. "Ayo kita berangkat, sekarang sudah pukul 7 malam," lanjut Aminta mengintruksi. Wanita paruh baya itu tampak elegan dengan mermaid lace dress warna putih yang dipadukan dengan pump shoes putih.


"Memangnya butuh waktu berapa lama ke rumah Cherika?" tanya Jauzan. Pria paruh baya itu terlihat gagah dengan setelan double breasted.


"30 menit," jawab Chandika. Dia mengenakan setelan jas dari merek Bespoke yang dibuat khusus untuknya.


"Kakek ikut berangkat bersama kamu ya, naik mobilmu," kata Albert pada Chandika. Dia menggenakan tuxedo hitam.


"Ya, kakek," jawab Chandika menyetujui.


Hal itu membuat Jauzan dan Aminta terkejut. Sejak kapan kakek dan cucu itu menjadi akrab?


Keluarga Aldebaron segera menaiki mobil masing-masing dan berangkat menuju rumah si calon pengantin dari si tuan muda. Mobil Chandika memimpin di depan, mobil Jauzan dan Aminta yang mengikuti di belakangnya, dan jangan lupakan 5 mobil di belakang mereka yang tengah berbaris mengikuti—para bodyguard.


"Wajahmu kenapa, Chan?" tanya kakek Albert yang duduk di samping sang cucu di jok belakang. Di jok pengemudi ada sekretaris Theo yang menyetir.


"Ini adalah bukti perjuanganku saat berusaha mendapatkan restu dari kakak laki-laki Cherika," jawab Chandika dengan bangganya.


"Hebat sekali cucuku," kata Albert menepuk-nepuk bahu Chandika. Dia sangat bangga karena cucunya sudah tidak menakut lagi.

__ADS_1


Sekretaris Theo yang melihat interaksi mereka dari kaca spion tengah tersenyum. Akhirnya tuan besarnya yang terlalu angkuh untuk menunjukkan kasih sayang pada sang cucu, sekarang sudah bisa akrab dengan tuan mudanya.


"Jadi besok kamu akan langsung menikah dengan Cherika?" sambung Albert bertanya.


"Ya, apa kakek sudah mempersiapkan semuanya?"


"Tentu saja sudah," jawab Albert yang membuat Chandika tersenyum senang.


Kakek Albert-lah yang mempersiapkan pernikahan Chandika dan Cherika, dari pendaftaran di KUA dan pesta pernikahan. Dia bahkan sangat bersemangat melakukan hal itu. Dia yakin jika cucunya itu akan menikah dengan gadis yang tepat.


"Kakek sudah tidak sabar mempunyai cicit," kata Albert sembari membayangkan betapa lucunya anak dari Chandika dan Cherika.


"Sepertinya aku akan menunda itu."


"Menunda? Kenapa?" tanya Albert yang alis yang menyatu. Oh ayolah, dia sangat ingin segera menimang cicit.


"Cherika itu masih berumur 16 tahun, perjalanan hidupnya masih panjang. Aku tidak ingin merenggut masa mudanya," ucap Chandika dengan tatapan menerawang. "Dengan menikahinya saja aku sudah mengambil kebebasannya."


Albert terdiam, perkataan cucunya memang benar.


**


Cherika menatap pantulan dirinya di depan cermin, seorang stylist terkenal sedang menata rambut hitamnya. Dia tidak menyangka jika Chandika juga mengirimkan stylish dan makeup artist untuk mendandaninya.


Cherika juga terbengong menatap dirinya yang begitu cantik di cermin.


Wajahnya terlihat memukau dengan sentuhan natural soft makeup yang menghasilkan look yang cantik dan anggun. Rambutnya disanggul klasik dengan aksesoris bunga. Dia mengenakan dress midi tanpa lengan berwarna putih tulang.


"Apa ini aku?" tanya Cherika tidak percaya.


"Tentu saja, dengan makeup natural saja kamu terlihat begitu cantik," puji wanita satunya.


"Kalau begitu kami pergi dulu ya."


Ke dua wanita itu ke luar dari kamar Cherika setelah mendapatkan anggukan dan ucapan terima kasih dari si gadis.


"Aku berdebar sekali," gumam Cherika dengan memegang dadanya yang berdebar-debar. Dia mencoba menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan kembali dengan perlahan, dia melakukan untuk menghilangkan rasa gugup.


"Bukan waktunya untuk khawatir akan hal yang tidak penting," kata Chandika menyemangati dirinya sendiri.


Tok

__ADS_1


Tok


"Cheri, cepat keluar Chandika dan keluarganya sudah datang," terdengar suara Malvin dari arah balik pintu.


Cherika segera bangkit untuk membuka pintu untuk keluar dari kamarnya.


"lo benar adik gue?" tanya Malvin terpukau.


Cherika mengangguk. "Apa terlihat aneh?"


"Mana ada aneh, lo cantik banget," kata Malvin menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Bang Malvin jadi tidak rela..."


"Sudahlah, bang. Ketidak relaan lo sudah nggak berguna lagi sekarang," celetuk Aland yang tahu-tahu muncul.


"Ck," Malvin berdecak.


"Ayo cepat sambut keluarga Aldebaron, kenapa kalian berkumpul di sini?" tukas Agust mengintruksi.


Mereka langsung keluar untuk menyambut kedatangan keluarga kaya raya itu. Para tetangga juga sudah berkumpul. Meskipun rumah mereka minimalis, tapi taman depan rumah cukup luas untuk disulap dengan gapura kayu yang ditata rapi serta hiasan bunga yang menempel di setiap gapuranya, membuat suasana lamaran menjadi mewah dan syahdu sekaligus. Terlebih ketika lamaran dilakukan pada malam hari.


Tidak lama kemudiaan rombongan keluarga Aldebaron datang dengan 7 mobil. Para tetangga mulai heboh berbisik-bisik, kuat sudah dugaan mereka jika Cherika akan menikah dengan pria tua kaya raya.


Namun.


Seketika mereka terkejut karena melihat siapa yang keluar dari mobil-mobil mewah itu.


Keluarga Aldebaron. Siapa yang tidak mengenal keluarga terkaya di dunia itu? Koran, majalah, dan TV sering sekali menyorot keluarga itu. Tapi tidak dengan si putra tunggal yang wajahnya tidak pernah disorot media. Terakhir terdengar berita jika tuan muda Aldebaron akan menikah dengan anak dari pasangan Mentri dan mantan artis Hollywood, tapi pernikahan itu gagal karena calonnya sudah hamil duluan.


Dan tidak ada yang menyangka jika tuan muda Aldebaron akan datang untuk melamar Cherika.


"Ja-jadi Cherika akan menikah dengan putra tunggal keluarga Aldebaron?" bisik seorang tetangga tercekat.


"Habislah kita karena sudah berkata yang tidak-tidak."


"Apakah kita masih bisa hidup tenang setelah ini?"


"Kenapa anakku tidak bergaul dengan Cherika?"


"Aku akan menyuruh anakku untuk berteman dengan Cherika.


"Ya, aku juga."

__ADS_1


Bisik-bisik tetangga dihiraukan oleh Cherika. Sejak mata coklatnya bertemu dengan mata hitam milik Chandika dia seakan terkunci. Mereka berdua tidak dapat mengalihkan tatapan dari satu sama lain. Hati mereka sama-sama bergetar.


_To Be Continued_


__ADS_2