
Rasa sakit seakan tempurung kepalanya terbelah menjadi dua tiba-tiba saja berangsur menghilang. Dia buka kedua matanya, dan menampakan bola mata sewarna hitam malam.
Hanya ruangan putih yang dia lihat.
"Kenapa aku ada di tempat ini lagi?" tanyanya pada diri sendiri, pasalnya dia sekarang sedang berada di tempat berlatar putih dan tidak ada ujungnya. Tempat yang sama seperti dulu, bedanya tempat ini tidak memantulkan suara saat pertama kali dia berada di ruang misterius ini.
"Aku sudah kembali ke tubuh asliku?" lanjutnya tidak percaya saat mendengar suaranya menjadi berat seperti laki-laki lagi, pemuda itu langsung meraba wajah, rambut, dan seluruh tubuhnya.
Dia sangat senang akan hal ini, tapi seketika dia mendapat serangan panik, dia ingat sebelumnya dia terkena tembak.
"Apa aku sudah meninggal? Lalu bagaimana dengan Cherika?"
Kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan.
"Hei, bangunlah, kenapa lo meninggalkan gue dengan membawa tubuh asli gue, hiks.."
Suara yang dia kenal menghentikan lamunannya, suara yang sangat mirip dengannya.
"Katanya lo mau berubah menjadi kuat seperti gue, masa begini saja lo nggak bisa bangun."
Apa itu Cherika yang masih berada di dalam tubuhnya? Jadi dia memang belum kembali ke tubuh aslinya, pasti sekarang dia sedang sekarat karena di tembak.
Dengan segera Chandika melangkah mengikuti suara itu, seperti dulu, mungkin dia akan mendapat jalan keluar.
"Hiks, bangunlah, Chandika.."
"Ya, aku akan bangun, jangan menangis, Cherika," kata Chandika menjawab suara itu, dia yakin orang itu tidak akan bisa mendengarnya.
"Jangan meninggal, hiks... lo hanya pura-pura saja, bukan? Seharusnya gue yang tertembak, kenapa lo yang mengorbankan diri?"
"Aku tidak akan meninggal," bantah Chandika tetap menyahut, dia terus melangkah cepat mengikuti asal suara itu. "Bagaimana bisa aku tidak mengorbankan diri, sedangkan kamu sudah menjadi orang yang sangat berarti untuk hidupku."
Cinta itu bukan perasaan yang datang lalu berlalu, Cinta itu seiring dengan berjalannya waktu. Cinta tidak di tanam, tapi cinta itu tumbuh dengan sendirinya.
Ya, dia mencintai Cherika. Bahkan sejak dulu.
Cherika adalah gadis kecil miliknya, gadis yang sudah menolongnya saat berhasil lolos dari penculikan 10 tahun yang lalu. Gadis kecil yang sudah memberikan novel berjudul 'Jane Eyre', buku yang menjadikan dia terobsesi dengan Jane. Ingatannya dan Cherika berangsur-angsur menjadi satu dan karena itu dia tahu jika gadis belo itu adalah penyelamat hidupnya. Sudah lama dia mencari gadis kecilnya, karena wajah dan nama gadis itu tidak dia ingat.
Itulah mengapa dia berniat untuk berubah, agar dia dapat bersanding dengan gadis sekuat Cherika dan bisa melindungi gadis itu.
"Kamu memang harus melindunginya," ucap seseorang yang tiba-tiba saja muncul di depannya.
"Ka-kamu?"
__ADS_1
**
Ruang ICU kini sudah di penuhi dengan orang. Mereka menangis tersedu-sedu karena si ketua geng Aodra telah dinyatakan telah tiada.
Chandika masih menggenggam tangan Cherika dan enggan melepasnya, gadis itu akan di pindahkan ke ruang Jenazah. Dia masih tidak percaya jika gadis yang sedang terbaring di depannya sudah tiada, dan terus menghalangi perawat yang ingin memindahkan Cherika.
"Dia hanya tidur," kata Chandika yang semakin membuat semua orang terisak piluh.
Namun, tiba-tiba Chandika merasakan jari tangan yang sedang dia genggam bergerak.
"Di-dia bergerak," guman pemuda itu yang membuat semua orang terkejut.
Jari-jari Cherika menunjukan pergerakan kembali, dan semua melihatnya.
"Jarinya bergerak!" seru Nathan dengan kaget.
"Cepat panggilan dokter!" teriak Jauzan, dan perawat langsung bergegas memanggil dokter kembali. Tidak lama kemudian dokter muncul dan memeriksa keadaan Cherika.
"Ini keajaiban, detak jantung pasien yang sebelumnya berhenti, sekarang sudah kembali berdetak," kata dokter yang membuat semua orang lega.
"Ya tuhan, terima kasih," kata Agust yang memeluk ke lima saudaranya haru.
"Bos kita masih hidup, hiks," kata
"Alhamdulillah," balas Ignancio.
"Cherika anak yang sangat baik, pasti dia diberi keselamatan, banyak yang sayang padanya," kata Aminta menghapus air matanya.
"Kamu benar, istriku," balas Jauzan sambil memeluk Aminta.
"Terima kasih, sudah berusaha bertahan," kata Chandika berbisik tepat di telinga Cherika.
Perawat menyuruh orang-orang yang tadi berada di ruang ICU untuk ke luar, karena dokter akan menangani Cherika lebih lanjut lagi.
**
Chandika membulatkan matanya dengan sempurna. Kini, di depannya tengah berdiri seorang pemuda yang sangat mirip dengannya.
"Aku Felix," kata pemuda yang mirip dengannya itu.
"Kenapa kamu sangat mirip denganku?" tanya Chandika masih dengan tatapan terkejut.
"Karena aku adalah kamu juga," kata Felix dengan tatapan datar.
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Chandika semakin heran.
"Kamu akan tahu sebentar lagi," kata Felix tersenyum misterius.
"Jangan bercanda!" seru Chandika menatap geram.
"Ya, Aku tidak bercanda," balas pemuda itu. "Sekarang kamu sedang berada di dunia antara hidup dan mati."
"Darimana kamu tahu?" tanya Chandika penuh selidik.
"Tentu saja aku tahu, aku itu adalah dirimu, semua yang kamu lakukan maka aku juga melakukannya dan sebaliknya," balas Felix yang membuat pemuda di depannya mengeryit heran. "Kamu sedang sekarat dan hampir di nyatakan meninggal dunia."
"Apa? hampir meninggal?"
"Ya. Tapi, selama ada aku, kamu tidak mungkin meninggal dunia."
"Memang siapa kamu?"
"Kamu ingin ikut bersamaku?" bukannya menjawab, Justru Felix melontarkan pertanyaan lain dan mengulurkan tangannya pada Chandika.
"Kemana?" tanya Chandika ragu untuk menerima uluran tangan itu.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat, dan itu akan menjelaskan siapa diriku sebenarnya," jawab Felix masih menatap datar.
"Baiklah," ucap Chandika menyetujui dan segera menerima uluran tangan Felix.
WUSHHH
Mendadak angin kencang menerpa ke dua pemuda itu. Pandangan Chandika menjadi buram dan lama-lama menjadi gelap.
**
Sebuah keajaiban benar-benar terjadi, Cherika yang awalnya dinyatakan meninggal kini hidup kembali. Dokter mengatakan masih ada bahaya karena peluru ada di dalam otak Cherika. Cherika harus menjalankan operasi untuk mengangkat peluru, tapi tingkat keberhasilan hanya 1%.
"Hiks.. bagaimana ini, apakah Cherika kita akan selamat?" kata Malvin kakak ke dua dari si gadis, semua saudara Cherika sangatlah terpukul mendengar penjelasan dokter.
"Cherika gadis yang kuat, pasti dia dapat bertahan," ucap Agust menenangkan ke lima adiknya. Tapi tidak bisa dipungkiri, pemuda itu juga sangat cemas, karena tingkat keberhasilan operasi hanya 1%.
Jauzan menepuk pundak Agust. "Saya akan membiayai semuanya, Cherika akan saya bawa ke Singapura, di sana memiliki perawatan medis akreditasi baik dan paling efisien. Saya yakin tingkat keberhasilan operasinya akan lebih unggul," kata Jauzan seakan membawa angin segar pada ke enam pemuda.
"Tapi, apakah kami tidak merepotkan anda, tuan?" tanya Agust yang merasa tidak enak, dia tahu jika Cherika tertembak bukan sepenuhnya salah putra Aldebaron. Adiknya itu keluar diam-diam dari rumah dan ikut dalam misi penyelamatan, itu adalah inisiatif dari sang adik. Jadi dia tidak berhak untuk menyalahkan seseorang di sini, ini semua adalah takdir.
"Tentu saja tidak, berkat Cherika nyawa putra saya bisa terselamatkan," ucap pria paru baya itu dengan tersemyum. "Saya sungguh berterima kasih pada adik kalian," lanjutnya dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
_To Be Continued_