
"Kenapa muka lo kusut banget?" tanya Alvis pada Chandika yang baru datang.
Chandika langsung duduk di bangku miliknya. Moodnya sangat buruk hari ini.
"Jawab kek orang nanya," ucap Alvis menatap Chandika yang mendiamkannya.
"Gue sudah nggak bisa lagi bertemu tubuh asli gue," kata Chandika menjawab Alvis.
Chandika menceritakan yang di alami kemarin pada Alvis.
"Lo lagian kenapa mau bertunangan sama cewek jelek itu? Dari dulu gue sudah nggak suka sama itu cewek," kata Alvis membicarakan Jane.
"Mau gimana lagi, Chandika asli sangat menyukai Jane," kata pemuda mullet dengan mood yang masih buruk.
"Lo yakin Chandika masih menyukai Jane?" tanya Alvis yang membuat pemuda yang duduk di sebelahnya termangu sesaat.
"Gue... nggak tahu juga. Tapi yang gue tahu di dalam ingatannya, dia sangat mencintai Jane," ujar Chandika setelah berpikir sebentar.
"Ingatan kalian juga saling tukar?" tanya Alvis tidak percaya.
"Ya, ingatan dan perasaan," tukas Chandika membenarkan.
"Jadi... ingatan saat gue mandi bersama dengan Chandika lo ingat dong?" tanya Alvis dengan wajah yang bersemu merah. Saat kecil dirinya dan Chandika asli memang tidak jarang mandi bersama.
"Ya," jawab Chandika kalem.
Alvis shock dan malu bersamaan.
"Santai saja, waktu itu lo kan masih anak kecil," lanjut Chandika menyadari ekpresi pemuda yang duduk di sampingnya.
"Hmm," Alvis berdeham satu kali. "Ya."
"Lagian gue nggak tertarik juga kok sama tubuh kecil lo," kata Chandika dengan ambigu.
Bagaikan tersambar petir, wajah bayi Alvis terlihat tertekan. Dia melihat ke arah bawah tubuhnya, sepertinya dia salah mengartikan maksud Chandika KW super itu.
"Itu kan dulu, sekarang sudah berbeda," kilah Alvis mencoba menjelaskan.
Tapi, Sayang Chandika hanya mengangkat bahu tidak perduli.
"Kalo sekarang gue jamin lo bakal tertarik saat melihatnya," kata Alvis mempromosikan dirinya sendiri.
"..."
"Kalau begitu, ayo kita mandi bersama untuk membuktikannya."
"Uhuk.. uhuk," Chandika terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri, dia terkejut mendengar celetuk Alvis.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Alvis menunggu jawaban.
"Sinting."
**
Chandika memarkirkan motor sport miliknya, dia turun dari kuda besi setelah melepas helm. Dia memakai Jaket Tiger and Dragon Corduroy Bomber keluaran Gucci untuk menutupi seragam sekolah yang masih dia kenakan.
Langkah kaki lebar pemuda bersurai hitam legam memasuki bangunan setinggi tujuh lantai. Bangunan serba hitam yang terbuat dari material batu lava serta kaca warna gelap, terlihat simpel, namun sarat kemodernan dalam arsitektur gaya minimalis.
Aminta House Of Boutique.
Memasuki butik, Chandika seperti berada di sebuah galeri seni. Interiornya mempertahankan elegansi paras minimalis lewat palet monokromatik hitam dan putih. Semburat rona keabuan melandasi lantai di mana berpijak manekin-manekin berpakaian sarat mode dalam ragam pose bak instalasi kehidupan fashion kelas dunia.
"Selamat datang, tuan muda," sapa para karyawan yang berbaris rapi di sisi kiri dan kanan.
Chandika berjalan dengan kikuk karena mendapatkan perlakuan yang tidak biasa itu.
"Chan, putra mami," heboh Aminta yang menghampirinya. "Di mana Jane? Kalian tidak datang bersama?" lanjut wanita itu bertanya karena tidak melihat sosok gadis blaster.
"Dia membawa mobil sendiri. Jane tidak mau naik motor bersamaku, katanya panas," jawab Chandika jujur. Dia memang sudah mengajak Jane dan menawari untuk berangkat bersama, tapi gadis itu lebih memilih berangkat dengan mobilnya sendiri.
"Kenapa kamu tidak membawa mobil saja?" tanya Aminta.
Dia yang notabene bukanlah Chandika asli mana bisa menyetir mobil, dulu mobil saja tidak punya. Dia hanya bisa mengendarai motor.
"Oh, yasudah," ucap Aminta tidak mau ambil pusing.
"Tante, Chan," panggil gadis blaster yang baru datang.
"Hai Jane," sapa Aminta tersenyum lembut. "Karena kalian berdua sudah datang, ayo ikut mami."
Jane langsung menggandeng lengan Chandika dan mereka berdua mengikuti Aminta dari belakang.
"Aku baru melihat tuan muda, ternyata dia tampan sekali," bisik karyawan perempuan.
"Aku dengar tuan muda orangnya bodoh dan cupu, ternyata itu hanya rumor saja," bisik karyawan satunya.
"Sttt, jangan bicara macam-macam, jika terdengar kamu mau dipecat?"
"Calon tunangan tuan muda juga sangatlah cantik, mereka serasi sekali."
"Dia adalah anak dari mantan artis Hollywood terkenal."
"Beruntung sekali dia bisa mendapatkan calon pewaris keluarga paling kaya di dunia."
"Ya, perempuan cantik pasti selalu diikuti Dewi Keberuntungan."
__ADS_1
Jane yang mendengar bisik-bisik karyawan itu hanya tersenyum bangga, sekarang dia memang merasakan menjadi perempuan paling beruntung di dunia.
"Jane kamu pilih dan cobalah gaun yang paling cocok untukmu," kata Aminta ketika mereka telah sampai di lantai empat, yang dialokasi sebagai ruang VIP.
"Baik, tante," ucap Jane melepas tautan tangannya pada lengan Chandika dan melangkah ke koleksi gaun karya Aminta dan desainer terkenal di seluruh dunia. Setiap karya mewakili perwujudan identitas yang elegan dan menakjubkan. Gaun yang kini sedang Jane pengan misalnya, berkilau dalam susunan manik-manik emas dan mutiara yang dibuat khusus.
"Itu sangat cantik, Jane," kata Aminta yang melihat Jane memegang gaun karya dari Aminta sendiri, kamu boleh mencobanya kalau suka.
Jane mengangguk dan segera mengambil gaun itu dan pergi mencobanya di ruang ganti.
Sepeninggal Jane yang sedang mencoba gaun, Aminta melirik putranya yang memasang wajah bosan. "Chan, kamu juga cobalah beberapa jas," tukas Aminta pada sang putra tercinta.
"Aku pakai yang mana saja," jawab Chandika memutar bola mata jengah.
"Hais, anak ini," kata Aminta memukul punggung putranya.
"Aduh, sakit mami," keluh Chandika merasakan sakit di punggungnya.
"Antusiaslah sedikit," omel Aminta.
Chandika hanya mengangguk terpaksa.
Selama 1 jam mereka memilih dan fitting gaun dan setelah jas. Kini sudah menunjukan pukul 4 sore, mereka pergi ke restauran Seafood terdekat untuk makan dan mengobrol.
"Sebenar lagi hari tunangan kalian, jagalah kesehatan, tidak udah terlalu dipikirkan, semua sudah siap," kata Aminta pada kedua sejoli yang sedang duduk di hadapannya.
"Ya, tante. Jane sudah tidak sabar menunggu hari itu," ucap Jane dengan perasaan berbunga-bunga.
Chandika hanya diam sambil memainkan ponselnya.
"Tante juga ikut senang," kata Aminta tersenyum. Mau bagaimanapun dia tidak menyukai Jane, tapi Aminta akan menghargai Jane karena gadis itu adalah pilihan putranya.
Seorang pelayan membawakan pesanan dengan berbagai macam makanan olahan Seafood.
Jane memakan Zillion Dollar Lobster Frittata, olahan 1 ekor lobster segar, telur berkualitas, daun bawang, kaldu lobster yang gurih dan kentang. Itu adalah salah satu makanan favorit si gadis blaster. Namun, saat sendokan pertama tiba-tiba saja dia merasa sangat mual.
"Kenapa kamu, Jane?" tanya Aminta yang terlihat khawatir saat melihat Jane ingin memuntahkan makanan.
"Aku ingin ke toilet," kata Jane berlari menuju toilet.
Sesampai di kamar mandi Jane segera memuntahkan semua isi perutnya.
Setelahnya wajah putih gadis itu menjadi pucat. Dia menyalakan kran air di wastafel untuk mencuci tangan. Jane lupa jika akhir-akhir ini dia selalu sensitif soal apa yang dia makan. Dia juga jadi mudah lelah.
Sebenarnya ada apa dengan dirinya?
_To Be Continued_
__ADS_1