
Esok harinya di sekolah.
Chandika dengan wajah datar melangkah di koridor menuju kamar mandi. Tiba-tiba saja dia ingin buang air kecil.
Namun, dia tidak menyadari jika seseorang sedang mengikutinya dari belakang.
Setelah masuk ke kamar mandi dia masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi. Dia mulai melakukan ritual buang air kecil dengan wajah yang memerah. Untung saja dia berada di badan suaminya sendiri.
Setelah merasa lega dan kembali memakai kembali celananya, Chandika keluar dari kamar mandi dan menuju wastafel untuk mencuci tangan.
"Hai."
Chandika kaget ketika mendengar suara perempuan yang menyapa dan langsung berbalik. Dia melihat jika Siska tengah berdiri di depan pintu. Bagaimana bisa seorang perempuan ada di kamar mandi laki-laki? Dia tidak salah masuk kamar mandi, kan?
Kamar mandi terlihat sepi. Hanya ada Chandika dan Siska.
"Ngapain lo di sini?" tanya Chandika dengan suara datar.
"Kamu tidak ingat dengan aku, sayang?" ucap Siska tersenyum.
"Hah? Sayang? Siapa lo manggil-manggil gue sayang? Nggak usah sok dekat," kata Chandika memincingkan tidak suka.
'Apa-apaan dia manggil Dika sayang? Ganjen banget sama laki orang,' batin Chandika geram.
"Ini aku Putri Vransiska," kata Siska dengan maju mendekat pada Chandika. "Calon istrimu, Pangeran Felix."
"Maaf, gue sudah punya istri," kilah Chandika dingin.
"Apa Ellisha? Ups, maksudnya Cherika?" ucap Siska tersenyum pongah. "Perempuan itu tidak pantas untuk kamu, hanya aku yang pantas untuk bersanding denganmu."
'Jadi dia sudah ingat dengan masa lalunya juga?' batin Chandika dengan mengepalkan tangan.
"Berhentilah menganggu. Lo benar-benar memuakkan," kata Chandika dengan tatapan menusuk. Dia mencengangkan pergelangan tangan Siska saat gadis itu ingin menyentuh pipinya.
"Aw, kamu kasar sekali..." lirih Sika justru terlihat kesenangan karena pergelangan tangannya dicengkeram.
Chandika langsung melepas tangan Siska. Dia menatap jijik gadis honey blonde itu. "Lo cewek gila."
"Ya, aku gila karna kamu..."
Ingin sekali Chandika menampar gadis di depannya itu.
"Bagaimanapun caranya aku pasti akan mendapatkan kamu, Pangeran Felix," lanjut Siska dengan seringai yang terbit dari wajah cantiknya.
Kemudin Siska melepas kancing kemejanya sendiri.
"Apa yang ingin lo lakukan, hah!?" banyak Chandika menatap horor Siska.
Setelahnya Siska melepas kemejanya dan berlanjut rok abu-abu yang dia pakai, menyisahkan pakaian dalam saja.
PLAK
Siska menampar pipinya sendiri hingga sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah.
BUGH
Lalu menjedotkan kepalanya pada tembok hingga pelipisnya berdarah.
__ADS_1
"Tolong!!!" jerit Siska dengan histeris.
"Cewek sialan," desis Chandika saat tahu drama apa yang akan Siska lakukan.
"Tolong! Tolong!"
BRAK
Pintu kamar mandi di buka paksa.
"Ada apa ini?" tanya seorang Siswa yang datang.
"Oh, astaga!" pekik siswa lainnya.
"Siska, apa yang terjadi?" tanya seorang siswi yang langsung memeluk Siska karena melihat keadaan kacau gadis itu.
"Chandika. Dia...hiks ...ingin mem...perkosa aku...hiks," adu Siska dengan air mata yang mengalir.
"Breng-sek!" maki siswa yang masuk pertama tadi dan berniat memukul Chandika.
Chandika langsung menghindar pukulan itu. "Ck, gue nggak melakukan apa-apa."
"Sudah tertangkap basah masih saja nggak mengaku!" bentak siswi yang memeluk Siska.
Setelah itu kamar mandi semakin ramai dengan orang yang berdatangan. Chandika yang menjadi tersangka langsung di bawa ke ruang kelapa sekolah.
**
Di ruang kepala sekolah.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Martin, kepala sekolah SMA Tunas Harapan. Dia menatap Chandika dan Siska berganti.
"Aku tidak melakukannya," sangkal Chandika dengan ekspresi tenang.
"Aku tidak berbohong..." cicit Siska menunduk dengan badan yang gemetar ketakutan.
"Lo memang berbohong," kata Chandika menatap tajam Siska.
Martin menghembuskan napas berat. Dia meneliti penampilan Siska yang berantakan dengan sudut bibir yang robek dan pelipis yang berdarah. Dilihat dari keadaan gadis itu sudah jelas jika Siska memang benar-benar mendapatkan pelecahan. Tapi masalahnya adalah Chandika tidak mengaku. Dia tidak sebodoh itu untuk mengadili Chandika, apa lagi dia tahu siapa pemuda itu.
"Aku ingin Chandika bertanggungjawab atas perbuatannya... Aku ingin keadilan di sekolah ini," ucap Siska yang membuat Chandika mengepalkan tangannya.
**
"Bos!" seru Brian yang berlari menghampiri Cherika yang sedang terduduk di bangkunya.
Cherika mengangkat alisnya heran melihat Brian.
"Kenapa lo?" tanya Ignancio yang terduduk di sebelah Cherika.
"Sudah kayak kebakaran jenggot saja," celetuk Adam.
"Bos... Ga..gawat," kata Brian dengan napas yang terputus-putus.
"Napas dulu," saran Cherika.
"Tarik napas," ucap Ignancio mengintruksi.
__ADS_1
Brian menurut dan menarik napas dalam-dalam.
"Buang," lanjut Ignancio.
Pemuda berlesung pipi itu membuang napasnya perlahan.
"Pacar lo, bos. Chandika. Dia memperkaos Siska di kamar mandi cowok," kata Brian setelah lebih tenang.
"Apa!?" pekik Cherika, Ignancio dan Adam.
"Yang benar lo kalo ngomong," kata Adam.
"Benaran, gue lihat sendiri Siska yang berpenampilan kacau dan luka-luka di wajah. Chandika sekarang ada di ruang kepala sekolah," jelas Brian yang memang melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Tanpa berbicara lagi Cherika langsung bangkit dan berlari menuju ruang kepala sekolah.
"Lelucon apa ini?" gumam Cherika dengan gusar.
Cherika melihat ada Alvis dan Alice yang berada di depan pintu ruang kepala sekolah.
"Kalian di sini?" tanya Cherika pada ke dua orang itu.
"Ya," jawab Alvis.
"Dia pasti telah dijebak," kata Cherika .
"Ya, gue juga sepemikiran. Tapi tidak ada bukti tentang itu. Semua orang berpihak pada cewek itu," jelas Alvis tentang keadaan yang terjadi.
"Bang Chan nggak mungkin melakukan itu," ucap Alice membela Chandika.
"Tapi tidak ada saksi untuk mengungkap kebenarannya," tukas Alvis.
"Cherika, menantu mami," panggil Aminta yang tiba-tiba datang. Wanita paruh baya itu datang bersama Jauzan lantaran mendapat telepon dari sekolah.
"Mami dan papi datang?" tanya Cherika.
"Ya," jawab Aminta. "Di mana Chan?"
"Dia di dalam," jawab Alvis.
"Ayo masuk," ujar Jauzan masuk ke dalam ruang kepala sekolah dan diikuti yang lainnya.
Cherika dapat melihat Chandika yang terlihat tenang dan Siska yang sesenggukan.
"Ada apa dengan anak saya?" tanya Jauzan pada Martin.
Martin jadi kikuk sendiri. Di sini dia hanyalah kepala sekolah sedangkan keluarga Aldebaron adalah pemilik sekolah ini. "Anak anda sudah melakukan pelecehan pada seorang siswi."
"Pelecehan?" beo Aminta menatap Chandika. Dia langsung menghampiri putranya itu. "Chan kamu..."
"Itu tidak benar," sangkal Chandika.
"Hiks... Kenapa kamu terus menyangkal itu? Aku ingin kamu bertanggungjawab... " isak Siska.
Seketika semua orang di ruangan menatap Siska.
"Aku ingin kamu menikah denganku karena sudah menodai aku."
__ADS_1
_To Be Continued_