Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : Need Chandika


__ADS_3

Sudah 2 hari Siska mengalami skorsing, dia bertekad untuk membalas dendam akan hal ini. Kata maafnya tempo hari hanyalah kebohongan. Kenyataannya gadis itu tidak menyesal sama sekali atas perbuatannya, justru dia akan melakukan sesuatu yang lebih gila lagi asalkan dia bisa merebut Chandika dari Cherika.


Apartemen Siska kini sangatlah kacau, gadis itu telah mengamuk habis-habisan. Banyak barang pecah di mana-mana dan barang-barang berserakan, sudah seperti kapal pecah dibuatnya.


"Uhmm, pangeran Felix," geram Siska saat dirinya mencium bantal yang telah tertempel foto Chandika. Dia memang memfoto Chandika diam-diam untuk menyalurkan fantasi gilanya itu.


"Aku tahu kamu sangat mencintai aku juga, dirimu telah tersihir oleh anak penyihir itu. Aku akan segera menyelamatkan kamu, sayang," ucap Siska dan memeluk erat bantal yang dia anggap Chandika itu.


"Cherika..." seketika ekspresinya menjadi marah karena mengingat Cherika. "Dasar perempuan tidak tahu diri, tidak dimasa lalu dan masa kini, dia selalu memperdaya laki-laki yang aku cintai."


Siska, gadis itu memang sudah benar-benar tidak waras.


Ting... Tong...


Suara bel mengalihkan atensinya. Gadis honey blonde itu bangkit untuk membuka pintu.


"Siapa?" tanya Siska saat melihat pemuda yang tidak dia kenali.


"Apa lo yang bernama Vransiska?" tanya pemuda bersurai chestnut itu.


"Ya. Lo siapa?" tanya Siska sekali lagi.


"Gue Ben."


Ya, pemuda itu adalah Ben Lazuardy.


"Ben? Gue nggak kenal lo, apa lo pengikut akun Instagram gue?" tanya Siska terheran-heran.


Ben memutar bola matanya, percaya diri sekali perempuan yang di depannya itu. "Gue ke sini ingin menawarkan lo sebuah kerjasama," katanya kemudian.


"Kerjasama?" tanya Siska yang tidak mengerti maksud pemuda keriting itu.


"Ya, ini menyangkut Chandika dan Cherika."


Seketika Siska mulai tertarik.


Jika ditanya dari mana Ben mengetahui tentang Siska yang membenci Chandika dan Cherika itu karena koneksinya sangatlah banyak, dia mempunyai mata-mata untuk mengawasi pasangan itu. Dia tahu jika Siska sudah berbuat hal yang licik untuk menjebak Chandika. Ben memang membutuhkan sekutu untuk menjalankan rencana untuk membunuh Cherika.


**


"Aku sakit perut sekali," rengek Cherika. Dia menghampiri Chandika di kelas pemuda itu.


"Kenapa lo, Chan?" tanya Alvis yang terduduk di sebelah Chandika.


"Panggil dia Cherika," instruksi Chandika mengingatkan Alvis.


"Memang dia Chandika, kan. Dan lo yang KW," celetuk Alvis.


"Nanti ada yang dengar," sinis Chandika menginjak kaki Alvis dengan kencang.


"Breng-sek!" umpat Alvis terlonjak dari posisi terduduk, kaki kanannya sakit sekali. "Sakit, oi!"

__ADS_1


"Lagian lemes banget sih itu mulut," kata Chandika tanpa bersalah.


BRAK


Alvis meninju meja dengan kencangnya untuk menyalurkan emosinya. Wajah Alvis yang babyface berubah menjadi dingin.


Seketika semua orang di kelas terdiam. Mereka menatap Alvis takut-takut.


"Ck, muncul deh kepribadian setannya," gumam Chandika dengan tanpa rasa bersalah karena sudah membuat Alvis murka.


Alvis memejamkan mata dan langsung pergi dari kelas. Dia harus segera menghilangkan emosinya yang tiba-tiba meledak itu.


"Berhentilah membuat Alvis marah," ucap Cherika menasihati Chandika.


"Hmm," gumam Chandika.


"Aku benar-benar lagi sakit perut, sepertinya aku..." kata Cherika dan berbisik tepat di telinga Chandika.


Chandika terkejut seketika. "Tidak tembus kan?" tanya Chandika dan memutar tubuh Cherika. Dan benar saja dia melihat ada bercak kemerahan pada rok abu-abu Cherika.


"Aku tidak sadar," ucap Cherika terkejut, dia segera menutupi noda yang ada di roknya dengan ke dua tangannya.


Si pemuda mullet langsung mengambil jaket denim miliknya yang berada di atas meja dan melilitkannya di pinggang ramping Cherika. "Ayo UKS," ajak Chandika kemudian.


Cherika mengangguk, dia pasrah saat Chandika menarik tangannya.


"Kamu bisa jalan kan? Atau mau aku gendong?" tanya Chandika saat mereka berdua melangkah di koridor sekolah.


"Ok."


"Cherika!" panggil Icha dan Clara, ke dua gadis itu berlari dari arah berlawanan.


"Lo kemana saja, sih? Kita kan nyariin lo buat ke kantin bersama," kata Icha.


"Aku ke kelas Chandika," jawab Chandika jujur.


"Mentang-mentang sudah punya pacar jadi lupa sama teman," ucap Clara dengan mencibir.


"Tahu nih," timpal Icha.


"Maaf, tapi aku sedang butuh Chandika," kata Cherika dengan mengapit lengan Chandika untuk dia peluk.


Icha dan Clara sweatdrop.


"Dasar bucin," ejek Clara dengan menggelengkan kepala.


"Aku butuh Chandika untuk..."


"Cherika sedang sakit perut, kalian ke kantin duluan saja. Gue akan membawanya ke UKS," kata Chandika memotong perkataan Cherika.


"Benarkah? Lo nggak apa-apa, Cher?" tanya Clara khawatir.

__ADS_1


"Aku nggak apa-apa," jawab Cherika. Padahal perutnya sangatlah sakit sekali.


"Pantas muka lo pucat," tukas Icha juga terlihat khawatir.


"Yasudah, kami ke UKS dulu," kata Chandika. Dia segera menggendong Cherika karena melihat gadis itu yang sudah berkeringat dingin. Pasti Cherika sedang menahan sakit perutnya.


"Aku bisa jalan sendiri," cicit Cherika. Dia tidak menyangka Chandika akan benar-benar menggendongnya.


Icha dan Clara menatap ke dua pasangan yang berlalu.


"Chandika gentleman banget sih," ucap Clara jadi baper sendiri melihat Cherika yang digendong Chandika.


"Jadi iri gue," kata Icha dengan menggigit kuku jarinya. "Kapan ya gue sama kak Ludhe bisa begitu?"


"Tunggu lebaran monyet!" teriak Clara telat di telinga Icha.


"Clara!" seru Icha langsung mengejar Clara yang berlari. Telinganya sampai berdenging karena teriakan Clara.


Bug


Clara menabrak dada bidang seseorang.


"Kyaaa!" teriak Clara saat dirinya oleng dan ingin terjatuh ke belakang.


Grep


Sebuah tangan menahan lengannya, Clara terkejut saat tahu jika orang yang ditabraknya adalah Alvis. Pemuda yang mencuri perhatiannya. Gadis berambut gelombang itu tertegun melihat Alvis yang tengah menatapnya.


"Clara lo nggak apa-apa?" tanya Icha mengintruksi.


Alvis langsung melepas lengan Clara, dan gadis itu terjatuh dengan tidak elitnya.


"Aduh!" pekik Clara saat bokongnya mencium lantai koridor.


Tanpa berkata apapun Alvis langsung pergi. Pemuda itu memang sedang tidak dalam mood yang bagus, bisa-bisa dia memukul gadis yang menabraknya itu.


Icha langsung membantu Clara berdiri. "Hais, itu Alvis kan? Kirain dia mau nolong lo, eh malah ngelepasin tangan lo gitu saja."


Clara diam saja, wajahnya merona dan jantungnya berdetak begitu cepat.


"Icha," panggil Clara pada Icha tiba-tiba, tangannya memegang dadanya yang jedak jeduk.


"Ya?" jawab Icha terheran-heran dengan tingkah Clara.


"Kayaknya gue sudah jatuh cinta."


"Hah?"


Clara tidak tahu jika orang yang mencuri hatinya adalah pemuda sosiopat yang mempunyai kepribadian ganda.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2