Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
With You


__ADS_3

Cklek


Suara kenop pintu yang diputar tiba-tiba membuat seorang gadis terperanjat, dengan segara dia bersembunyi di balik pintu dan mengayunkan tongkat baseball yang sejak tadi dia pegang ke seseorang yang hendak muncul.


BUG


Tongkat baseball refleks ditahan oleh pemuda yang baru masuk.


"Ka-kamu!?" seru perempuan ponytail kaget.


"Lo ngapain di sini??" tanya Chandika pada Cherika yang tadi bermaksud memukulnya dengan tongkat baseball, untung saja refleksnya cepat.


"Ah, aku datang ingin membantumu menolong Alvis," kata Cherika mantap.


"Hah? Lo datang sendiri?" tanya Chandika yang segera menutup kembali pintu yang tadi masih terbuka.


"Tidak, aku membawa geng Aodra bersamaku, aku membawa 100 orang," ucap Cherika yang membuat pemuda di depannya termangu.


Cherika membawa 100 anggota Aodra, termasuk dirinya dan Ignancio. Ignancio yang pergi ke gerbang utama dengan 40 orang dan dia yang pergi ke gerbang ke dua dengan sisanya. Saat geng Aodra menolong Axel dan Haidar yang sudah terdesak, dia langsung mengendap masuk ke mansion dan menuju ke tempat di mana dulu dia disekap, gadis itu yakin jika Alvis dikurung di tempat yang sama.


"Good boy," ucap Chandika dengan tersenyum tipis dan mengacak rambut Cherika. "Tapi, ini sangat berbahaya untuk lo, harusnya lo nggak usah datang."


"Tapi aku tidak mau diam dan menonton saja," sanggah Cherika dengan muka cemberut.


"Ya, ya, terserah lo," kata Chandika mengiyakan, karena tidak mau ribut dengan gadis di depannya. "Apa lo tau di mana ruang bawah tanah itu?" tannyanya kemudian dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, yang ternyata adalah perpustakaan pribadi.


"Ya," jawab Cherika dan langsung berjalan ke tengah-tengah ruangan, dia langsung mengambil buku berwana merah yang berada di rak ke  empat.


GREK


Saat buku itu diambil, tiba-tiba saja rak buku bergeser. Cherika langsung menyingkirkan karpet beludru yang melapisi lantai, dan kini terlihat sebuah pintu.


"Wow, udah kayak di film-film saja!" seru Chandika menatap takjub.


"Ya, tapi ini membuatku takut, karena di bawah sana adalah tempat dulu aku di kurung selama empat hari, tidak dikasih makan dan minum, di siksa bagai binatang."


"Kalau lo takut, biar gue saja yang turun ke bawah," kata Chandika karena melihat muka pucat Cherika, badannya juga gemetar ketakutan.


"Tidak, aku akan melawan rasa takut ini, aku ingin lepas dari bayang-bayang yang menakutkan itu," bantah Cherika dengan meremas tangannya yang gemetaran.

__ADS_1


"Baiklah jika itu yang lo mau, jangan meremas tangan seperti itu, pegang saja tanganku," kata Chandika yang langsung menarik tangan gadis belo dan menggenggamnya lembut.


Seketika Cherika mendapatkan kekuatan, keberanian, dan kepercayaan diri saat tangannya di genggaman lembut, hatinya menghangat dan badannya berangsur  membaik, tidak gemetar hebat seperti tadi.


"Terima kasih, sudah membuatku merasa lebih baik," kata Cherika mengulum senyum.


"Syukurlah kalau lo sudah merasa lebih baik," ucap Chandika tersenyum. "Kalau begitu, ayo kita turun ke bawah untuk menyelamatkan sepupu lo itu."


"Ya."


Mereka berdua langsung membuka pintu yang berada di lantai, dan melihat tangga curam yang menjorok ke bawah, ruangan di bawah sangatlah gelap dan pengap. Memang benar, sangat cocok sebagai ruang penyiksaan.


Chandika melangkahkan kaki menuruni tangga bersama Cherika yang semakin erat memegang tangannya, gadis itu menyalakan senter yang dia ambil dari ransel.


"Lo bawa apa saja di ransel sebesar itu?" tanya Chandika memecah keheningan karena penasaran dengan ransel besar yang digendong Cherika.


"Semprotan merica, semprotan cabai, stun gun, panci bang Nathan, tongkat baseball bang Ganendra, baton stick, gunting kuku, pisau lipat, obeng, piring, ge–"


"Lo mau kemping bawa itu semua?" tanya Chandika memotong jawaban si gadis belo.


"Itu adalah alat pertahanan diri," ucap Cherika dengan bangga.


"Aku tidak bawa dodol."


"Lupakan," kata Chandika memutar bola matanya jengah.


Semakin menuruni tangga, semakin pengap dan lembab. Ketika sudah sampai di dasar ruang bawah tanah, tetap saja tidak ada penerangan, hanya cahaya senter yang membantu penglihatan mereka. Banyak pintu di ruangan itu, Chandika dengan segera membuka satu persatu pintu yang terbuat dari besi, hanya ruang kosong di balik pintu yang sudah dia buka.


"Di mana Alvis?" tanya Chandika dengan masih mencari.


"Aku tidak tahu."


"Ini adalah pintu terakhir."


CKLEK


Chandika dan Cherika tercengang karena melihat Alvis yang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ke dua tangan terikat ke atas dengan rantai borgol besi, kedua kaki juga di rantai, tubuhnya toples hanya menggunakan celana pendek hitam, banyak bekas cambuk, sayatan, dan tusukan di sana sini, sekujur tubuh dipenuhi darah.


"Alvis, hiks.." seru Cherika langsung mendekati pemuda deep auburn, kakinya yang mengenakan sepatu kanvas hitam menginjak jejak-jejak darah di lantai.

__ADS_1


Alvis langsung membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam, dia  kaget melihat ke dua orang yang datang, dia kira yang membuka pintu tadi adalah sang ayah yang akan menyiksanya lagi. "Ka-kalian? Kenapa  ada di sini?" tanya Alvis dengan suara parau, badannya terasa sakit dan hampir remuk, untuk berbicara saja dia membutuhkan tenaga yang banyak.


"Sudah, tidak usah banyak tanya, kami akan menolong lo," kata Chandika dan langsung mencoba melepaskan tangan dan kaki Alvis dari borgol besi, ternyata borgol besi itu terkunci dengan kuat.


"Pakai saja ini," kata Cherika menyerahkan kawat yang dia ambil dari ransel.


Chandika mengambil kawat itu dan langsung mencoba membuka kuncian borgol besi.


"Alvis, bertahanlah.. hiks, kamu harus baik-baik saja, terima kasih sudah melindungi aku selama ini," kata Cherika yang membuat Alvis kebingungan, ingin berbicara tapi dia sudah tidak ada tenaga.


KLEK


Borgol besi itu terbuka, ke dua tangan dan kaki Alvis sekarang sudah bebas, tapi pemuda itu tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri, dengan sigap Chandika langsung memapahnya.


Cherika langsung mengeluarkan jaket tebal dari ranselnya dan segera memakaikan pada Alvis.


"Berguna juga ransel besar itu," kata Chandika memuji gadis belo.


Gadis itu masih saja sesenggukan dan tidak perduli pujian Chandika, yang terpenting baginya sekarang adalah keselamatan Alvis.


"Ayo naik, gue gendong," kata Chandika kemudian dan menyuruh Alvis naik ke punggung belakangnya, dan Alvis hanya menurut.


'Bukannya di gendong cowok, malah menggendong cowok dong,' batin Chandika yang notabene perempuan meratapi nasibnya.


Mereka kembali menyusuri ruangan bawah tanah yang gelap dan langsung menaiki tangga curam untuk kembali.


DOR


DOR


Bunyi tembakan kembali terdengar saat mereka keluar dari ruang baca pribadi.


"Bos!" seru Galen yang sejak tadi menjaga pintu ruangan itu, agar tidak ada yang bisa memasukinya.


Alvis hanya mengangguk lemah ke arah Galen.


"Kita harus segera meninggalkan kediaman ini," kata Chandika pada Galen.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2