
Pukul 05.30.
"Dika..." suara lembut Cherika membangunkan sang suami yang masih terlelap.
"Bangun, Dika..." Cherika mengguncang tubuh Chandika.
"Hmm," Chandika membuka kelopak mata mono miliknya.
"Ayo bangun, kita harus sekolah."
Bukannya bangkit pemuda itu justru semakin menyelimuti dirinya. "Ugh.. tidak usah sekolah, aku masih mengantuk."
"Haish, jangan seperti itu. Kita sudah tidak masuk sekolah sejak kemarin," ucap Cherika dengan mencoba menarik selimut.
"Tidak apa-apa, sekolah itu kan sudah kakek beli. Jadi tidak apa-apa untuk bolos," kata Chandika yang sudah memejamkan mata kembali dan tidak terusik dengan tarikan Cherika pada selimutnya.
"Ayo cepat bangun," kata Cherika masih mencoba membangunkan Chandika. "Kita mandi bersama."
Chandika yang mendengar langsung membuka matanya sepenuhnya dan langsung terduduk. "Ayo," jawabnya dengan semangat.
"Kalau itu saja langsung semangat," ucap Cherika memutar bola matanya.
Chandika cengengesan. "Pagi-pagi ingin dikasih pemandangan bukit dan lembah yang idah. Siapa yang tidak semangat?"
"Dasar mesum! Aku tidak jadi mengajak kamu mandi bersama!" seru Cherika dengan wajah yang memerah sempurna.
"Ihh, kok gitu sih..." protes Chandika.
Cherika langsung berbalik dan berjalan ke kamar mandi.
BRAK
Chandika terlonjak kaget karena bantingan pintu yang begitu kencang. Dia merutuki mulutnya yang tidak disaring itu. Gagal sudah acara mandi bersama dengan sang istri tercintanya.
"Tidur lagi saja deh," gumam Chandika langsung tidur kembali.
Setelah kurang dari 20 menit, Cherika menyelesaikan ritual mandinya. Dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk. Dia geleng-geleng kepala saat melihat Chandika yang tidur kembali.
Cherika berniat membangunkan Chandika lagi. Saat sampai di sebelah ranjang tiba-tiba Chandika menarik tangannya hingga terjatuh di pelukan suaminya itu.
"Akh!" pekik Cherika. "Kamu pura-pura tidur?"
"Tidak kok. Kamu wangi sekali sih, jadinya aku langsung terbangun," kata Chandika dengan menarik lepas handuk yang melilit tubuh Cherika.
"Hmmp," Cherika menggeram tertahan karena Chandika yang tengah mengecupi bahu polosnya. "Ja...jangan macam-macam, kita harus sekolah."
"Beri aku ciuman," pinta Chandika.
"...Ehmm," erang Cherika saat dua tangan nakal suaminya itu menjalar pada ke dua tubuh sensitifnya.
"Cepat cium aku, dan aku akan melepaskan kamu, sayang," bisik Chandika tepat di telinga Cherika dan di akhiri jilatan di sana.
Chandika dapat merasakan napas Cherika memberat. Dan... Oh, damn... Chandika sangat menyukai wajah istrinya yang sudah seperti buah tomat kesukaannya. Tanpa sadar dia menjilat bibirnya sendiri, membasahi bibirnya yang mendadak kering.
__ADS_1
Cherika yang melihat itu langsung mencium bibir Chandika. Tanpa diminta pun dia akan melakukan ini dengan senang hati. Tapi ini bukan saatnya, dia harus cepat-cepat membuat Chandika melepaskan dirinya. Mereka harus bersiap-siap untuk ke sekolah.
Chandika yang menerima ciuman itu hanya diam dengan mata yang masih terbuka. Dia melihat Cherika yang tengah mengulum bibir plum miliknya dengan mata terpejam. Mengulum secara bergantian. Begitu Lembut, dalam, dan penuh perasaan.
Cherika melepas ciuman panjangnya, dia segera meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Chandika terkikik melihatnya. "Kenapa kamu menahan napas saat mencium aku?"
"Refleks..."
"Hmm, ayo kita lanjut ke tahap selanjutnya... " kata Chandika tersenyum nakal.
"Stop! Kamu sudah berkata ingin melepaskan aku setelahnya. Jangan dilanjutkan. Cepat kamu mandi!" bentak dengan Cherika mendorong Chandika.
"Ah, ya..." ucap Chandika menciut karena bentakan Cherika. Pemuda itu langsung bangkit untuk pergi ke kamar mandi.
Cherika langsung melilitkan kembali handuknya, dia segera bersiap-siap untuk memakai baju seragamnya.
"Jadi Dika benaran pindah sekolah?" tanya Cherika pada dirinya sendiri sembari menyiapkan baju seragam Chandika.
Setelah siap. Cherika segera keluar kamar untuk membantu mami Aminta menyiapkan sarapan. Sebagai menantu dia tidak boleh malas-malasan.
"Oh. Kamu kenapa ke sini?" tanya Aminta yang sedang memotong-motong buah tomat.
"Aku ingin membantu mami," kata Cherika yang baru saja datang.
"Tidak perlu, sayang. Nanti Chan bisa-bisa menangis jika kamu tinggal untuk membantu mami di dapur," kata Aminta terkikik mengingat perlakuan protektif putranya.
"Yasudah, sini bantu mami. Mami akan membuat sup tomat kesukaan Chan," kata Aminta dengan tersenyum.
"Ya, mami."
"Ngomong-ngomong apa makanan kesukaan kamu?"
Menantu dan ibu mertua itu mulai membuat sarapan dengan sesekali obrolan ringan.
Bukan tidak mempunyai pelayanan. Namun, untuk urusan dapur memang Aminta yang ingin melakukannya sendiri. Sejak dulu dia selalu menjaga pola makan suami dan putranya sendiri.
"Mami, tolong ajari Cheri memasak," pinta Cherika tiba-tiba. Dia seketika kagum melihat Aminta yang bagai chef profesional.
"Boleh."
Tidak lama kemudian sarapan sudah selesai di siapkan.
"Kamu memasak?" tanya Chandika yang baru memasuki ruang makan. Dia yang sejak tadi kelimpungan mencari keberadaan yang istri langsung terkejut melihat Cherika yang sedang menata meja makan.
"Aku hanya membantu mami," jawab Cherika setelah menata piring.
Chandika langsung memeluk Cherika. "Aku kangen sekali, aku kira kamu menghilang."
"Aku hanya pergi ke dapur sebentar," kata Cherika tertawa geli.
Benar kata Aminta. Chandika bisa-bisa menangis karena dia tinggal. Apa memang sudah menangis?
__ADS_1
"Kamu bahkan tidak bilang dulu padaku," Chandika cemberut.
"Ah, maaf. Kamu kan sedang mandi tadi..."
"Ya deh."
"Hmm," sebuah dehaman membuat Chandika segera melepas pelukannya.
"Apa sih, papi. Mengganggu saja," ketus Chandika yang melihat papi Jauzan pelakunya.
Cherika langsung menunduk karena malu.
"Itulah perasaan papi saat kamu mengganggu kemesraan papi dan mami. Tidak enak, kan? Kesal?" kata Jauzan justru meledek. Dia senang karena bisa membalas dendam pada putranya yang suka menganggu itu.
Chandika hanya mencebik.
"Sudah, sudah, ayo kita sarapan," instruksi Aminta yang baru datang dari arah dapur. Dia membawa panci yang berisikan sup tomat.
Mereka langsung duduk pada kursi masing-masing dan memulai sarapan dengan tenang.
"Chan, sebaiknya kamu tidak mengumbar jika kamu dan Cherika sudah menikah."
"Loh kenapa?" tanya Chandika tidak suka.
"Ini demi kenyamanan belajar kalian saja," jawab Jauzan. "Papi tidak mau jika kalian akan digosipkan yang tidak-tidak karena menikah muda. Itulah alasan papi belum mempublikasikan pernikahan kalian."
"Hmm," Chandika hanya bergumam.
"Benar-benar tidak bisa dipercaya," kata Jauzan memincingkan mata pada putranya.
"Papi tenang saja, aku dan Chandika akan menutupi pernikahan kami," ucap Cherika meyakinkan mertuanya.
"Nah, kalau Cherika pasti papi bisa percaya," Jauzan tersemyum bangga.
"Kamu harus banyak belajar dari istrimu, Chan," lanjut Jauzan.
"Ya," jawab Chandika kalem.
"Kami berangkat sekolah dulu," sambung Chandika saat sudah menyelesaikan sarapannya.
"Hati-hati ke dua anak mami," kata Aminta tersenyum.
Chandika dan Cherika bangkit dan mencium tangan Jauzan dan Aminta.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Pasangan muda itu segera berjalan keluar mansion. Namun, mereka terkejut ketika melihat ada yang menunggu mereka.
"Kalian?"
_To Be Continued_
__ADS_1