Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Beloved Girl


__ADS_3

Chandika masih fokus dengan berkas-berkas perusahaan yang sedang dia pelajari. Kini belajar adalah kegiatan rutinnya saat sepulang dari sekolah. Dia pun mengenyahkan rasa rindunya dengan sang kekasih.


Cklek


"Chan, kamu belum membeli handphone baru lagi?" tanya Aminta yang muncul dari balik pintu.


Chandika baru ingat jika ponselnya rusak saat dibanting Jane. "Ah, Chan lupa," kata Chandika yang mengalihkan atensinya. Bodoh sekali dirinya, bagaimana jika Cherika menghubunginya?


"Pantas saja, kakek menghubungi kamu tapi tidak tersambung," kata Aminta yang sudah berdiri di sebelah meja.


"Untuk apa kakek menghubungi aku?" tanya Chandika dengan mengangkat alisnya.


"Dia ingin bertemu dengan kamu."


"Bukannya kemarin sudah bertemu?"


"Katanya ada seseorang yang ingin kakek kenalkan padamu."


"Seseorang? Siapa?" tanya Chandika semakin bingung.


"Sepertinya kakek akan menjodohkan kamu dengan seorang gadis," kata Aminta hati-hati.


"Apa!?" pekik Chandika langsung berdiri dari duduknya. "Bagaimana bisa? Padahal aku sudah bilang jika ingin menikah dengan gadis yang aku cinta."


"Mami juga tidak tahu apa yang kakek pikirkan."


"Aku tidak mau menemui gadis itu," kata Chandika penuh akan penolakan.


"Sebaiknya kamu temui saja dulu, kamu bicaralah pada kakek kalau tidak mau dijodohkan. Jika kamu bilang tidak, kakek pasti menuruti. Kakek bukanlah orang pemaksa," ujar Aminta menasihati.


"Ya, mami," kata Chandika menurut.


**


"Tuan muda, anda sudah ditunggu diruang tamu," kata seorang pelayang yang menyambut Chandika saat turun dari mobilnya.


"Baik."


Chandika melangkah menuju ruang tamu kediaman kakeknya itu. Namun,  dia menghentikan langkahnya saat mendengar sayup-sayup obrolan.


Terdengar suara kakek Albert yang tertawa pelan. "Ternyata aku kalah."


"Permainan catur kakek sangatlah hebat, sepertinya aku sedang beruntung."


"Kalau begitu ayo temani kakek main sekali lagi."


"Bisakah kakek mengalah?"


"Tidak bisa dong, tidak bisa mengalah."


'Suara ini..."


Chandika langsung mempercepat langkahnya.


'Cherika?'


"Kakek... Maaf mengganggu," kata Chandika yang mengalihkan Albert dan Cherika yang bermain catur.

__ADS_1


"Oh, kamu sudah datang, cucuku," ucap Albert yang melihat kedatangan Chandika.


"Kalian sedang apa?"


"Kami sedang bermain catur. Kakek sangat hebat! Selama bermain 12 putaran berturut-turut aku hanya bisa memang satu kali," jawab Cherika.


"12 putaran?" beo Chandika sweatdrop.


Cherika dan Albert mengangguk bersamaan.


Chandika tertawa pelan. "Jadi gadis yang ingin kakek jodohkan dengan aku itu dia?" tanya Chandika berbinar senang.


"Ya, kenapa kamu terlihat senang seperti itu?" tukas Albert menyelidik.


"Tentu saja senang," jawab Chandika langsung menghampiri Cherika yang terduduk dan memeluk gadisnya itu. "Cherika adalah gadis yang aku cintai," lanjutnya dengan menggesekkan pipinya pada pipi Cherika yang sudah memerah sempurna.


"Ka-kalian?" Albert sangat terkejut akan kenyataan itu, belum lagi cucunya dengan tanpa rasa malu memeluk Cherika di depannya. Pantas saja Cherika langsung mengatakan iya saat ditawarkan untuk dijodohkan dengan cucunya.


Albert melirik sekertaris Theo untuk meminta penjelasan tapi hanya mendapatkan gelengan. Theo juga tidak tahu, dia hanya menyelidiki latar belakang gadis itu. Dia tidak tahu jika Cherika mempunyai hubungan dengan tuan mudanya.


"Aku kangen sekali padamu," kata Chandika semakin mengeratkan pelukannya.


"Le-lepas, kakek sedang melihat kita," cicit Cherika menahan malu.


"Hmm," Albert berdeham untuk menghilangkan kekagetannya.


"Kalian berbicara dulu, kakek akan melihat persiapan untuk makan malam," tukas Albert bangkit dari duduknya. Sekretaris Theo pun mengikutinya dari belakang.


"Ya, kakek," jawab Chandika tanpa melepaskan pelukannya.


"Sayang, kenapa kamu tidak bilang jika berada di sini?" tanya Chandika sepeninggal Albert dan Theo.


"Kamu saja sulit untuk dihubungi," kata Cherika cemberut, dia segera membalas pelukan Chandika. Dia juga merindukan kekasihnya itu.


"Ah, headphone milikku rusak karena dibanting Jane."


"Kamu berhutang penjelasan," tuntut Cherika mendongak untuk menatap wajah tampan si pemuda mullet.


Chandika mengangguk, dia mengurai pelukan mereka dan duduk di sebelah Cherika. "Jadi, aku sudah membongkar semua kebohongan Jane dengan rekaman yang berada di headphone yang sudah Jane banting itu," jelas Chandika kemudian.


"Syukurlah," ucap Chandika tersenyum.


"Aku senang karena sudah tidak ada masalah untuk menghalangi pernikahan kita, dan aku tidak menyangka kalau kakek akan menjodohkan aku dengan kamu," kata Chandika tersenyum lebar.


"Ya, aku juga senang."


"Kalau begitu hari ini saja kita menikah," ujar Chandika antusias.


"Ma-mana bisa," kata Cherika gugup.


"Kenapa?" tanya Chandika mengeryit.


"Kamu belum meminta restu dari keluargaku."


"Tentu saja aku akan meminta restu, aku akan segera membawa papi dan mami untuk melamar kamu untuk menikah denganku," jawab Chandika dengan sungguh-sungguh.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Benar, sayang."


"Aku mencintaimu," kata Cherika senang dan menghadiahkan kecupan di sudut bibir Chandika.


Hati Chandika bergetar karena tindakan tiba-tiba kekasihnya itu. "Aku lebih mencintaimu," ucap Chandika mengecup kening berponi Cherika.


"Kamu sangat cantik sekali," lanjut Chandika saat melihat penampilan feminim kekasihnya. "Haruskah aku membelikan kamu lebih banyak dress?


"Tidak!"


"Kenapa? Kamu terlihat sangat cocok memakai itu dari pada celana pendek yang menggoda iman," kata Chandika ceplas ceplos.


"Apa? Menggoda iman?" Cherika melotot tidak percaya.


"Ya, kamu sudah membuangnya kan?"


"Sudah," jawab Cherika. Sebenarnya dia sangat tidak rela membuang celana-celana kelewat pendek miliknya itu. Tapi apa boleh buat, dia harus menurut karena ingin menjadi calon istri yang baik.


"Baiklah, kalo begitu aku akan menggantinya dengan banyak baju cantik."


"Aku tidak mau, ihh," kilah Cherika masih berusaha menolak.


"Mau ya?" tuntut Chandika dengan puppy eyes miliknya. Benar-benar seperti anak kucing yang sangat menggemaskan.


Tanpa sadar Cherika mengangguk. Cherika tidak tahu jika Chandika berniat membuatnya meninggalkan image tomboy yang selama ini dia bangun.


Ya, karena Cherika yang feminim terlihat sangat manis dan cantik secara bersamaan.


**


"Sudah jam segini, aku akan mengantar Cherika pulang," kata Chandika sesudah acara makan malam.


"Terima kasih untuk hidangannya, kakek," ucap Cherika sopan.


"Kamu tidak udah sungkan-sungkan, sudah kakek bilang ini adalah bentuk terima kasih kakek untuk kamu," kata Albert sehabis menyesap teh hijau miliknya.


"Terima kasih? Memangnya apa yang sudah terjadi?" Chandika mempertanyakan keheranannya.


"Cherika adalah orang yang sudah menolong kakek," jawab Albert dengan menyeka mulutnya dengan ujung serbet.


"Ya, aku tidak sengaja bertemu dengan kakek saat berangkat ke sekolah," kata Cherika membenarkan.


Chandika mengangguk, dia juga ingat jika papi Jauzan pernah mengatakan kalau kakeknya habis di serang orang. Tapi, dia tidak mengira jika gadisnya yang telah menolong sang kakek.


"Jadi apa hubungan kalian?" tanya Albert yang sebenarnya sudah tahu akan jawabannya.


"Tentu saja sepasang kekasih," jawab Chandika mantap. Cherika menunduk untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.


"Jadi Cherika adalah gadis yang kamu cintai itu? Gadis yang ingin kamu nikahi?"


"Ya."


Albert tersenyum tipis, dunia itu benar-benar begitu sempit. Siapa yang mengira jika gadis yang akan dia jodohkan dengan cucunya adalah gadis yang sama dengan yang dicintai cucunya?


"Jadi kapan kalian akan menikah?"


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2