
Matahari terbit tidak kalah indah dengan matahari terbenam, momen ini begitu berharga bagi Chandika dan Cherika yang sedang menikmati fajar yang syahdu dengan udara yang masih sejuk dan segar. Mereka terduduk di pasir putih yang indah.
Chandika menggenggam tangan Cherika dan kecupan mendarat di punggung tangan itu, "Seperti matahari yang terus terbit dan terbenam demi malam, seperti itu aku mencintaimu, selalu."
Cherika merona karena ucapan romantis yang tiba-tiba saja Chandika lontarkan, sungguh membuat hatinya bergetar karena bahagia.
"Mulai saat ini dan selamanya, kita akan selalu bersama. Aku sangat bahagia karena di dunia ini aku bisa mencintai kamu sebanyak yang aku mau. Aku berharap bahwa tangan kita tak pernah saling melepaskan satu sama lain. Tetaplah bergandengan berjalan bersama-sama."
Cherika tidak tahan, air mata mengalir dari pelupuk matanya, dia sangat bahagian karena dapat bersatu dengan Chandika setelah mengalami hal yang menyakitkan di masa lalu. Pemuda itu hadir memberi cinta, membawa bahagia, dan memberikan rasa rindu yang tak pernah ada habisnya. Cherika merasa beruntung karena itu.
"Shtt, kenapa menangis?" tanya Chandika mengusap jejak air mata Cherika, dia tidak suka jika istrinya menangis.
"Aku menangis karena bahagia," jawab Cherika mencoba mengulum senyum terbaiknya.
Tidak semua air mata berarti duka. Terkadang, tangisan adalah kebahagiaan yang tak mampu diungkapkan lisan.
Chandika terkekeh, dia menarik Cherika ke dalam pelukan hangatnya, "Dasar, membuat khawatir saja."
"Aku mencintaimu, Dika," ucap Cherika seraya membalas pelukan Chandika.
"Aku yang lebih mencintaimu."
Chandika mengurai pelukan mereka, dia menatap mendamba Cherika yang juga menatapnya.
Perpisahan yang paling menyedihkan ialah ketika berpisah, mereka yang telah berpisah di masa lalu kini bisa bersama. Benang merah sudah mengikat dia yang ditakdirkan bersama.
Chandika dan Cherika mengukir pengalaman romantis yang luar biasa saat seminggu honeymoon mereka. Banyak hal yang mereka lakukan seperti berjemur di pantai, melakukan perjalanan sehari ke Air Terjun Kahuna atau Air Terjun Akaka, bersnorkeling dan selam scuba, mendaki melintasi Taman Nasional Gunung Api Hawaii, dan menikmati pemandangan menakjubkan dari lembah Waipio.
Tiada hari tanpa kebahagian.
**
5 Minggu telah berlalu.
Cherika bangun dari tidurnya, sekarang sudah pagi, dia harus membangunkan Chandika untuk bersiap ke sekolah.
Namun, tiba-tiba Cherika merasakan mual, dia langsung bangkit untuk menuju kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi dia memuntahkan semua isi perutnya di kloset. Setelahnya Cherika merasa lemas.
Gadis itu segera berjalan ke wastafel untuk berkumur dan mencuci tangan.
"Apa aku masuk angin?" tanya Cherika dengan melihat pantulan dirinya di cermin.
"Atau..."
Cherika memegang perutnya.
Tok... Tok... Tok
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" terdengar suara Chandika dari arah luar kamar mandi. Pemuda mullet itu terbangun karena mendengar suara muntah-muntah dari kamar mandi.
__ADS_1
Cherika segera melangkah keluar, dia bisa melihat ekspresi Chandika yang terlihat begitu cemas. "Aku tidak apa-apa, Dika," jawab Cherika dengan tersenyum.
"Tapi kamu pucat sekali," ucap Chandika, dia menyeka keringat yang menetes di pelipis istrinya.
"Tidak usah khawatir," kilah Cherika berusaha meyakinkan Chandika jika dia baik-baik saja.
Chandika membantu Cherika untuk duduk di ranjang.
"Kamu istirahat saja, tidak usah sekolah," saran Chandika.
Cherika menggeleng, "Aku ingin sekolah, bisa-bisa aku ketinggalan pelajaran kalau bolos melulu."
"Kamu yakin?"
"Ya."
**
Di ruang makan.
"Kamu terlihat pucat, sayang," kata Aminta saat melihat Cherika, "Kamu sakit?"
"Sepertinya aku hanya kelelahan," jawab Cherika.
Jauzan melirik Chandika, "Pasti ini gara-gara kamu, Chan."
"Hais, memangnya aku ngapain?" kilah Chandika, dia memang tidak melakukan apapun kecuali bercocok tanam setiap hari.
Chandika pun langsung tersadar, apa dialah yang membuat Cherika kelelahan? dia menatap Cherika yang terduduk di sampingnya, "Kamu kelelahan karena—"
"Hoek," Cherika merasa mual kembali, penciumannya terasa begitu sensitif ketika mencium bau amis dari sup ikan nila.
Cherika langsung bangkit dan berlari menuju kamar mandi, Chandika pun mengejar Cherika dengan ekspresi yang cemas, sedangkan Jauzan dan Aminta saling menatap.
Cherika kembali muntah, perutnya yang belum terisi makanan hanya mengeluarkan air saja, dia memang belum sempat makan tadi.
Kepalanya sangatlah pusing dan berdenyut, pandangannya menggelap.
Chandika menangkap Cherika yang hampir saja terjatuh di lantai kamar mandi, dia panik ketika melihat Cherika pingsan. Chandika segera menggendong Cherika untuk membawanya ke rumah sakit.
**
Sesampainya di rumah sakit, Cherika segera diperiksa dokter.
"Di mana suaminya?" tanya Dokter setelah memeriksa keadaan Cherika.
"Aku suaminya," jawab Chandika cepat.
Dokter perempuan itu menatap tidak percaya Chandika, pemuda yang masih menggunakan seragam SMA, belum lagi Cherika juga menggunakan seragam yang sama.
"Kalian benaran sudah menikah?"
__ADS_1
"Tentu saja," jawab Chandika dengan kesal, dia tidak suka karena pernikahannya dengan Cherika diragukan.
Brak
Pintu terbuka dengan paksa, terlihat ada Aminta, Jauzan, dan Albert. Sang Dokter dan Chandika pun terkejut dibuatnya.
"Kenapa kalian ke sini?" tanya Chandika bingung, belum lagi kakek Albert juga datang.
"Kami hanya ingin tahu keadaan Cherika," jawab Jauzan kikuk.
"Bagaimana keadaan menantuku, Dok?" tanya Aminta pada Dokter.
Sekarang Dokter percaya jika Chandika dan Cherika sudah menikah karena Aminta yang menyebut menantu.
"Pasien sedang hamil 1 bulan."
"Ha-hamil," ucap Chandika tergagap.
Keluarga Aldebaron merasa sangat senang mendengar kabar itu, kehamilan Cherika memang sudah mereka tunggu-tunggu, ternyata mengirim Chandika dan Cherika ke Hawaii untuk honeymoon bukanlah hal yang sia-sia.
Cherika membuka matanya, dia sudah sadar. Chandika yang melihat Cherika yang mencoba duduk langsung menghampiri dan membantu Cherika.
"Kamu sudah sadar, sayang?"
"Hmm," Cherika hanya bergumam, dia memegang kepalanya yang masih pusing.
"Pusing..." rengek Cherika pada Chandika.
Chandika tersenyum dan mengelus surai hitam Cherika yang tergerai, "Terima kasih."
Cherika mengeryit bingung, padahal dia sedang mengadu jika kepalanya pusing tapi Chandika justru bilang terima kasih.
"Kehadiranmu adalah anugerah terindah dalam hidupku. Terima kasih karena telah hamil dan memberikan aku kebahagiaan yang begitu besar," kata Chandika memeluk Cherika.
"A-aku hamil?" cicit Cherika.
"Ya, sayang. Sebentar lagi sosok yang tercinta akan segera hadir di sisi kita."
Cherika merasa jika dia adalah wanita paling bahagia di dunia, ketika dia tahu ada segumpal darah dalam rahimnya. Bayinya dan Chandika. Meskipun hamil di usia muda tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu.
Rasa terimakasih pada Sang Ilahi tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan betapa bersyukur mereka atas kehamilan ini.
"Dengan hadirnya dirimu, Daddy akan banyak belajar jadi orangtua yang baik, agar masa depanmu juga baik," kata Chandika dengan mengelus perut rata Cherika.
"Hari-hari akan lebih indah dengan kehadiran kamu dalam tubuh Mommy, semoga kelak kamu dapat melihat indahnya dunia bersama Daddy dan Mommy," tambah Chandika.
"Dika," panggil Cherika.
"Hmm?"
"Terima kasih untuk semuanya. Hatiku mengandung semua kebahagiaan di dunia karena kamu adalah cinta dalam hidupku, suamiku, dan Ayah dari anakku."
__ADS_1
_To Be Continued_