
"Lihat ini," kata Galen pada Chandika yang sudah kembali ke ruang tamu.
Chandika langsung menghampiri Galen dan Alvis. "Ada apa?"
"Gue menemukan beberapa riwayat panggilan dan pesan antara Jane dan Ben," ucap Galen menunjuk pada layar komputer.
Dan benar saja, si pemuda hacker sudah berhasil menyadap ponsel Jane. Bahkan melihat isi keseluruhan ponsel itu, benar-benar luar biasa.
"Terus?" tanya Chandika.
"Sampai sekarang pun mereka masih berhubungan. Sepertinya Jane dan Ben sedang berkomplot."
"Ya, aku juga sudah menduganya."
"Tapi tetap saja kita tidak menemukan bukti," celetuk Alvis.
Chandika menghela napas, ternyata tidak semudah yang dia pikirkan.
"Tapi dengar ini dulu. Kita mendapatkan jackpot," kata Galen yang melepas headset logitech yang sejak tadi terpasang di telinganya.
**
Jane mengerjakan matanya, terlihat sepasang bola mata jade yang indah. Dia segera terduduk di atas kasur, padahal dia ingat sekali jika tadi dia masih makan bersama Chandika. Tapi, sekarang dia berada di kamar yang dia yakini hotel. Apakah Chandika yang membawanya?
Seketika mukanya bersemu merah karena mengira Chandika yang sudah membawanya ke kamar hotel ini, pasalnya orang terakhir yang bersamanya adalah pemuda itu.
Suara gemericik air dari kamar mandi mengalihkannya, entah mengapa jantungnya berdebar.
'Untuk apa Chan membawa aku kemari?' batin Jane dengan perasaan gugup.
Berbagai pikiran yang iya-iya berputar di otaknya, yang semakin membuatnya gelisah bagai pengantin baru. Dia bingung harus melakukan apa sekarang, dia sekarang sedang hamil, tidak mungkin melakukan hal itu sekarang. Tapi, dia tidak mau membuat Chandika kecewa.
Suara gemericik air berhenti, dan itu semakin membuatnya jedag jedug.
Cklek
Sura pintu kamar mandi terbuka, dia melirik malu-malu pada seseorang yang akan keluar dari balik pintu itu.
Namun.
Hatinya yang tadi melayang tinggi, kini seperti dihempaskan dari lantai tertinggi. Jane menatap horor seseorang yang keluar dari kamar mandi itu. "Ben!?" serunya dengan tercekat.
__ADS_1
Ben—pemuda yang habis buang air besar itu menatap Jane dengan tanpa ekspresi. "Akhirnya lo bangun juga," katanya dengan mendekati Jane.
Si gadis blaster refleks mundur. "L-lo? Kenapa lo di sini?" tanyanya dengan menunjuk-nunjuk si pemuda curly.
"Cih, ngapain lo mundur? Lo kira gue sudi menyentuh lo lagi?" kilah Ben dengan sengit.
"Brengs*k! Di mana Chandika? Kenapa gue jadi bersama lo!?" pekik Jane dengan memaki.
Ben tersenyum mengejek. "Bodoh banget sih lo jadi cewek. Chandika habis memberi lo obat tidur, inilah kenapa gue membawa lo ke sini."
"A-apa bagaimana mungkin?" tanya Jane dengan tercekat. Kenapa Chandika bisa setega itu padanya?
"Memangnya siapa yang membuat lo tertidur selama 6 jam jika bukan Chandika?"
Jane langsung melirik jam yang tergantung di dinding. Ya, sudah lewat 6 jam saat dia makan bersama dengan Chandika.
"Tapi, kenapa dia melakukan itu?" tanya Jane dengan menggigit kuku ibu jarinya.
"Gue juga nggak tahu. Sesuai saran lo, gue sudah membawa Cherika untuk membuatnya cemburu akan keromantisan lo dan Chandika. Tapi, nyatanya lo justru tertidur, sungguh nggak berguna baget," kata Ben dengan memincingkan mata.
"Gue.. gue juga nggak tahu jika Chandika akan memberi gue obat tidur," gumam Jane dengan wajah pias.
"Mulai sekarang berhati-hatilah dengan Chandika. Dia sudah tau jika anak yang lo kandung itu adalah milik gue," kata Ben yang menambahkan rasa terkejut Jane.
"Gue juga nggak tahu, berhentilah bertanya ke gue. Bertanyalah pada Chandika," kata Ben sengit.
Jane meremas rambut burgundy miliknya, dia pening mendadak.
"Mulai sekarang gue nggak mau ikut campur dengan rencana lo itu," kata Ben yang membuat Jane mendongak seketika.
"Kenapa?"
Ben mana bisa tidak menghiraukan ancaman Chandika. Dia yang belum dianggap oleh ayahnya mana mungkin bisa melawan Chandika. Dia merasa jika Chandika sudah tidak seperti dulu yang mudah diganggu oleh dirinya, aura Chandika sudah berbeda.
"Nggak usah banyak bertanya," ketus Ben. "Jalani sendri saja rencana lo itu. Jika lo berhasil menikah dengan Chandika itu adalah keberuntungan besar buat lo."
Jane terdiam. Ya, jika dia berhasil, dia akan menjadi perempuan paling bahagia di duni.
"Tapi, jika lo gagal. Nikmatilah kegagalan itu," lanjut Ben dan berbalik pergi dari kamar hotel itu.
"Gue nggak akan gagal," geram Jane dengan mengepalkan tangannya. "Akan gue pastikan itu."
__ADS_1
Jane tidak menyadari jika perkataannya dan Ben sudah terekam dengan jelas oleh headphone miliknya yang sudah disadap.
**
Cherika menelan saliva saat melihat banyak sekali bercak kemerahan pada tulang selangka dan tulang belikatnya, untung saja lehernya tidak ada tanda kemerahan itu. Sepertinya Chandika sengaja mencari tempat yang tidak mudah dilihat orang.
Setelahnya gadis yang sudah polos itu masuk ke dalam Jacuzzi bathtub yang telah terisi air hangat yang menyembur dengan tekanan sedang. Setelah merendamkan diri Cherika merasakan jika lemas pada tubuhnya hilang, benar-benar rileks.
"Enak ya markas geng Bruiser ada fasilitas begini, beda banget sama markas geng Aodra yang cuman di warung kopi," gumam Cherika dengan memejamkan mata.
Sekitar 20 menit dia berendam dan berniat keluar dari kamar mandi, tapi dia melupakan jika tidak membawa handuk dan baju ganti.
Cherika membuka pintu kamar mandi dan melongok ke luar, untunglah tidak ada orang di kamar serba hitam itu. Dia melihat ada sebuah paper bag di atas ranjang. Dengan segera dia keluar dan menyambar paper bag itu. Ada handuk dan...
"Dress?" tanya Cherika tidak percaya.
Oh, ayolah, dia itu super duper tomboy. Kenapa Chandika membelikan dress? Mau tidak mau dia harus mengenakan itu.
Cherika kini memakai turtle neck shirt pink dengan slip dress plaid bernuansa warna cream. Rambut hitam lurusnya dia biarkan tergerai. Dia segera membenahi pakaian yang sebelumnya dia pakai dan memasukan ke dalam paper bag. Tidak lupa dia memakai snickers canvas miliknya.
Gadis itu segera keluar dari kamar. Sekarang sudah sangat sore dan dia harus pulang.
Setelah menuruni tangga dia tidak melihat Chandika, yang ada hanya Alvis yang tengah duduk di sofa dengan memainkan ponsel.
"Alvis," panggil Cherika pada si pemuda bayi.
Alvis yang mendengar namanya dipanggil segera mendongak, dia berkedip beberapa kali karena melihat penampilan Cherika yang terlihat begitu cantik itu.
"Lo siapa?" tanya Alvis yang belum menyadari jika gadis itu adalah Cherika.
Cherika memutar bola matanya bosan, dia langsung duduk di samping Alvis.
Alvis menatap lekat Cherika. "Lo si cewek bar-bar?" tanya Alvis masih tidak percaya.
"Ck, buta ya mata lo?" decak Cherika.
Alvis menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia sangat gugup sekarang. Kini perempuan yang dia cintai tengah duduk di sebelahnya, dan sangat begitu menawan. Baru kali ini dia melihat Cherika dengan setelan feminim itu. Niat move on, kenapa malah semakin terpesona?
"Cherika."
"Apa?" tanya Cherika ketika Alvis memanggil namanya.
__ADS_1
"Ada yang ingin gue bilang pada lo."
_To Be Continued_