
Ludhe Antoine Yann, seorang pemuda berdarah campur Finlandia-Bali, mata biru, kulit putih, dan rambut pirang sangat mencerminkan orang dari negri matahari tengah malam. Dia adalah seorang putra dari pengusaha eskalator terbesar di Finlandia. Sejak kelas 10, dia menetap di Jakarta bersama ke dua orang tuanya yang ingin membuat cabang di Indonesia. Ludhe cukup mahir untuk berbicara bahasa Indonesia karena sang ibunda yang memang orang Indonesia asli. Teman pertamanya adalah Aland, dia sering berkunjung ke rumah Aland dan bertemu dengan Cherika—gadis mungil yang mampu membuatnya terpesona karena memiliki sifat tenang dan tidak seberisik perempuan lain yang mencari perhatiannya.
Sejak saat itu, Ludhe selalu mendekati Cherika. Namun, gadis mungil itu seakan membuat benteng untuk dirinya dengan tembok yang sangat tinggi.
Dan laki-laki itu muncul. Chandika, pemuda yang berhasil menarik perhatian gadis impiannya. Pemuda yang dengan brengsek mencampakkan Cherika demi seorang gadis buruk rupa.
Ya, hanya Cherika yang menurutnya cantik.
Ludhe yang kini mengemudikan mobilnya, meremas setir dengan kencang. Entah kenapa hatinya sangat marah dan ingin sekali membunuh Chandika.
"Bunuh dia, dapatkan cintamu, dan balas dendam masa lalu."
DEG
Ludhe segera mengerem mobilnya dengan mendadak, jantungnya berdebar kencang saat mendengar bisikan seseorang.
"Jangan biarkan dirimu mengalah dengan Felix lagi."
"Siapa??" tanya Ludhe mengedarkan pandangannya ke dalam mobil miliknya, tapi tidak ada siapapun. "Siapa yang berbicara?"
"Ingatlah dirimu yang sebenarnya."
DEG
DEG
"Eros."
"Argh.." rintih Ludhe karena mendapatkan jantungnya yang menjadi teramat sangat sakit, tangan putihnya mencengkram kemeja depan dadanya. Ingatan-ingatan samar berputar seperti film yang membuat kepalanya menjadi sakit juga.
"Ellisha.." gumam Ludhe dengan menitihkan air mata.
Perlahan kegelapan menyelimuti pemuda itu dan mulai memasuki hati Ludhe.
"Felix sialan!" geram Ludhe dengan nafas yang memburu.
**
"Jane, dari mana saja kamu?" tanya Emily yang melihat putrinya baru pulang sekolah pukul 8 malam.
Jane kaget karena ibunya tiba-tiba saja sudah berada di ruang tamu apartemen miliknya. Dia memang sengaja tinggal di apartemen, karena dekat dengan sekolah dibandingkan dengan rumah utama.
"Ke mall bersama Thea, Izzy, dan Jolie," jawab Jane yang menenteng banyak sekali paper bag dengan merek-merek ternama.
"Kamu tahu bukan keadaan keluarga kita? Tapi kamu masih saja berfoya-foya," ucap Emily dengan ekspresi marah.
"Kenapa aku tidak boleh? sedangkan mama juga selalu menghambur-hamburkan uang bersama kelompok sosialita," kata Jane dengan mengerutkan dahi.
"Untuk mama, pengecualian," kata Emily melipat ke dua tangannya bersedekap.
__ADS_1
"Tidak adil!" seru Jane marah, dia langsung membanting paper bag yang dia genggam, tidak perduli jika barang-barang branded yang sangat mahal itu akan rusak.
Emily menarik nafas gusar. "Dengarkan mama, Jane," kata Emily membuat Jane menatap ibunya. "Jika kamu ingin berbelanja atau membeli sesuatu mintalah pada Chandika, dia sangat kaya raya, bukan? Jangan menggunakan uang keluarga kita," lanjut Emily dengan tatapan serius.
"Kenapa harus seperti itu?" tanya Jane dengan tatapan tidak suka, bagaimana bisa dia menjadi perempuan matre.
"Mintalah uang sebanyak-banyaknya pada Chandika, mama tahu jika pemuda itu sangat mencintai kamu, dia tidak mungkin tidak memberimu uang."
"Tidak!" seru Jane menolak dengan cepat.
"Kalau begitu janganlah kamu berfoya-foya lagi, mama dan papa sudah sepakat untuk membatasi uang untukmu," kata Emily menatap geram putrinya yang keras kepala.
Mata gadis burgundy itu membola, dia tidak percaya dengan apa yang ibunya katanya. "Jangan bercanda, mama!" sentak Jane kemudian.
"Ini sudah diputuskan. Kamu mintalah uang pada putra Aldebaron itu, kalau perlu kuras hartanya dan berikan pada keluarga kita," ucap Emily dengan tersenyum licik.
"Bagaimana bisa aku melakukan itu, mama? Aku sangat mencintai Chandika, aku tidak ingin memanfaatkannya, aku sudah berjanji padanya untuk berubah dan mencintainya dengan tulus," ucap Jane dengan wajah pias.
"Persetan dengan cinta!" bentak Emily pada Jane. "Kuras harta Aldebaron jika kamu masih ingin mama anggap seorang anak," ancam Emily kemudian.
Jane hanya mematung mendengar ancaman ibunya.
'Kenapa semua selalu memanfaatkan aku untuk menjatuhkan Chandika? Dulu Ben dan sekarang orang tuaku,' batin Jane dengan tatapan kosong.
'Padahal aku hanya ingin hidup bahagia bersama Chandika.'
Jane segera berlari ke luar apartemen dan tidak memperdulikan Emily yang menanggil namanya. Saat ini, gadis blaster itu hanya ingin sendiri.
"AAAAAAAAA!!!" teriak kencang Jane.
"GUE BENCI KALIAN SEMUA!!!"
"SIALAN!
"F*CH!"
"BANGS**!"
"BAJING**!"
"ANJIN*!
"BAB*!"
Teriak Jane dengan sangat kencang seakan dia meluapkan segala amarahnya.
Jene segera merosot dan terduduk di tanah berlapis rumput kering. "Hiks.. hiks.. gue benci.." tangisnya tersedu-sedu.
"Ck, berisik banget sih lo," kata seorang pemuda yang entah sejak kapan terduduk di bawah pohon tidak jauh dari Jane.
__ADS_1
Jane tersentak, dia kira tidak ada orang selain dirinya karena danau terlihat sangat sepi. "Lo!" pekiknya saat melihat siapa pemuda itu.
Pemuda berambut cokelat terang hanya memutar malas bola matanya.
"Danny!? Ngapain lo di sini, ha? Penguntit!" bentak Jane terlihat marah bercampur malu. Dia bingung kenapa selalu Danny yang melihatnya dalam keadaan kacau, apakah pemuda itu stalker.
"Sembarang saja lo kalau ngomong," kata Danny tidak terima dengan apa yang Jane bilang. "Sebelum lo ke sini, gue sejak tadi sudah duduk di sini," sambungnya dengan cuek.
"Lo pikir gue percaya!?" sentak Jane dengan melotot.
"Gue nggak perduli juga kalau lo nggak percaya," ucap Danny mengangkat bahu, dia langsung menghisap rokoknya kembali. Pemuda itu memang sering berada di danau ini hanya untuk sekedar mencari angin dan merokok.
Jane melupakan fakta jika pemuda itu tinggal di kamar apartemen sebelah, jadi tidak heran jika Danny berada di sini.
Dengan refleks Jane menghampiri Danny. Dia mengambil rokok pemuda itu lalu membuangnya, bahkan menginjaknya.
"Apa-apaan lo!" bentak Danny dan langsung berdiri dari posisi duduknya.
"Gue nggak suka asap rokok," kata Jane santai, dia memang tidak suka itu.
"Cih, repot banget si lo," ucap Danny menatap sinis.
"Cewek itu memang repot," jawab Jane dengan mengibaskan rambut burgundy miliknya.
"Tapi maaf, gue nggak mau direpotkan dengan cewek semacam lo," kata Danny menyeringai.
"Siapa juga yang mau sama lo!"
"Mending lo pergi dari sini," usir Danny.
"Sialan!"
"Jadi cewek jangan suka mengumpat," ucap Danny yang membuat Jane semakin geram.
"Lihat saja, akan gue buat lo dipecat menjadi pengawal Chandika," ancam Jane.
"Silahkan kalau lo sanggup," kata Danny acuh.
Jane menghentakkan kakinya dan ingin meninggalkan tempat itu.
"Tunggu," cegah pemuda berkaca mata, padahal dia sendiri yang tadi menyuruh Jane pergi.
Gadis blaster menghentikan langkahnya dan menatap Danny dengan mengeryit. "Kenapa?"
"Jadilah diri lo sendiri. Jangan khawatir ketika orang lain tidak menyukainya dan lo tidak harus memedulikan hal itu. Jalani dengan diri lo sendiri, dan fokuslah pada tujuan yang ada," ucap Danny bagaikan angin segar untuk Jane.
"Apakah gue bisa melakukan itu?" tanya Jane dengan tatapan penuh harap.
"Semua orang berhak untuk menjadi dirinya sendiri."
__ADS_1
'Ya, aku tidak mau menjadi boneka siapapun lagi.'
_To Be Continued_