Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Promise


__ADS_3

Agust mulai melakukan serangan lima langkah kedepan untuk mencapai wilayah Chandika, dan Chandika bertahan dengan melangkah mundur dan menangkis lima kali, setelah tangkisan kelima Chandika bertahan dan melakukan serangan balik.


Shattt


Bugh


Bugh


Semuanya yang melihat terkejut karena Chandika dapat melakukan serangan balik dan hampir menembus pertahanan lawan. Namun, Agust langsung menghalaunya.


Tidak lama kemudian Agust menendang perut bagian kiri Chandika hingga siempunya meringis kesakitan.


Bugh


Agust meneruskan pukulan pada bagian pundak Chandika tapi dapat di tangkis oleh siempunya.


Bugh


Bhak


Pukulan dan tendangan dari Agust semakin membuat Chandika terpojok.


"Dika! Janganlah kamu berpikir harus menang tetapi berpikirlah Bagaimana caranya agar kamu tidak kalah dalam pertandingan!" teriak Cherika yang sedang berada di ujung arena.


Chandika yang mendengar teriakan Cherika pun langsung mengerti. Dia langsung memperbaiki pukulannya agar bisa terarah dengan benar, dan membedakan mana yang jarak serang dan mana yang bukan jarak serang. Dia segera mengarahkan kepalan tinjunya pada dada Agust tapi langsung ditangkis dengan tangan yang disilang.


Namun, itu adalah kesempatan baginya untuk menendang kaki Agust hingga siempunya roboh.


Bugh


Semua yang menonton pun terperanjat melihatnya, bagaimana bisa seorang dengan sabuk putih dapat membuat roboh menyandang sabuk hitam?


Agust langsung bangkit dengan tendangan memutar ke atas dan sukses mengenai wajah Chandika.


Chandika langsung melangkah mundur dengan paksa, dia merasakan bau anyir dari hidungnya yang mengeluarkan darah.


"Stop!" seru wasit mengintruksi.


Agust menghampiri Chandika. "Seperti sudah cukup sampai di sini," kata Agust mengulurkan tangan pada Chandika.


Chandika langsung mendongak dan menatap Agust. Apakah dia kalah? Dia tidak jadi menikah dengan gadisnya? Seketika badannya membeku.


"Tenang saja, kamu tidak kalah," kata Agust yang membuat Chandika bingung dan sekaligus senang. "Aku sudah mengakui kemampuanmu."


"Tapi..."


Agust langsung menepuk bahu Chandika. "Aku ingin kamu menjaga adik perempuanku," ucap Agust dengan tersenyum tipis.


"Tentu saja, aku pasti akan menjaganya. Mati pun aku rela," jawab Chandika dengan sungguh-sungguh.


Agust hanya tertawa renyah mendengarnya. "Aku pegang perkataanmu."


Chandika mengangguk setuju.


"Tapi, aku ingin meminta satu hal," sambung Agust yang sudah merubah ekspresinya.


"Apa?"

__ADS_1


"Bisakah kamu berjanji untuk tidak membuat Cherika hamil sebelum berusia 20 tahun?"


Chandika tercekat, dia menggigit pipi bagian dalamnya. Tidak membuat Cherika hamil? Apakah dia bisa?


"Bukan karena apa-apa, usia Cherika masih sangatlah muda, dia masih harus melanjutkan sekolah dan menikmati masa mudanya. Apakah kamu akan merenggut semua itu?"


Chandika berpikir sejenak, dia baru menyadari kenyataan itu. Bukan hanya itu, kehamilan pada usia muda mempunyai banyak resiko buruk. Ya, sepertinya dia memang harus menunda itu.


"Baiklah."


Mereka berdua langsung berjabat tangan dan kembali menundukkan badan masing-masing, pertandingan mereka pun telah selesai.


"Dika..." panggil Cherika yang berlari menghampiri sang kekasih. "Kamu terluka..." lirih Cherika saat melihat hidung Chandika masih mengeluarkan darah.


"Ini tidak apa-apa kok, kamu tenang saja," ucap Chandika dengan mengusap darah dari hidungnya.


"Bang Agust keterlaluan sekali," omel Cherika pada kakak pertamanya.


Agust hanya mengangkat bahu dan berbalik pergi.


"Sudahlah, sayang," kata Chandika mencubit gemas pipi tembam gadisnya.


"Auh, sakit tahu," ucap Cherika menggembung pipinya.


"Maaf," tukas Chandika dengan membelai pipi Cherika yang habis dicubitnya tadi. "Kamu tidak usah memarahi bang Agust."


Seketika Cherika merinding karena belaian tangan Chandika yang kelewat lembut.


"Lagi pula aku sudah mendapatkan restu," cengir Chandika kemudian.


"Kamu tidak mau aku peluk?" tanya Cherika tercekat.


"Tidak di sini, sayang. Lihatlah ke 6 kakak laki-lakimu sedang melihat aku dengan tatapan membunuh," kilah Chandika bergidik.


Cherika langsung mengerti. "Kalau begitu ayo aku obati lukamu," kata Cherika dan segera meraih lengan Chandika agar ikut dengannya.


Si pemuda mullet hanya menurut saja.


**


"Ugh.. " erang Chandika saat Cherika mengobati lebam di area tulang pipinya.


"Tahan ya," ucap Cherika dengan masih serius mengobati.


"Perih..." rengek Chandika manja.


Kini mereka sedang berada di dalam mobil. Chandika sudah berganti pakaian dengan kemeja stripes dan loose pants.


Chandika menatap dalam Cherika yang semakin mendekatkan wajah padanya, gadis itu meniup-niup lebam di wajahnya. Wangi vanila tercium dari gadis itu, wangi yang sangat pemuda itu sukai.


"Untung saja ada P3K di dalam mobilmu," ucap Cherika dengan mengoleskan antiseptik kembali.


"Ya," jawab Chandika tanpa mengalihkan tatapannya. Fokusnya kini tertuju pada bulu mata lentik gadis itu, mata belo yang begitu menggemaskan, hidung kecil tapi mancung, pipi tembam yang ingin sekali dia gigit dan bibir tipis merah jambu yang begitu menggoda.


"Nah, sudah..." kata Cherika setelah selesai mengobati.


Cup

__ADS_1


Cherika mencium lebam yang sudah ditempel perban dan kembali menjauhkan wajahnya.


"Buka bajumu," lanjut Cherika yang membuat Chandika luar biasa kaget.


"Kenapa buka baju?" tanya Chandika menelan ludahnya berat.


"Perut kamu menerima tendangan juga, pasti memar. Aku ingin mengobatinya juga."


"Ti-tidak usah," tolak Chandika tergagap.


"Cepat buka," perintah Cherika tidak terbantahkan.


"Tapi aku malu," kata Chandika dengan pipi yang memerah.


"Tidak usah malu, lagi pula aku sudah melihat semuanya. Bahkan aku sudah memegang dan meremas ini itu saat kita bertukar tubuh," ujar Cherika keceplosan.


Cherika langsung menutup mulutnya, dan Chandika terlihat shock dengan wajah yang memerah sempurna hingga ke telinga.


"Jadi selama ini kamu..."


"Lupakan saja!" seru Cherika gelagapan.


"..."


Setelahnya hanya ada keheningan di dalam mobil itu. Cherika yang masih merutuki dirinya sendiri dan Chandika yang memang tidak bisa lepas dari menatap gadis itu.


"Berhentilah menatap aku," ujar Cherika dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia benar-benar malu sekarang. Apakah Chandika sudah berpikir jika dia adalah gadis yang sangat mesum?


"Aku tidak bisa jika tidak melihatmu, sayang," kata Chandika dengan suara dalamnya, dia menarik kedua tangan Cherika dan menggenggamnya.


"Pasti sekarang kamu sudah menganggap aku mesum," cicit Cherika.


"Tidak kok," ucap Chandika tersenyum.


"Benarkah?" tanya Cherika untuk memastikan.


"Ya, sayang," jawab Chandika sambil membuka kancing kemejanya.


"Kenapa kamu membukanya?" tanya Cherika gugup entah kenapa.


"Katanya ingin mengobati aku," ucap Chandika mengeryit bingung.


"Ah, ya... " kata Cherika kikuk, dia sampai lupa dengan niat awalnya.


Chandika melepas kemejanya, dan terpampang tubuh atletis dengan roti sobek yang sungguh membuat mata Cherika jelalatan kemana-mana.


'Ck, benar-benar ciptaan Tuhan yang harus dijaga,' batin Cherika berdecak kagum.


Dan benar saja perut bagian kiri Chandika terdapat memar kebiruan.


"Ini parah sekali, apakah kamu tidak merasakan sakit?" tanya Cherika tercekat.


"Tentu saja sakit..." jawab Chandika dengan nada yang manja lagi.


"Kasian sekali, Dika-ku ini," ucap Cherika segera mengobati Chandika lagi.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2