
"Mau kemana kita, Dika?" tanya Cherika yang kini ke dua matanya tengah tertutup oleh tangan Chandika.
"Nanti juga tahu. Jangan mengintip," kata Chandika yang sedang berjalan di belakang si gadis mungil.
"Apa ini hadiah lagi?" tanya Cherika penasaran.
"Entahlah, aku juga tidak tahu ini hadiah atau bukan," jawab Chandika terkikik.
"Hmm," Cherika hanya bergumam.
Chandika langsung melepas dekapan tangannya pada kedua mata Cherika. Kedua mata dengan bulu mata lentik terbuka, menampakan mata cokelat yang indah.
"Taman hiburan?" tanya Cherika melihat ke sekeliling. Kini dia dan Chandika berada di taman hiburan yang terlihat sepi dan gelap.
Chandika melangkah ke depan, hingga menciptakan 5 langkah kaki di hadapan Cherika.
Ctak
Pemuda itu menjentikkan jari dan seketika lampu-lampu di taman hiburan itu menyala. Beragam jenis wahan seperti Ferris Wheel atau Gondola, Bledek Coaster, Lampion KBS, Blueshake dan lain-lain seolah bersinar indah karena lampu warna-warni.
Syuuttt
Jedgerr
Tiba-tiba banyak kembang api yang meledak dengan cara yang sangat spesifik di langit, menghasilkan bunyi ledakan kencang bersama dengan letupan warna-warna cerah di udara dan menjadi latar.
Cherika tertegun melihat betapa indahnya sesuatu yang dia lihat itu.
Belum lagi Chandika yang tersenyum manis dan menatap dalam dirinya, kemudian pemuda itu mengikis jarak mereka berdua. Chandika berlutut dengan satu kakinya.
"I want to be your boyfriend," kata Chandika dengan meraih tangan si gadis dan menciumnya.
Cherika mematung dengan debaran hati yang begitu menyenangkan, mata cantiknya mengerjap-ngerjap tidak percaya dengan sesuatu yang telah di lakukan Chandika. Begitu luar biasa dan manis keterlaluan. Rasanya dia ingin meleleh saat ini juga.
"Kita pacaran ya?" pinta Chandika dengan Husky Voice yang membuat Cherika melayang tinggi.
"Ya," dengan cepat Cherika menjawab. "Aku mau jadi pacar Dika."
Cherika menghambur memeluk Chandika hingga si pemuda terhuyung ke belakang.
Bugh
Mereka berdua berpelukan dengan posisi terjatuh dengan Cherika yang berada di atas tubuh Chandika. Si pemuda meringis karena badan bagian belakang dan kepalanya terbentur aspal. Namun, Chandika menutupi rasa sakitnya dengan tersenyum dan mengelus kepala Cherika.
"Ini sangat romantis sekali," ucap Cherika mendongakkan wajahnya, dia ingin segera mengarungi Chandika saat ini juga. Sepertinya dia semakin mencintai pemuda itu.
__ADS_1
"Aku senang jika kamu suka."
"Bagaimana bisa kamu mempersiapkan ini semua?" tanya Cherika penasaran, padahal baru tadi dia meminta di tembak oleh si pemuda. Dan dengan cepatnya Chandika mengabulkannya.
"Aku hanya menghubungi pihak taman hiburan ini," jawab Chandika jujur. Yang dia hubungi tadi itu memang buka seperti yang Cherika pikirkan.
"Sepertinya aku sudah salah paham. Aku kira tadi kamu menghubungi Jane," kata Cherika tersenyum kikuk.
"Mana mungkin aku menghubungi perempuan gila itu," kilah Chandika merengut mengingat Jane yang telah menjebaknya untuk bertanggungjawab atas anak yang bukan miliknya.
"Perempuan gila?"
"Ya, aku di tampar karena ulahnya," Chandika mengadu.
"Bagaimana bisa?" tanya Cherika terheran-heran.
"Sebelum itu turunlah dari tubuhku, apakah kita akan terus dalam posisi seperti ini?" tukas Chandika dengan wajah yang memerah. Tubuhnya dan Cherika saat ini sangatlah menempel erat.
"Ah, baiklah," kata Cherika dan bangkit dari posisi tidurnya.
Kini Chandika dan Cherika kembali berdiri. Cherika menepuk-nepuk badan bagian belakang Chandika yang kotor.
"Hentikan, aku bisa sendiri," kata Chandika yang merasakan bokongnya di tepuk-tepuk Cherika. Apakah gadis itu tidak tahu efek dari perbuatannya itu?
"Diamlah," ujar Cherika tetap mencoba membersihan kekacauan yang telah dia perbuat.
"Nah, coba ceritakan," kata Cherika setelahnya.
Chandika yang sudah menekan rasa malunya mulai menceritakan tentang Jane yang mengaku hamil dan meminta pertanggungjawaban padanya dan tantangan dari ke dua orang tuanya.
"Selama menjadi diriku kamu tidak meniduri Jane kan?" tanya Chandika setelahnya.
"Mana mungkin," sangkal Cherika mendelik. Enak saja dia dituduh yang tidak-tidak.
"Oh, syukurlah. Berarti aku memang benar-benar masih perjaka," ucap Chandika menghela napas lega.
Chandika tidak tahu saja jika tubuh gantengnya itu sudah di pegang ini itu oleh gadis yang selama ini menjadi dirinya itu. Cherika hanya mengangguk saja, mana mungkin dia mengaku apa yang selama ini sudah dia perbuat.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Cherika mengalihkan pembicaraan.
"Mencari kebenaran atas kandungan Jane."
Cherika diam untuk berpikir sesaat, dia ingat ada seseorang yang mungkin bisa membantu Chandika.
"Aku tahu jalan keluarnya."
__ADS_1
Chandika menatap berbinar kekasihnya. "Benarkah?"
Lalu Cherika membisikan sesuatu pada Chandika, seakan itu adalah sesuatu yang rahasia.
"Aku semakin mencintai kamu," kata Chandika yang memeluk Cherika hingga gadis itu terangkat. Lalu memutar-mutar tubuhnya.
Mereka berdua tertawa. Malam ini akan menjadi sesuatu yang terindah bagi mereka.
"Ayo kita bermain-main sebentar," kata Chandika yang sudah melepas Cherika dari pelukannya. Pemuda itu menggandeng si gadis untuk masuk lebih dalam ke taman hiburan.
Cherika mengangguk antusias, sejak tadi dia memang ingin sekali mencoba wahana-wahana yang bersinar itu. "Apa hanya kita berdua di sini?"
"Ya. Aku menyewanya khusus untukmu. Apa kamu ingin aku membeli taman hiburan ini sekalian?"
Cherika terkejut dengan perkataan tanpa beban Chandika. Sepertinya dia harus terbiasa dengan tindakan luar biasa si tuan muda ini. "Tidak usah," tolaknya.
Sepasang kekasih baru itu menikmati malam yang begitu cerah dengan canda dan tawa. Terlihat jelas binar cinta di mata ke duanya.
"Aku ingin menaiki itu," kata Chandika menunjuk kereta gantung, dari sana dia pasti bisa melihat pemandangan kota Jakarta pada malam hari.
"Apapun untukmu."
Mereka langsung melangkah ke stasiun tempat awal menaiki gondola dan menaiki salah satu kereta.
"Duduklah di sini," ucap Chandika menepuk pahanya saat Cherika ingin duduk di hadapannya.
"Ba-bagaimana mu-mungkin," gagap Cherika.
Chandika langsung menarik gadis itu dan mendudukkan Cherika di pangkuannya.
"Aku nggak mau duduk di sini," tolak Cherika meronta. Bunyi jantungnya sudah seperti genderang yang ingin perang, dia takut jika Chandika akan mendengarnya.
"Seperti ini saja, sayang," kata Chandika dengan suara yang serak, dia memeluk erat Cherika supaya tidak bisa bangkit.
Cherika akhirnya menurut dan tidak meronta lagi. Gadis itu juga bisa mendengar debaran jantung kekasihnya yang tidak kalah kencang darinya.
"Kamu berdebar juga?" tanya Cherika terkikik kecil, ternyata Chandika sama sepertinya.
"Ya," jawab Chandika jujur.
Kereta gantung mulai berjalan. Cherika yang awalnya ingin melihat pemandangan malam dari atas, kini justru menatap lekat jakun Chandika yang bergerak naik-turun. Ingin sekali dia menggigit gemas lekum yang terlihat menggoda itu.
'OMG! Kenapa gue jadi semesum ini?' batin Cherika menelan savilanya berat.
Siempunya jakun tidak menyadari tatapan gadis yang di pangkuannya itu. Chandika menerawang lurus ke depan, melihat pemandangan kota pada malam hari.
__ADS_1
"Ahh.."
_To Be Continued_