Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : Real Dream [18+]


__ADS_3

Elisha berlari dengan sangat cepat, tidak memperdulikan gesekan rumput tajam yang menggores betisnya, Felix di depannya dengan erat memegang tangannya.


Duk


Ellisha terjatuh karena tersandung batu.


"Tuan, tinggalkan saja aku," kata Ellisha menatap Felix yang membantunya bangkit.


"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu!" seru Felix membantah.


"TANGKAP MEREKA!"


"Larilah, tuan," katanya menatap sendu.


Ellisha merasakan jika tubuhnya melayang, pemuda itu menggendongnya di pundak, dan langsung membawanya lari bersama.


"Turunkan aku," ucap Ellisha merasakan hawa panas di kedua pipi.


"Diamlah, Ellisha."


Felix dan Ellisha bersembunyi di semak semak belukar yang sangat tinggi.


"Tuan, siapa mereka? kenapa mengejar kita?" tanya Ellisha dengan mencengkram kuat baju Felix.


"Mereka adalah pengawal istana," jawab Felix mengusap tangan Ellisha yang mencengkram bajunya.


"Pengawal istana? Kenapa mereka mengejar tuan yang seorang pangeran?" tanya Ellisha dengan kebingungan.


Felix terdiam cukup lama. "Saat ibumu tidak menerimaku karena aku adalah seorang pangeran, aku langsung kembali ke istana dan meninggalkan status pangeran pada Raja," jelasnya yang membuat Ellisha tercengang. "Dan sekarang aku adalah buronan istana."


"Apa? Buronan?" Ellisha tercekat.


"Aku kabur dari istana karena Raja menentang keputusanku."


"Bagaimana bisa tuan melakukan itu?" ucap Ellisha dengan badan yang bergetar, gadis itu menangis. "Hanya karena aku, tuan..."


"Shtt..." Felix langsung menutup bibir Ellisha dengan jari telunjuknya. "Aku tidak ingin kita berpisah, apapun akan aku lakukan. Aku tidak membutuhkan status pangeran. Aku hanya membutuhkan kamu, Ellisha."


"Aku... Aku juga tidak ingin berpisah denganmu," ucap Ellisha sesenggukan.


"Aku tahu itu, bukannya kamu juga sama denganku? Kamu kabur dari kastil karena ingin terus bersamaku, kan?" tukas Felix mengusap jejak air mata Ellisha.


Ellisha mengangguk, dia memang kabur dari kastil dengan dibantu oleh Eros. Kakaknya itu tidak tega dengan dirinya yang dikurung di kamar dan terus menangis hingga tidak makan dan minum selama 3 hari. Dan dengan berbaik hati Eros mengelabui Cynderyn supaya Ellisha bisa kabur.


.


.

__ADS_1


.


Brakk


Sisir yang tadi digenggam oleh Cherika tiba-tiba saja terjatuh, gadis belo itu seketika tersadar dari lamunannya.


"Apa yang sedang aku pikirkan? Ingatan itu lagi?" gumam Cherika dengan menatap pantulan dirinya di cermin.


"Siapa Ellisha itu? Kenapa aku seakan menjadi dia? Dan laki-laki itu..."


"Dika?" ucapnya ketika mencoba mengingat siluet laki-laki yang tiba-tiba saja memasuki ingatannya. Wajah laki-laki itu memang tidak jelas, tapi dia sangat hafal dengan suara dan postur tubuh suaminya itu.


Cherika pun menggeleng, dia meyakini jika ingatan itu hanya halusinasinya karena melamun.


Pesta pernikahannya dan Chandika telah usai, sekarang dia sedang berada di kamar super besar dengan taburan kelopak bunga mawar di mana-mana. Kamar di dalam mansion dan satu-satunya di pulau pribadi keluarga Aldebaron.


Chandika. Jika ditanya dimana suaminya itu berada, seusai pesta pernikahan pemuda itu langsung ditarik oleh Alvis dan inti geng Bruiser untuk merayakan pesta bujang yang sudah sangat telat itu. Chandika dengan sangat terpaksa mengikuti ajakan itu.


Cherika kini sudah mandi, dan berganti pakaian dengan baju tidur kimono set warna tosca yang cantik dengan bahan lace dan aksen renda serta pita. Dia mengambil kembali sisir yang terjatuh untuk meletakkannya diatas meja rias.


Gadis itu melangkah untuk menidurkan dirinya di atas ranjang king size, tercium bau semerbak dari kelopak bunga mawar yang bertebaran di ranjang. Sekarang sudah pukul 10 malam, dia sangat lelah karena terus tersenyum dan berdiri untuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Tidak lama kemudian dia tertidur dengan napas yang teratur.


**


Cherika tiba-tiba mencium wangi citrus yang sangat memabukkan, dia merasakan jika dirinya sedang didekap seseorang. Belum lagi pipinya berasa dingin karena merasakan usapan lembut di sana.


Gadis itu masih bergeming, matanya terlalu berat untuk terbuka. Dia masih ingin tidur lebih lama lagi.


Cherika merasakan jika pita dari set kimono yang dia pakai ditarik seseorang. Seketika dia merasakan dingin karena dibaliknya hanya memakai g-string.


"Nakal sekali. Kamu tidak memakai bra, hmm?"


Bukannya bangun karena mendengar suara berat yang sangat dia kenali, Cherika justru semakin merapatkan tubuhnya pada dekapan itu. Dia menggigil karena kedinginan.


"Kamu menggigil? Baiklah. Aku akan menghangatkan kamu, sayang..."


Cherika merasakan jika lehernya dikecup beberapa kali. "Ehmm... minggir," lenguh Cherika dengan mendorong paksa si pelaku. Tapi kekuatan terlalu lemah.


"Kamu wangi sekali."


Masih di dalam tidurnya, dia merasakan jika kedua tonjolan di badannya diremas lembut dengan gerakan memutar dan tempo tidak beraturan. "Ah geli.." desahnya tanpa sadar.


Bukannya berhenti gerakan itu justru semakin gencar hingga membuatkan membusungkan badan. Dia tidak tahu jika gerakan refleksnya itu semakin memberikan akses untuk si pelaku.


"Oh, lembut sekali. Aku sangat penasaran sejak lama."


Gerakan itu berhenti, tapi digantikan dengan ciuman. Bahkan dia merasakan jika puncaknya tengah dihisap.

__ADS_1


Malam itu Cherika merasakan mimpi yang paling aneh.


**


Cherika membuka kelopak matanya dan menunjukan netra berwarna coklat dari balik buku mata lentiknya. Sinar matahari pagi sudah mengintip dari gordeng putih di jendela.


"Akh!" Cherika memekik karena merasakan jika puncak miliknya digigit.


'Digigit?'


Gadis itu melotot seketika karena baru menyadari jika dia sudah tidak berpakaian dan Chandika adalah pelaku dari gigitan itu. Pemuda itu masih tertidur dengan pulas, tapi tidak dengan mulutnya yang masih terus mengulum.


"Dika! Apa yang kamu lakukan!?" seru Cherika langsung terduduk, namun dia merasakan sakit karena menarik paksa miliknya yang masih dikulum Chandika, sepertinya bergesekan dengan gigi suaminya itu.


"Apa? Kenapa?" Chandika langsung terbangun dengan paksa.


"Sakit..." rengek Cherika dengan mata yang berkaca-kaca.


Chandika menelan saliva karena melihat penampilan istrinya yang hanya memakai g-string. Apalagi tatapan berkaca-kaca Cherika yang begitu imut menurutnya. "Apa yang sakit?" tanyanya setelah mengenyahkan pikiran kotornya.


"Kamu jahat sekali, menggigit milikku hingga sakit sekali," ucap Cherika sambil meringis merasakan perih.


"Gigit? Aduh... Maaf, aku tidak sengaja," kata Chandika gelagapan.


Cherika mengangguk. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa..." ucap Cherika tidak dapat meneruskan.


"Kenapa apa?" tanya Chandika bingung.


Cherika terdiam sesaat.


"Kenapa menyusu seperti bayi?" tukas Cherika setelah menemukan perkataan yang tepat untuk tindakan suaminya tadi. "Dan kamu yang sudah melepas pakaianku?"


Chandika gugup seketika. "Apa tidak boleh?" bukannya menjawab dia justru bertanya balik. Dia ingin cari aman dulu.


"Bukannya tidak boleh, tapi aku hanya kaget saja. Dan kenapa kamu mencuri kesempatan di saat aku tidur??" omel Cherika dengan mengambil bantal untuk menutupi tubuhnya.


"Aku sudah mencoba membangunkan kamu, sayang. Tapi kamu tetap tidur seperti kerbau. Masa malam pertama malah ditinggal tidur," ucap Chandika mengerucutkan bibir.


'Jadi semalam itu bukan mimpi?' batin Cherika yang baru menyadari.


"Malam pertama? Bukannya memang harus tidur ya? Memangnya kamu ingin melakukan apa?" tanya Cherika tidak mengerti. Dia memang pencinta roti sobek, tapi Cherika masih terlalu awam untuk mengetahui hal yang diinginkan sang suami. Oh ayolah, dirinya itu masih 16 tahun, pengetahuannya belum sampai ke tahap itu.


"Kamu mengerti pelajaran reproduksi?" tanya Chandika serius.


"Tentu saja mengerti, aku ini genius. Apakah kamu ada PR?" ucap Cherika justru salah kaprah.


"Ya, aku ada PR," jawab Chandika justru mengiyakan. "Dan aku ingin kamu membantuku."

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2