Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Revenge


__ADS_3

BUG


Cherika memukul pria berpakaian hitam dengan tongkat baseball yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang. Pria itu pingsan dengan kepala yang bocor.


Chandika yang sedang menggendong Alvis berdecak kagum dengan keberanian Cherika yang notabene sangat penakut sebelumnya.


"Ups, maaf," gumam Cherika pada pria yang sudah tidak sadarkan diri dengan menggigit bibir bawahnya.


"Sudahlah, nggak usah minta maaf, dia nggak bakal dengar, cepat jalan kembali," kata Chandika tersenyum geli.


Si gadis belo hanya mengangguk, dia segera mengikuti Chandika dengan Alvis yang masih berada di punggung dan Galen yang berjalan di depan.


DOR


DOR


Galen menembaki para mafia yang menghalangi jalan mereka ketika turun dari tangga.


Chandika memandang ngeri pemandangan dibawah sana, banyak tubuh pria berpakaian hitam yang sudah terluka parah, bahkan ada yang sudah meninggal, darah sudah menjadi latar di mansion Adhideva.


"Mundur, Heaven sudah diselamatkan!" seru Chandika pada geng Bruiser dan Aodra yang masih sengit menembaki para pria berpakaian serba hitam.


Semua pemuda hanya menurut, dan perlahan berjalan mundur. Mereka menembaki para mafia yang masih gencar menembaki juga.


"Jangan sampai mereka lolos!" teriak pria berpakaian hitam.


"Tembak mereka terus!" teriak pria yang satunya.


DOR


DOR


DOR


Kini, mereka semua sudah berada di halaman depan mansion. Namun, teriakan pria paruh baya dengan perban di mata kiri menghentikan langkah mereka, dan suara tembakan tidak terdengar lagi.


"BERHENTI!"


Chandika dan lainnya langsung menatap Alvin yang kini sedang menyeret Aminty dan menempelkan moncong pistol ke pelipis si wanita paruh baya.


"Mo-mommy," ucap Alvis dengan suara lemahnya dan badan yang seketika membeku.


"Mau kemana kalian, ha!? Jika berani meninggalkan tempat ini, kepala wanita sial ini akan saya tembak!" ancam Alvin dengan tatapan tajam.


Benar-benar pria gila.


"Turunkan senjata kalian!" perintah Alvin yang membuat geng Bruiser dan Aodra menurunkan pistol mereka dengan perlahan, dan Alvin segera mengisyaratkan para bawahannya untuk memfokuskan pistol pada mereka.


"Lepaskan dia!" Perintah Chandika dengan tatapan tidak kalah tajam.


Alvin seketika tertawa nyaring mendengar perintah pemuda yang selama ini ingin dia bunuh itu, "Sudah berani kamu, ya??"

__ADS_1


Chandika masih menatap tajam Alvin, tidak ada rasa takut pada dirinya, tapi tidak dengan Cherika yang tubuhnya gemetar ketakutan.


"Saya akan melepaskan Wanita ini, Alvis, dan kalian semua, dengan syarat..." kata Alvin dengan menggantungkan perkataan dan menyeringai ke arah Chandika.


"Kamu, Chandika, harus menukarkan dirimu untuk mereka semua," sambung Alvin.


Cherika langsung memegang erat lengan Chandika untuk mengisyaratkan agar pemuda itu tidak menuruti kata si pria paruh baya.


"Jangan. Lo tinggalkan saja gue disini, lo pergilah," ucap Alvis yang menggeleng lemah, dia tau jika daddynya sangatlah licik, ini memang perangkap untuk membunuh Chandika.


"Gue akan ke sana," kata Chandika final, yang membuat semua orang yang menatapnya tidak percaya, kecuali Alvin dan para bawahannya yang tersenyum menang.


"Tidak.. hiks, kamu jangan lakukan itu," kata Cherika dengan terisak dan menahan lengan pemuda berambut hitam legam.


"Ini untuk keselamatan semua orang,"  kata Chandika dengan tersenyum tipis, dia segera menurunkan Alvis dan menyerahkannya pada Galen.


"Leo, lo jangan menurutinya," cegah Galen yang sudah memapah Alvis.


"Nggak bisa, gue harus."


Chandika langsung melepas tangan Cherika yang sejak tadi memegang lengannya kuat. "Percaya sama gue," ucapnya pada gadis mungil yang menatap tidak rela.


Langkah lebarnya langsung maju menghampiri Alvin yang masih menyandera Aminty. "Lepaskan," katanya menatap dingin dan Alvin langsung mendorong Aminty menjauh, lalu seorang pria berpakaian hitam langsung memegang kedua tangan Chandika, dan mengukungnya.


Aminty yang sudah lepas segera berlari menghampiri Alvis dan memeluk putranya dengan lelehan air mata.


BUG


BUG


BUG


Pelipis pemuda itu sobek karena terkena cincin rubby milik Alvin saat memukulnya membabi buta.


Alvin hanya tertawa puas melihat pemuda yang sangat di bencinya bertahun-tahun sudah babak belur ditangannya. "Matilah kamu anak Jauzan," katanya sambil memajukan pistol tepat di tengah dahi Chandika.


"Tidak semudah itu, tua bangka."


Chandika langsung menginjak kaki pria yang menahannya, tidak salah jika dia menggunakan sepatu boots yang mempunyai alas yang sangat runcing.


"Ugh.." rintih pria yang mengukungnya, lalu Chandika langsung melepas kurungan tangannya, seketika dia langsung meloncat untuk menendang pistol milik Alvin, tendangannya memutar dan sampai mengenai dada Alvin.


DUAK


Alvin langsung terpental.


Anggota Bruiser dan Aodra yang melihat kesempatan itu langsung mengambil pistol mereka yang tergeletak di bawah dan langsung menembaki para mafia.


DOR


DOR

__ADS_1


DOR


Para mafia yang tidak cekatan langsung kalah telak, dan tertembak seluruhnya, kini hanya menyisakan Alvin yang mulai bangkit.


"Bocah, bangs**!" maki Alvin langsung mendekati Chandika dan berniat menghajar pemuda itu.


Tapi, kepalan tangannya ditahan Chandika dan perutnya langsung dipukul keras hingga dia merasakan mual dan sakit luar biasa. "Ugh.. uhuk, uhuk," batuknya dengan menggeluarkan darah dari mulutnya.


"Ini untuk luka fisik dan psikis yang lo berikan pada Chandika."


Pemuda itu langsung memegang tangan kanan Alvin, dan memutarnya hingga patah. "Argh!" teriak Alvin ke kesakitan.


"Ini untuk Alvis yang salama ini lo siksa."


Kepala Alvin langsung dihantamkan di lantai hingga bocor. "A-ampun," rintih Alvin meminta ampun.


"Ini untuk kejahatan yang lo perbuat."


BUG


Chandika langsung menginjak kepala Alvin dan menekannya dengan kuat.


"Kesalahan lo sudah terlalu banyak dan tidak pantas mendapat mengampunan," kata Chandika dingin, dia mengambil belati di saku jaket kulit hitamnya.


JLEP


Belati itu dia tusukan ke punggung pria paruh baya yang seketika berteriak keras, Chandika menusukan berkali-kali punggung Alvin.


Semua orang menatap Chandika tidak  percaya, pemuda itu seperti orang yang berbeda saat ini. Mata hitam Chandika berkilat tajam dan tidak menunjukan ekspresi apapun saat menusuk punggung-nusuk punggung Alvin, darah memuncak mengenai baju dan wajah si pemuda.


"CHANDIKA, HENTIKAN!!" teriakan seorang wanita seakan menyadarkan pemuda itu dan langsung menghentikan kegiatannya.


Aminta yang baru saja sampai di kediaman Adhideva langsung shock melihat putra kesayangan sedang memukul, menendang, bahkan menusuk-nusuk punggung Alvin, dia sangat terkejut melihat sisi lain dari putranya. Wanita itu langsung berlari dan memeluk Chandika meninggalkan Lucas yang mengekorinya.


Apa apa dengan putranya yang lugu dan polos ini? Kenapa menjadi sangat mengerikan?


"Tenangkan dirimu, sayang. Ayo kita pulang, sudah malam," kata Aminta mengelus pipi Chandika yang terdapat cipratan darah milik Alvin.


Sebenarnya Aminta sangat takut dengan Chandika, tapi dia tepis perasaan takutnya karena pemuda di depannya adalah anaknya, pasti ada alasan yang membuat putranya bersikap mengerikan.


Chandika hanya mengangguk dan mengikuti Aminta untuk berbalik pergi.


Namun, Alvin masih bisa bergerak untuk mengambil pistol yang tergeletak tidak jauh dari jangkauannya, segera dia ambil pistol itu.


"Aku akan membawamu mati bersamaku, anak Jauzan!" seru Alvin yang dapat terdengar oleh semua orang.


"AWAS!"


DOR


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2