
Kecemburuan dapat mengakhiri cinta pada tempat yang salah.
"Argh!"
Chandika segera bangun dari tidurnya. Napasnya memburu dan tangannya memegang dadanya yang terasa sesak.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Cherika yang ikut terbangun karena Chandika yang tiba-tiba berteriak.
"Hiks..." isak Chandika dengan tubuh yang bergetar.
"Tenanglah," Cherika langsung membawa si pemuda pada pelukannya. "Kamu mimpi buruk? Itu hanya mimpi, hmm."
"Vransiska..."
Cherika langsung mengurai pelukannya. "Kamu mimpi apa?" tanyanya.
'Apa ingatannya sudah kembali?'
Chandika terdiam sesaat dia seperti orang linglung ketika mencoba mengingat mimpinya barusan. Padahal mimpi itu terlihat begitu nyata, tapi kenapa dia lupa?
"Aku...aku tidak ingat."
"Sudahlah lebih baik tidak diingat," kata Cherika menghapus air mata Chandika. "Jangan menangis, wajah tampan milikku jadi terlihat bodoh," lanjutnya terselip candaan.
"Hmm," guman Chandika dengan mengangguk.
Dengan tidak adanya rasa jijik Cherika menjilat sisa-sisa air mata pada pipi mulus Chandika. "Asin..."
Chandika terbelalak. "Ka-kamu jorok sekali."
"Tidak apa-apa dong, kan kamu lagi berada di tubuh asliku. Suka-suka aku mau ngapain," kata Cherika terkikik.
Chandika tidak bisa berkata apa-apa. Itu kan kata-katanya dulu. Kenapa sekarang menjadi berbalik padanya?
Cherika mendorong tubuh Chandika hingga terlentang di ranjang, dan dengan seenaknya duduk di perutnya.
"Kamu mau apa?" tanya Chandika menelan saliva berat.
"Karena kamu habis bermimpi buruk biar aku menghibur kamu, sayang," kata Cherika dengan nada yang sensual. Oh, ayolah. Cherika yang kerasukan jiwa Chandika asli benar-benar menjadi perempuan yang berani.
"Menghibur bagaimana?"
"Seperti ini..." Jawab Cherika, kemudian mencium bibir lembut Chandika.
Tanpa sadar Chandika meremas rambut panjang Cherika dan menekan kepala Cherika untuk semakin memperdalam ciuman mereka.
"Pegang ini," ucap Cherika di sela-sela ciuman itu. Dia mengambil tangan kanan Chandika dan menempatkan tangan itu pada tubuh bagian depannya yang menonjol. "Remas."
__ADS_1
"Se...stopp.." kata Chandika yang mencoba melepaskan diri. "Jangan ajari aku untuk berbuat mesum pada tubuhku sendiri!" serunya dengan wajah yang sudah terbakar karena malu.
"Huh? Kenapa? Apa kamu tidak ingin mencoba untuk mengetahui rasanya menjadi aku ketika memainkan benda sekenyal squishy ini?" ucap Cherika dengan membusungkan padannya dan memainkan benda kenyal itu.
Chandika melotot tidak percaya. Dia langsung menghentikan tingkah Cherika dengan memegang kedua tangan gadis itu. "Oh, astaga. Jangan membuat tubuh asliku menjadi cewek kurang belaian."
"Kan memang lagi kurang belaian," cibir Cherika dengan genit.
Chandika melongo dibuatnya. Diri aslinya benar-benar menjadi out of character.
"Kita buat bayi, yuk! Sepertinya kita masih bisa membuat bayi meskipun tubuh kita tertukar. Lihat, kamu bisa menegang di bagian ini," kata Cherika dengan memegang sesuatu yang menegang di balik celana tidur Chandika.
"Me-menegang?" tukas Chandika tidak percaya.
"Ya, menegang itu artinya pengin," jelas Cherika seakan dialah yang profesional.
"Sebenarnya memang aku sedang pengin," jawab Chandika yang membuat binar kesenangan dari Cherika.
"...Aku pengin makan, lapar sekali," lanjut Chandika yang membuat Cherika speechless.
Cherika melirik jam yang ada di atas meja. Pukul 02.00 dini hari. Yang benar saja.
Chandika segera mengangkat tubuh mungil Cherika yang sejak tadi duduk di perutnya, dia seperti menggendong anak koala. "Ayo temani aku cari makan di dapur."
"Ya," jawab Cherika pasrah. Dia memeluk erat tubuh Chandika. "Enak juga bertukar tubuh, aku jadi bisa merasakan digendong oleh orang tercinta," kata Cherika tertawa.
Chandika juga ikut tertawa. "Kalau begitu aku akan menggendong kamu terus-terusan."
"Enteng, kok. Tubuh asliku kan memang tidak gendut," kata Chandika dengan percaya diri. Lagi pula mana mau dia bilang diri sendiri gendut.
"Tapi kamu bisa tambah lelah kalau menggendong aku terus-terusan. Kamu kan sudah lelah sekolah dan bekerja di kantor."
"Tidak lelah," kilah Chandika.
Mereka sudah sampai di dapur yang gelap. Seluruh lampu memang telah mati. Chandika mendudukkan Cherika di atas pantry.
"Tidak nyalakan lampu?"
"Ini aku ingin menyalakannya," jawab Chandika mencari saklar lampu.
Setelah lampu menyala Chandika segera mencari makanan, dia membuka kulkas dan hanya menemukan mentega, roti tawar dan madu.
"Aku akan membuat roti bakar madu," kata Chandika. "Apa kamu mau juga?"
Cherika mengangguk. "Apa kamu bisa membuatnya?"
"Jangan remehkan aku," ucap Chandika dengan memakai apron.
__ADS_1
"Wow, aku sexy juga saat memakai apron," kata Cherika bangga pada dirinya sendiri.
"Tentu, suamiku memang yang paling sexy sedunia," kata Chandika yang membuat telinga Cherika memerah.
"Ka-kamu bisa saja."
Chandika tertawa kecil melihat respon lucu Cherika. Dia mulai menyalakan kompor dan memanaskan teflon untuk mulai memanggang roti yang sebelumnya sudah dioles mentega.
Cherika tidak lepas memperhatikan Chandika. Bau harum dari roti yang dipanggang tiba-tiba membuatnya lapar. Padahal tadi hanya Chandika yang merasakan lapar.
Roti yang dipanggang sudah kecoklatan dan Chandika mulai menatanya di atas piring, lalu menuangkan madu pada permukaan roti. Dia melepas apron dan membawa dua piring yang telah terisi roti pada meja pantry di mana Cherika duduk.
Chandika menarik kursi untuk dia duduki, setelah itu menurunkan Cherika dari atas meja pantry dan memangku gadis itu.
"Ayo makan," kata Chandika setelahnya.
Cherika mengangguk. Dia memakan roti bakar madu yang terlihat enak itu. "Enak," kata Cherika tersenyum.
"Terima kasih," ucap Chandika dengan mencium pipi tembam Cherika.
"Aku kembalikan ciuman kamu," ujar Cherika mencium balik pipi Chandika.
Setelahnya mereka tertawa bersama dan mulai menyantap makanan masing-masing.
"Ngomong-ngomong bagaimana pekerjaan kamu di kantor, sayang?" tanya Cherika setelah mengunyah suapan terakhir. Dia baru menanyakan ini karena dia ketiduran saat menunggu kepulangan Chandika.
"Tidak sulit," jawab Chandika santai.
"Benarkah? Kamu kan belum belajar apa-apa tentang perusahaan, aku saja harus belajar selama seminggu untuk bisa mengerti," kata Cherika tidak percaya.
"Tentu saja. Aku ini genius. Apa sih yang tidak aku mengerti? Lagi pula pekerjaan di kantor tidak terlalu berat."
"Wow," kagum Cherika. Dia bahkan bertepuk tangan seperti anak kecil. "Kamu hebat sekali."
Hidung Chandika semakin kembang kempis. Dia terlalu senang mendapatkan pujian dari orang tercinta.
"Sebaiknya kita kembali ke kamar, aku akan membereskan ini dulu," kata Chandika yang menurunkan Cherika dari pangkuannya.
"Mau aku bantu?"
"Tidak usah, tuan putri duduk manis saja," tolak Chandika dengan mengedipkan sebelah matanya.
Cherika hampir jantungan dibuatnya. 'Astaghfirullah. Kenapa meleyot sama kedipan mata diri sendiri?' batin Cherika yang mencoba menormalkan detak jantungnya.
Chandika segera mencuci piring dan membereskan semua. Namun, ketika dia ingin menaruh madu pada kulkas tiba-tiba saja dia terpeleset dengan tidak elitnya.
BRUK
__ADS_1
PRANG
_To Be Continued_