Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Video Call


__ADS_3

Jane menjalankan mobil Ferarri miliknya dengan kecepatan penuh, air mata sudah membasahi pipinya. Hatinya sangat sakit, teringat jelas perkataan Chandika yang sangat menohok.


"Tapi maaf, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi."


"A-apa, kenapa kamu bilang seperti itu?" bagai tersambar petir di siang bolong Jane terkejut hingga lemas.


"Perasaanku ke kamu sekarang sudah tidak sama seperti yang dulu lagi. Mungkin ini akan membuatmu sakit, tapi aku tidak bisa memendamnya lagi. Aku tidak mau menyakitimu lebih lama dan dihinggapi penyesalan. Aku tidak bisa untuk melanjutkan pertunangan kita," tukas Chandika dengan mimik yang serius.


"Tapi aku sangat mencintaimu, Chan. Bukankah kita sudah sepakat untuk membuat lembaran baru?" Jane menggeleng dengan ekspresi frustasi.


"Berbahagialah tanpa aku, Jane. Kita berdua pantas untuk bahagia. Aku minta maaf kalau kita tidak bisa mendapatkan kebahagiaan itu dari satu sama lain."


"Bagaimana bisa aku bahagia tanpa kamu, Chan?" lirih Jane berkaca-kaca.


"Lupakan aku. Lagi pula, aku mencintai perempuan lain."


"Apa itu Cherika?"


Chandika hanya diam, pemuda itu tidak menjawab. Tapi, Jane yakin jika dugaannya adalah benar.


Jane mengeratkan pegangannya pada setir hingga kuku-kuku jarinya memutih. Dia tidak menyangkah jika Chandika akan mengakhiri hubungan mereka, dia terlalu berekspresi tinggi bisa membuat Chandika kembali membuka hati padanya.


"Ini semua karena Cherika."


Sebuah bisikan tiba-tiba terlintas di pikiran Jane.


"Ya, ini pasti karena gadis jalan* itu," lirih Jane dengan kilatan amarah. Gadis itu justru mengkambing hitamkan Cherika.


"Kamu harus merebut cintamu lagi."


Bisikan itu terdengar lagi, yang semakin menambah amarah si gadis blaster.


"Nggak mungkin Chan tiba-tiba memutuskan hubungan ini jika Cherika tidak terus menggodanya. Gue nggak akan membiarkan Chandika berbahagia dengan perempuan lain."


Jane menghentikan laju mobilnya, dia mengambil ponsel dan mendial nomor seseorang


"Halo, Ben."


"..."


"Lo menyukai gadis yang bernama Cherika, bukan?"


"..."


"Gue ingin kita berkerjasama untuk memisahkan Chandika dengan Cherika."


Ya, apapun caranya dia harus memisahkan Chandika dan Cherika, meskipun dengan cara kotor sekalipun.


**


Cynderyn tertawa dengan bahagia, dia telah menemukan pion baru.


Dia menatap cermin yang berada di genggamannya. "Bagus. Pisahkan Cherika dari Chandika," desis Cynderyn menatap pantulan Jane yang sedang menangis di cerminannya.


Wanita tua itu menang menambahkan kebencian dan kegelapan pada hati Jane. Gadis yang haus akan rasa cinta, memang sangat mudah untuk dikendalikan.

__ADS_1


Untuk sekarang biarkan dia menggunakan Jane sebagai pion miliknya, dia memang harus segera memisahkan Cherika dan Chandika.


Dia mungkin sudah tidak bisa menggunakan cara membunuh Cherika, jika di bunuh pun jiwa Cherika akan pindah kembali pada tubuh Chandika, Ini semua karena kontrak jiwa sialan yang sudah mengikat jiwa mereka berdua.


Jalan satu-satunya adalah membujuk Cherika sehingga jiwa gadis itu bersedia ikut bersamanya. Banyak cara untuk melakukan, salah satunya adalah mengembalikan ingatan gadis itu dan memanipulasi jika Felix yang telah membunuhnya di masa lalu, dan mematahkan hati Cherika.


**


Tok


Tok


"Cherika, bangun..." seru seseorang sambil mengetuk pintu kamarnya.


Cherika mengerjap-ngerjab matanya. Dia segera bangkit dan membuka pintu kamarnya.


"Iya, bang Gane," jawab Cherika pada Ganendra si pelaku pengetuk pintu.


"Sudah sore, mandi dan makan bersama," kata Ganendra mengacak rambut hitam Cherika.


"Hmm," gumam Cherika mengangguk.


Setelah kakak ke tiganya berlalu Cherika langsung kembali ke kamar untuk mandi.


'Sepertinya gue melupakan sesuatu,' batin Cherika mengingat-ingat.


"Ah, Dika," tukasnya langsung mengambil ponsel yang tergeletak di ranjang.


Banyak sekali panggilan dan pesan dari pemuda itu. Apakah ini yang namanya punya pacar? Ada yang nyariin dan menghawatirkan? Tapi memangnya dia pacaran dengan Chandika?


Dirinya tidak tahu jika pemuda itu sudah uring-uringan menunggu balasannya.


30 menit kemudian, Cherika keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi dada sampai setengah lutut.


Drett


Drett


Drett


Ponselnya berbunyi, dia urungkan langkahnya untuk mengambil baju ganti di lemari pakaian. Cherika langsung mengambil ponselnya. Ada panggilan video dari Chandika. Dia langsung mengangkat tanpa memperdulikan keadaannya yang sekarang.


"Ya?" tanya Cherika to the point.


"Oh astaga, kenapa kamu hanya pakai handuk?" Chandika berekspresi kaget.


Cherika memutar bola matanya. "Salah kamu yang tiba-tiba saja video call saat aku selesai mandi," kata Cherika tanpa ada rasa malu.


"Setidaknya pakai dulu bajumu."


"Kelamaan, yang ada masnya nangis duluan," kata Cherika bermaksud meledek.


"Mana ada aku menangis," sangkal Chandika. Wajahnya kini terlihat memerah karena melihat Cherika yang sungguh berani dan tidak ada malu padanya.


"Lihat saja, sebentar lagi juga bakal nangis," ledek Cherika lagi.

__ADS_1


"Aduh, berhenti meledek aku," kata Chandika terlihat kesal.


Cherika hanya tersenyum geli, Chandika memang lucu untuk dia ledek.


"Sana pakai bajumu dulu."


"Ok," Cherika langsung memposisikan headphone miliknya untuk bersandar di bantal dan dia melangkah menuju lemari. Mengambil baju baby doll miliknya.


"Hei, Cherika," panggil Chandika dengan wajah yang tambah memerah. Dari posisi ponsel itu dia sangat jelas melihat tubuh mungil Cherika yang hanya berlapis handuk saja, pemuda itu menelan savilanya ketika melihat kaki Cherika yang polos.


"Apa?" jawab Cherika tanpa menoleh dan masih sibuk mencari baju **********.


"Kamu berniat memakai baju di hadapan aku? Kenapa kameranya di hadapkan ke situ?"


"Ya," jawab Cherika cuek.


"Dasar gadis nakal!" pekik Chandika dengan melotot tidak percaya. Pemuda itu langsung mematikan sambungan video call secara sepihak.


Cherika berbalik untuk melihat Chandika yang tiba-tiba diam, dan melihat jika panggilan video telah berakhir. "Kok dimatikan sih?" gumam Cherika kesal.


"Kayak nggak pernah lihat gue tanpa pakaian saja, Padahal kita sudah saling lihat badan masing-masing saat bertukar jiwa," gerutu Cherika.


Ya, itu alasan Cherika cuek-cuek saja. Baginya Chandika itu polos, mana berpikir yang iya-iya tentangnya.


Tapi, dia belum tahu jika Chandika tidak benar-benar sepolos yang dia pikirkan. Mau bagaimanapun Chandika adalah laki-laki tulen.


Cherika langsung memakai pakaiannya dan menyisir rambut basahnya.


Setelahnya dia melangkah ke luar kamar untuk makan bersama kakak-kakaknya. Cherika duduk di kursi makan bersama ke enam pemuda yang menatapnya intens.


"Ada apa?" tanya Cherika karena risih.


"Kata Nathan ada seseorang yang melamar kamu?" tanya Agust mewakili semuanya.


"A-apa? Siapa yang melamar?" kilah Cherika pura-pura tidak tahu. Dia menatap Nathan dengan tatapan membunuh.


Nathan yang merasakan tatapan Cherika hanya nyengir tidak merasa bersalah.


"Si putra Aldebaron itu, kan?" celutuk Malvin si kakak ke dua.


"Nggak, itu nggak benar. Chandika mana serius dengan perkataannya," kata Cherika menyangkal. Dia memang tidak mengganggap serius lamaran Chandika yang menurutnya sangatlah absurd. Mana ada orang yang melamar di kamar rumah sakit. Sungguh tidak romantis sekali.


"Aih, kan sudah Guin bilang nggak mungkin Cherika yang bar-bar bisa menggaet si Chandika," ucap Guinendra mengibaskan tangannya.


Sebuah perempatan muncul di kepala Cherika.


"Tafwi, sepewtiya mewang Chwandika naksiw dew sawa Cwerwika kiwa," ucap Aland dengan mengunyah makanan.


"Kalau makan jangan ngomong," ucap Ganendra menatap jijik Aland.


"Chandika yang bilang sendiri kok sama gue kalau dia mencintai Cherika," celetuk Nathan yang membuat pemuda yang lain ber 'wow' ria.


Cherika hanya mendengus, keluarganya ini memang sangatlah ramai.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2