Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Season 2 : Girl In Luv


__ADS_3

Malam hari di kediaman Aldebaron.


Jam dinding sudah menunjukan pukul 11 malam, Chandika baru pulang dari kantor dan memasuki kamar. Dia melihat jika Cherika yang sudah tertidur. Pemuda itu tersenyum dan berjalan ke arah ranjang.


Cup


Chandika mencium kening Cherika. "Aku pulang," katanya dengan berbisik tepat di telinga Cherika.


"Uhmm," Cherika terbangun karena terusik dengan bisikan itu.


"Maaf, membuatmu terbangun," ucap Chandika menyesal.


Cherika menggeleng, dia melingkarkan tangannya pada punggung lebar Chandika dan memeluknya. "Kangen..."


Chandika terkekeh, sungguh tidak bosannya Cherika mengatakan itu. "Aku juga."


Gadis itu semakin erat memeluk Chandika.


"Lepas dulu, aku ingin membersihkan diri," kata Chandika mencoba melepas pelukan Cherika.


Cherika langsung melepas pelukannya dan Chandika segera beranjak untuk ke kamar mandi.


Setelah 15 menit Chandika keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi pinggulnya. Dia berjalan menuju lemari untuk mencari baju.


Grep


Chandika merasakan sebuah tangan yang menjalar di pinggangnya. Cherika tengah memeluknya dari belakang.


"Aku ingin memakai baju dulu, Dika," kata Chandika dengan mengelus tangan Cherika.


"Tidak usah pakai baju," lirih Cherika.


"Nanti aku masuk angin."


"Kan ada aku yang menghangatkan kamu," ujar Cherika dengan menggerakkan tangannya menuju benda terlarang yang bersembunyi di balik handuk.


"Stop!" seru Chandika menghentikan tangan Cherika yang memainkan sesuatu yang sudah menegang itu.


"Kenapa? Ayo kita bikin bayi," kata Cherika dengan nakalnya. Dia memberikan kecupan pada punggung polos Chandika.


Chandika langsung berbalik dan memegang pundak Cherika. "Tidak bisa," tolaknya.


Cherika berkaca-kaca, "Kenapa?"


"Jangan menangis," kata Chandika menarik Cherika untuk dia peluk. "Kita tidak bisa melakukan itu, Dika. Kamu kan sedang menstruasi."


"Memang kenapa?" tanya Cherika dengan polosnya.


Chandika terdiam sesaat.

__ADS_1


"Kok diam?" tuntut Cherika menunggu jawaban, dia mengurai pelukan mereka.


"Karena itu berbahaya bagi kesehatan kamu, maksudnya tubuhku yang sedang kamu tempati itu," jelas Chandika kemudian.


"Benarkah?"


"Ya, bisa meningkatkan risiko penyakit pada sistem reproduksi wanita."


Cherika tertegun setelah. "Aku tidak tahu jika akan berbahaya."


"Maka dari itu kita tidak boleh melakukan itu," kata berusaha membuat Cherika mengerti.


Si gadis mungil mengangguk paham. "Berati kita akan berpuasa dulu, ya?" tanya Cherika dengan memiringkan kepalanya, dan itu membuatnya terlihat begitu imut.


"Tapi jika berciuman tidak masalah," kata Chandika dan langsung mencium bibir Cherika. Salahkan Cherika yang begitu imut.


**


Hari berganti dan pagi telah datang. Cherika dan Chandika menyambut pagi dengan semangat dan bahagia. Langkah kaki dengan tangan bertautan saat mereka berjalan di koridor sekolah. Alvis dan Alice pun mengikuti langkah mereka dari belakang.


"Cherika~" panggil Icha dengan suara toa miliknya dan ada Clara di sampingnya.


"Ya, Icha, Clara," ucap Cherika dengan tersenyum manis.


"Tambah imut saja sih," kata Icha dengan mencubit pipi tembam Cherika.


Chandika melotot melihatnya. Pemuda itu dengan segera menjauhkan Cherika untuk bersembunyi di belakangnya.


"Memang Cherika milik gue," kata Chandika dengan ekspresi datarnya.


"Ish, nyebelin banget lo, Chandika," tukas Icha menatap tidak suka Chandika.


Chandika tidak perduli, dia tetap menghalangi ke dua perempuan itu untuk mendekati Cherika. Oh, ayolah, Cherika itu sebenarnya laki-lakinya, alias suaminya, dia tidak rela jika Icha dan Clara menyentuh Cherika.


"Rumah tangga itu rumit, kalau sederhana itu namanya rumah makan," celetuk Alvis dengan konyolnya.


"Diam lo, Alvis," ucap Chandika menatap Alvis.


Alvis hanya cengengesan dengan menunjukkan gigi kelincinya.


"Alvis, ini gue bawakan lo jus," kata Clara tiba-tiba dengan menyodorkan sekotak jus.


"Terima kasih..." ucap Alvis dengan senyum yang menjadikan wajah babyface miliknya terlihat semakin imut, dia menerima jus pemberian Clara. Rezeki memang tidak boleh ditolak. "Hmm...nama lo siapa?" tanya Alvis kemudian.


Clara yang tadinya merona malu-malu menjadi kikuk seketika, dia kira Alvis tahu namanya. Apa selama ini Alvis tidak menganggapnya ada? Hatinya tercubit seketika.


"Namanya Clara, dasar bodoh banget sih lo, setiap hari ngumpul di kantin nggak tahu namanya," kata Chandika. Dia cukup peka jika Clara mempunyai rasa ketertarikan pada Alvis.


Alvis menatap tidak suka Chandika karena dirinya dibilang bodoh, "lo yang lebih bodoh."

__ADS_1


Chandika hanya memutar bola matanya.


"Maaf ya, Clara. Gue baru tahu nama lo. Tapi tenang saja, hari ini dan seterusnya gue akan selalu ingat nama lo," sambung Alvis dengan menatap Clara lagi.


Pemuda babyface itu tidak tahu efek samping dari perkataannya itu, Clara hampir jantungan karena jantungnya semakin berdetak kencang.


"Tapi, bukannya bang Alvis tidak menyukai jus apel?" celetuk Alice yang langsung membuat dunia berbunga-bunga Clara hancur. "Bang Alvis akan muntah-muntah jika meminum jus apel."


"Apa ini jus apel?" tanya Alvis dengan melihat kotak jus pemberian Clara, dan benar saja jus itu memang jus apel. Alvis baru menyadari itu. Dia memang tidak bisa untuk meminum jus apel.


"Maaf, gue nggak tahu. Biar gue ganti," kata Clara dengan berniat mengambil kembali jus yang dia berikan pada Alvis.


Namun, Alvis mengangkat jus itu dengan tangannya menjauhkan dari jangkauan Clara. "Yang ini saja, tidak usah diganti, gue nggak mau merepotkan lo, Clara."


"Tidak, sini biar gue ganti," ucap Clara dengan meloncat-loncat untuk menggapai jus itu.


"Dasar pendek yang keras kepala," kata Alvis dengan memegang kepala bagian atas Clara agar gadis itu tidak meloncat lagi.


Kringgggg


"Sudah bel, ayo ke kelas Alvis," kata Chandika mengintruksi.


"Aku ke kelas dulu ya," sambung Chandika dengan mengelus pipi Cherika.


"Ya," jawab Cherika tersenyum.


Alvis menepuk-nepuk kepala Clara pelan sebelum mengikuti Chandika untuk berlalu ke kelas mereka berdua. Alice pun juga ikut berlalu untuk ke kelasnya.


Clara memegang puncak kepalanya dengan hati yang bergetar.


"Kamu suka dengan Alvis?" tanya Cherika pada Clara, dia juga peka atas perilaku Clara karena dia memang sudah berpengalaman akan hal itu.


"Shtt," Clara menempelkan telunjuknya pada bibirnya sendiri. "Jangan kencang-kencang."


Cherika mengangguk paham. Dia menatap prihatin Clara. Gadis berambut gelombang itu tidak tahu siapa sebenarnya Alvis. Cherika yang sebenarnya adalah sepupu asli dari Alvis sangat tahu tabiat pemuda babyface yang disukai Clara itu. Alvis hanya baik pada orang-orang terdekatnya saja.


Di sisi lain.


BRAK


Alvis membuang jus pemberian Clara pada tong sampah di depan kelasnya.


"Kenapa di buang?" tanya Chandika menatap heran Alvis.


"Gue nggak suka."


"Kalau nggak suka kenapa lo terima?"


"Biar nggak ribet saja," jawab Alvis sekenanya.

__ADS_1


Alvis memang sulit di tebak. Chandika juga tidak tahu apa yang sebenarnya pemuda babyface itu pikirkan.


_To Be Continued_


__ADS_2