Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Urgent


__ADS_3

Jane masih berjongkok ketakutan, matanya masih terpejam dengan kedua telapak tangan yang menutup kuping, gadis itu tidak menyadari jika suasana sudah membaik. Lampu sudah menyala dan sudah tidak ada lagi suara tembakan.


"Jane?" si gadis blaster tidak menyadari jika ada seseorang yang memanggil namanya.


"Hei," panggil orang itu sekali lagi.


Jane terkejut saat sebuah tangan menepuk bahunya. Dia langsung mendongak untuk melihat siempunya tangan. "Danny?" kilah Jane yang menatap seorang pemuda berambut cokelat terang.


"Bangunlah, sudah aman," kata Danny membantu Jane berdiri dari jongkoknya. Pemuda itu ditugaskan Jauzan untuk menyelamatkan orang-orang yang tertembak, tapi dia malah menemukan seorang gadis yang dia kenal sedang meringkuk ketakutan di balik meja.


Jane yang masih lemas dengan kaki kesemutan langsung terjatuh dari berdirinya, tapi Danny segera menahannya. "Biar gue bantu," kata Danny dengan menggedong Jane bridal style.


"Terima kasih," ucap Jane, dia hanya pasrah, dirinya memang tidak sanggup berjalan sendiri.


Danny membawa Jane keluar dari hall pesta, yang kini seperti kapal pecah. Bangku dan meja sudah porak poranda, makanan dan minuman sudah berceceran di mana-mana, banyak bercak darah, kaca jendela pecah, dekorasi hancur. Ruangan yang tadinya sangat indah dan elegan, kini menjadi sangat mengerikan.


Jane yang melihat ini langsung mengeratkan genggamannya pada pundak Danny. Dia tidak menyangka pertunangannya dengan Chandika akan membawa petaka seperti ini.


"Hiks... " isak Jane yang tidak bisa dia tahan lagi.


Danny yang melihat Jane menangis hanya diam saja, dia memang tidak punya kewajiban untuk menghibur si gadis blaster.


"Jane," panggil Emily yang melihat Jane dalam gendongan pemuda asing. Dia dan Ridwan segera menghampiri putri mereka.


"Mama," jawab Jane menatap Emily dan tangisannya semakin pecah.


Danny langsung menurunkan Jane dari gendongan, dia meninggal Jane bersama ke dua orang tua gadis itu.


Di sisi lain.


"Mommy tidak apa-apa?" tanya Alvis yang memeluk ibunya.


"Mommy baik-baik saja, bagaimana denganmu dan Alice?" tanya Aminty berbalik bertanya.


"Kami juga baik-baik saja," kata Alvis yang sudah melepas pelukannya.


"Mommy, hiks.." isak Alice masih sesenggukan.


"Putri mommy, sudah jangan menangis," kata Aminty mengelus pipi Alice yang basah karena air mata.


"Benar-benar membuat senam jantung, bisa-bisanya ada kejadian kayak gini," ucap Caka.


Bart hanya menggangguk menanggapi ucapan Caka. Dia justru melihat Alice gemas, ingin sekali dia memeluk gadis itu, tapi dia masih sayang dengan nyawanya.


"Jauzan, di mana Chandika?" tanya Albert yang sedang berada di tandu evakuasi.


Seketika Jauzan baru menyadari keberadaan sang putra yang tidak ada. Dia melupakan Chandika karena terlalu panik dengan istrinya yang kini sudah berada di dalam Ambulance.


"Biar Alvis yang mencarinya," kata pemuda deep auburn yang sejak tadi sudah menyadari jika Chandika tidak ada.


'Kemana gadis bar-bar itu?' batin Alvis segera berlalu untuk mencari Chandika, dia merasa khawatir.


**


"Ukh..." rintih Chandika saat merasakan lehernya tercekik.

__ADS_1


"Matilah, Felix," kata Ludhe semakin kencang mencengkram leher Chandika. Dia meluapkan semua amarahnya.


Chandika merasakan lehernya semakin sakit, sesak sekali. Wajahnya sudah memucat dan hampir membiru.


'Apakah gue akan benar-benar mati?' batin Chandika di tengah-tengah ambang nyawanya.


Chandika tidak berusaha lagi untuk melepaskan tangan Ludhe dari lehernya, tangan Chandika bergerak ke dalam lengan Ludhe dan menariknya ke bawah, lalu langsung menendang ************ Ludhe.


"Akh!" teriak Ludhe merasakan benda berharganya di tendang. Refleks dia melepaskan cekikan pada Chandika.


Chandika langsung menjauh dari Ludhe, dia menghirup udara dengan rakus, napasnya hampir habis.


"Keparat!" maki Ludhe pada pemuda mullet.


"Lo bajingan!" Chandika memaki balik. Napasnya masih tersengal-sengal. Hampir saja dia mati tadi.


Ludhe mengeluarkan belati dari balik jaket bomber hitam yang dia pakai. "Persetan dengan tidak memakai senjata," ketus Ludhe langsung mencoba menusuk perut Chandika.


Chandika segera menghindar tusukan  Ludhe yang bertubi-tubi. Dia hanya bisa menghindar. Ingin sekali dia melawan balik, tapi tubuhnya tidak menuruti kata hatinya.


Srett


Belati itu mengenai lengan Chandika hingga meninggalkan luka goresan yang cukup dalam. Chandika benar-benar terpojok sekarang.


"Tamatlah!" seru Ludhe mengarahkan tusukannya tepat di dada Chandika, gerakannya semakin agresif.


Chandika dengan cepat memundurkan badannya.


'Apakah ada yang akan menolong gue? Kalau di film-film pasti akan ada yang menyelamatkan seseorang yang sedang terdesak,' batin Chandika berharap. 'Tapi, sayang ini bukanlah film.'


**


"Apakah lo melihat, Chandika?" tanya Alvis pada Danny yang tengah sibuk mengevakuasi korban tembakan.


"Tidak," jawab Danny dengan cepat. "Ada apa dengan tuan muda?" tanyanya kemudian.


"Dia menghilang," jawab Alvis dengan  raut cemas.


"Gue akan bantu mencarinya," kata Danny yang ditanggapi anggukan Alvis.


Ke dua laki-laki itu segera mencari Chandika.


"Sebaiknya kita berpencar," ujar Alvis .


"Baik," patuh Danny menanggapi Alvis.


Alvis dan Danny berpencar. Alvis segera menuju keluar gedung dan Danny yang mencari di dalam gedung.


"Semoga lo nggak kenapa-kenapa, Cherika," ucap Alvis sambil melangkah dengan cepat.


**


Set


Belati itu berhasil menggores pelipis Chandika, darah mengalir hingga mengenai mata kanannya.

__ADS_1


Duk


Chandika terkejut karena di belakangnya ada sebuah pohon yang menghalangi langkah mundurnya. Sekarang, dia benar-benar seperti kucing terjepit.


"Hah.. hah.. " Chandika juga sudah mulai kelelahan karena sejak tadi terus menghindar.


Sring


Ludhe mengarahkan belatinya tepat di leher Chandika. "Saya menang," kata Ludhe menyeringai.


"Matilah... "


"Ukh.."


Tap


Chandika menginjak kaki Ludhe kencang.


Ludhe kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan menarik Chandika bersamanya.


JLEB


"Ah..."


"Akh..."


"..."


Chandika merasakan jantungnya sangatlah sakit, dia tertusuk belati, tetap di jantungnya. Darah kental keluar dari mulutnya.


"Ka... kakak," ucap Chandika tanpa sadar.


Ludhe melebarkan bola matanya dengan sempurna, entah kenapa dia merasa menyesal. Tiba-tiba air mata mengalir dari kedua matanya. Tangannya yang memegang belati bergetar.


"Ugh.."


Chandika tidak bisa menahan kesadarannya lagi, pandangannya menjadi gelap.


Namun.


Deg


Deg


Deg


Jantung Chandika yang sempat berhenti berdetak langsung kembali berdetak dengan normal. Matanya yang tadi tertutup kini terbuka kembali.


"Mu-mustahil, kau masih hidup?" tanya Ludhe tercekat melihat Chandika yang menatapnya tajam.


Chandika langsung bangkit dari posisinya, dia langsung berdiri seperti tidak terluka sama sekali. Dia langsung mencabut belati yang menusuk jantungnya. Darah menyembur keluar, tapi dia tidak merasakan sakit sama sekali.


"Eros," desis Chandika menatap tajam Ludhe. "Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu menusuk Ellisha yang sedang di dalam tubuhku??"


Ludhe terkejut dengan perkataan Chandika.

__ADS_1


"A-apa?" kilah Ludhe dengan badan yang membeku.


_To Be Continued_


__ADS_2