
"Ya, aku ada PR," jawab Chandika justru mengiyakan. "Dan aku ingin kamu membantuku."
"Baiklah," kata Cherika menyanggupi.
"Kamu tahu kan jika aku kesulitan dengan belajar, aku akan cepat mengerti jika mempraktekkan langsung."
"Praktek apa maksud kamu?" tanya Cherika masih tidak mengerti.
"Tentu saja membuat anak," jawab Chandika gregetan.
"Buat anak? Ka—ehmm..."
Sebelum Cherika menyelesaikan perkataannya Chandika langsung membungkam bibirnya dengan ciuman yang tiba-tiba. Cherika yang awalnya kaget langsung menutup matanya dan menerima ciuman lembut dari suaminya. Dia mencoba membalas dengan mesra.
Bibir saling mengecup. Bibir atas dan bawah bergantian menarik dan mengecap rasa. Lidah kemudian ikut berpartisipasi. Gairah ke duanya melambung.
Chandika menyingkirkan bantal yang digunakan Cherika untuk menutup tubuh polosnya. Tangan kanan Chandika meraih bukit yang sudah tumbuh itu dan membelainya. Reflek perut Cherika langsung menegang, erangan nikmat keluar dari mulutnya saat Chandika melepas ciumannya. Tapi tidak dengan jari-jari si pemuda yang masih bermain di tubuh sensitif Cherika.
"Uhm.. lepas tangan kamu, Dika. Itu membuatku geli..." lirih Cherika dengan wajah yang memerah.
"Aku tidak mau, ini sangat lembut. Aku sangat menyukainya. Kamu harus terbiasa, sayang. Mungkin aku akan sering melakukan ini," kata Chandika dengan suara beratnya.
Setelah puas bermain dengan ke dua benda kenyal Chandika segera membaringkan Cherika. Lalu Chandika mencium kening istrinya dengan lembut. Ciuman itu turun ke mata, hidung, dan ke pipi putih gadis itu. Cherika terdiam, entah kenapa tubuhnya menjadi kaku dan lemas.
"Suara napasmu sangatlah merdu," kata Chandika dengan bisikan.
Cherika mengulum senyum dengan pipi yang merona. "Terima kasih."
"Bolehkah?" tanya Chandika dengan tatapan penuh dengan kabut gairah.
"Ya. Boleh," jawab Cherika dengan mengelus pipi Chandika. Dia sangat mencintai suaminya itu, dia tidak bisa berkata tidak. Dia percaya jika pemuda itu tidak mungkin menyakitinya.
Chandika langsung membuka kaos putih yang sejak di pakai dan mulai mencumbui gadis yang akan menjadi seorang wanita itu.
"Aku mencintaimu, Cherika."
"Aku juga..."
"Cherika. Aku benar-benar mencintaimu. Aku akan mencintaimu sampai mati.
**
"Kemana Chan dan Cherika?" tanya Aminta yang terduduk kursi makan.
"Kamu seperti tidak pernah menjadi pengantin baru saja, istriku," jawab Jauzan justru menggoda istrinya.
Aminta langsung merona, ingatannya kembali ke masa lalu.
"Memang kenapa jika pengantin baru? Kenapa bang Chan dan kakak Cherika tidak ikut sarapan bersama?" tanya Alice bingung.
"Tidak apa-apa, sayang. Mereka mungkin lelah," kata Aminty mencoba menjawab pertanyaan putrinya.
__ADS_1
"Tapi apa mereka tidak lapar?" tanya Alice lagi.
"Jika lapar mereka juga akan makan. Tidak usah khawatir, adik. Mereka bukan anak kecil." tukas Alvis mencoba melindungi kepolosan adiknya.
"Ya," ucap Alice mengangguk.
Albert yang menyimak obrolan di ruang makan itu hanya diam saja. Namun, siapa yang tahu jika dia sedang berdoa atas kehadiran cicitnya. Semoga saja cucunya itu mengurungkan niat untuk tidak membuat Cherika hamil.
**
Chandika menatap wajah tidur Cherika. Sekarang sudah pukul 11 siang. Tapi Cherika tidur karena kelelahan, padahal istrinya itu belum makan sejak pagi. Dia menjadi merasa bersalah akan hal itu.
"Sayang," panggil Chandika mencoba membangunkan Cherika. "Mau sampai kapan kamu tidur?" tanyanya dengan mengecup bahu istrinya.
"Hmm," gumam Cherika dan membuka matanya. Bukannya berhenti, Chandika justru semakin banyak mengecupi bahu terbuka itu. "Dika, hentikan..."
"Kenapa? Bukannya tadi kamu sangat menyukainya?" tanya Chandika dengan tatapan polosnya.
Cherika mendelik seketika, bagaimana bisa suaminya itu mengatakan hal yang memalukan itu dengan tampang polos? Dengan kesal Cherika menjitak kening Chandika. "Berhentilah menunjukan muka polos, aku sudah tau jika kamu tidak sepolos itu."
"Aduh..." rintih Chandika memegang keningnya. "Mukaku memang seperti ini sejak dulu."
Cherika merengut. "Dasar penipu."
Chandika hanya tertawa kikuk. Oh, ayolah, dia itu laki-laki tulen. Hal yang normal jika melakukan itu dengan istri sendiri. Lagi pula dia memang sudah tidak tahan.
Kruyukkk
"Tidak tahu tuh," jawab Cherika merona. Kenapa perutnya bisa berbunyi di saat yang tidak tepat?
"Kamu pasti lapar," kata Chandika yang segera menyadari jika tadi adalah bunyi perut Cherika yang keroncong.
Cherika mengangguk malu, dia memang lapar.
"Sebaiknya kita mandi dulu," saran Chandika.
"Aku akan mandi duluan," ucap Cherika dan melilit selimut pada tubuhnya yang polos.
Namun, dia merasakan sakit saat mencoba turun dari ranjang.
"Kenapa?" tanya Chandika cemas karena melihat raut kesakitan istrinya.
"Ah, sakit..."
"Apa yang sakit, sayang?" tanya Chandika sekali lagi.
"Itu aku sakit," jawab Cherika hampir menangis.
Seketika Chandika tersadar. "Apa sakit sekali? Ini kesalahanku. Maafkan aku. Akan aku periksa."
Cherika menggeleng. "Tidak apa-apa, Dika."
__ADS_1
"Jangan begitu. Tolong biarkan aku melihat dan memeriksanya," pinta Chandika terlihat sangat khawatir.
Cherika mengangguk dan membiarkan Chandika membuka lilitan selimutnya dan melihat sesuatu yang terasa sakit itu.
"Ugh... Sudah tahu sakit kenapa mengusapnya??" lirih Cherika mengeluh.
Chandika menggigit bibir bawahnya, dia tidak menyangka akan menyakiti Cherika. Betapa bodohnya dirinya karena tidak bisa menahan hasratnya.
"Sudahlah, kamu tidak usah menyalahkan diri sendiri. Sekarang bantu aku ke kamar mandi," kata Cherika yang menyadari ekpresi penyesalan Chandika.
Pemuda itu mengangguk, dia segera menggendong Cherika untuk dibawanya ke kamar mandi.
"Aku akan memandikan kamu," kata Chandika setelah mendudukkan Cherika di bathtub.
"Ya."
**
Setelah memandikan Cherika dan dirinya sendiri Chandika langsung keluar kamar dan berlari mencari Aminta. Tapi ibunya itu tidak ada di mansion, dia segera keluar menuju pantai. Mansion itu memang sangat dekat dengan pantai.
"Mami!" seru Chandika memanggil sang ibunda.
Aminta pun kaget, apalagi putranya itu berlari seperti orang kesetanan. "Kenapa? Apa? Ada apa?" tanya Aminta beruntun.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Jauzan.
"Kebakaran?" tanya Alvis.
"Ada perampok?" tanya Alice.
"Apa kamu habis melihat hantu?" tanya Aminty.
"Apa cicitku sudah lahir?" tanya Albert yang membuat semua orang sweatdrop. Seperti pria tua itu memang benar-benar sudah tidak sabar untuk mempunyai cicit.
Tadinya mereka sedang bersantai ria di pantai. Tapi tiba-tiba saja Chandika datang mengagetkan.
Chandika tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dia langsung menarik Aminta untuk ikut dengannya.
"Mami ikut aku," ucap Chandika dengan membawa Aminta pergi dan meninggalkan semua orang yang terheran-heran.
"Ada apa, Chan?" tanya Aminta bingung.
Chandika menghentikan langkahnya, dia menatap ibunya dengan raut yang begitu cemas. "Mami, tolonglah Cherika."
"Eh?" Aminta masih bingung. "Memangnya Cherika kenapa?"
"Milik Cherika memerah dan lecet, sepertinya aku terlalu kasar padanya," jelas Chandika yang membuat Aminta melotot tidak percaya.
"Ka-kamu..." kata Aminta tercekat karena melihat bercak-bercak kemerahan dan bekas cakaran pada leher putranya.
Memang sekasar apa permainan Chandika?
__ADS_1
_To Be Continued_