
"Bagaimana ini? Sudah 30 menit Cherika nggak sadar," ucap Clara khawatir.
"Napasnya terputus-putus," ucap Icha yang sejak tadi mencoba membuat sadar Cherika dengan minyak kayu putih.
"Apa kita bawa ke rumah sakit saja?" tanya Clara gusar.
"Tidak perlu, saya akan memberinya napas buatan," kata Ludhe tiba-tiba.
Icha dan Clara melotot seketika.
"A-apa? Memangnya membangunkan orang pingsan harus pakai napas buatan?" ucap Icha karena tidak rela. Dia memang belum bisa melupakan Ludhe.
"Anda bilang napas Cherika putus-putus, bukan? Jika itu terus dibiarkan akan berbahaya," jelas Ludhe, terlihat jelas raut kecemasan pada si pemuda blaster. "Saya akan memberi pertolongan pertama."
"Sudahlah, Icha. Biarkan kak Ludhe. Ini demi Cherika," kata Clara.
"Ya," ucap Icha. Cherika memang lebih penting sekarang.
Icha segera menyingkir dari posisi terduduk di bangku samping ranjang dan digantikan oleh Ludhe. Pemuda blaster itu segera mendekatkan wajahnya pada Cherika yang masih tidak sadar. Tinggal 3cm lagi bibirnya akan menyentuh bibir Cherika.
Namun.
Dug.
Ludhe merasakan jika keningnya terbentur dengan keras dan refleks mundur. Cherika membenturkan kening mereka berdua. Gadis itu sudah sadar.
"Argh!" pekik ke duanya. Cherika dan Ludhe sama-sama merasakan sakit.
"Apa yang ingin kamu lakukan, ha!?" pekik Cherika marah.
"Wahh Cherika lo sudah sadar," kata Icha dan Clara bersamaan mereka langsung memeluk tubuh mungil Cherika.
"Cherika?" gumam si gadis belo.
Seketika dia langsung paham. Ya, tubuhnya dan istrinya tertukar lagi. Dia memang tidak kaget tentang ini, karena dia memang sudah tahu alasan tentang Transmigrasi yang terulang lagi.
Istrinya. Cherika. Pasti sempat tidak sadarkan diri.
"Eros..." desisan pelan Cherika menatap dingin pada Ludhe. Kurang ajar sekali pemuda itu. Apa tadi Ludhe akan mencium istrinya?
Ludhe yang masih mengusap jidatnya langsung mendongak karena terkejut. "Kau..."
"Cherika kenapa lo tiba-tiba pingsan, sih? Bikin orang khawatir saja," kata Icha.
"Tiba-tiba pingsan? Kenapa?" Dugaannya benar.
"Kami mana tahu. Lo kan yang pingsan. Apa lo belum sarapan pagi?" timpal Clara.
BRAK
__ADS_1
Suara pintu terbuka dengan kencang mengalihkan atensi mereka.
Si pelaku. Chandika. Tengah menatap horor pada Cherika.
Cherika hanya tersenyum dan mengangguk.
"Aku dan 'suamiku' akan berbicara berdua, kalian keluarlah," kata Cherika menekan kata suami dan menatap Ludhe.
"Suami?" Ludhe, Icha, dan Clara terkaget-kaget.
"Kalian keluarlah, nanti akan aku jelaskan," kata Cherika mengusir.
Mereka pun keluar dari ruang UKS dengan rasa keterkejutan yang masih ada. Belum lagi Ludhe yang mendadak lemas karena baru mengetahui kenyataan yang menyakitkan itu.
Ludhe menatap pias Chandika. Ya, dia tahu tubuh Cherika dan Chandika pasti tertukar lagi.
Cklek
Pintu tertutup dan hanya menyisakan Chandika dan Cherika.
Chandika langsung mendekati Cherika. "Apa ini? Tubuh kita tertukar lagi?" tanyanya gusar. Beda sekali dengan Cherika yang bersikap biasa aja.
"Ya, kamu tenang saja, sayang," kata Cherika mencoba menenangkan.
"Bagaimana bisa tenang? Aku kira tubuh kita tidak akan pernah tertukar lagi. Lalu apa ini? Bagaimana bisa terjadi?"
"Hmm," Chandika mengangguk dan membalas pelukan Cherika.
"Tubuh kita tertukar karena kamu habis tidak sadarkan diri," jelas Cherika. "Jiwamu telah pergi ke suatu tempat dan saat kembali kamu justru masuk ke dalam tubuhku."
"A-apa?" Chandika tercekat.
"Bagaimana bisa kamu tidak sadarkan diri dan jiwa kamu pergi kemana setelah itu?" tanya Cherika mengintrogasi.
"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saja jantungku seakan berhenti dan aku berada di hamparan bunga matahari," jelas Chandika mengingat apa yang telah dia alami.
"Hamparan bunga matahari?"
Chandika menggangguk. "Dan bertemu dengan cewek bernama Ellisha."
Deg
"Ellisha?" Cherika tercekat. "Kamu bertemu Ellisha?" tanyanya seakan tidak percaya.
Apa ini seperti dirinya yang bertemu dengan Felix dulu? Tapi saat bertemu dengan Felix dia dalam keadaan hidup dan mati.
"Ya. Dia sangat mirip denganku."
"...Dan aku melihat Felix yang sangat mirip dengan kamu."
__ADS_1
Cherika terbelalak. Felix? Dirinya yang dulu?
'Apa ini? Kenapa Elisha dan Felix menampakan diri mereka? Apakah Cherika habis dalam keadaan hidup dan mati? Tapi bagaimana itu bisa terjadi?' batin si gadis belo.
"Ellisha bilang dia adalah diriku. Aku tidak tahu apa maksudnya," lanjut Chandika.
Seakan paham Cherika menggangguk. Itu adalah tanda-tanda jika ingatan Ellisha akan kembali.
"Sekarang kamu duduklah dulu, tidak usah terlalu dipikirkan."
Chandika menurut dan duduk di bibir ranjang. Setelahnya Cherika duduk di pangkuannya.
"Kamu..."
"Tadinya sih aku yang ingin memangku kamu, tapi kan aku sekarang ada di dalam tubuhmu jadi biar kamu saja yang memangku aku," cengir Cherika.
"Kenapa jadi terbalik begini sih? Bagaimana kehidupan kita setelah ini? Itu berarti aku akan menjadi suami dan kamu yang jadi istri. Aku yang akan bekerja dong??" ucap Chandika dengan kening yang berkedut.
"Apa boleh buat," ucap Cherika mengedikkan bahu.
"Pasti kamu senang kan karena aku yang akan menggantikan pekerjaan kamu?" ucap Chandika tidak terima.
"Siapa bilang aku senang? Tentu saja aku tidak senang, karena tubuh yang tertukar kita jadi tidak bisa membuat bayi. Padahal baru sekali coblos," celetuk Cherika merengut.
"Dasar mesum! Kamu masih sempat-sempatnya berpikir itu!? Jangan berbicara mesum dengan menggunakan tubuhku!" marah Chandika.
"Y-ya, maaf," ucap Cherika menciut. Oh, ayolah. Jiwa istrinya yang berada di dalam tubuhnya lebih berkali-kali lipat menyeramkan saat marah dari pada sebelumnya.
"Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bisa kembali lagi," kata Chandika merubah ekpresi serius.
Cherika yang kini ditempati jiwa Chandika terdiam. Dia tahu caranya. Ya, sangat tahu. Tapi itu sangat menyakitkan. Caranya adalah menusuk jantung dari tubuhnya yang kini ditempati jiwa Cherika. Sama seperti Ludhe dulu. Itu adalah satu-satunya cara.
Penyebab tubuh mereka tertukar adalah karena kontrak jiwa yang mengikat jiwa Felix pada Ellisha. Jiwa Felix akan otomatis pindah jika Ellisha dalam keadaan hampir mati, bisa dikatakan Felix sudah memberikan jiwanya untuk kehidupan untuk selalu menyelamatkan Ellisha. Dan itu tidak berlalu untuk sebaliknya.
Jadi mana bisa dia membiarkan itu?
Lebih baik tubuh mereka tertukar selama-lamanya dari pada harus menyakiti Cherika yang kini berada di dalam tubuhnya.
"Aku tidak tahu bagaimana cara kita biasa kembali," jawab si gadis pada akhirnya. Lebih baik dia tidak mengatakan itu.
"Lalu mau sampai kapan tubuh kita tertukar?" ucap Chandika memijit pangkal hidungnya.
"Kita jalani saja dulu," kata Cherika. "Ini bukanlah akhir untuk kita, bukan? Aku masih tetap mencintaimu meskipun sekarang tubuh kita tertukar," Cherika tersenyum.
"Ya, kita hadapi ini bersama."
"Ini tidak akan sulit, sebelumnya kita juga bisa menghadapi ini."
_To Be Continued_
__ADS_1