Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Declaration Of Love


__ADS_3

"Apa berhasil?" tanya Alvis pada sepupunya yang baru datang itu.


"Berhasil," jawab Chandika langsung mendudukkan bokongnya di bangku sebelah Alvis.


"Terus?" tukas Alvis antusias, dia sangat ingin tahu ekpresi Jane saat ketahuan bohong. Padahal dia ingin ikut makan malam itu, tapi mana bisa.


"Terus..." ucap Chandika menggantung perkataannya.


"Apa?"


"A—"


"Kyaaaaa!"


"Chandika!"


Seketika pelipis Alvis berkedut melihat banyak perempuan yang tiba-tiba saja berkerumun di mejanya dan Chandika.


"Aku sudah dengar beritanya loh..."


"Senang banget deh Chandika nggak jadi menikah dengan penyihir macam Jane."


"Aku juga sudah dengar jika Jane sudah hamil duluan."


"Apakah kita pacaran lagi?"


"Ayo kita pacaran lagi."


"Aku mau kok jadi yang ke dua.


"Aku jadi yang ke tiga.


"Aku ke empat."


Berita tentang batalnya pernikahan Chandika dengan Jane sudah tersebar, para mantan pacar Chandika sangat bergembira. Lihat saja, mereka ingin berpacaran kembali dengan Chandika.


'Apa lagi ini? Apa yang Cherika sudah perbuat? Apa sebelumnya aku berpacaran dengan mereka?' batin Chandika dengan alis yang mengerut.


"Kalian menjauhlah dariku, aku memang batal menikah dengan Jane. Tapi aku akan menikah dengan gadis lain," kata Chandika dingin.


Bagai tersambar petir para perempuan yang tadinya berisik kini menjadi diam seketika. Kegembiraan mereka sirna dalam sekejap.


"Ck, kalian tuli! Sana pergi!" bentak Alvis yang juga terganggu dengan kehadiran para perempuan itu.


Para perempuan itu pun pergi dengan berjalan gontai. Mereka patah hati yang ke dua kalinya.


"Apa aku sebelumnya memang berpacaran dengan mereka?" tanya Chandika memastikan.


"Ya, bukan hanya mereka, tapi hampir setengah cewek di BSJ lo pacari," jelas Alvis.


"A-apa?!"


Chandika terlonjak dari tempat duduknya. Dia sangat terkejut. Kenapa gadisnya itu menjadikannya playboy?


**

__ADS_1


Gadis yang menjadi sumber masalah,  yang menjadikan Chandika seorang playboy. Kini justru tengah terduduk santai dengan bersenandung dia. Di telinganya terpasang earphone yang mengalunkan lagu-lagu kesukaan.


"Bos," panggil Ignancio yang duduk di sebelahnya.


Cherika bergeming, dia tidak mendengar panggilan itu.


Ignancio menepuk bahu Cherika, Gadis itu menatap Ignancio.


"Bos, ada yang ingin berbicara sama lo," kata Ignancio.


Si gadis belo mengangkat alisnya tidak mengerti.


Ignancio yang kesal langsung melepas earphone Cherika. "Ada yang ingin berbicara sama lo," katanya sekali lagi dengan gregetan.


"Hais, siapa?"


"Itu cowok yang berdiri sebelah lo," tunjuk Ignancio.


Cherika langsung menengok ke samping dan benar saja, ada seorang cowok yang entah sejak kapan sudah berada di situ.


"Lo mau ngomong sama gue?" tanya Cherika heran. Apa laki-laki itu ingin bergabung dengan geng Aodra miliknya? Jika iya dia sedang tidak membuka lowongan.


"Bisa bicara sebentar?" tukas laki-laki berbadan tinggi itu.


"Bicara saja."


"Tidak di sini," kata laki-laki itu melihat Ignancio yang sedang mencuri dengar.


"Memangnya kenapa?" tanya Cherika bingung.


"Oke," jawab Cherika manggut-manggut.


Cherika mengikuti si pemuda berbadan tinggi itu. Dia memang tidak mengenal pemuda itu, tadi dia pernah melihat Aland pernah bermain basket dengannya, mungkin pemuda itu adalah salah satu anggota tim basket sekolah. Pantas saja badannya sangat tinggi, Chandika yang memiliki tinggi badan 1,79m saja masih kalah tinggi. Kira-kira tinggi pemuda itu mencapai 1,83m.


Langkah pemuda itu berhenti di belakang sekolah, di taman sekolah yang cukup asri.


"Mau bicara apa?" tanya Cherika tanpa basa-basi.


Pemuda itu menatap Cherika tepat di ke dua bola mata cokelat gadis itu. "Gue suka sama lo, ayo kita pacaran," kata pemuda itu dengan keberanian yang sudah terkumpul.


Cherika tercengang seketika, dia tidak menyangka akan mendapatkan peryataan cinta. Padahal dia cukup lega karena Ludhe sudah menyerah dan tidak menyatakan cinta padanya lagi.


Apakah ini hal biasa yang Ignancio katakan? Hal biasa ditembak laki-laki? Apakah ini efek dari kepopuleran yang mendadak itu? Ini pasti ulah Chandika!


Cherika menghembuskan napasnya berat. "Maaf, gue sudah punya pacar."


Jadi malu sendiri karena mengaku sudah punya pacar. Tapi dia kan memang sudah memiliki Chandika yang super imut.


"Punya pacar? Lo berbohong kan?" tanya pemuda itu tidak percaya.


"Beneran kok, bahkan gue akan segera menikah," jawab Cherika jujur.


"Jangan bercanda!"


BRAK

__ADS_1


Pemuda itu tahu-tahu mendorong badan Cherika hingga terbentur pohon, "Bagaimanapun caranya lo harus jadi pacar gue," kata pemuda itu dengan intimidasi.


Cherika hanya diam tanpa ekspresi. "Singkirkan tangan lo," ucap Cherika dengan menepis tangan pemuda yang ingin memegang pipinya.


"Cih, jangan jual mahal. Gue tahu kok, lo itu cuman cewek nakal yang hanya bergaul dengan banyak laki-laki," kata pemuda itu memandang rendah Cherika. "Dasar cewek tomboy yang sok kecantikan."


Habis sudah kesabaran Cherika.


Bug


Bug


"Argh!"


Dengan menendang tubuh bagian bawah pemuda itu dan memukul dengan kencang tengkuknya. "Jaga perkataan lo!"


Pemuda itu terkulai di rerumputan, Cherika menendang perut pemuda itu berkali-kali.


"A-ampun..." rintih pemuda yang menjadi samsak itu.


"Dasar orang menjijikan," gumam Cherika dengan suara yang dingin dan menusuk. "Tomboy? Yes, I am. Problem?"


**


Jam pulang sekolah.


"Cheri, lo habis memukuli anggota tim basket?" tanya Aland pada adik perempuannya saat di area parkir.


"Kalau bisa gue mau membunuhnya," jawab Cherika dengan mood yang masih sangat buruk.


"Aih, gue kira lo sudah tobat mukulin orang," ucap Aland mengeryit.


"Gue nggak asal mukul, temen lo itu memang pantas untuk dipukul," kata Cherika sinis.


Aland hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, adik perempuannya itu memang tidak mungkin memukul orang tanpa alasan.


"Bang Aland mending tanya saja ke cowok itu, alasan kenapa gue memukuli dia," kata Cherika sambil memakai helm full face miliknya.


Aland mengangguk. "Lo mau langsung pulang?"


"Ya."


"Yasudah hati-hati, bang Aland masih harus latihan basket."


Cherika memutar bola matanya. "Latihan basket mulu, menang lomba saja nggak," kata Cherika meledek.


"Suka benar lo kalau ngomong," ucap Aland tertawa kikuk.


"Ok deh, Cheri mau cabut dulu," kata Cherika langsung menunggangi kuda besinya dan berlalu meninggalkan Aland.


Terik matahari yang menyengat dihiraukan Cherika. Motor sport merahnya meliuk-liuk di jalanan yang dipenuhi mobil-mobil pribadi dan motor lainnya, ini sudah terbiasa baginya, setiap hari dia selalu disuguhkan pemandangan kota Jakarta yang padat.


Ketika Cherika hampir sampai ke rumahnya, dia melihat ada 3 mobil hitam dan banyak laki-laki berbadan kekar berbaris di depan gerbang rumahnya. Bahkan para tetangga juga  berkumpul karena penasaran.


"Siapa mereka?" gumam Cherika terheran-heran tapi tidak ada rasa takut di dalam dirinya.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2