
"Jadi kamu sudah melanggar janjimu?" sengit Agust menatap Chandika yang terduduk di sofa, di sebelah Chandika ada Cherika yang juga terduduk.
"Ma-maafkan aku," ucap Chandika menunduk takut, dia takut jika dipecat jadi adik ipar. Ya, dia memang sudah melanggar janji untuk tidak membuat Cherika hamil.
"Sudahlah, bang Agust. Cheri yang ingin mempunyai bayi, jadi Chandika tidak bersalah," bela Cherika.
Agust memegang pelipisnya yang mendadak pening, dia baru tahu kalau adik perempuannya yang menginginkan hamil, jika Cherika berkata seperti itu dia jadi tidak bisa menyalahkan Chandika.
"Tapi bagaimana dengan masa depan kamu, Cheri? Sekolahmu? Dan masa muda kamu? Kamu seharusnya masih bermain dengan teman-teman kamu, kamu masih terlalu muda untuk menjadi ibu," kata Agus menatap Cherika dengan rumit.
"Masa muda aku akan baik-baik saja, aku bisa home schooling dan juga masih bisa bermain dengan teman-temanku, aku bahagia kok," jelas Cherika dengan sungguh-sungguh.
Agust menatap adik perempuannya itu, sangat jelas jika Cherika terlihat bahagia. Sejatinya Agust hanya khawatir saja dengan Cherika.
"Bang Agust tidak perlu khawatir," sambung Cherika dengan senyum meyakinkan.
Si pemuda berkulit putih menghela napas, "Ya."
"Jadi apa aku tidak jadi dipecat jadi adik ipar?" tanya Chandika masih was-was.
"Mana mungkin aku memecat kamu setelah menghamili Cherika," sengit Agust pada Chandika, dia masih terlihat kesal dengan Chandika.
"Syukurlah," ucap Chandika tersenyum lega.
Cherika bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Agust, "Terima kasih karena bang Agust begitu menyayangi aku, dan selalu melindungiku dalam keadaan takut sejak dulu."
Agust membalas pelukan Cherika dan tersenyum, "Itukah tugas seorang kakak."
"Hei, hei, kami juga ingin di peluk," celetuk Nathan dengan cemberut.
Cherika melepas pelukannya pada Agust dan memeluk ke 4 kakak laki-lakinya yang lain secara bergantian.
"Kami akan selalu mendukung dan membantumu, Cheri," ucap Malvin.
"Bilang saja pada kami jika Chandika menyakiti lo, terkadang menjadi kakak laki-laki lebih baik dari superhero," Aland terkekeh, sejatinya dia begitu terharu karena sang adik sudah jauh lebih dewasa. Cherika yang tomboy dan bar-bar kini sudah menjadi seorang istri dan calon ibu.
"Jagalah kesehatanmu, jagalah nutrisi makananmu, karena pertumbuhan bayi tergantung pada kesehatan masa-masa kehamilan. Aku senang karena sebentar lagi akan mempunyai keponakan," ucap Guinendra seraya mengelus surai hitam Cherika.
"Kami selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu, karena kamu adalah adik perempuan kesayangan kami," tukas Ganendra tersenyum tulus.
"Kalian adalah kakak laki-laki terhebat yang pernah ada, terima kasih, abang-abangku," ucap Cherika dengan berkaca-kaca, dia juga begitu menyayangi saudaranya.
Chandika tersenyum melihat interaksi ke 7 bersaudara itu, dia yang anak tunggal memang tidak pernah merasakan bagaimana memiliki saudara.
__ADS_1
**
Setelah bertemu para kakak ipar, Chandika membawa Cherika ke suatu tempat, dia menutup ke dua mata Cherika dengan kain berwarna hitam.
"Kita mau ke mana, Dika?" tanya Cherika dengan rasa penasaran.
"Aku akan memberimu kejutan," jawab Chandika yang sedang fokus menyetir.
"Benarkah?" Cherika terlihat senang.
"Ya, sayang," jawab Chandika seraya menggenggam tangan Cherika dengan tangan kirinya.
"Aku jadi tidak sabar," kata Cherika senyam-senyum membayangkan apa kejutan yang Chandika berikan.
"Sabarlah," Chandika terkekeh.
Chandika menghentikan mobilnya, dia keluar dan membantu Cherika untuk keluar dari mobil. Kemudia dia membimbing Cherika untuk berjalan.
Cherika jadi deng-dengan karena menanti kejutan apa yang akan diberikan Chandika. Dia benar-benar tidak sabar untuk mengetahuinya.
"Kita sampai," kata Chandika yang menghentikan langkahnya dan Cherika.
"Sampai di mana?" tanya Cherika bingung.
Chandika membuka ikatan kain hitam yang menutup mata Cherika.
"Rumah kita."
Kejutan yang Chandika berikan adalah sebuah rumah dengan perpaduan yang indah antara warna kayu dan cat dinding putih kelabu tua. Rumah yang terlihat elegan dan glamor yang terpancarkan dari kaca besar di sudut rumah. Belum lagi halaman rumah yang luas, terdapat bunga warna-warni yang sangat indah.
"Aku membeli ini dengan hasil kerjaku sendiri, aku ingin keluarga kecil kita tinggal di rumah ini," sambung Chandika dengan tersenyum.
"Terima kasih, aku sangat menyukai rumah ini," ucap Cherika segera menghambur ke pelukan sang suami. Dia tidak menyangka jika kejutan yang Dika-nya maksud adalah rumah impian yang begitu indah. Rumah yang akan menjadi tempat berbagi kehangatan, mencurahkan kasih sayang, dan tempat membesarkan monster-monster kecil.
"Bagus jika kamu menyukainya, ayo kita masuk ke dalam," ucap Chandika seraya menarik tangan Cherika.
"Ya."
**
"Kalian akan pindah sekarang?" tanya Jauzan pada anak dan menantunya.
"Ya, papi, kami akan belajar hidup mandiri," jawab Chandika yang memasukan beberapa koper pada bagasi mobil.
__ADS_1
"Kamu tega meninggalkan mami, Chan," kata Aminta dengan menangis bombay, dia tidak menyangka jika putranya yang manja akan berpisah dengannya, meskipun hanya pisah rumah.
"Hais, aku tidak meninggalkan mami, aku hanya pindah rumah," ucap Chandika setelah menutup kembali bagasi mobilnya, dia mendekati Aminta.
"Sama saja," kilah Aminta.
"Sudahlah, istriku. Biarkan Chan dan Cherika hidup mandiri, mereka memang sudah saatnya mengurus rumah tangga sendiri," tukas Jauzan mengelus punggung sang istri untuk menenangkan.
"Kami akan sering-sering main ke sini. Mami tenang saja, ya," kata Cherika ikut menenangkan Aminta.
"Kalian janji akan sering main ke sini?" tanya Aminta menuntut.
"Ya, kami berjanji," jawab Cherika tersenyum meyakinkan.
"Kita juga bisa main ke rumah mereka, istriku. Rumah mereka tidak jauh dari sini," timpal Jauzan.
"Ya, mami tidak usah sedih lagi," kata Chandika.
Aminta mengangguk, "Baiklah."
"Jaga cucu mami dengan baik," sambung Aminta dengan mengelus perut Cherika.
"Itu sudah pasti," jawab Chandika dengan sungguh-sungguh.
Ya, Chandika pasti melakukan itu. Dia pun rela mempertaruhkan nyawanya untuk menjaga istri dan anaknya.
Setelah berharu ria, pasangan muda itu menaiki mobil dan berlalu untuk ke rumah baru mereka.
"Kamu tidak sedih?" tanya Cherika memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Sedih? Kenapa harus sedih?"
"Si anak mami pasti akan sedih saat berjauhan dengan orang tuanya," kata Cherika terkekeh, dia berniat meledek Chandika.
"Aku kan bukan anak mami lagi," ucap Chandika dengan merengut.
"Tapi kamu masih terlihat imut," kata Cherika dengan menarik pipi Chandika, mencubitnya.
"Aduh, jangan seperti itu," kilah Chandika mengelus pipinya.
Cherika tertawa karena respon Chandika, sedangkan Chandika tersenyum melihat istrinya.
"Aku akan mempertahankan tawa itu untuk selama-lamanya, aku berjanji tidak akan membuatmu menderita dan menangis."
__ADS_1
"Bahagiaku itu sederhana, aku akan bahagia bila kita selalu bersama."
_To Be Continued_