Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
We Miss You


__ADS_3

Pagi hari yang berawan, langit tertutup sepenuhnya dengan awan kelabu, rintik air tiba-tiba berjatuhan dan menjadi deras, semua orang serempak berlari mencari tempat perlindungan, payung warna-warni kini menjadi seperti bunga yang menghias jalan yang masih padat meskipun sedang hujan deras.


Mendung, dingin, dan kelabu, seperti suasana hati pemuda yang sedang duduk di sebelah brankar pasien rumah sakit, mata hitam kelamnya yang terlihat sendu tidak pernah lepas dari wajah pucat perempuan yang tertidur.


Cklek


"Lo kenapa masih berada di sini?" tanya Nathan yang baru saja datang dari balik pintu, lengan jaket jeans miliknya digulung karena basah terkena hujan, dan dia mengacak rambutnya yang sedikit basah.


"Gue ingin menjaganya," jawab Chandika masih menatap dalam wajah Cherika.


"Lo bukannya harus sekolah, ya? Gue lagi nggak ada kelas, biar gue aja yang menjaga Cherika," kata Nathan yang sudah berdiri di sebelahnya Chandika, dia tidak tahu ada hubungan apa di antar mereka berdua. Niat awal ingin menjadi makcomblang untuk adiknya dan si putra tunggal kaya raya, tapi sepertinya mereka berdua memang sudah mempunyai hubungan terlebih dahulu, padahal setahunya Cherika tidak pernah mempunyai hubungan sedekat itu dengan laki-laki.


Chandika hanya diam saja, malas untuk menjawab.


BUG


Sebuah kepalan tinju mendarat di atas kepala Chandika, seketika pemuda itu menatap marah Nathan.


"Sebenarnya gue sudah ingin nonjok lo saat tahu jika Cherika tertembak karena menolong lo, tapi gue paham dengan sifat Cherika yang kelewat baik, dia tidak akan tinggal diam saat melihat lo yang ingin tertembak. Oleh karena itu, gue nggak bisa menyalakan lo," kata Nathan yang membuat Chandika tertegun.


Dia tahu jika yang di maksud Nathan adalah sifat asli dirinya saat menjadi Cherika dulu, dia tidak menyangka kalau kakaknya sangat memahami dirinya, jika tubuh dia dan Chandika tidak tertukar, diapun juga akan melakukan hal yang sama untuk menolong Chandika.


Setetes air mata keluar tanpa sadar.


"Eh buset, kok lo nangis sih? Pukulan gue kenceng banget emang? Oh iya, kepala lo pasti terbuat dari berlian yang sangat berharga, bukan? Gue nggak akan kena kompensasi, kan?" tanya Nathan bertubi-tubi karena panik.


"Gue nggak kenapa-kenapa, bodoh," kata Chandika tersenyum tipis.


"Ah, syukurlah," ucap Nathan sambil menghela napas. "Mendingan sekarang lo pulang dan istirahat saja," sambung Nathan.


"Nggak, gue di sini aja. Nanti siang Cherika sudah ingin di bawa ke Singapura, gue hanya ingin melihatnya lebih lama lagi," kata Chandika.


"Setelah Cherika berada di Singapura, lo juga bisa melihatnya kok, bukan hal yang sulit bagi lo untuk bolak-balik ke luar negeri dengan jet pribadi."


"Lo benar," ucap Chandika dengan wajah berseri. Ya, kenapa dia baru ingat jika sekarang sudah menjadi seorang billionaire.

__ADS_1


Nathan hanya sweatdrop melihat respon pemuda itu.


Cklek


Suara pintu terbuka dan beberapa orang muncul mengalihkan pandangan Chandika dan Nathan.


"Kami datang untuk menjenguk Cherika," kata Brian pemuda berlesung pipi.


Nathan hanya mengangguk. Namun, Chandika tidak perduli dan langsung bangkit dari duduknya yang tadi di sebelah ranjang dan langsung tiduran di sofa. Dia memang belum tidur sejak semalam.


Chandika tidak menyadari tatapan sengit dari sepasang mata biru.


"Kalian nggak sekolah?" tanya Nathan melihat ke enam orang yang baru datang itu.


"Kami buru-buru datang ke rumah sakit ketika mendapat kabar kalau Cherika tertembak, kami ingin menjenguk Cherika sebelum dia ke Singapura," kata Ludhe si pemuda blaster.


"Nggak Chandika, nggak kalian, kerjanya hanya bolos saja, benar-benar anak zaman sekarang," kata Nathan menggeleng, Chandika yang namanya disebut sudah pulas tertidur di sofa.


Ke enam orang itu hanya cengengesan dan langsung mendekat ke ranjang di tengah-tengah ruangan.


"Gue yang melihat lo menangis saja sangat tidak tega, apalagi melihat lo yang tidak sadarkan diri seperti ini, hiks.." ucap Adam yang tidak sanggup menahan tangisnya. "Semoga Tuhan menjaga senyum lo agar tetap cerah seperti biasanya. Semoga cepat sembuh," lanjut Adam sambil menghapus air matanya.


"Jangan sakit lama-lama. Inget lo jomblo nggak ada yang beliin obat," kata Brian dengan mata yang tidak kalah sembab dari Ignancio.


"Gue mendengar tentang lo yang tertembak semalam dan gue ingin memberi tahu lo bahwa gue merindukan lo dan berharap lo cepat sembuh. Maafkan gue yang selama ini sudah mengganggu lo terus. Gue hanya iri dengan lo, sejujurnya gue ingin bisa berteman dengan lo, tapi lo seakan menjauh dari gue dan itu membuat gue semakin kesal," kata Icha, gadis dengan make up tebal. "Cepat sembuh ya, Cherika. Kalau sudah sembuh, kita bisa mulai menjadi teman, hiks.." lanjut Icha dengan tangisan yang tidak bisa dia tahan lagi.


"Sama seperti Icha, gue juga minta maaf ke lo, Cher," sambung Clara, perempuan rambut bergelombang.


"Kami semua mengkhawatirkanmu. Kami semua sangat merindukanmu. Tolong, cepat sembuh," kata Ludhe dengan meletakan bouquet bunga di meja.


**


British School Jakarta.


Bel istirahat baru saja berbunyi, semua murid sudah berbondong-bondong ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah kroncong.

__ADS_1


[Seputar Info kembali hadir di sela-sela aktivitas Anda, bersama saya Vano Anggaran yang akan memberikan berita-berita terbaru dan teraktual.]


[Pemirsa, Pengusaha terkaya nomor dua di dunia adalah seorang pelaku tindakan kriminal, pelaku dengan inisial ARA sudah tewas di kediamannya.]


"Eh liat, itu bukannya bokapnya Alvis?"


"Wah gila sih."


"Gue nggak nyangka."


Berita yang disiarkan pada televisi yang terpasang di kantin membuat seantero BSJ terkejut.


[Kemarin, pukul 12.00 malam. Kediaman pengusaha itu telah di sergap Intel polisi, tindakan kriminalitas baru-baru ini terungkap, pelaku telah melakukan rencana pembunuhan pada 10 tahun yang lalu pada putra tunggal Aldebaron, bahkan pelaku melakukan menganiayaan pada kedua anak dan istrinya.]


"Parah sih.


"Itu si beneran psikopat."


"Pantas gue sering liat luka-luka di badan Alvis."


"Waktu itu gue juga pernah liat punggung dia berdarah banyak banget."


"Kasihan banget Alvis gue yang malang."


"Bokapnya Alvis ingin membunuh Chandika?"


"Padahal Alvis sama Chandika deket banget, kayak pasangan homo."


"Sialan lo, Chandika itu pacar gue!"


Isi dari berita itu hanyalah settingan yang di lakukan media untuk menutup kejadaian yang sebenarnya, peristiwa tertembaknya Cherika juga menjadi rahasia, karena pihak keluarga tidak mau jika Cherika di liput media. Dan itu semua karena kekuasaan dari Aldebaron, uang memang dapat mengatur segalanya.


Berita tentang kematian dan tindakan kriminal Alvin menjadi trending di seluruh dunia, pasalnya keluarga Adhideva sangatlah berperan di perkembangan ekonomi duni, dan salah satu panutan pebisnis lainnya.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2