Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Happiness For Him


__ADS_3

Matahari sudah mulai menampakkan dirinya, awan kelabu yang sebelumnya berkumpul dan memuntahkan air hujan kini sudah tidak ada lagi. Kupu-kupu warna-warni berterbangan dan hinggap di bunga yang terdapat tetasan air.


Kedua orang anak muda sedang duduk di kursi taman di kediaman Aldebaron, taman yang asri dan bau khas tanah basah sehabis hujan sangat jelas tercium.


"Apa apa?" tanya Chandika memecah keheningan, dia jenuh karena gadis blaster yang duduk di sebelahnya sejak tadi diam saja.


Chandika sudah mandi dan mengganti pakaian basahnya dengan mengenakan celana chino hitam, kaus putih polos serta cardigan cokelat, yang menunjang penampilan kasualnya. Niatnya memang ingin langsung pergi ke rumah sakit, tapi Jane meminta berbicara berdua dengannya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Jane, dia gatal ingin bertanya mengapa wajah ganteng pemuda di depannya ini dipenuhi dengan luka, pelipisnya juga di plester.


"Gue selalu baik," jawab Chandika dengan mengeryit, sejak kapan Jane mengganti aksen bicaranya menjadi 'aku-kamu'.


"Tapi kamu nggak terlihat baik," kata Jane dengan raut khawatir.


"Tapi memang gue baik-baik saja, jangan sok tahu," ucap Chandika ketus. Entah kenapa dia semakin tidak suka dengan Jane.


Gadis blaster itu langsung mengunci rapat mulutnya kembali.


"Lo cuman pengen ngomong itu doang?" tanya Chandika dengan datar, gadis di depannya sudah membuang waktu berharganya.


Jane langsung menarik napas. "Kakek meminta aku untuk bertunangan dengan kamu," kata gadis blaster dengan satu tarikan napas.


"Hah? Tunangan?" tanya Chandika tidak percaya.


"Ya, itu permintaan Kakek Aldebaron," jawab Jane dengan cepet.


'Maksudnya kakek Chandika? Gue nggak pernah diberi ingatan tentang kakek Aldebaron, seperti apa orangnya? Apakah ini semacam perjodohan bisnis?' batin pemuda itu dengan berbagai macam pertanyaan.


"Lo tinggal menolaknya. Lo bukannya jijik sama gue, hmm?" tanya Chandika kemudian. Namun, dia tidak menyadari jika pertanyaan itu membuat hati gadis blaster sesak.


"Apa kamu lupa dengan pengakuanku di lapangan tempo hari?" tanya Jane dengan tatapan sendu.


"Oh, gue baru ingat," jawab Chandika dengan wajah yang tidak perduli, dia memang lupa akan pengakuan Jane yang menurutnya tidak terlalu penting itu.


"Jadi aku tidak akan pernah menolak pertunangan ini," kata Jane yang membuat Chandika tertegun.


Dia berpikir jika ini adalah kesempatan untuk Chandika asli agar bisa meraih cinta sejak kecilnya.

__ADS_1


"Kamu bersedia bertunangan denganku?" tanya Jane kemudian. "Aku akan memperbaiki semua. Aku.. aku mencintaimu Chandika," ucap Jane dengan lelehan air mata.


Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, dia tahu dan sangat tahu jika Chandika asli masih sangat mencintai Jane, pemuda itu sangat sulit untuk melupakan Jane. Katakanlah bahwa cinta itu memang buta, dan kata Agnes cinta itu tidak ada logika.


"Ya, aku bersedia," kata pemuda itu pada akhirnya, entah kenapa hatinya sangat sakit, sejujurnya dia sangat tidak rela jika Chandika bersama dengan Jane, tapi dia tidak boleh egois. Ini demi kebahagiaan Chandika asli yang telah rela berkorban untuk dirinya.


"Terima kasih," kata Jane dan langsung memeluk Chandika.


Pemuda itu hanya diam saja, ingin rasanya dia mendorong Jane karena berani memeluk dirinya, dia tidak suka itu. Tapi, dia menahan itu semua, hatinya tiba-tiba sesak dan seketika dia mengeluarkan air mata.


'Gue sudah melakukan hal yang benar, bukan?' tanya pemuda di dalam hati.


**


Jam menunjukan pukul 13.00 siang.


Chandika kini sudah kembali ke rumah sakit, dia kini sedang duduk di sebelah gadis yang masih betah menutup mata, tangan putihnya mengusap pipi Cherika yang pucat.


"Hei, gue membawa kabar gembira, lo akan segera bertunangan  dengan Jane, cewek yang selama ini lo cintai. Cepatlah bangun, jika kita sudah bisa kembali ke tubuh masing-masing pasti lo akan merasa senang," ucap Chandika dengan mencoba tersenyum.


"Sebenarnya gue nggak rela lo bersama Jane," lanjut Chandika mengatakan isi hatinya. "Sejujurnya gue menyukai lo, mungkin sejak gue melihat wajah super ganteng milik lo ini," katanya sambil tertawa pelan.


"Ditambah lagi sifat asli lo yang menurut gue sangat imut itu," sambungnya masih betah mengelus pipi si gadis. "Tapi, gue nggak boleh egois, yang lo cintai itu cewek lain," katanya tersenyum pahit.


"Jadi gue akan mengalah demi kebahagiaan lo, Chandika," sambungnya dan mencium kedua pipi si putri tidur.


Mungkin benar, salah satu bentuk dari mencintai adalah merelakan dia bahagia bersama orang lain.


**


Di atap rumah sakit, sebuah helikopter mendarat, angin kencang menerpa rambut hitam legam seorang pemuda. Mata hitam Chandika menatap Cherika yang berada di brankar dorong dan akan di masuk ke dalam helikopter.


"Chan, percaya dengan papi," kata Jauzan dengan menepuk pelan kepala Chandika. "Papi akan mengusahkan hal yang terbaik untuk gadismu."


"Ya, papi," ucap Chandika mengganguk. "Tapi, Cherika bukan gadisku."


"Kamu tidak usah malu-malu, Chan," kata Jauzan sedikit terkikik geli karena mengira putranya malu mengaku padanya.

__ADS_1


"Memang bukan, lagi pula aku akan bertunangan dengan Jane," ucap Chandika yang membuat Jauzan terkejut.


"Apa? bertunangan? Bagaimana bisa?" tanya Jauzan dengan heran, pasalnya dirinya yang selaku ayah dari si pemuda saja tidak tahu akan hal itu.


"Papi tidak tahu?" tanya Chandika bingung dengan reaksi sang Ayah. "Kakek yang menyuruh agar aku dan Jane bertunangan."


Seketika rahang Jauzan mengeras.


"Kamu bisa menolaknya jika mau. Dia tidak bisa mengaturmu seperti dia mengatur papi dulu, papi akan membicarakan ini pada beliau," kata Jauzan dengan menatap putranya.


Dulu, hidup Jauzan juga selalu diatur oleh Ayahnya, bahkan pernikahannya dengan Aminta terjadi karena perjodohan yang sudah di atur. Namun, sekarang dia sangat mencintai istrinya.


Jauzan berharap jika putranya tidak mengalami hal serupa dengan yang di alaminya dulu, dia hanya ingin Chandika bebas untuk memilih kebahagiaannya sendiri.


"Tidak usah, lagi pula aku memang mencintai Jane," ucap Chandika dengan wajah pias.


"Kamu masih mencinta gadis itu?" tanya Jauzan tidak percaya, dia kira putranya sudah melupakan gadis blaster. "Papi kira kamu menyukai Cherika."


"Aku tidak menyukai Cherika," jawab Chandika tersenyum pahit, dia merasa jika dirinya sendiri yang mengalami menolak itu.


"Yasudah, hidup ini adalah pilihan yang kamu putuskan sendiri, orang tua akan selalu mendukung jika memang itu baik," kata Jauzan sambil mengacak pekan rambut hitam putra tunggalnya. "Mungkin kamu melupakan satu hal terpenting, papi selalu di belakangmu. Jangan takut melangkah, jangan takut jatuh, karena papi akan senantiasa menjaga dan melindungimu."


Chandika menatap haru Jauzan, ini kali pertama dia mendapatkan ucapan tulus dari seorang ayah. Beruntung sekali dia bisa bertukar posisi seperti ini, dan dapat merasakan limpahan kasih sayang ini.


"Terima kasih, papi," ucap Chandika dengan tersenyum.


"Ya, boy. Papi berangkat dulu kalau begitu," kata Jauzan dan langsung berbalik untuk menaiki helikopter.


Chandika hanya menatap baling-baling besar yang mulai berputar horizontal, sehingga helikopter terangkat ke atas dan meninggalkan atap rumah sakit.


"Chan?" panggil Alvis yang duduk di kursi roda di sebelah Chandika, yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan anak dan orang tua itu.


"Ya."


"Siapa sebenarnya Cherika?"


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2