Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Alvis & Alice


__ADS_3

Lamaran pernikahan merupakan acara yang dinantikan oleh calon pengantin beserta keluarganya. Pada saat inilah, pihak keluarga Aldebaron secara resmi meminang Cerika untuk memasuki jenjang pernikahan. Biasanya, acara lamaran dilakukan sekitar tiga hingga enam bulan sebelum hari pernikahan diadakan. Namun, berbeda dengan Chandika yang ingin langsung menikah besok.


Chandika sedang menyematkan cincin permata tanzanite, batu permata berwarna berkisar di antara biru dan ungu. Tanzanite merupakan simbol cinta dan kelahiran bulan Desember, dipercaya memiliki kekuatan untuk mengubah energi negatif menjadi positif. Cherika memang lahir pada 27 Desember.


"Cincin ini lebih dari sekadar perhiasan. Ini adalah bagian dari hatiku, bagian dari jiwaku... diberikan kepadamu karena itu bukan milik orang lain selain kamu. Maukah kamu menikah denganku?" kata Chandika setelah menyematkan cincin pada jari manis sebelah kiri Cherika.


'Bahkan sebelum ini pun jiwaku sudah aku berikan padamu,' batin Chandika melanjutkan.


"Ya aku mau," jawab Cherika dengan haru.


Semuanya pun bertepuk tangan. Acara lamaran itu ditutup dengan sesi foto bersama.


"Cherika... Menantu mami," kata Aminta memeluk Cherika. "Kamu cantik sekali, pantas saja Chan dibuat klepek-klepek."


"Tapi, Cheri belum menikah dengan Dika, jadi belum menjadi menantu tante..." ucap Cherika kikuk.


"Sama saja kan, lagi pula besok kalian akan menikah. Panggil mami jangan tante," ujar Aminta melepas pelukannya. "Dika? Manis sekali panggilan kamu untuk Chan."


"Ya, mami," kata Cherika merona. Hatinya hangat seketika, akhirnya dia bisa memanggil Aminta dengan sebutan mami lagi.


"Ayo, istriku. Kita pulang," kata Jauzan pada Aminta. "Kami pulang dulu ya, Cherika," lanjut Jauzan pada Cherika.


"Ya, om."


"Panggil papi," kata Jauzan mengoreksi.


"Papi..." ucap Cherika mengulum senyum.


"Kalau begitu aku juga ingin dipanggil suami," celetuk Chandika yang membuat semuanya sweatdrop.


Cherika langsung merona, apa-apaan pemudanya itu?


"Ikut-ikutan saja kamu," ucap Jauzan mencibir sang putra. "Tunggu besok baru kamu bisa mendapatkan panggilan itu," lanjutnya.


Chandika merengut.


"Sudahlah, ayo kita segera pulang. Chandika dan Cherika harus istirahat setelah ini karena besok mereka akan segera melangsungkan pesta pernikahan," kata Albert mengingatkan.


"Tapi besok aku masih harus bersekolah," cicit Cherika. Ya, mau bagaimanapun dia masih harus sekolah, sebagai siswi beasiswa dia tidak bisa begitu saja melupakan kewajiban itu.


Seketika semua terdiam sesaat. Para kakak laki-laki Cherika langsung saling menatap. Mereka berpikir apakah Cherika masih bisa melanjutkan sekolahnya setelah menikah dengan Chandika? Apa adik mereka akan putus sekolah?


"Kamu tentang saja. Kakek sudah mengurus semuanya. Kakek bahkan sudah membeli sekolahmu untuk mempermudah kamu izin beberapa hari karena ingin menikah, dan setelahnya kamu juga masih bisa bersekolah di sana. Tidak usah memikirkan beasiswa lagi, sekolah itu sudah kakek beli atas nama kamu," jelas Albert tiba-tiba.


Para kakak laki-laki Cherika terkejut seketika, tidak terkecuali si gadis belo.


Sedangkan keluarga Aldebaron hanya tersenyum seakan itu adalah hal yang bisa bagi mereka.


"A-apa itu tidak berlebihan?" tukas Cherika tergagap.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, sayang," jawab Chandika tanpa beban. "Nanti aku juga akan pindah sekolah."


"Pindah sekolah?"


"Ya, ke sekolah kamu."


Apa Chandika bercanda? Pemuda itu ingin pindah dari sekolah elit ke sekolah bisa?


Setelahnya keluarga Aldebaron segera berpamitan kembali dan berlalu.


"Ck, ck, gila sih, gue nggak nyangka jika Cherika kita akan menikah dengan keluarga berpengaruh seperti keluarga Aldebaron," kata Malvin berdecak tidak percaya.


"Kalau orang kaya sudah bucin benar-benar luar biasa mebagongkan," tambah Aland hiperbola.


"..."


**


Chandika baru sampai di kediaman Aldebaron. Di ruang tamu dia sudah di sambut oleh tatapan tajam dari sang sepupu—Alvis.


"Oh, ada Alvis dan Alice," kata Aminta menyambut senang ke dua keponakannya itu.


"Mami Aminta..." Alice langsung menghambur memeluk Aminta.


"Lama tidak bertemu, Alice," ucap Aminta membalas pelukan Alice.


"Papi tinggal ke ruang kerja dulu ya, ada hal yang harus papi kerjakan," kata Jauzan berlalu.


"Hati-hati, ayah," jawab Aminta setelah mengurai pelukan Alice.


"Assalamu'alaikum," pamit Albert berbalik pergi.


"Waalaikumsalam," jawab ke 4 orang bersamaan.


"Kenapa?" tanya Chandika pada Alvis yang sejak tadi menatapnya tajam.


"Jahat lo ya, ninggalin gue dan Alice," ketus Alvis.


"Lagian lama sih," jawab Chandika tanpa bersalah.


Alvis memang mengatakan jika dia akan ikut untuk melamar Cherika bersama adiknya, tapi Chandika meninggalkan mereka karena waktunya sudah sangat mepet.


"Jadi kalian datang kerena ingin ikut ke acara lamaran?" tanya Aminta yang baru tahu.


"Ya, mami Aminta. Ini kesalahan Alice yang terlalu lama berdandan jadinya kami terlambat," jawab Alice jujur.


"Maaf ya meninggalkan kalian," kata Aminta dengan rasa bersalah.


"Siapa suruh datang terlambat," Chandika bersedekap.

__ADS_1


"Bang Chan, jahat... Padahal Alice ingin lihat si calon pengantin," Alice cemberut.


"Parah banget sih, nggak ada berprikesepupuan lo," kata Alvis kesal. Padahal dia sudah sangat ganteng malam ini.


"Sudah, sudah.. besok kan kalian bisa melihat si calon pengantin. Besok Chandika dan Cherika akan langsung menikah," ujar Aminta mencoba mencairkan suasana.


"A-apa langsung menikah besok?" tanya Alvis tercekat, dia baru tahu akan hal itu. Sepupunya hanya bilang jika ingin melamar Cherika, dia tidak tahu perihal pernikahan ekspres itu.


"Kenapa buru-buru?" tanya Alice yang tidak kalah kaget.


"Tentu saja sudah tidak tahan," jawab Chandika ceplas-ceplos.


"Tidak tahan apa?" tanya Alice masih tidak mengerti.


"It—"


Alvis segera menutup mulut Chandika. Dia tidak mau Adiknya mendengar perkataan mesum dari sepupunya itu. Kepolosan Chandika memang sudah benar-benar tidak tersisa lagi, dia tidak mau jika Alice mengikuti jejak Chandika.


"Alice, ikut mami ke kamar saja yuk," ajak Aminta.


"Ya.." jawab Alice mengikuti Aminta menuju kamar.


"Ish, apa sih!?" seru Chandika tidak terima dan melepas paksa dekapan tangan Alvis di mulutnya. "Sana pulang!"


Pelipis Alvis berkedut mendengar nada pengusiran Chandika. "Gue mau menginap."


"Tidak boleh," tolak Chandika.


"Nggak teman lagi ya kita," ancam Alvis.


"Tidak apa-apa, sekarang aku sudah mempunyai Cherika. Jadi tidak membutuhkan kamu lagi," kata Chandika dengan songongnya.


"Sepupu sialan!" maki Alvis. "Pokoknya gue dan Alice akan menginap, biar nggak ditinggal lagi kayak tadi."


"Ya, terserah kamu saja," jawab Chandika karena tidak mau mempermasalahkan itu lagi.


"Berhubung lo akan menikah besok. Bagaimana jika kita mengadakan pesta bujang?" cetus Alvis kemudian.


"Pesta bujang?"


"Pesta semalam kebebasan sebelum lo menikah," jelas Alvis. "Gue akan mengundang inti geng Bruiser ke sini," tukas Alvis dengan seenaknya.


"Tidak, aku ingin tidur saja," tolak Chandika. Dia tidak punya waktu untuk melakukan pesta.


"Nggak seru banget sih," protes Alvis.


"Lebih baik kamu membuat pesta jomblo untuk dirimu aja, Alvis," celetuk Chandika yang sangat menohok itu.


"Kurang ajar!"

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2