
Dua hari sebelum hari pertunangan.
Di sebuah bangunan moderen, pusat perbelanjaan. Hiruk-pikuk orang berlalu lalang. Chandika berjalan dengan wajah malas. Jika bukan paksaan mami Aminta untuk menemani Jane berbelanja, dia tidak akan pernah mau, dia sangat benci keramaian. Meskipun dia adalah perempuan, hobinya bukanlah ngemall, tapi balapan motor.
Kata mami Aminta, dia tidak boleh mengabaikan Jane. Dia harus bertanggungjawab karena Jane adalah calon tunangannya.
"Chan, aku senang banget, ini seperti kencan," kata Jane yang bergelayut manja di lengannya.
"Ya," jawab Chandika. Sebenarnya dia sangatlah risih dengan Jane yang seperti perangko menempel padanya.
"Aku ingin membeli baju dan makeup," kata Jane berceloteh ria, tidak memperdulikan ekpresi Chandika yang tertekan.
"Terserah," gumam Chandika.
Jane langsung menarik Chandika menuju toko baju brand populer. Pemuda mullet hanya pasrah, dia hanya ingin ini cepat selesai dan kembali pulang ke rumah.
Sekarang sudah pukul 7 malam.
Chandika menunggu Jane yang sedang memilih baju yang menurut gadis itu bagus. Dengan iseng dia juga ikut melihat-lihat. Tatapan matanya tertuju pada jaket berwarna hijau botol dengan garis putih, bermerek Saint Lauren Teddy.
"Bagus juga," gumam Chandika. Dia langsung melihat harga dari jaket yang dia pegang. "32 juta?" ucapnya tidak percaya.
"Kakak ingin membelinya?" tanya seorang SPG pada Chandika.
"Tidak," jawab Chandika cepat, dia langsung mengembalikan jaket itu ke tempat semula.
"Loh kenapa, ka. Itu bagus loh, harganya saja murah," kata SPG itu sekali lagi, berniat menawarkan.
'Murah gundulmu,' batin Chandika.
SPG itu bilang murah karena melihat penampilan Chandika. Pemuda itu memakai jaket windbreaker dan celana bahan putih, simpel, tapi dia yakin harganya sangatlah mahal melebihi jaket itu.
"Maaf mbak, tapi saya tidak punya uang," kata Chandika yang membuat SPG membeo.
"Kakak bisa saja bercandanya," kata SPG tertawa, mana percaya dia.
"Mbak saya ingin membeli ini ya," tukas Jane yang tiba-tiba muncul. Dia menyerahkan beberapa baju yang sudah dia coba pada SPG.
"Baik, ka," kata SPG tersenyum ramah, dia menerima baju yang Jane ingin beli untuk membawanya ke kasir.
"Apakah kamu bosan?" tanya Jane pada Chandika.
'Ya, bosan sekali!' batin Chandika ingin berteriak.
"Biasa saja," jawabnya berbohong, dia mencoba menghargai perasaan Jane.
"Kalau begitu temani aku membeli sepatu," kata Jane antusias.
Chandika menatap Jane tidak percaya, dia kira penderitaannya akan berakhir di toko baju ini.
Jane menarik Chandika menuju kasir.
"Harganya 500 juta, ka," kata SPG yang tadi.
Chandika tercekat, tapi dia tutupi dengan wajah datarnya. 'Pemborosan banget nih cewek.'
Berbeda dengan Chandika, Jane hanya mengangguk dan mengeluarkan kartu kreditnya.
"Maaf, ka. Apakah ada kartu lain? Kartunya tidak bisa," ucap SPG mengembalikan kartu milik Jane.
__ADS_1
Jane mengeryit, dia langsung mengeluarkan kartu debit miliknya.
"Kartu ini juga tidak bisa, ka," kata SPG lagi.
Gadis blaster heran. Namun, dia baru menyadari perkataan Emily tempo hari. Jane langsung menggigit kukunya gusar, ancaman ibunya bukan bualan semata.
"Pakai ini saja," kata Chandika mengeluarkan kartu hitam miliknya.
"Tidak usah, Chan," ujar Jane merasa tidak enak. Pada akhirnya apakah dia akan meminta uang pada Chandika?
Chandika tidak menghiraukan penolakan Jane, dia hanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
SPG itu langsung menerima kartu hitam Chandika. 'Katanya nggak punya uang,' batin SPG sedikit geli. Matanya memang jeli saat menilai mana yang orang kaya dan bukan.
"Terima kasih, ka. Selamat datang kembali," kata SPG tersenyum setelah menyerahkan kartu milik Chandika dan belanjaan Jane.
"Hmm," Chandika hanya bergumam dan melangkah pergi dengan Jane yang memegang lengannya lagi.
"Chan, aku akan mengganti uangnya," kata Jane sungguh-sungguh.
"Ya," jawab Chandika singkat dan padat.
"Kita makan saja ya, aku tidak jadi membeli sepatu," kata Jane berubah pikiran, lagi pula dia tidak mungkin meminta Chandika untuk membayar belanjaannya lagi.
"Terserah saja," ucap Chandika.
"Aku ingin makan pizza," kata Jane. Mendadak dia ingin sekali memakan pizza.
Mereka berdua langsung memasuki restauran pizza di dalam mall. Duduk di bangku dekat jendela.
"Mau pesan apa?" tanya Jane pada pemuda yang duduk di hadapannya.
Jane mengangguk, dia memanggil pelayan dan memberitahu pesanan mereka, Jane memesan pizza berukuran sedang dan Lime Squash.
"Loh, pacar Cherika?" tanya seorang perempuan tiba-tiba berdiri di samping meja Chandika dan Jane.
Chandika langsung menatap perempuan itu, Icha. Si ratu bullying di sekolahnya dulu. "Icha?"
"Lo tahu nama gue?" tanya Icha senang karena pemuda yang dia kenali sebagai pacar Cherika tahu namanya. Tanpa di suruh gadis itu duduk di kursi kosong sebelah Chandika.
"Siapa lo? Main duduk saja," tukas Jane tidak suka dengan kehadiran perempuan makeup tebal seperti Jolie. "Siapa yang pacaran dengan Cherika?" tanya Jane memandang sengit.
Icha menatap Jane tidak kalah sengit, dia baru menyadari jika ada gadis lain yang sedang duduk bersama si pemuda mullet. Dia tadi kebetulan lewat dan melihat Chandika duduk di restauran pizza.
"Gue ini calon tunangan Chandika," lanjut Jane memperkenalkan diri. "Chandika bukan pacarnya Cherika."
Icha terkejut, dia pikir pemuda di sebelahnya itu adalah pacar Cherika."Ah, maaf gue nggak tahu," kata Icha tersenyum miring.
"Icha, kenapa lo meninggalkan gue sih??" kata Clara, gadis berambut bergelombang.
"Gue lagi menyapa orang ganteng," jawab Icha ceplas-ceplos.
"Pergi lo cabe busuk, jangan ganggu gue dan Chandika," kata Jane mengusir. Dia sangat kesal dengan Icha yang sudah mengganggu waktunya bersama pujaan hati.
"Slow aja sih," kata Icha menatap Jane sengit.
"Ck, berisik kalian," ucap Chandika yang sejak tadi diam. "Icha, jika lo ingin bergabung janganlah ribut."
"Ok," kata Icha. "Clara kita makan dulu di sini," lanjut Icha berbicara pada Clara.
__ADS_1
Clara mengangguk dan duduk di kursi kosong sebelah Jane.
Gagal sudah waktu dinner Jane dengan Chandika.
Pesanan Jane dan Chandika datang, Icha dan Clara segera memesan makan juga.
"Bagaimana keadaan Cherika?" tanya Icha pada Chandika, gadis itu tahu jika Cherika sedang di rawat di Singapura di bawah naungan keluarga pemuda di sampingnya.
"Masih dalam keadaan vegetatif," jawab Chandika datar.
Wajah Icha berubah sendu, dia sedih karena Cherika belum pulih juga, padahal dia berniat untuk berteman dengan Cherika.
"Hoek.." tiba-tiba Jane merasa mual.
"Kenapa?" tanya Chandika yang melihat Jane ingin memuntahkan isi perutnya.
"Aku ke kamar mandi dulu," ujar Jane segera pergi ke kamar mandi.
"Calon tunangan lo hamil?" celetuk Icha yang membuat Chandika terbatuk karena tersedak makanannya.
"Jangan ngadi-ngadi, Icha," kata Clara supaya Icha tidak berbicara macam-macam.
Icha hanya nyengir.
Chandika tidak terlalu ambil pusing perkataan Icha, dia melanjutkan acara makannya. Icha masih saja mencoba mengajaknya berbicara, tapi hanya dia tanggapi dengan gumaman.
"Chan, kita pulang saja, aku merasa tidak enak badan," kata Jane yang sudah kembali.
"Yahh, kok pulang sih," ucap Icha tidak suka karena Jane meminta pulang, padahal dia masih ingin bertanya tentang keadaan Cherika pada Chandika.
Chandika segera bangkit, dia memang sejak tadi ingin pulang.
"Gue pergi dulu, nanti pesanan kalian biar gue yang bayar," kata Chandika pada Icha dan Clara.
"Jadi enak kan," tawa Icha.
"Ayo, Chan," Jane langsung menarik lengan Chandika agar segera pergi.
"Sok banget sih tuh cewek," kata Clara sepeninggal Chandika dan Jane.
"Biarin saja, yang penting kita makan gratis hari ini."
**
"Persiapan sudah siap, tuan," kata pria bertato.
"Lakukanlah dengan bersih," ujar Ludhe dengan suara dalamnya.
"Baik, tuan," tukas pria lainnya patuh.
"Kalian pergilah," lanjut Ludhe memerintah. Ke dua pria berbadan besar itu langsung pergi menuruti tuan mereka.
Ludhe masih berdiri diam di jalan sempit yang minim penerangan itu.
"Maafkan saya jika dahulu pernah menolakmu. Saya akan menembusnya dengan rasa cinta di dunia ini, Cherika," gumam Ludhe dengan mendongak, menatap bulan yang tergantung di atas langit kelam.
"Saya akan melindungimu dari reinkarnasi Felix bagimanapun caranya."
"Cukup dengan dahulu dia menyakitimu, saya tidak mungkin membiarkannya pada kehidupan kedua ini."
__ADS_1
_To Be Continued_