Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Help Someone


__ADS_3

Pagi hari, di kediaman Aldebaron.


"Puas kamu ya, bocah. Sudah membuat istriku mengurung diri di dalam kamar," kata Jauzan sini memecahkan keheningan di antara ayah dan anak itu.


Chandika yang sedang menikmati sarapannya seketika melihat sang ayah yang menatapnya tajam. "Hais, papi seperti tidak pernah muda saja."


"Sembarang kamu, Chan. Tentu saja papi pernah muda," tukas Jauzan kesal.


"Jadi tidak masalah kan?"


"Dasar anak ini, bukan itu masalahnya. Gara-gara leher kamu yang bertanda merah, mami Aminta jadi mengurung diri di kamarnya, sekarang pun dia tidak datang untuk sarapan bersama," jelas Jauzan gregetan.


"Mami hanya shock saja. Lagipula mami harus belajar terbiasa, aku sebentar lagi kan akan menikah dengan Cherika, jadi mungkin akan ada yang lebih parah dari ini," kata Chandika tanpa beban.


"A-apa!?" pekik Jauzan mendengar perkataan putranya.


"Apanya yang apa?"


"Ja-jdi yang melakukannya Cherika?" tanya Jauzan tercekat.


"Tentu saja, memangnya siapa lagi?" tukas Chandika mengeryit.


"Haduh, kalian memang benar-benar sudah ngebet nikah ya," kata Jauzan dengan alis yang berkedut.


"Ya, kalau bisa hari ini aku mau menikah dengan Cherika," ujar Chandika dengan entengnya.


"Jangan gila kamu, Chan. Ingat urusan kamu dengan Jane belum selesai," kata Jauzan memperingati Chandika.


"Papi tenang saja."


"Lakukanlah sesukamu," kata Jauzan yang seakan pasrah. "Kakek mengajak kita makan makan untuk membahas pernikahan kamu dan Jane yang akan dipercepat."


"Kapan?" tanya Chandika dan meminum jus tomatnya.


"Besok."


"Ok."


'Sepertinya itu adalah waktu yang cocok untuk membongkar semuanya,' batin Chandika tersenyum tipis.


"Ngomong-ngomong tanda di leher kamu kenapa tiba-tiba menghilangkan?" tanya Jauzan terheran-heran.


"Oh, aku menutupinya."


"Bagaimana caranya?"


"Papi kepengin tahu banget sih."


"Ck, jangan pelit kamu sama papi. Beritahu caranya."


"Tanya saja pada Alvis," kata Chandika dan bangkit dari duduknya. "Chan berangkat sekolah dulu."


Jauzan mengangguk saat Chandika mencium tangannya. Dia menatap putranya yang berlalu.


"Alvis? Anak dari Aminty itu? Apakah dia pakar dari tutup menutup hal seperti itu?" tanya Jauzan entah pada siapa.


Sepertinya dia benar-benar ingin bertanya pada Alvis.


**

__ADS_1


Cherika mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Entah kenapa dia masih memikirkan perkataan Chandika semalam. Banyak pertanyaan yang mengganjal pada hatinya.


"Kecemburuan yang berujung mengakhiri cinta?" gumam Cherika pelan. "Siapa yang mengakhiri cinta siapa?"


Seketika Cherika mengerem mendadak motor sport miliknya. Di depan sana, dia melihat sebuah mobil hitam mengkilat tengah di hadang oleh beberapa pria berpakaian serba hitam. Cherika memincingkan matanya untuk bisa melihat lebih jelas. Seseorang laki-laki dengan setelan jas formal yang seperti familiar olehnya, sedang dikeroyok oleh pria berpakaian serba hitam yang berjumlah 10 orang.


Karena merasa kenal dengan laki-laki itu atau memang dia yang super baik, Cherika langsung turun dari kuda besinya dan menghampiri perkelahian itu.


Bug


Bug


Sebuah pukulan mendarat terus-menerus pada wajah dan perut si laki-laki berkulit hitam, tendangan pun tidak luput dia terima.


"Kalian hentikan!" seru pria berusia senja yang baru keluar dari mobil hitam mengkilat.


"Tu-tuan, jangan keluar dari mobil, bantuan akan segera datang," kata pemuda yang sudah tidak berdaya itu dengan susah payah. Dia tidak boleh membiarkan tuannya terluka sedikitpun, meski dengan taruhan nyawa dia akan melindungi tuannya.


"Sekretaris Theo, cukup. Biar mereka membunuh lelaki tua seperti aku," kata si pria tua.


"Benar-benar orang tua yang sadar diri," kata salah satu pria berpakaian hitam. "Kami memang hanya ditugaskan untuk membunuh orang tua sepertimu."


Inilah resikonya karena mempunyai saingan bisnis di mana-mana, padahal dia sudah pensiun dan digantikan oleh anaknya. Tapi banyak musuh yang masih dendam padanya.


Dengan cepat si pria berpakaian serba hitam langsung mengeluarkan belati dan ingin menghujam pria tua itu. Tapi sebelum itu terjadi, sebuah kaki menendang tangan pria berpakaian hitam itu hingga belati terlempar jauh.


Bug


"Keparat! Siapa kau!" raung si pria itu dengan memegang tangannya yang sakit.


"Seseorang yang akan menghabisi lo," kata Cherika yang masih memakai helm full face hitam miliknya. Tampilannya kini memang sudah seperti laki-laki.


Cherika dengan sigap menghalau dan menendang kaki pria itu, lalu mengarahkan lututnya tepat mengenai muka si pria.


Bug


Bug


Laki-laki itu jatuh terduduk dengan darah mengalir dari hidung. Karena belum cukup puas, Cherika langsung menendang leher sebelah kiri si pria hingga siempunya tidak sadarkan diri.


Bakh


"Siapa yang lo bilang pendek?" kilah Cherika dengan suara yang datar. Gadis mungil itu sedang terbakar api amarah.


"Sialan!" maki kawanan pria lainnya.


"Serang dia!"


Dengan lincah Cherika menghindar pukulan-pukulan yang diarahkan padanya.


'Orang ini...'


Cherika dengan bringas memukul, menendang, bahkan tidak segan mematahkan kaki dan tangan sekawanan pria berpakaian hitam.


'Kenapa begitu kuat!?' batin pria lanjut usia yang menjadi incaran tadi.


Krakk


"Argh!"

__ADS_1


Pria terakhir dengan sukses Cherika patahkan lengannya.


"Kakek tidak apa-apa?" tanya Cherika yang sudah menghampiri si pria tua, dia mengenalnya, Albert Sachio Aldebaron—kakek dari Chandika. Pantas saja Cherika merasa familiar dengan sekertaris Theo.


"Tidak apa-apa," jawab kakek Albert tersenyum simpul.


"Ah, syukurlah," kata Cherika menghela napas.


"Tuan, maafkan saya yang tidak bisa melindungi anda," kata sekretaris Theo yang menghampiri Albert dengan susah payah. Pemuda itu sudah sangat babak belur.


"Sudahlah, jangan salahkan dirimu sendiri," ujar Albert kembali memasang ekspresi datar.


Cherika merasa gerah karena habis berkelahi dan dia langsung membuka helmnya.


Albert dan Theo yang melihat wajah di balik helm terkejut seketika.


"Kamu seorang perempuan?" tanya Albert masih tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang perempuan bisa dengan mudahnya melawan 10 orang pria berbadan kekar?


"Kakek kira aku laki-laki?"


"Maaf kakek tidak tahu."


Cherika hanya mengangguk. Salah dia juga yang tadi menutup wajahnya dengan helm full face.


"Terima kasih kamu sudah menolong kami," lanjut Albert dengan tulus.


"Tidak masalah, kakek," ucap Cherika tersenyum sopan.


"Ah, ini ada cek kosong, kamu ambilah sebagai tanda terima kasih," ucap Albert dengan menyodorkan sebuah kertas yang dia ambil dari balik jas.


"Tidak usah, kek. Aku memang hanya berniat membantu," tolak si gadis mungil.


Albert dan Theo menatap tidak percaya Cherika. Padahal itu adalah cek kosong, gadis itu bisa menulis nominal berapapun pada cek itu. Tapi Cherika justru menolak dengan tanpa berpikir.


Albert berdeham untuk menghilangkan ketidak percayaan. "Kalau begitu siapa namamu, nak?"


"Cherika Nayyara," jawab Cherika cepat.


"Baiklah Cherika, kamu ambil saja kartu nama kakek. Jika kamu membutuhkan bantuan bisa menghubungi kakek. Kamu tahu? Kakek adalah orang yang sangat berpengaruh," kata Albert dengan percaya diri.


"Aku tahu kok," ucap Cherika jujur dan menerima kartu nama itu.


Albert dan Theo saling tatap, gadis di depan mereka benar-benar membuat mereka terkejut terus-terusan.


"Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku ingin berangkat sekolah," lanjut Cherika. Dia memang dalam perjalanan menuju sekolahnya.


"Ya, sekali lagi terima kasih, nak Cherika."


Cherika mengangguk dan pergi ke tempat motornya, dia segera menaiki motor sport itu setelah memasang helmnya kembali.


"Cari tahu siapa gadis itu," kata Albert  pada sekertaris Theo. Dia menatap motor Cherika yang berlalu.


"Tapi untuk apa, tuan?"


"Untuk aku nikahi dengan cucuku," jawab Albert.


"Bukannya tuan muda akan segera menikah dengan Jane?"


Seketika Albert memasang wajah kecewa, dia melupakan hal itu. Padahal perempuan sekuat Cherika sangat cocok dengan cucunya yang penakut. Tapi sayangnya cucunya itu akan menikah dengan gadis lain, coba saja dia bertemu dengan Cherika sejak awal.

__ADS_1


_To Be Continued_


__ADS_2