
"Dasar sialan!" maki Cynderyn pada pemuda yang tengah mengacungkan pedang padanya.
"Biarkan Ellisha bahagia dengan Felix, ibu," kata Eros yang terlihat kelelahan.
"Kau sudah membuat putriku pergi!? Menyesal aku membesarkan kamu selama ini, sebaiknya kau menyusul kematian ayahmu saja, Eros!" desis Cynderyn dengan kemarahannya.
Eros menatap tidak percaya perkataan ibu tirinya. Kemana perginya Cynderyn yang menyayanginya? Meskipun dia hanyalah anak tiri tapi selama ini Cynderyn selalu menjadi sosok ibu yang baik baginya.
Lalu apa ini?
Ibu tirinya itu ingin membunuhnya karena sudah membantu Ellisha kabur? Padahal dia hanya mengharapkan kebahagiaan Ellisha.
Cynderyn menyerang Eros lagi dan lagi. Wanita penyihir itu adalah yang terkuat, mana bisa Eros yang pemuda biasa bisa melawan Cynderyn. Dia hanya bisa menghindar dan tanpa bisa melakukan perlawanan.
Bug
"Ugh..." Eros mengeluarkan darah dari mulutnya saat Cynderyn berhasil memukul ulu hatinya dengan kencang. Jangan lupakan pukulan yang sudah diberikan mantra yang menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.
"Aku tidak akan pernah membiarkan Ellisha bersama dengan Felix. Aku sangat membenci keturunan dari raja yang telah membunuh ayah dari Ellisha. Ayah Ellisha tidak akan tenang jika putrinya bersama dengan putra dari pembunuh dirinya," desis Cynderyn. Dia memang sudah diliputi api dendam.
"Ellisha sangat mencintai Felix, ibu. Lupakanlah dendam kamu," kata ErosĀ dengan susah payah. Mulutnya masih mengeluarkan darah segar.
"Aku lebih memilih untuk membunuh Ellisha daripada membiarkannya bersama Felix," ucap Cynderyn dengan serius.
Seketika Eros membelalakkan mata birunya. Dia tidak menyangka jika Cynderyn akan bertindak sejauh itu.
"Kamu benar-benar sudah membuatku kecewa, Eros. Sebaiknya kamu mati saja," kata Cynderyn dengan mencekik Eros.
Eros memberontak tapi dia sudah tidak sanggup lagi. Badannya melemas dan matanya tertutup. Dia sudah tidak terselamatkan lagi.
'Ellisha, maafkan kakak yang tidak mampu melindungimu. Dikehidupan selanjutnya aku pasti bisa melindungi kamu,' batin Eros sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Cynderyn langsung melepas cengraman tangannya pada leher Eros. Seketika dia gemetar, dia terlalu dikendalikan amarah.
Kenapa dia membunuh putranya Eros?
Dia tidak bermaksud seperti itu. "Eros... Maafkan ibu," gumamnya dengan gemetar dan menangis.
Tap
Tap
Suara langkah kaki mengalihkan Cynderyn.
"Siapa kau?" tanya Cynderyn menyipitkan matanya agar lebih mengetahui siluet yang menghampirinya itu.
"Percuma jika kamu menyesal," kata siluet itu dengan tersenyum miring. "Aku akan membantumu untuk memisahkan putrimu dengan pangeran Felix."
Cynderyn mengeryit. Saat Cahaya bulan menyinari halaman depan kastil, dia dapat melihat jelas siapa orang yang tiba-tiba datang dan menawarkan kerjasama itu.
"Putri..."
**
Deg.
Jantung Cherika seakan berhenti berdetak.
Seketika semuanya menjadi buram dan kegelapan menyerang.
Gubrak.
"Cherika!?" pekik Icha dan Clara.
Perempuan yang bertatapan dengan Cherika tersenyum tipis.
"Cepat bawa ke UKS!" seru Ica.
Clara mengangguk dengan panik.
Icha dan Clara mencoba membantu Cherika, tapi seseorang mendahului mereka.
__ADS_1
"Kak Ludhe?" ucap Icha kaget karena tahu-tahu Ludhe sudah menyerobot untuk menggendong Cherika.
Dengan cepat Ludhe membawa Cherika ke UKS dan diikuti oleh Icha dan Clara.
Terlihat sangat jelas wajah kecemasan pada pemuda pirang itu.
'Pada akhirnya apa kamu tidak bisa melupakan Cherika?' batin Icha dengan hati berdenyut sakit.
**
Cherika mengeryit. Dia membuka matanya.
Dia bangkit dan melihat hamparan bunga matahari menjadi hal pertama yang dia lihat.
"Di mana ini?" tanya Cherika pada dirinya sendiri.
Tidak ada satu orangpun di sini, kecuali dirinya.
Dia berdiri dan berjalan menyusuri hamparan bunga matahari yang terlihat tanpa ada ujungnya itu. Angin sepoi-sepoi membuat wangi semerbak dari bunga menangkan dirinya.
"Tidak. Aku tidak boleh terbuai oleh hamparan bunga yang cantik ini," gumam Cherika mengenyahkan perasaan nyamannya.
Dia harus cari tahu di mana dia berada sekarang. Bukannya dia tadi sedang di sekolah? Kenapa tiba-tiba bisa berada di sini?
Tidak cukupkah badannya dan Chandika yang tertukar? Dan sekarang dia mendapatkan kemustahilan lagi.
Oh ya, Chandika. Dia harus segera keluar dari tempat ini, suaminya itu pasti akan menangis jika dia menghilang.
"Tunggu, bunga matahari? Apakah ini ulah dari Cynderyn?"
Seketika tangannya terkepal.
"Cynderyn! Di mana kamu!? Kenapa kamu membawaku ke sini!?" teriak Cherika dengan mencari sosok yang dia yakini ulah dari kejadian yang dia alami.
Namun, dia tidak mendapatkan jawaban dan tidak menemukan sosok wanita tua bersyal merah.
Mencoba tenang, Cherika tetap melangkah dan semakin memasuki hamparan bunga matahari.
Sayup-sayup Cherika mendengar suara tawa seseorang.
Dia segera mengikuti arah suara itu.
"Siapa di sana?" tanya Cherika dengan membelah batang-batang bunga.
Matanya terbelalak lebar, saat melihat siapa sosok yang tertawa itu.
"Ka-kalian?" ucap Cherika tercekat.
Di sebrang sungai yang airnya begitu jernih Cherika melihat ada dirinya dan Chandika yang menggunakan pakaian aneh seperti putri dan pangeran sedang bercanda gurau.
"Tunggu aku!"
"Kamu selalu lambat."
"Menyebalkan, Jangan mengejekku, tuan."
"Imut sekali," pemuda yang mirip dengan Chandika itu mencium pipi perempuan yang mirip dengannya.
"Aku mencintaimu."
Ke dua orang itu menghilang seketika.
Deg
Dan muncul ke dua orang yang sama lagi di tempat sebelahnya.
"Ellisha..."
Deg
"Ya?"
__ADS_1
"..."
"Kenapa, tuan Felix?"
Deg
"Aku ingin kamu mencium aku seperti saat itu."
"A-apa?"
"Ini perintah seorang pangeran."
Gadis itu mencium si pemuda yang sedang berada di pangkuannya itu.
Dan mereka menghilang dan muncul ke dua orang itu lagi.
Kini pemuda itu sedang mengepang rambut panjang si gadis.
"Rambutmu indah sekali."
"Terima kasih."
"Aku sangat menyukainya, Ellisha," mencium rambut yang sudah pemuda itu kepang.
Deg
Jantung Cherika seakan berdetak kencang saat melihat kejadian itu. Lidahnya pun mendadak keluh.
"Hei."
Panggil seseorang dari arah belakangnya. Cherika langsung berbalik.
Dan di depannya kini telah berdiri gadis yang dia lihat tadi. Gadis itu benar-benar mirip dengannya, hanya rambut gadis itu yang kelewat panjang hingga pinggul.
"Ka-kamu?" tanya Cherika yang sudah mencoba menghilangkan rasa shock dirinya.
"Aku Ellisha," gadis itu tersenyum begitu menawan.
Betapa cantiknya Ellisha. Apakah Cherika yang jarang tersenyum itu bisa secantik itu ketika tersenyum?
"Kenapa kamu begitu mirip denganku?"
"Karena aku adalah kamu," jawab Ellisha kalem. Suaranya begitu lembut sekali. Cherika jadi minder dibuatnya. "Yang tadi kamu lihat adalah ingatanku."
"Maksudnya?" tanya Cherika masih tidak mengerti.
"Nanti kamu juga akan mengerti," kata Ellisha yang menggantung pertanyaan Cherika.
"Nanti? Kenapa tidak kamu jelaskan sekarang saja?" Cherika menuntut akan rasa kebingungannya.
Ellisha menggeleng pelan. "Lebih baik kamu kembali."
Cherika mengerutkan keningnya. "Kamu mengusirku?"
"Kembalilah pada cintamu, Cherika. Aku hanya ingin memberitahu. Percayalah padanya, cintanya begitu besar padamu."
Setelah mengatakan itu Ellisha langsung mendorong Cherika hingga tercebur pada sungai.
Cherika kaget dan melihat wajah Ellisha yang tersenyum tanpa rasa bersalah karena telah mendorongnya, tangannya menggapai-gapai agar Ellisha menolongnya tapi gadis itu diam saja. Napasnya habis dan dia tidak sadarkan diri.
"Akh!" pekiknya.
Dia ngos-ngosan seperti habis lari maraton. Setelah cukup menetralkan napasnya dia melihat sekeliling. Dia sedang berada di depan kelas?
"Chan, lo kenapa? Kenapa tiba-tiba teriak?" tanya seseorang yang berada disebelahnya.
"Alvis?" Dia tersentak saat mendengar suara berat yang sangat dia kenali.
'Tidak mungkin...'
_To Be Continued_
__ADS_1