Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Engagement Failed


__ADS_3

DOR


DOR


"Aminta!" seru Jauzan mencari sang istri.


Dia segera menelepon para bawahannya untuk mengatasi kekacauan ini.


"Segera urus kekacauan ini, Danny."


"..."


"Bawalah semua bodyguard."


Jauzan langsung menutup panggilan, dia kembali mencari sang istri.


"Aminta, di mana kamu?" panggil Jauzan gusar.


"Jauzan," panggil kakek Albert yang sedang bersembunyi di balik pilar.


"Ayah," tukas Jauzan menghampiri sang ayah, dia melihat jika lengan Albert tertembak. "Ayah tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.


"Aku baik-baik saja, cepat temukan Aminta dan cucuku," ucap Albert malah mengkhawatirkan orang lain.


"Ya, ayah. Mereka pasti akan baik-baik saja," jawab Jauza dengan memapah Albert.


Di sisi lain. Alvis tengah memeluk Alice dan bersembunyi di balik meja.


"Bang Alvis, hiks..," gumam rancu Alice dengan badan yang bergetar, gadis itu cukup trauma dengan kejadian ini, mengingatkan dengan Ayahnya.


"Sttt, tenanglah adik," ucap pemuda babyface menenangkan adiknya.


"Sudah ya cantik, jangan menangis," kata Bart ikut menenangkan Alice. Dia dan Caka ikut bersembunyi di balik meja.


"Masih sempat-sempatnya modus lo," celetuk Caka menatap Bart jengah.


"Yee gue nggak modus," ucap Bart tidak terima. Bart mengelus rambut cokelat milik Alice yang sedang di dalam pelukan Alvis.


Alvis tidak menyadari perilaku Bart, pikirannya sedang melayang memikirkan sang ibunda, dia khawatir dengan mommy Aminty.


Caka melotot melihat Bart, temannya itu mengambil kesempatan di dalam kesempitan.


'Benar kata Albert Einstein, Di tengah setiap kesulitan terletak peluang,' batin Bart masih mengelus rambut Alice.


Alice yang merasakan usapan Bart semakin mengeratkan pelukannya pada sang kakak, badannya tidak gemetar lagi, justru pipinya terasa memanas.


**


Chandika yang melihat siluet Ludhe, langsung menghampiri pemuda blaster itu. Chandika yakin jika Ludhe yang membuat kekacauan ini, dia masih ingat ancaman Ludhe yang ingin menghancurkan hubungannya dengan Jane. Tapi, dia tidak menyangka Ludhe akan bertindak sejauh ini.


Saat Chandika melangkah ke luar hall, anehnya si penembak tidak menghalanginya, padahal semua orang yang ingin keluar ditembaki membabi buta. Chandika semakin yakin jika Ludhe ingin melawan dirinya satu lawan satu.


Chandika langsung berlari dan mengejar Ludhe yang sudah berlalu.


Malam semakin larut, waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.


Kini, Chandika sudah berada di luar gedung pesta, di jalan yang sangat sepi. Terdapat pepohonan rindang di sisi jalan. Mata hitam kelamnya mencari Ludhe, bergerak ke segala arah.

__ADS_1


Buk


Chandika tersungkur ke depan saat seseorang menendang punggungnya dengan kencang.


"Sial," maki Chandika mencoba untuk berdiri, dia lengah karena terlalu kalut.


Pemuda mullet berbalik dan melihat Ludhe sedang menodong pistol pada dirinya. Chandika menatap datar Ludhe, tidak ada rasa takut sama sekali. Anehnya dia tidak merasakan  ancaman apapun dari Ludhe, padahal jelas-jelas pemuda di depannya itu ingin sekali membunuhnya.


"Bersiaplah untuk mati, Felix," kata Ludhe dengan tersenyum miring. Dia menggunakan celana jeans panjang dan kaos hitam yang dilapisi jaket boomber hitam.


"Felix?" kilah Chandika terheran-heran. "Nama gue bukan Felix," koreksinya dengan mengangkat sebelah alis.


Ludhe termangu sesaat. "Kau tidak tahu siapa kau sebenarnya?" tanya Ludhe, dia pikir pemuda di depannya itu sudah mengingat kehidupan masa lalu sama seperti dirinya.


"Gue Chandika," ujar Chandika malah memperkenalkan diri. "Siapa itu Felix?" lanjutnya bertanya.


"Lebih baik kau tidak tahu, lagi pula saya akan segera membunuhmu," kilah Ludhe dengan tatapan tajam.


"Apa susahnya untuk menjelaskan," tukas Chandika masih berekspresi datar.


"Karena tidak ada gunanya memberitahumu," ucap Ludhe, jari tangannya bergerak untuk menarik pelatuk pistol.


"Dasar pengecut," kata Chandika tersenyum mengejek.


Ludhe mengerutkan dahi.


"Kalau berani, ayo bunuh gue dengan tangan kosong," sambung pemuda mullet menantang.


"Itu tidak akan ada bedanya," ujar Ludhe tidak perduli.


"Lo tahu sendiri, kan, Cherika nggak suka dengan cowok pengecut," kata Chandika mulai memprovokasi.


'Dasar bucin,' batin Chandika mengejek.


Ludhe segera menerjang Chandika, kaki panjangnya terangkat ingin menendang Chandika. Namun, pemuda mullet dengan gesit menghindar.


Buuk


Pemuda blaster meninju kuat, Chandika mengepalkan kedua tangannya di depan dada untuk menghalaunya.


'Dia kuat,' batin Chandika yang merasakan tinjuan Ludhe hingga dia bergeser ke belakang hampir terjungkal.


Baahk


Tinjuan Ludhe mengarah pada sisi kiri perut Chandika, tepat mengenainya.


Chandika langsung memukul muka Ludhe dengan sikunya, tapi Ludhe dengan sigap menahan siku Chandika dengan telapak tangan. Tangan satunya Ludhe memukul berkali-kali perut Chandika.


'Gue nggak nyangka Ludhe bisa sekuat ini,' batin Chandika memuntahkan darah dari mulutnya.


Braak


Chandika menerjang tubuh Ludhe hingga terjatuh di aspal. Dia berniat memukuli muka Ludhe, tapi kepalan tangannya terhenti dengan sendirinya.


"Jangan."


Sebuah suara menghentikannya, Chandika seakan mematung.

__ADS_1


Duak


Ludhe langsung nendang perut Chandika hingga siempunya terpental.


"Ugh.." rintih Chandika merasakan kesakitan yang luar biasa, dia merasa aneh kenapa dia merasa tidak bisa melawan Ludhe, ada sesuatu yang menahannya.


"Jangan melukainya."


Chandika mendengar suara di dalam pikirannya.


Bug


Ludhe langsung memukuli muka Chandika. Kedua tangannya bergerak untuk mencekik leher putih si pemuda mullet.


"Argh!"


**


Hall pesta masih gaduh, suara tembakan masih terdengar.


Aminta menyembunyikan tubuhnya di balik vas bunga besar, dia sangat takut, dia hanya bisa berdoa supaya semuanya segera membaik. Ibu dari satu anak itu yakin suami atau putranya pasti akan menyelamatkannya. Yang harus dia lakukan saat ini adalah bersembunyi.


DOR


Prangg


"Aaaaa!"


Teriak Aminta ketika vas bunga besar pecah terkena tembakan, kepalanya bocor terkena pecahan vas yang terbuat dari keramik.


"Aminta!" seru Aminty, ibu dari Alvis. Menghampiri Aminta dan segera menarik ke balik pilar di mana tadi dia bersembunyi.


"Aminty?" tukas Aminta dengan memegang kepalanya yang bocor, darah mengalir dari sana.


"Oh, astaga, kamu terluka," kata Aminty cemas melihat kembarannya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Aminta menahan rasa berdenyut di kepalanya.


SHATT


Lampu menyala kembali.


DOR


DOR


Danny dan para bodyguard bawahan Jauzan datang dari pintu masuk, mereka segera menembaki ke dua bembunuh bayaran yang di sewa Ludhe hingga tewas.


Aminta bernapas lega karena doanya terkabul, dia yakin suaminya pasti akan mengurus kekacauan ini.


"Aminta!" seru Jauzan berlari menghampiri ibu dari anaknya.


"Suamiku," kilah Aminta menjawab panggilan suaminya.


"Kamu terluka??" tanya Jauzan yang melihat kepala istrinya yang berdarah.


"Ini hanya luka kecil..." jawab Aminta. Namun, seketika kesadarannya hilang karena sudah terlalu banyak kehilangan darah.

__ADS_1


"Aminta!" teriak Jauzan memanggil kembali nama istrinya, dia sangat takut melihat Aminta yang kini telah pingsan di pelukannya.


_To Be Continued_


__ADS_2