Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Blue Eyes


__ADS_3

Malam hari di kediaman Aldebaron.


Kini terlihat bulan yang merajai malam bersama bintang-bintang yang berkelip indah.


Rambut seorang pemuda yang konstan dengan hitamnya malam melambai terkena angin yang begitu dingin. Di tangan kanannya ada secangkir coklat panas yang masih mengepul dan di tangan kirinya sedang memegang headphone yang sedang ditempelkan pada telinga.


"Bagaimana?" tanya Chandika pada seseorang dari balik handphone.


[Operasi berjalan lancar. Kurang lebih 4 jam, dari jam 4 sore, kini baru selesai]


"Lalu keadaannya?" tanya Chandika dengan menyesap coklat panasnya.


[Cherika masih dalam keadaan kritis, dia banyak mengeluarkan darah saat operasi, sekarang papi sedang menunggu hasil observasi dari dokter.]


Chandika menarik napas dengan berat.


[Tidak usah khawatir, dokter akan memonitor kondisi Cherika dengan lebih ketat, memberinya cairan dan obat-obatan di ruang ICU, dan melakukan tindakan intubasi untuk memberikan bantuan napas.]


"Apakah aku harus ke sana?"


[Kamu harus sekolah, Chan. Jika kamu ingin ke sini, datanglah saat hari Minggu.]


"Ya. Tolong jagalah Cherika, papi."


[Pasti. Di sini juga ada ke dua kakak laki-laki Cherika, kamu tenang saja, ok.]


"Hmm."


[Yasudah, papi tutup dulu. Kamu Jangan lupa belajar.]


"Ya, papi."


Tut tut tut


Sambungan telepon berakhir.


Mata hitam bagai batu onyx itu menatap hamparan bintang di langit.


"Ayah, ibu, apakah kalian sedang melihatku?" tanya pemuda itu dengan suara yang parau.


"Kalian sekarang sudah menjadi bintang di atas sana, bukan? Apa kalian bisa memberi tahu pada Tuhan tentang satu permohonan putri kalian ini?" lanjutnya dengan masih menatap langit malam.


"Aku mohon, tolong sembuhkan orang yang aku sayangi, sekarang aku hanya bisa berdoa agar Tuhan memberkatinya dengan pemulihan yang cepat dan lekas putih kembali," ucapnya sambil memejamkan mata.


Setelah itu matanya kembali terbuka, pandangnya beralih ke depan.


Namun, dia baru menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata biru yang sedang mengawasinya.


Dadanya bergemuruh dengan cepat, dia merasa sangat takut. "Cynderyn??"

__ADS_1


Tapi dia tepis rasa takut itu, dan segera keluar dari kamarnya, berlari menuruni tangga untuk menghampiri  si wanita tua yang dia kenali itu.


"Kenapa, Kenapa nenek itu ada di sini?"


Kakinya terus berlari. Kini, dia sudah sampai di tempat pemuda bermata biru itu berdiri dan menatapnya tadi. Chandika sekarang sedang berada di pinggir danau pribadi milih Aldebaron, di sisi danau ditumbuhi banyak pepohonan rindang dan sangat mencekam.


"Nenek!?" seru Chandika mencari keberadaan Cynderyn yang sekarang sudah hilang entah kemana.


Puk


Sebuah tepukan di bahu membuat Chandika terlonjak kaget, dia segera berbalik untuk melihat si pelaku.


"Tuan muda, sedang apa anda malam-malam di tepi danau?" tanya seorang bodyguard yang menjaga mansion.


"Aku sedang mencari seseorang," jawab Chandika dengan masih melihat ke sekeliling.


"Seseorang? Saya tidak melihat ada orang lain selain penjaga di sini."


"Kamu tidak melihat seorang nenek-nenek bermata biru?" tanya Chandika memastikan.


"Tidak, tuan muda," jawab bodyguard sopan.


Mustahil.


'Jelas-jelas tadi gue melihat nenek Cynderyn,' batin Chandika terheran-heran.


"Yasudah. Pergi, tinggalkan aku," perintah Chandika mengusir bodyguard.


Setelah kepergian bodyguard itu, Chandika masih berkeliling mencari wanita tua yang sangat misterius itu.


Karena tidak menemuka Cynderyn, Chandika langsung kembali ke dalam mansion.


"Chan, dari mana kamu?" tanya Aminta dari arah dapur.


"Cari angin, mami," jawab Chandika berbohong.


"Oh. Ayo kita makan, mami tadi memasak sup tomat kesuksesan kamu," ucap Aminta yang masih menggunakan celemek kotak-kotak. Dia sengaja memasak makanan kesukaan putranya itu. Aminta berharap Chandika tidak terlalu larut dalam bersedih karena Cherika.


Namun, Aminta tidak tahu jika tindakannya justru semakin mengingatkan Chandika tentang Cherika. Karena sup tomat adalah makanan kesukaan 'dia'. Tatapan pemuda itu menjadi sendu.


Chandika melangkah mengikuti Aminta dan langsung duduk di kursi makan, di meja terlihat sup tomat yang masih mengepul.


"Chan harus makan yang banyak," kata Aminta yang mengambilkan nasi dan sup tomat pada piring di depan Chandika.


Tes tes tes


Aminta kaget melihat air mata menetes dari kedua mata putranya.


"Sttt, sayang. Katanya kamu tidak cengeng lagi. Jangan menangis, ok," ucap Aminta langsung memeluk Chandika.

__ADS_1


Chandika seketika kaget, dia tidak menyadari jika air matanya keluar, kenapa dia jadi gampang menangis.


"I'm ok, mami. Aku akan makan sekarang," kata Chandika menghapus air matanya dan melepas pelukan Aminta.


"Ya, sayang," ucap Aminta dan duduk di sebelah putranya.


Chandika mulai makan dengan tenang.


"Chan, mami dengar kamu bersedia bertunangan dengan Jane?" tanya Aminta setelah Chandika menghabiskan makanannya.


"Ya," jawab Chandika dan meminum jus tomat yang sudah Aminta buat. Semenjak dia menjadi Chandika, tomat adalah hal wajib yang harus dia makan, dia juga tidak tahu kenapa justru jadi menyukai buah merah merekah itu.


"Besok malam, kakek mengajakmu berkumpul untuk makan malam dan membicarakan pertunangan kalian," kata Aminta.


"Ya, besok malam aku akan bersiap," kata Chandika yang sudah menegak habis jusnya.


"Apa kamu serius akan bertunangan? Mami dan papi tidak akan memaksamu," kata Aminta dengan lembut. Sejujurnya dia sudah tidak menyukai Jane, karena gadis itu sudah berselingkuh dan mencampakkan putranya dulu.


"Aku serius," jawab Chandika tegas.


Oh ayolah, padahal dia tidak ingin membicarakan hal ini lagi, pertunangan sialan itu sungguh membuat hatinya teriris-iris.


Aminta langsung bungkam mendengar jawaban tegas putranya. Dia sedikit kecewa, dia pikir Chandika akan menjalin hubungan dengan Cherika, gadis manis penyelamat putranya.


**


Kaaakk kaaakk


Bunyi burung gagak mendominasi kediaman Adhideva yang kini di kelilingi police line.


Seorang wanita tua bersyal merah memasuki kediaman itu dengan wajah datar dan tatap yang tajam, setangkai bunga matahari di tangan kanannya.


Mulutnya bergerak-gerak seperti membaca mantra.


Sebuah sinar hijau tiba-tiba muncul dan menampakan seorang pria paruh baya.


"Cynderyn, kamu telah menghidupkan saya?" tanya pria paruh baya dengan wajah yang sangat pucat.


"Tidak, aku hanya memanggil jiwamu dan akan memakannya," kata wanita itu dengan tatapan tajam.


"Dasar nenek tua sialan! Saya meninggal atas dirimu! Saya melakukan kejahatan itu karena hasutan darimu, kamu bilang jika aku membunuh putra Jauzan pasti akan membuat Aminta kembali padaku!" teriak Alvin dengan geram.


"Salahkan dirimu sendiri yang termakan omonganku," kata Cynderyn dengan tertawa jahat. "Aku hanya memanfaatkan dirimu untuk mendapatkan putriku kembali, tapi kamu sangat tidak berguna."


"KEPARAT!" maki Alvin dan ingin memukul Cynderyn, tapi jiwanya tiba-tiba saja tersedot ke bunga matahari yang Cynderyn pegang.


"TIDAK!!!" teriak Alvin dengan histeris.


Ruangan itu menjadi hening kembali.

__ADS_1


"Manusia sampah," guman Cynderyn yang segera memakan kelopak bunga matahari.


_To Be Continued_


__ADS_2