
Alvis menatap terheran-heran pada sepupunya yang memakai turtleneck shirt di balik seragam sekolah. Bukannya hari ini begitu panas, apakah Chandika tidak merasa kegerahan?
"Berhentilah menatap aku," ketus Chandika yang sedang menyeruput Tomato Juice.
Sekarang sudah jam istirahat, mereka berdua sedang berada di kantin.
"Apa yang sedang lo sembunyikan di balik kerah itu?" tanya Alvis dengan tatapan menyelidik.
"Apa yang kamu bicarakan, mana ada yang aku sembunyikan," kilah Chandika dengan gugup. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Bagaimana Alvis bisa tahu?
"Coba sini lihat," kata Alvis langsung menarik kerah Chandika.
Alvis melotot tidak percaya melihat beberapa bekas kemerahan di leher putih sepupunya itu.
"L-lo habis di perkaos siapa?" tanya Alvis tercekat. "Lo sudah nggak suc—"
"Jangan ribut, Alvis," kata Chandika membungkam mulut si pemuda bayi. Dia melirik seisi kantin yang mulai kepo kepada mereka berdua.
Alvis memukul-mukul telapak tangan Chandika yang mendekapnya, dia sudah kehabisan napas. Chandika langsung melepasnya.
Alvis menarik napas beberapa kali. "Hampir mati gue," gerutunya kesal.
"Brisik sih," sengit Chandika.
"Jadi siapa yang melakukannya? Jane?" tanya Alvis masih penasaran dengan seseorang yang sudah dia kira menodai sepupunya yang polos itu.
Chandika hanya diam saja, masa iya dia harus jujur dengan Alvis.
"Kepengin tahu banget sih," kata Chandika tidak ingin mengaku.
"Hais, parah sih sama sepupu sendiri juga," ucap Alvis kecewa. Padahal dia sudah kepo tingkat tinggi.
Si pemuda mullet tidak menanggapi ucapan Alvis, lagi pula ini adalah privasi. Chandika menyeruput habis minumannya.
"Aku butuh bantuan Galen," kata Chandika tiba-tiba.
"Hah? Untuk apa?" tanya Alvis heran. Apa hubungan Galen dan noda kemerahan Chandika?
Sepertinya pikiran si pemuda babyface masih saja ke arah situ.
"Ck, jangan berpikir macam-macam," decak Chandika yang seakan tahu isi pikiran sepupunya itu. Pikiran Alvis memang sudah benar-benar kotor.
Alvis hanya nyengir dengan menunjukkan gigi kelincinya.
"Sepulang sekolah temani aku bertemu dengan Galen," pinta Chandika serius.
"Memangnya ada apa, Chan?" tanya Alvis masih terheran-heran.
__ADS_1
"Sudahlah jangan banyak bertanya, nanti aku jelaskan."
Alvis mengangguk mengerti.
**
Cherika terbengong menatap kosong ke dapan papan tulis yang berisikan rumus-rumus matematika yang memusingkan. Namun, bukan itulah yang menjadi fokus gadis tomboy itu, dia masih terngiang-ngiang bayangan saat Chandika yang menciumnya, jari tangannya memegang bibirnya.
'Bibir Dika lembut sekali,' batinnya dengan pipi yang merona.
"Bos kenapa dengan mulut lo?" tanya Ignancio yang duduk di sebelah Cherika.
Cherika tersadar dari lamunannya. "Nggak kenapa-kenapa," jawab Cherika agak gugup.
"Tapi kok agak bengkak ya?" tanya Ignancio bingung.
Si gadis mungil melotot galak. "Berhenti liatin mulut gue," ucapnya dingin.
Ignancio merinding seketika, bos galaknya sudah kembali seperti semula. Kemana Cherika yang imut dan cengeng?
"Habisnya lo pegang-pegang mulut mulu sih," kilah Ignancio kikuk.
"Mulut-mulut gue juga. Masalah buat lo?" tukas Chandika dengan tatapan tajam yang membuat Ignancio mati kutu.
"Y-ya nggak masalah sih," jawab Ignancio menciut.
Oh ayolah, dia tidak mau mendapatkan bogem super mematikan Cherika. Cukup dulu saja dia dihajar sampai masuk rumah sakit oleh gadis itu saat memperebutkan posisi ketua geng Aodra.
"Baik, bu," jawab Cherika patuh.
Cherika binggung, kenapa dirinya tiba-tiba saja mendapat undangan ke ruang guru?
Pelajaran matematika berlangsung lagi. Cherika tidak melamun lagi memikirkan kekasihnya, mau bagaimanapun dia harus fokus belajar.
Kringggg
Bel istirahat akhirnya berbunyi, semua murid bersorak karena otak mereka sudah terlalu pusing karena dipaksa memahami rumus matematika.
"Gue ke ruang guru dulu," kata Cherika pada Ignancio, Adam dan Brian yang mengajaknya ke kantin.
"Ok, bos," jawab Adam si pemuda berkulit gelap.
Kaki jenjang Cherika melangkah ke ruang guru yang berada di sudut gedung sekolah. Banyak siswa yang menyapanya atau menggodanya. Cherika belum terbiasa dengan dirinya yang mendadak populer di sekolahnya ini. Jika dulu bukannya di sapa yang ada orang akan menjauh saat berpasangan dengannya.
Cherika mengetuk pintu ruang guru dan langsung menghampiri meja Ibu Guru matematika.
"Silahkan duduk," kata wanita berkaca mata yang sejak tadi sudah menunggu murid kebanggaannya itu. Cherika adalah murid terpintar di sekolah ini, prestasinya pun banyak sekali.
__ADS_1
"Ada apa ya, bu?" tanya Cherika yang sudah terduduk.
"Apa kamu sedang ada masalah, Cherika?" tanya wanita itu dengan raut wajah khawatir.
"Masalah? Tidak kok," jawab Cherika menyangkal. Masalahnya hanya satu, yaitu saat bertukar tubuh dengan Chandika. Dan sekarang sudah tidak lagi.
"Tapi kenapa nilai-nilai kamu sangatlah menurun? bahkan di semua pelajaran," kata Ibu Guru yang membuat Cherika terkejut.
"Benarkah?" tanya Cherika tidak percaya. Selama ini dia selalu menjaga nilainya itu, dia juga rajin belajar. Karena jika nilainya anjlok, itu akan berbahaya, beasiswa miliknya akan segera dicabut.
Guru itu mengangguk, dia memberikan kertas yang berisikan catatan nilai-nilai Cherika.
Cherika hampir pingsan di tempat karena melihat nilainya yang luar biasa jeblok itu. Apakah ini ulah Chandika? Dia lupa jika pemuda itu memanglah bodoh.
"Maafkan saya, bu. Saya berjanji akan memperbaikinya," ucap Cherika dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah, perbaikilah nilai-nilai kamu," kata Ibu Guru yang membuat Cherika bernapas lega.
"Terima kasih, bu."
'Awas kamu ya, Dika,' batin Cherika mengutuk dalang dari nilainya yang anjlok.
**
"Apa benar ini nilai-nilai putraku akhir-akhir ini?" tanya Jauzan menatap horor selembar kertas yang dilaporkan Danny. Dia memang menyuruh si pemuda kaca mata untuk melapor segalanya.
"Ya, benar. Ketua yayasan sendiri yang memberikan itu," jawab Danny membenarkan ketidak percayaan tuan besarnya.
"Apa tidak tertukar dengan orang lain?" tanya Jauzan memastikan lagi.
"Tidak, tuan," jawab Danny sungguh-sungguh. Dia yang awalnya tidak menyangka juga sudah mengeceknya berulang kali dan tidak ada kesalahan yang terjadi.
"Bagaimana bisa? Putraku yang mempunyai otak pas-pasan itu bisa mempunyai nilai sempurna seperti ini?" kilah Jauzan heboh sendiri. "Apa ini mimpi?"
"Tapi itu kenyataan, tuan."
"Aku harus mengadakan syukuran," kata Jauzan dengan wajah yang berseri-seri.
Putranya yang diketahui sangatlah bodoh, sekarang sudah menjadi luar bisa pintar. Ya, dia harus merayakan ini. Pesta 7 hari 7 malam kalau perlu.
"Lalu bagaimana dengan penyelidikan penembakan itu?" tanya Jauzan kemudian, ekspresi berubah menjadi serius.
"Belum ada petunjuk. Jejak dari dalang penembakan itu seakan hilang," jawab Danny menjelaskan hasil penyelidikan tentang penyerangan Ludhe saat hari pertunangan Chandika dan Jane.
Mereka tidak tahu jika Chandika sendirilah yang sudah menghapus bersih jejak-jejak dari Ludhe supaya si pemuda blaster tidak mendapatkan masalah. Ya, Chandika melindungi Ludhe hanya supaya Cherika tidak bersedih. Mau bagaimanapun Ludhe adalah reinkarnasi dari Eros, kakak yang berharga bagi Cherika di masa lalu.
"Yasudah lupakan saja, lagi pula istri dan putraku sudah baik-baik saja sekarang."
__ADS_1
Danny mengangguk. Akhirnya pekerjaannya berkurang satu. Sepertinya dia akan lebih santai sekarang. Jauzan memang sangat banyak memberikan pekerjaan untuknya, belum lagi menjadi babysitter Chandika setiap hari. Dia membutuhkan waktu santai saat ini, mungkin dengan begitu dia bisa mencari pacar agar tidak jomblo terus dari lahir.
_To Be Continued_