
Sinar matahari sangat terik dan menusuk kulit putih Chandika yang terduduk di sebuah bangku besi panjang di sudut lapangan. Jam pelajaran olahraga masih berlangsung, dia yang sehabis bermain futsal untuk penilaian kelompok sedang mengatur nafas yang memburu karena kelelahan. Salahkan saja Chandika asli yang tidak pernah berolahraga, sehingga tubuh gantengnya menjadi gampang lelah. Sepertinya mulai sekarang dia harus sering melatih daya tahan tubuh yang sedang ditempatinya ini.
Seketika pipinya merasakan dingin, dengan segera dia mendorong untuk melihat si pelaku yang dengan kurang ajar itu menempelkan minuman dingin di pipinya.
Jane Eyre.
'Mau apa cewek ini?' batin Chandika dengan kesal.
"Untuk lo," kata Jane dengan tersenyum manis.
Chandika hanya mengeryit, tapi langsung mengambil botol minum itu dan segera meminumnya. Ya, dia memang sangat kehausan saat ini, jadi untuk apa menolak pemberian Jane.
Jane yang sudah bersiap hati jika botol minum yang dia kasih tidak akan diterima Chandika, sekarang bersorak dalam hati. Mata jadenya memandang pemuda di hadapannya dengan meneguk ludah tanpa sadar.
Chandika yang langsung meneguk minuman itu dan membuat jakunnya bergerak naik turun, dan menyiramkan sisah air dingin ke kepalanya. "Thanks," ucapnya dengan mengguyar rambut hitam legam yang sudah basah dengan jemari panjangnya.
'OMG! Kemana saja gue selama ini? Gue baru sadar jika Chandika sangat seksi dan ganteng banget,' batin Jane memekik, dia tidak sadar jika mulutnya menganga dengan tidak elitnya.
"You're welcome," jawab Jane setelah menarik diri dari tatapan terpesonanya.
Tidak mau berlama-lama dengan perempuan di depannya, Chandika langsung bangkit dan ingin mengganti seragam olahraga.
"Jangan pergi dulu," kata Jane membuat pergerakan Chandika berhenti. "Gue mau ngomong."
"Lo kan memang sudah ngomong sejak tadi, Jane," ujar Chandika dengan tatapan datar.
Nyali Jane seketika menciut karena mendapatkan tatapan tanpa ekspresi Chandika, dia tidak terbiasa dengan hal itu, pemuda itu dulu selalu menatapnya dengan penuh binar cinta, hatinya berdenyut sakit.
"Maaf kalau gue egois," kata Jane yang sudah memberanikan diri kembali.
"Ya, sudah gue maafkan," jawab Chandika tidak ambil pusing, lagi pula si gadis blaster memang tidak mempunyai salah padanya, harusnya yang menerima perkataan maaf ini adalah Chandika asli.
Jane hanya tertegun, sebegitu gampangnya Chandika memaafkannya, kenapa dia sangat baik sekali. "Terima kasih sudah memaafkan gue," kata Jane haru.
"Santai saja."
"Kalau begitu, bolehkan gue meminta kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan kita?" tanya Jane dengan hati-hati, dia memang sudah berniat untuk mengatakannya.
__ADS_1
Chandika hanya berwajah datar mendengar perkataan Jane, jika dia adalah Chandika asli pasti langsung mengiyakan dan melompat kegirangan, tapi dia bukanlah Chandika asli, entah kenapa dia merasa kesal.
"Maaf, Jane. Gue bukan Chandika yang dulu, gue bukan Chandika yang mencintai lo, jadi gue nggak bisa memberi lo kesempatan," kata pemuda bernetra hitam kelam masih menatap datar, memang betul yang dia katanya, dia bukan Chandika asli, biarkan saja Jane yang akan mengartikan lain perkataannya.
Hati Jane seakan dihujam ribuan jarum tidak kasat mata, wajahnya sudah menahan tangis, "Gue nggak akan menyerah, seperti lo yang dulu tidak pernah menyerah untuk menarik perhatian gue."
"Tapi, gue sekarang sudah menyerah."
"Lo boleh menyerah, tapi izinkan gue untuk membuka hati lo kembali," kata Jane keras kepala.
"Terserah saja," putus Chandika tidak ingin repot terus berdebat dengan gadis keras kepala seperti Jane.
"Ayo kita segera mengganti pakaian, ngab," kata seorang laki-laki tiba-tiba datang mengintruksi. "Pelajaran berikutnya adalah matematika, lo nggak mau kan dimarahi guru killer," sambung pemuda bersurai honey blonde itu.
"Hmm," Chandika hanya bergumam dan mengikuti pemuda itu dan meninggalkan Jane yang menatapnya rumit.
"Lo balikan lagi sama Jane?" tanya pemuda honey blonde ketika mereka berdua menaiki tangga untuk ke ruang ganti.
"Nggak," jawab Chandika menampik pertanyaan Bart—nama si pemuda yang berjalan di sebelahnya.
"Syukurlah, gue masih punya kesempatan untuk berpacaran dengan Jane si primadona sekolah," celetuk Bart dengan cengengesan. "Berhubung dia sudah putus dengan Ben dan sudah nggak berhubungan sama lo, jadi langkah gue terbuka lebar," sambung Bart dengan tampang bodoh.
"Hais, lo nggak asik banget si, coba ada Alvis, pasti bisa gue ajak curcol tuh anak," kata Bart mencebikkan bibirnya, dia memang agak dekat dengan Alvis tapi tidak dengan Chandika yang sulit untuk di dekati. "Btw, Alvis kenapa nggak masuk hari ini ya?"
"Gue nggak tahu," jawab Chandika seadanya. Ya, dia memang tidak tahu kenapa pemuda bayi itu tidak masuk sekolah, tidak ada kabar juga, padahal Alvis sempat bilang padanya jika tidak mau bolos lagi karena tidak ingin di siksa sang ayah.
'Apa dia sakit?' batin Chandika bertanya-tanya.
"Yasudahlah, lagi pula gue nggak tahu kehidupan tuan muda konglomerat semacam kalian berdua," kata Bart mengangkat bahu, dia bukanlah dari keluarga konglomerat yang orang tuanya mempunyai perusahan raksasa, tapi hanya anak dari musisi terkenal.
Langkah mereka berdua telah sampai di depan pintu ruang ganti laki-laki.
Seketika Chandika menghentikan langkahnya, kenapa dia bisa lupa dengan hal ini, di depannya pasti bayang sekali pemuda bugil yang sedang melepas baju. Dia hanya menelan ludah dengan berat, biasanya dia selalu ke ruang ganti lebih awal karena tidak ingin mendapat pemandangan itu, tapi ini semua karena Jane yang tadi mengajaknya bicara, dan dia tidak jadi ke ruang ganti sebelum siswa lain berganti pakaian.
Cklek
Pintu bercat putih terbuka dan Bart segera menyuruhnya masuk, karena tiba-tiba saja terdiam kaku di depan pintu.
__ADS_1
'Mata gue sudah nggak suci lagi,' kata Chandika dalam hati ketika melihat banyak laki-laki yang sedang menanggalkan pakaian.
Bahu lebar.
Dada bidang.
Perut sixpack.
Dan sesuatu yang menonjol di area bawah.
GUBRAK
Chandika langsung kehilangan kesadaran dengan hidung mimisan dan membuat para siswa yang sedang berganti pakaian panik.
Oh ayolah, untuk melihat tubuh laki-lakinya saja sudah membuatnya malu setengah mati, apalagi sekarang dia melihat banyak laki-laki bugil di dalam satu ruangan.
**
"Argh!" rintih Alvis ketika mendapat tusukan belati di bahu kanannya, dara keluar dengan deras.
"Ya, nikmatilah rasa sakitmu, ini tidak seberapa dengan perlakuan ibu jalangmu yang sudah menghancurkan kehidupanku," kata Alvin dengan tertawa renyah, tidak ada raut kasihan pada anak kandungnya, hanya kepuasan yang ada di dalam hatinya.
Alvin segera mencabut belatinya dan membuat darah muncrat hingga mengenai mukanya, "Sepertinya kamu cukup berguna untuk memancing anak Jauzan kembali ke sini, kita tunggu apakah dia akan datang menyelamatkan dirimu."
"Jangan usik Chandika, kamu sudah berjanji untuk melepasnya,"ucap Alvis dengan wajah pucat, dia mencoba menggerakkan tangannya yang sudah terikat dengan ratai besi.
Pria paruh baya itu hanya tertawa menggelar, "Kamu sendiri yang sudah tidak menepati janji, Alvis."
Alvis merasakan sayatan belati di perut bagian kirinya, darah mengalir di luka memanjang yang lumayan dalam itu, dia sudah kehilangan cukup banyak darah.
"Saya akan membunuhmu, Chandika, Aminty, dan adikmu Alice."
Mata Alvis melotot dan menatap nyalang Alvin, "Dasar binatang! Lepaskan aku, brengs**! Biar aku bunuh kamu!"
Bug
Pukulan keras di wajah diterima Alvis. "Sadarlah posisimu yang sekarang, diam di sini, dan saya akan membawa orang-orang berhargamu ke sini untuk saya bunuh bersamamu," kata Alvin dengan tatapan yang menusuk dan menepuk-nepuk pipi Alvis yang lebam.
__ADS_1
_To Be Continued_