Sekejap Berubah Gender

Sekejap Berubah Gender
Prince And Castle Princess


__ADS_3

"Pada sebuah negri di mana kerajaan yang sangat masyhur, hidup seorang raja dan anaknya, seorang pangeran tampan. Ketampanan sang pangeran begitu terkenal seantero dunia. Banyak putri menawarkan diri pada pangeran untuk menikahi. Namun, pangeran menolak satu persatu putri yang melamarnya. Ternyata sang pangeran bukannya tidak bisa mendapatkan pasangan hidup, tapi pangeran takut untuk memilih mereka. Rasa takut akan calon pendampingnya yang hanya melihat wajah rupawan dan hartanya saja."


"Raja selalu menekan sang Pangeran untuk segera mendapatkan pendamping karena dengan begitu baru bisa menjadi seorang raja. Oleh karena itu, pangeran akhirnya memutuskan untuk mencari calon permaisuri sendiri. Untuk itu dia meminta izin pada raja untuk dapat pergi berkelana mengelilingi negeri untuk mencari seorang putri yang dapat dengan tulus mencintainya."


"Pangeran pergi berkelana dari satu desa ke desa lain mengelilingi seluruh negeri sebagai orang biasa. Hingga akhirnya sampai di sebuah gunung bersalju, pangeran pertemu dengan beruang salju. Pangeran hampir terbunuh oleh beruang itu. Tubuh pangeran luka luka dan wajahnya tercabik. Untunglah ada seorang perempuan melewati tempat pangeran terbujur sekarat, perempuan itu lalu menyelamatkannya, dan membawa pangeran ke sebuah kastil di atas gunung bersalju untuk diobati. Pangeran sangat berterima kasih."


"Setelah itu..."


"Mama.. Cheyi cudah ngancuk, donyengnya nanti laghi cajah," kata balita berumur 3 tahun dengan suara cadel dan muka mengantuk.


Mamanya memang selalu membacakan buku dongeng dan novel untuknya.


"Ya, sayang.. Cheri tidur saja, sebentar lagi kita sampai di rumah," kata wanita cantik yang memeluk Cherika di pangkuannya.


"Kenapa kamu membacakan dongeng itu pada Cherika?" tanya sang suami yang sedang fokus menyetir, mereka habis dari rumah sakit karena sang putri yang tiba-tiba saja demam pada tengah malam.


"Agar Cheriku mengerti jika tidak semua cinta sejati akan berakhir bahagia," kata wanita cantik itu mengelus rambut putrinya yang kini sudah pulas.


"Kamu ini ya," ujar sang suami menggeleng. "Cheri masih, kecil belum tahu cinta-cintaan."


"Hanya antisipasi," ucap wanita tertawa lembut.


TIN


TIN


"SUAMIKU AWAS!!"


BRAK


Mobil sedan yang ditumpangi mereka berguling-guling karena tertabrak truk tronton bermuatan batu bata.


"Huaaaaaa.. mama, hiks.." tangisan balita yang berada di pelukan sang ibu. Wanita cantik itu tengah melindunginya dari benturan kencang dan pecahan kaca mobil.


"Cherika, maafkan mama dan papah yang terlalu cepat meninggalkan kamu.."


"Huaaaa... hiks," tangisan kencang Cherika yang melihat sang ibu yang sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Astaga! Cepat tolong balita itu, dia masih hidup, mobil ini akan meledak!" seru seseorang yang mencoba menolong Cherika.


Dengan cepat Cherika dikeluarkan dari dalam mobil, meninggalkan ke dua orang tuanya yang memang sudah tidak terselamatkan.


DUARR


Mobil sedan itu meledak, terbakar dengan kobaran api yang sangat besar, Cherika seketika pingsan.


Dan tidak ada yang menyadari jika buku dongeng yang terbakar bersama mobil dan ke dua pasang suami istri tengah bersinar.


Pangeran dan putri kastil


.


.


"Hiks.. mama, papah, Hiks.." igau pemuda berambut hitam legam, dia terisak dengan air mata yang mengalir di kedua mata yang masih tertutup dengan rapat. Tangan pemuda itu menggenggam erat tangan milik seseorang yang tengah tertidur di atas ranjang.


Kelopak mata mono itu terbuka menampakkan Mata sehitam batu onyx yang indah, Chandika langsung bangun dari posisinya yang tertidur sambil duduk di bangku dengan kepala yang ditopang di sisi ranjang pasien. Dia ketiduran saat menjaga Cherika.


"Kenapa gue bermimpi kejadian mengerikan itu?" gumam Chandika sambil menghapus jejak air matanya.


Chandika segera melepas genggaman tangannya, dia melihat tangan Cherika yang agak memerah karena dia genggam begitu kuat. "Maaf, gue nggak sengaja," katanya sambil mencium jari-jari lentik milik gadis yang masih tidak bergeming.


Ini adalah Minggu ke dua dia menemani Cherika, dia datang tadi pagi dan sudah banyak menceritakan hal-hal apa saja yang telah dia alami pada gadis yang sedang koma itu, dan sekarang sudah menunjukan pukul 3 sore. Dia ketiduran sekita 2 jam, badannya pegal karena tidur dalam posisi yang tidak bagus. Dia juga sangat lapar. Tapi, mana mungkin dia meninggalkan si gadis sendirian.


"Gue laper nih, Dika," ucapnya merengek dengan memanggil nama asli si gadis.


Cklek


Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padanya.


Nathan memasuki ruang rawat VIP dengan menenteng kantung plastik hitam. "Ini gue bawain lo ayam penyet," kata Nathan yang seperti ada air di gurun tandus. Sungguh membuat Chandika senang.


"Gue kira lo datang malam," ucap Chandika sedikit heran.


"Ya, niatnya si gitu, tapi gue nggak mau membuat anak orang mati kelaparan," jawab Nathan yang meletakan bawaannya di atas meja dekat sofa.

__ADS_1


Minggu kemarin Nathan memang datang malam, dan melihat si pemuda mullet tengah menahan rasa lapar sejak pagi. Dia heran kenapa Chandika tidak keluar timbang sebentar untuk membeli makan. Cherika juga tidak akan hilang jika hanya ditinggal sebentar.


"Siapa bilang gue kelaparan?" sangkal Chandika karena gengsi. Oh ayolah, dia itu sekarang sudah menjadi orang yang kaya raya, masa kelaparan.


"Alah, gengsi aja di gedein," ejek Nathan meledek. "Ini buruan makan, apa gue bawa pulang lagi nih ayam penyet?"


"Jangan!" teriak Chandika tanpa sadar.


"Hohoho, lo bisa teriak juga ternyata. Gue kita lo cuman bisa berekspresi datar seperti triplek," kata Nathan tertawa geli.


Chandika tidak memperdulikan Nathan yang sedang senang karena meledeknya, dia melirik pada gadis yang masih tertidur dengan tenang, dia kita Cherika akan bangun karena dia berteriak cukup kencang tadi. Dia hanya menelan kekecewaan. Chandika bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah sofa untuk mengisi perutnya yang memang keroncong.


Nathan menggantikan Chandika untuk duduk di sebelah ranjang, dia mengelus surai hitam adiknya dengan sayang. "Abang datang lagi," katanya pada Cherika yang hanya bergeming.


Chandika membuka kantung plastik yang tadi Nathan bawa dan menemukan satu box ayam penyet dan minuman dingin. Bau ayam yang gurih dan terlihat baru matang semakin membuatnya lapar, dia langsung makan dengan tenang.


"Lo sudah makan?" tanya Chandika dengan masih mengunyah.


"Ya, gue sudah makan di tempat saat beli ayam penyet itu," jawab Nathan yang sedang mengecek ponselnya.


"Ke Singapura cuman numpang makan ayam penyet," gumam Chandika sehabis meminum air dingin.


Seketika Nathan baru menyadari sesuatu. "Lo nggak apa-apa makan itu?  Gue baru sadar perut lo kan beda sama gue, makanan lo pasti yang harganya berjuta-juta," kata Nathan merasa tidak enak.


"Santai saja," kata Chandika melanjutkan makannya. Lagi pula ayam penyet adalah favoritnya. Ini sedikit mengobati rindunya pada ke enam kakak laki-laki yang sering mengajaknya makan ayam penyet di tempat makan lesehan yang murah meriah.


Semenjak ke dua orang tuanya meninggal, ke enam kakak laki-lakinya yang menjadi sosok ibu sekaligus ayah bagi dirinya, meskipun hidupnya sederhana tapi dia sangatlah bahagia.


Chandika sudah menyelesaikan acara makannya, dia juga sudah membersihkan sampah bekas makanan. Dia harus tetap menjaga kebersihan ruang inap Cherika, supaya gadis itu nyaman dan segera cepat sadar dari kondisi vegetatif.


Setelah itu si pemuda mullet melihat ponselnya, banyak sekali panggilan dan chat dari Jane. Hubungannya dengan gadis blaster memang semakin merenggang saat kejadian di kantin beberapa hari yang lalu.


Cklek


Bunyi pintu terbuka mengalihkan atensi ke dua pemuda dari ponsel masing-masing.


"Jane?" kilah Chandika terkejut melihat gadis berambut burgundy muncul dari balik pintu.

__ADS_1


Bagaimana bisa Jane datang ke sini?


_To Be Continued_


__ADS_2