
"Ayo, sekarang kita bermain dengan ini," kata Alvin mengambil belati di balik jaketnya.
Belati tajam segera menggores pipi Chandika. "Matamu sangat mirip dengan Aminta, aku sangat menyukainya sampai ingin mencongkel keduanya."
Dengan segera diarahkan belati itu ke bola mata hitam anak laki-laki yang sedang ketakutan itu.
Krett
Belati yang sudah sangat dekat dengan bola mata hitam Chandika seketika berhenti karena adanya suara yang mengintruksi.
Di sana, di cela pintu yang sedikit terbuka, Alvis kecil mengintip dengan tatapan horor. "Apa yang daddy perbuat pada Chan," kata Alvis dengan tangan kecilnya yang bergetar memegang kenop pintu.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Alvis?" tanya Alvin yang sudah menjauhkan belati dari bola mata anak laki-laki berambut hitam.
Alvis, anak laki-laki yang kini berumur 7 tahun, awalnya Alvis hanya ingin mencari daddynya untuk membatunya belajar. Meskipun Alvin tidak pernah perduli dan sangat cuek terhadap Alvis, Alice, dan Aminty, tapi bocah kecil itu tetap berusaha untuk menarik perhatian sang Ayah.
Namun, bocah itu tidak menyangkah, daddynya yang sangat dia banggakan itu berbuat kejam terhadap sepupunya sekaligus teman satu-satunya yang dia miliki. "Daddy, jangan sakiti Chan, hiks.." isak Alvis yang lengsung mendekati Alvin dan memegang kaki sang ayah agar menjauh dari Chandika, temannya itu memang sudah hilang beberapa hari, tapi dia tidak berpikir jika ayahnya yang menculik Chandika.
"Kembali ketempatmu! Sudah saya bilang jangan ke ruang bawa tanah ini, kenapa kamu selalu membangkang!?" bentak Alvin pada anaknya dan mendorong agar keluar.
"Daddy, lepaskanlah Chan, Aku mohon.. hiks.. " kata anak laki-laki deep auburn dengan menyatukan kedua tangannya, "Chan adalah teman satu-satunya bagiku, jangan sakiti dia, hiks.."
"Anak kecil sepertimu tahu apa, hah!! Saya akan membunuhnya, kamu jangan menghalangi!!"
"Jangan membunuh Chan, daddy, hiks.." tangisan Alvis semakin kencang.
"Saya akan melepaskannya, jika kamu bersedia menggantikan posisinya untuk saya siksa," kata Alvin dengan menyeringai ke arah anak kandungnya.
Alvis membeku ketika mendengar kata-kata ayahnya, matanya melirik Chandika yang menggelengkan kepala dengan lelehan air mata. "Jika aku bersedia, apakah daddy berjanji tidak menyakiti Chan lagi?" tanya Alvis dengan menatap mata coklat sang Ayah.
"Ya, tentu saja, menyiksamu akan lebih menyenangkan untuk saya, karena kamu adalah anak Aminty, wanita yang menghancurkan hidup saya."
__ADS_1
"Aku bersedia, daddy."
"Berjanjilah, kamu tidak akan membangkang dan melawan saya. Jika itu terjadi, Chandika akan saya bunuh, bahkan adik dan ibu kamu juga. Nyawa mereka ada di tanganku," kata Alvin dengan nada yang penuh akan ancaman, kata yang tidak seharusnya dia lontarkan pada anak kandungnya.
"Ya, aku berjanji," balas anak laki-laki itu dengan sungguh-sungguh.
Alvin langsung meninggalkan ruangan itu dan menyisahkan ke dua anak laki-laki.
Bocah berambut deep auburn langsung membebaskan bocah berambut hitam legam. "Chan, maafkan daddyku.. hiks," kata Alvis sesenggukan pada Chandika.
Chandika kecil hanya diam, tenggorokan dan mulutnya sangat sakit sekali untuk berbicara.
"Aku berjanji untuk melindungimu dari daddyku, aku harap kamu melupakan yang daddy lakukan padamu, aku tidak ingin daddy mendapat masalah," ucap Alvis dengan masih menangis.
Chandika mengganguk pelan.
.
.
Sudah lama dia tidak memimpikan kejadian itu sejak mengalami transmigrasi, tapi kenapa mimpi itu kembali lagi, dan perasaannya menjadi tidak enak saat mengingat sepupu yang sudah menyelamatkan nyawanya.
"Apakah Alvis baik-baik saja?" tanya Cherika pada dirinya sendiri.
**
"Jane, liat itu Chandika sedang bermain futsal," kata Jolie mencolek punggung gadis blaster yang duduk di depannya dan membuat Jane menengok ke arah jendela dan melihat ke lapangan di bawah sana, kini ke dua gadis itu sedang di dalam kelas, kebetulan kelas kosong, guru yang mengajar sedang tidak masuk.
"Dia bisa bermain futsal?" tanya Jane dengan tatapan kagum pada laki-laki yang sedang menggiring bola di tengah-tengah lapangan.
Chandika dengan peluh mengalir di dahi hingga jakunnya yang bergerak-gerak membuat semua siswi yang menontonnya berteriak histeris. Dan kaki panjangnya segera menendang bola menuju gawang, dan berhasil membobolnya.
__ADS_1
"Kyaaaa! Chandika keren banget!" teriak para siswi yang berada di lapangan sampai ke kelas Jane yang berada di lantai dua.
"Gila nggak sih, Chandika badas banget," ujar Jolie yang membuat Jane melirik gadis itu tidak suka.
"Jaga mata lo, Chandika is mine," kata Jane yang membuat Jolie memutar bola matanya.
"Hais, dulu saja lo jijik banget sama Chandika," ejek Jolie yang membuat bungkam.
"Itu dulu, gue mau memperbaiki itu semua," kata gadis blaster yang beberapa saat diam dan kembali menatap ke luar jendela.
"Lo serius Jane? Lo sekarang benar-benar menyukai Chandika?"
"Gue nggak menyukainya," jawab Jane dengan padangan menerawang. "Tapi, gue memang sudah mencintainya."
Jolie kaget mendengar jawaban Jane, dia kira Jane mencintai Ben, tapi malah justru mencintai Chandika—laki-laki yang dulu di tolak keberadaannya. "Lalu bagaimana dengan Ben?"
"Gue sudah nggak menjalin hubungan dengan Ben."
"Jadi itu sungguhan, gue kira lo dan Ben hanya sedang backstreet saja."
"Asal lo tahu, Ben hanya memanfaatkan gue untuk menjatuhkan Chandika," ujar Jane yang membuat Jolie terkesiap. "Dia hanya berpura-pura bersifat manis ke gue, dan dengan sangat bodohnya gue terjebak," lanjut Jane dengan pandangan pias.
"Gue nggak menyangkah, Jane," kata Jolie bangkit dan langsung memeluk sahabatnya yang akan menangis itu. "Setiap orang melakukan kesalahan, namun berhak untuk mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri," lanjutnya menghibur Jane.
"Apakah gue bisa kembali bersama Chandika?" tanya Jane dengan tubuh yang bergetar di pelukan Jolie.
"Nggak ada salahnya untuk mencoba," ucap Jolie menepuk badan Jane. "Berusahalah seperti ketika dulu Chandika mengejar-ngejar lo, barangkali dia akan membuka hatinya kembali buat lo, tidak mungkin jika dia secepat itu melupakan lo yang dia cintai sejak kecil."
"Ya, gue akan berusaha memperbaikinya. Terima kasih, Jolie," kata Jane menatap Jolie dengan tersenyum.
"Nggak masalah, Jane," ujar Jolie dengan raut wajah yang tiba-tiba saja menyesal. "Gue juga ingin meminta maaf ke lo. Jika saja gue, Izzy, dan Thea nggak meminta lo taruhan untuk membuat lo bersedia berpacaran dengan Chandika selama sebulan dan memutuskannya saat pesta ulangtahun lo, ini semua tidak akan menjadi serumit ini."
__ADS_1
"Bukan kesalahan kalian bertiga sepenuhnya, ini memang kesalahan gue yang terlalu egois untuk mengakui perasaan gue ke Chandika yang sudah ada sejak dulu, dan untuk perasaan gue pada Ben hanya terobsesi sesaat saja," ujar Jane menggeleng. "Gue sadar rasa cinta akan semakin terasa ketika gue kehilangan dan sadar bahwa betapa gue telah menyia-nyiakan Chandika yang tulus mencintai gue."
_To Be Continued_